
Di sekolah jam istirahat tiba, Naina menangis dan dia sedang berada di toilet saat ini. Mengajar pun terasa berat ketika dirinya sedang mengalami masalah, apalagi masalah sekarang dan semua orang di sekolah sudah tahu apa yang dilakukan suaminya dan model wanita terkenal itu. Rani diam mendengarkan suara tangisan Naina, dia merasa sedih tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Kakaknya Amira memang salah tapi Syam juga salah karena sudah membuat kakaknya hamil dan sudah 6 bulan, karir kakaknya pun hancur sekarang.
****
Setelah Naina mengajar dia pergi ke rumah sakit karena hari ini adalah hari pemeriksaan rutin untuk kehamilannya, Naina berusaha untuk tersenyum seperti biasa walaupun hatinya sedang hancur saat ini. Naina berhenti melangkah saat melihat Amira yang begitu pucat sendirian dan sedang mendengarkan apa yang dikatakan dokter tentang kehamilannya, kondisi kehamilan Amira sangat lemah dan Amira mengalami mual dan muntah semakin parah. Naina diam mendengarkan kondisi kehamilan Amira.
” Terima kasih dokter" seru Amira lalu bangkit dan melangkah keluar. Amira terkejut saat melihat Naina. Tatapannya begitu sinis terhadap Naina.
” Kamu seharusnya banyak istirahat, jangan sampai bayi kamu kenapa-kenapa mbak" kata Naina dan Amira tersenyum kecut.
" Ini anak aku sama suami kamu, kenapa kamu disini? apa kamu sedang berusaha mencari sesuatu supaya mas Syam gak jadi menikah sama aku Naina?" ketus Amira dan Naina menggeleng kepala.
” Demi Allah, aku percaya suami aku gak bersalah. Tapi sangat sulit untuk membuktikannya, kalaupun benar itu anak mas Syam gak apa-apa mbak. Kalaupun bukan mbak sendiri yang akan menanggung dosa atas kebohongan mbak" kata Naina dan Amira menatapnya kesal.
” Ini memang anaknya Syam kamu harus percaya itu Naina" Amira takut Naina berulah untuk membongkar kebohongan nya.
” Aku gak bisa percaya sama siapapun, aku cuma berharap mbak bisa menjaga kehamilan mbak entah itu anak mas Syam atau bukan” kata Naina lalu melangkah dan masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan tersebut. Amira mendengus sebal dan jangan sampai Syam juga berusaha menghentikan pernikahan ini.
****
Malam hari tiba Syam dan Naina sedang berada di kamar. Berdua tanpa saling menyapa apalagi berbicara panjang lebar, Syam terus memperhatikan Naina yang sibuk dengan buku-buku murid-murid nya. Naina juga harus memeriksa pesanan yang masuk agar Ai bisa segera packing besok.
” Aku ingin melakukan tes DNA" kata Syam dan Naina meliriknya.
” Tes DNA sangat beresiko, kamu gak usah macam-macam mas”
” Tes DNA prenatal bukannya bisa?”
” Aku gak ngerti kamu sebaiknya tanya sama dokter langsung"
Syam bangkit dari sofa lalu Naina menatapnya lekat, Syam naik ke atas ranjang dan merebahkan kepalanya di pangkuan Naina. Naina tidak bisa menahan ataupun menolak. Syam menutup matanya dan memeluk pinggang serta wajahnya menempel di perut Naina.
” Mas" panggil Naina begitu lembut dan Syam tidak mau melepas pelukannya.
” Sebentar saja Nai" pinta Syam yang masih ingin memeluk istri sekaligus bayinya di dalam perut istrinya. Naina menjatuhkan telapak tangannya di rambut suaminya, dia usap lembut rambut suaminya itu. Syam terus meminta maaf kepada istrinya dan air mata Naina menetes deras beberapa titik jatuh ke rambut suaminya. Keduanya menangis sama-sama tersakiti dan tersiksa.
****
Keesokan harinya. Naina siap untuk mengajar Romi membawa seorang murid pindahan yang akan masuk ke kelas 12 A dimana Naina menjadi wali kelas. Naina bangkit dan melihat Romi dan siswa pindahan itu masuk ke ruangan guru.
” Dia masih sekolah?" Naina menatap tajam murid pindahan itu yang ternyata adalah Rizal yang pindah karena di keluarkan dari sekolah sebelumnya.
” kenapa istrinya bang Syam disini?" gumam Rizal takut.
” Bu Naina ini murid baru yang akan masuk ke kelas 12 A, saya mohon bimbingannya Bu supaya murid pindahan ini bisa menjadi murid baik seperti yang lainnya" kata Romi menyindir setelah tahu apa yang dilakukan Rizal sampai di keluarkan dari sekolah sebelumnya. Rizal tersenyum kecut dan Naina mengangguk. Setelah Naina berkenalan dan menanyakan beberapa hal kepada Rizal Naina mengajak Rizal untuk ikut dengannya, Rizal tersenyum lebar mengikuti Naina dan dia benar-benar tidak menyangka bahwa Naina adalah seorang guru.
” Bu Naina datang" seru satu murid dan semuanya duduk dengan baik menunggu Naina. Naina tersenyum lebar lalu berkata..
” Assalamualaikum anak-anak" ucap Naina dan Rizal memperhatikannya. Rafli menatap tajam Rizal karena menatap Naina sedalam itu.
” Waalaikumsalam Bu Naina” jawab semua murid dan Naina tersenyum lebar.
” Hari ini kita kedatangan murid baru, ayo perkenalkan diri kepada teman-teman baru mu disini" ucap Naina lalu meminta Rizal memperkenalkan diri. Para murid perempuan saling berbisik karena melihat ketampanan Rizal.
” Ganteng banget”
” Iya ganteng, tapi lebih ganteng gue" kata Rafli penuh percaya diri.
” Shutt!" Naina meminta semuanya diam agar suara Rizal terdengar dengan jelas.
” Namaku Rizal Abraham, senang bertemu dengan kalian aku harap kita semua bisa berteman" seru Rizal dan semuanya bertepuk tangan.
" Oke, silahkan duduk” kata Naina dan Rizal mencari tempat duduk. Dia akhirnya duduk bersama Rafli walaupun Rafli sempat menolak tapi dia mengalah saat Naina meliriknya.
” Siapkan buku kalian, kita mulai pelajaran" pinta Naina.
” Baik Bu" semua murid mengeluarkan buku mereka untuk segera memulai pelajaran. Rizal mendengus sebal kenapa Naina harus menjadi guru matematika, karena dia tidak suka dengan pelajaran itu.
__ADS_1
*****
Di tempat lain, Amira datang ke rumah orang tua Syam dan Syam memakinya berulang kali memintanya pergi. Tapi karena Amira keras kepala makian Syam dia anggap sebagai bentuk perhatian Syam padanya, dia yakin Syam masih mencintainya. Walaupun dia istri kedua dia yakin akan bisa menggeser posisi Naina dan akan menjadi istri kedua yang di utamakan.
” Pergi" tegas Syam seraya mengarahkan tangannya ke pintu.
” Aku akan menjadi istri kamu sebentar lagi apa kamu gak bisa sedikit lembut Syam?" Amira merasa sakit hati dengan sikap kasar Syam.
” Lalu aku harus apa? menyambut kamu seperti seorang ratu? wanita yang penuh dengan kepalsuan" cibir Syam dan Amira menundukkan wajahnya.
” Setelah kita menikah kamu gak bisa melakukan ini Syam" tegas Amira dan Syam tidak perduli.
” Sebelum kita menikah aku ingin melakukan tes DNA" tegas Syam dan wajah Amira seketika berubah menjadi pucat pasi. Syam tersenyum melihat kepanikan di wajah Amira.” Kenapa takut?" menantang.
” DNA gak baik untuk kandungan, aku gak mau anak kita kenapa-kenapa" kata Amira dan Syam mendengus sebal.
” Cukup, dan sekarang ikut aku untuk melakukan tes DNA" tegas Syam lalu melangkah.
” Jika aku harus melakukannya, kenapa Naina gak ikut?" kata Amira dan Syam berhenti melangkah lalu berbalik.
” Naina? kenapa harus hah apa maksud kamu. Kamu mencoba untuk menghina istriku?” Syam setengah berteriak. Nenek Wilda memperhatikan keduanya dari lantai dua sambil memegang pagar tangga.
” Jika aku harus kenapa Naina enggak? kalau tes DNA membuat kehamilan ataupun diriku sendiri terluka bagaimana? apa kamu bisa mempertanggung jawabkan semua itu? jika anakku dan aku terluka, Naina dan anaknya juga harus merasakan hal yang sama. Ayo kita lakukan tes DNA kalau kamu mau melihat efek buruk dari tes DNA untuk bayi yang masih dalam kandungan?" ajak Amira dan Syam mundur menjauh.
Syam tidak bisa membahayakan Naina dan bayinya, kenapa harus seperti ini? dia merasa berada di bawah jurang dan sangat susah untuk melakukan apapun. Naina tidak percaya padanya, dan Amira terus mendekatinya. Semua keluarga tidak ada yang mendukung dan Syam merasa frustasi karena itu. Kesalahan apa yang dia buat di masa lalu sampai sekarang dia harus berada di posisi serba salah.
*****
Pulang sekolah Naina melarang Syam untuk menjemputnya, dia akan langsung ke toko dan belum siap untuk bertemu suaminya saat ini. Naina melangkah dengan tatapan kosong, diam-diam Rizal memperhatikan dan mengikutinya. Rizal yang menyaksikan apa yang terjadi di acara 4 bulanan Naina merasa bingung, kenapa bisa Naina masih mengajar bahkan tahan mendengar orang-orang yang membicarakannya.
” Bu Nai" teriak Rizal panik saat Naina melangkah ke tengah jalan. Bu Nurul yang sedang menyeberang menarik tangan Naina dan Naina terkejut.
” Istighfar Bu" seru Bu Nurul dan keduanya terjatuh ke tepi jalan. Naina meringis dan tidak sadar atas apa yang terjadi. Naina membantu Bu Nurul bangkit dan Rizal mendekati keduanya.
” Bu,” panggil Bu Nurul dan Naina mengangguk entah mengapa dia mengangguk, spontan dia melakukannya karena pikirannya sedang tidak karuan.
” Enggak, kamu pulang sana Rizal ibu sama Bu Naina mau berdua” titah Bu Nurul dan Rizal menatap wajah bingung Naina. Rizal akhirnya pergi dan Naina menoleh kepada Bu Nurul.
” Bu terima kasih sudah menyelamatkan saya” kata Naina.
” Apa Bu Nai sakit? atau apa?" Bu Nurul tahu apa yang sedang dialami Naina tapi dia tidak mau mengatakannya.
” Saya buru-buru mau pulang, saya gak lihat kanan-kiri Bu tadi. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya, saya minta maaf karena sudah merepotkan” Naina tersenyum dan menjauhi bu Nurul.” Saya pamit Bu Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam, Bu Nai...” Bu Nurul tetap memanggil Naina tapi Naina masuk buru-buru ke dalam angkot. Naina diam dan terus beristighfar dalam hati agar tetap bisa sadar dalam kesediaannya, semuanya yang dia alami dan terima harus dia terima dengan lapang dada. Kesabarannya sedang di uji.
" Ya Allah, aku serahkan semuanya pada-Mu, tapi hamba mohon berikan dan biarkan hamba kesabaran dan kekuatan untuk menjalani semuanya” gumam Naina.
*******
Pernikahan Syam dan Amira.
Rombongan seserahan pernikahan sudah sampai di kediaman Amira, pernikahan sederhana dan hanya di hadiri keluarga dan kerabat serta tetangga. Naina diam dan melangkah lalu berdiri di sebelah ibu mertuanya mama Novi.
” Nai” kata Tari seraya meraih tangan Naina lalu mengenggam nya, Naina menoleh dan kedua matanya sudah merah akan menangis. Naina menatap ke depan, suaminya yang berdiri memakai setelan jas hitam dan akan melangsungkan pernikahan dengan Amira sebentar lagi. Hati Naina hancur, tubuhnya berkeringat dan Naina merasakan hawa panas yang begitu menyiksanya. Syam menoleh dan tatapannya bertemu dengan tatapan istrinya, istrinya yang tersenyum berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa. Mama Novi maju mendekati Syam dan Naina benar-benar tidak bisa menahan tangisannya sekarang. Asil memberikan tisu kepada Naina dan Naina menerimanya.
” Suami mu akan menikah Naina, itu suami kamu" gumam Naina.
Naina menundukkan wajahnya dan Syam kembali menatap ke depan dengan raut wajah begitu sedih.
Semuanya masuk dan Naina izin untuk pergi ke toilet. Naina pergi sendirian ke toilet mesjid tersebut, rumah Amira bersebelahan dengan mesjid dan ijab kabul akan dilaksanakan di mesjid. Di toilet Naina menangis sejadi-jadinya dan dan Naina terus membasuh wajahnya perlahan-lahan. Setelah selesai menumpahkan air matanya Naina keluar dari toilet untuk segera melihat suaminya yang menikah dengan wanita lain.
Gep... Naina terkejut saat Syam sudah menunggunya lalu menariknya dan memeluk Naina erat-erat sampai gadis itu merasa sesak karena pelukan Syam, Syam menangis sesenggukan dan tidak mau kembali.
” Mas kenapa disini? kamu harus bisa mas" kata Naina, entah dari mana dia mendapatkan keberanian untuk mengucapkan hal tersebut sementara hatinya terasa tertusuk belati.
” Aku gak mau Nai, ayo kita pergi saja ke tempat yang jauh dari semua orang Naina" Syam terus menangis dan Naina menggeleng kepala.
__ADS_1
” Enggak mas, jangan begini” Naina mendorong tubuh suaminya perlahan-lahan, dia usap dan belai lembut wajah suaminya agar mau kembali untuk melangsungkan pernikahan.
” Aku gak mau Nai” lirih Syam dan tubuhnya berkeringat dingin. Naina mengusap keringat di wajah suaminya dengan tangannya sendiri.” Kenapa kamu berpura-pura Nai, bilang kalau kamu sakit Nai. Bilang sama aku kalau kamu gak mau aku menikahi dia Naina” Syam menatap istrinya lekat.
” Enggak mas, kamu harus bertanggung jawab. Jadilah pria sejati mas, nikahi dia dan aku baik-baik saja. Aku mengizinkan kamu untuk menikahi wanita lain, aku menerima untuk dimadu aku terima tapi aku gak bisa bohong untuk mengatakan bahwa aku Ikhlas mas" lirih Naina dan Syam memeluknya kembali.
” Aku minta maaf Naina aku gak bisa melanjutkan ini Nai, jangan paksa aku Naina" Syam tidak mau kembali padahal semua orang sudah menunggu dan Amira pun sudah duduk dan terlihat kesal karena Syam tidak ada.
” Mas kamu harus bertanggung jawab ayo" Naina menarik tangan Syam untuk membawanya segera ke acara pernikahan.
” Aku gak mau Naina” Syam menahan dan tidak mau mengikuti kemana istrinya pergi.
” Kamu sayang kan sama aku? calon anak kita? aku mohon jangan seperti anak kecil ayo mas. Semua orang sudah menunggu, jangan sampai nama kamu semakin terkenal buruk mas" Naina berusaha membujuk suaminya agar kembali.
Keduanya berdebat dan Naina terpaksa harus memaki suaminya agar mau kembali, tapi Syam menolak. Setelah 30 menit akhirnya Naina bisa memaksa suaminya untuk kembali. Naina dan Syam bergenggaman tangan lalu Naina yang menarik tangan suaminya. Saat memasuki mesjid, semua orang menatap keduanya. Melihat wajah Naina yang bercucuran air mata dan Syam yang juga terlihat habis menangis.
”Apa harus melakukan drama begini?" Amira bergumam.
Syam dipaksa duduk dan Naina memakaikan kain putih ke atas kepala Syam dan Amira. Amira tersenyum lebar melihat sikap Naina dan semua orang menangis melihat Naina. Naina duduk di sebelah Asil dan di belakangnya Rizal memperhatikan.
”Kenapa kamu melakukan itu Bu Naina? aku jadi semakin menyukaimu"gumam Rizal.
Ijab kabul terdengar, semua orang mengesahkan pernikahan tersebut termasuk Naina. Naina mencengkram erat lututnya, Syam meliriknya dengan tatapan sedih dan Naina tersenyum. Saat akan mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin tersebut Naina memilih pergi mundur menjauh keluar dari mesjid lalu dia berdiri di belakang mobil sambil menangis. Asil dan mama Novi khawatir lalu mengikuti Naina dan Naina berjongkok sambil menangis.
” Naina" lirih mama Novi seraya mengusap lembut bahu Naina dan mengajaknya masuk ke dalam mobil setelah Asil membuka pintu mobil. Mama Novi memeluk Naina dan asil memperhatikan keduanya.
” Mama maaf, Nai mau pulang saja ma” kata Naina.
” Ayo kita pulang nak, jangan menangis lagi. Sabar” mama Novi hanya bisa berbicara dan dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya di posisi Naina saat ini.
Asil akhirnya membawa Naina dan mama Novi pergi, anak-anaknya dan suaminya masih di acara. Sepanjang perjalanan menuju rumah Naina menangis begitu juga mama Novi, Naina tak sanggup tinggal sendirian tanpa suaminya yang akan tidur bersama Amira malam ini dan dia ayah Rahman juga sudah berjanji kepada pak Fahmi untuk menjaga Naina di rumahnya sendiri.
Malam hari tiba, hujan deras membuat tangisan Naina samar-samar terdengar. Tidak ada yang berani menganggu Naina dan hanya mama Novi yang di izinkan masuk ke kamar. Di rumah Amira, Syam sedang berdiri menatap air hujan jatuh begitu cepat dan deras. Kamar di hias sedemikian rupa untuk malam pertama Syam dan Amira. Amira keluar dari kamar mandi memakai lingerie seksi dan Syam sama sekali tidak menoleh, hanya senyuman dan wajah cantik Naina yang ada dalam pikirannya. Sedang apa dia? dan Syam tidak bisa tenang.
” Syam” panggil Amira begitu manja dan tangannya bergelayut di tengkuk pria itu. Syam menoleh dan terkejut melihat apa yang Amira pakai.
” Apa kamu sudah puas menghancurkan kebahagian rumah tangga ku?” ketus Syam dan Amira mengernyit.
” Apa kamu bisa berbicara baik-baik untuk malam pertama kita Syam?” Amira kesal.
” Apa mau kamu Amira? kamu mau aku menyentuh kamu? jangankan menyentuh melihat mu saja aku jijik” cibir Syam dan Amira menatapnya kesal.
” Jaga ucapan kamu Syam” Amira setengah berteriak.” Kamu harus memperlakukanku dengan adil Syam”
” Aku hanya manusia biasa yang hidup nya kamu hancurkan, siapa ayah dari anak itu Amira?” tegas Syam dan Amira mundur menjauh.” Aku hanya manusia, menuntut keadilan dari ku sangat mustahil Amira”
” Ini anak kamu, apa kamu lupa saat malam itu kamu datang karena kamu sedang stress akan di jodohkan dengan Naina. Tapi kenapa sekarang begini, aku sudah berias selama dua jam hanya untuk kamu Syam.” Amira menyentuh pipi pria itu dan Syam menepisnya kasar.
” Aku tanya itu anak siapa dan ayahnya siapa? aku memang belum bisa membuktikan nya apa-apa sekarang tapi nanti kamu akan tahu akibatnya Amira” Syam menatap tajam Amira lalu dia meraih jaket dan ingin pulang untuk melihat istri pertamanya, Naina Inayah gadis sederhana dan polos yang mampu membuatnya merasa nyaman, merasa di hargai sampai dia sekarang menerima cinta paling luar biasa dari istrinya, yaitu istrinya rela menahan semua rasa sakit agar dia bertanggung jawab atas fitnah keji yang dia alami sekarang.
Amira berusaha menahan sampai dia berdiri didepan pintu dan Syam menatapnya kesal dan akhirnya Amira menyingkir lalu menangis dan menatap kepergian suaminya.
****
Di kediaman orang tua Syam, Naina terus menangis dan hujan perlahan-lahan terdengar reda. Naina menangis pelan karena takut ada yang mendengar tangisannya. Di luar rumah mobil Syam masuk lalu Syam keluar dengan tergesa-gesa untuk melihat istri pertamanya.
” Syam?" ayah Rahman bingung melihat kedatangan Syam. Ayah Rahman sedang mengambil air minum untuk istrinya dan malam sudah larut semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing.
Syam hanya melirik ayahnya lalu dia menaiki tangga dengan cepat untuk segera melihat Naina. Sesampainya didepan pintu kamar, Syam berhenti melangkah dan mencoba mendengar suara istrinya didalam sana. Syam mendengar suara isakan tangis Naina, dia ketuk pintu kamar tapi Naina tak kunjung membuka pintu kamar.
” Naina, ini aku" panggil Syam begitu lembut tapi tak kunjung ada jawaban. Syam mendorong pintu perlahan-lahan lalu melihat istrinya sudah tertidur karena saking lelahnya menangis. Syam menutup pintu kamar kembali lalu duduk membelakangi pintu kamarnya. Naina yang mendengar suara isakan tangis suaminya turun dari ranjang lalu duduk berhadapan dengan pintu kamar. Naina tidak tidur dan tidak paham kenapa Syam kembali di malam pengantin. Syam terus menangis lalu membaringkan tubuhnya di atas keramik dingin dan Naina juga membaringkan tubuhnya mendengar suara isakan tangis suaminya dan tidak berani serta tidak kuasa melihat suaminya sekarang yang sudah menjadi suami wanita lain juga.
Syam juga tidak berani masuk takut menganggu istrinya yang sedang tidur, pasti Naina tidak mudah untuk tidur itu sebabnya Syam tidak tega. Beberapa jam kemudian, Naina dan Syam tertidur pulas di depan pintu kamar dengan posisi saling berhadapan di balik pintu yang sama.
****
” Takdir sudah menyatukan kita dalam bahtera rumah tangga, aku tak memiliki peran untuk melarang mu memiliki istri lain dan itu lebih baik daripada berselingkuh” - Naina
__ADS_1