
Setelah selesai dari rumah sakit, Naina dan Uwais pergi ke toko. Naina kewalahan melayani pembeli dibantu suaminya yang tidak paham dengan jenis-jenis pakaian apalagi bahannya. Ai masih belum masuk dan Ai bilang mau bertemu nanti malam dengan Naina untuk mengambil gajinya karena dia butuh uang.
” Capek ya?" imbuh Uwais bertanya seraya mengusap-usap keringat di kening istrinya.” Anak ayah udah belajar kerja dari dalam perut” kini, dia mengusap perut istrinya dan Naina tertawa.
” Mas, kamu bisa berhenti gak sih pegang-pegang perut aku”
Uwais tersenyum mesum dan menyentuh pinggang istrinya dengan sentuhan lembut dan tatapan sendu.
” Kenapa memangnya? kalau bukan pegang-pegang istri sendiri harus pegang-pegang siapa?” sedikit kesal dan Naina tertawa lagi. Naina menepis tangan suaminya saat pembeli kembali datang dan Uwais cemberut. Uwais diam dan memperhatikan jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.
” Sayang, waktunya istirahat. Makan siang dulu yuk” ajak Uwais.
Naina menoleh dan mendelikan matanya sebal, suaminya sama sekali tidak menghiraukan para pembeli yang cengengesan memperhatikan tingkahnya.
” Makasih ya mbak” imbuh Naina setelah selesai melayani semua pembeli dan Uwais menempelkan pipinya ke atas meja, merasa lelah melihat istrinya sibuk seperti itu dan setiap hari. Setelah semua pembeli pergi Naina mendekati suaminya.
” Mas pulang aja kalau capek”
Uwais menoleh dan tersenyum lalu menggeleng kepala.
” Ayo makan siang” ajaknya.
” Kebiasaan, aku ngomong suka gak dianggap” Naina kesal.
Uwais buru-buru memeluknya erat.
” Bukan begitu sayang, aku mau disini sama kamu. Mau makan di luar atau aku beli aja?” Uwais mencium pipi istrinya setelah berbicara dan Naina diam, tangannya sibuk menekan-nekan keyboard laptop nya yang sudah sering eror itu. Uwais diam memperhatikan tangan istrinya dan setelah merasa jengkel dia mengenggam kedua pergelangan tangan Naina dengan satu tangannya.
” Marah?” tanya Uwais dan Naina menggeleng kepala.
” Aku lapar mas” tutur Naina dan Uwais mengusap perutnya.
” Aku beli makan dulu, tunggu disini” imbuh nya dan melepaskan pelukannya.
” Jangan lama-lama ya mas"
” Iya sayang, assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Uwais pergi dan Naina keluar dari toko, dia duduk di kursi di depan tokonya dan menoleh melihat Ali dan Rosa. Naina tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya tapi tidak dengan Ali yang terus memperhatikannya begitu dalam sampai Rosa jengkel.
” Apa bagusnya wanita cacat itu?” tanya Rosa.
” Rosa!” bentak Ali, bentakan nya sampai terdengar oleh Naina dan Naina menoleh. Dia terkejut mendengar suara Ali yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.
” Masuk” titah Ali kepada Rosa dan Rosa masuk dengan kedua mata berair, Ali melirik Naina sekilas dan Naina duduk kembali dengan tenang.
” Mereka bertengkar?” gumam Naina bertanya-tanya." Enggak seharusnya aku penasaran, itu bukan urusan ku” gumam nya lagi.
Tidak lama Uwais datang dan Naina sedang melayani pembeli kembali. Uwais membawa makanan ke lantai dua ruko dan Naina naik setelah urusannya selesai.
” Ayo sayang makan” Uwais mengulurkan tangannya dan Naina meraih tangannya, Uwais dan Naina duduk bersebelahan.
” Kayaknya enak ya mas” Naina memperhatikan semua makanan yang dibeli suaminya.” Tapi kayaknya gak bakal habis”
” Sengaja aku pilih makanan yang paling enak untuk kamu, untuk istriku. Kita bawa pulang kalau gak habis” tutur Uwais dan Naina memperhatikan wajah suaminya. Uwais menoleh dan kedua alisnya naik, bertanya. Naina menggeleng kepala dan tersenyum lebar.
****
Kabir dan Fatma.
Kabir dan Fatma sedang berjalan-jalan di sebuah supermarket. Keduanya berhenti dan membeli es krim.
” Mau rasa apa?” tanya Kabir.
” Aku mau vanilla”
” Oke aku juga sama” Kabir tersenyum.” Vanilla dua” pinta Kabid dan penjual mengangguk. Keduanya diam dan menunggu, Kabir diam-diam meraih tangan Fatma dan Fatma menundukkan kepalanya. Dia balas genggaman tangan Kabir dan keduanya menoleh sama-sama malu-malu. Tiba-tiba kedua mata Fatma membulat dan menyelinap masuk ke hadapan Kabir dan di antara orang-orang yang juga sedang mengantri es krim.
” Kenapa?” tanya Kabir dan ingin menoleh tapi Fatma menarik pipinya agar diam.
” Aku mohon diam lah”
” Kenapa?” Kabir bingung. Fatma menggeleng kepala dan Kabir diam. Fatma mengintip ibunya dan bibinya yang sedang ada di tempat yang sama. Setelah melihat ibu dan bibinya jauh Fatma merasa lega dan mundur menjauh dari Kabir. Dia mendongak dan menatap Kabir yang berkeringat dingin karena merasa gugup ketika berada sangat dekat dengan Fatma.
” Kamu kenapa?” tanya Fatma.
” Emm enggak!” imbuhnya menjawab.
__ADS_1
” Dua Vanilla”
” Ya” sahut Kabir dan maju untuk mengambil dua es krim yang dia pesan. Keduanya melangkah bersama kembali dan Fatma terlihat gelisah.
” Kamu kenapa sih?” Kabir masih penasaran.
” Enggak” jawab Fatma sambil menggeleng kepala.
” Ada mantan kamu ya?” Kabir terlihat kecewa.
” Ih bukan, ada ibu aku tadi. Aku takut” ujar Fatma.
” Takut ketahuan kita jalan?”
” Iya kabir”
Kabir mengangguk dan dia merasa lega, sekarang bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan restu dari keluarga Fatma. Dia memang masih muda, jauh dari Fatma tapi untuk keseriusan dalam hubungannya dan Fatma Kabir tidak main-main.
****
Malam hari tiba, Uwais dan Naina sedang rebahan di sofa besar di depan jendela terbuka di kamar mereka. Uwais tidak berhenti mengelus perut istrinya.
Ting nong suara bel berbunyi, bel di kamar Uwais dan Uwais menoleh. Tatapannya terlihat sinis, dia tidak suka diganggu. Uwais bangkit dari sofa dan menekan tombol di sebelah pintu.
” Ada apa?" bertanya kepada Zidan atau Bi Astri yang dia izinkan untuk menghubungi nya. Dan kakeknya.
” Ada polisi datang bos” seru Zidan. Uwais mematikkan tombol dan melihat cctv. Naina menoleh dan memperhatikan layar komputer suaminya.
” Itu mas Aldi” tutur Naina.
” Kamu disini aja sayang”
” Dia mas Aldi mas, mungkin ada hal penting. Boleh aku ke bawah?”
” Aku bilang diam disini Naina” tegas Uwais dan Naina terdiam, Naina menggeleng kepala karena Uwais kasar padanya.
” Mau apa dia kemari?” gerutu Uwais dan memperhatikan gerak-gerik Aldi terlebih dahulu yang masih berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Uwais bangkit untuk menemui Aldi.
” Sayang aku pergi sebentar” dia pamit dan keluar dari kamarnya tapi Naina sama sekali tidak menjawab. Uwais melangkah pergi tapi di depan lift dia terdiam.
” Harus aku bawa dia masuk bos?” tanya Zidan.
” Bos” tegur nya.
” Bawa dia masuk” titah Uwais tapi dia berbalik pergi meninggalkan Zidan dan tidak ikut masuk ke dalam lift, Zidan tidak paham dan dia pergi sendiri. Uwais membuka pintu kamarnya dan Naina yang terkejut menoleh.
” Sayang" panggil nya dan Naina diam, kedua matanya berair dan Uwais sadar dia salah dan kasar kepada Naina karena tidak mau Naina turun.
” Sayang” panggil nya lagi lebih lembut.
” Sayang, aku minta maaf” Uwais meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya.
” Kenapa aku gak boleh ketemu mas Aldi?” ucap Naina.
" Aku gak suka kamu ketemu siapapun yang bersangkutan dengan Syam” tutur Uwais, akhirnya dia jujur dan Naina menundukkan kepalanya.
" Aku gak ada apa-apa lagi sama mas Syam, jangan berlebihan mas”
” Aku tahu ini memang berlebihan, tapi aku lebih ingin menghindari kesalahpahaman ketimbang menyelesaikannya”
Naina diam lagi dan memperhatikan wajah tampan suaminya.
” Aku gak bermaksud kasar sama kamu, tapi aku gak suka kamu ketemu dengan siapapun yang bersangkutan dengan Syam. Syam masih suka dan cinta sama kamu, aku takut Nai”
” Kita sudah menikah mas, kita sudah bersama kenapa kamu harus mengkhawatirkan mantan suami aku”
" Karena dia nekad sayang, aku lebih mengenalnya daripada kamu” Uwais tetap tidak mau dibantah, Naina diam dan akhirnya dia mengangguk.” Terima kasih, aku sayang sama kamu.”
Naina tersenyum, Uwais mengecup kening istrinya sekilas dan dia pergi meninggalkan Naina. Naina hanya bisa diam dan tidak berani keluar dari kamarnya. Kini, Uwais sudah berhadapan dengan Aldi di ruang tamu.
” Ada apa? aku tidak punya waktu untuk basa-basi” kata Uwais ketus.
” Aku dengar kamu di teror, ada kabar buruk"
” Apa?” Uwais penasaran.
” Amira masih hidup, Naina dalam bahaya. Aku yakin kamu bisa melindungi istrimu Uwais”
” Tentu saja”
__ADS_1
Aldi menggeleng kepala melihat sikap dingin Uwais.
” Syam bisa saja melaporkan mu Uwais karena sudah melakukan teror” tutur Aldi.
" Aku juga bisa memasukkan Syam ke penjara, jika aku mau. Tapi Naina tidak mau. Jangan kamu pikir aku bisa kamu buat takut. Aku bisa melakukan apapun kepada kedua anakmu pak polisi” ancam Uwais dan tangan Aldi terkepal kuat. Zidan yang melihat situasi saling mengancam itu merasa tidak akan benar dan bos nya yang akan terlibat masalah.
” Ini sudah malam, silahkan pergi. Bos kami perlu istirahat” tutur Zidan dan keduanya menoleh, Uwais mundur menyenderkan punggungnya di sofa dan Aldi juga memalingkan wajahnya. Akhirnya Aldi pergi meninggalkan kediaman Uwais dan Naina dari kamarnya memperhatikan.
” Kenapa raut wajah mas Aldi begitu, jangan-jangan.." Tutur Naina takut ada pertengkaran antara suaminya dan Aldi. Naina melangkah menuju pintu untuk segera menyusul suaminya. Namun saat pintu di buka Uwais juga hendak membuka pintu.
” Mas" lirih Naina lalu memeluk suaminya erat. Uwais tersenyum dan membalas pelukannya.
” Ada apa sayang?"
” Kamu baik-baik aja kan mas?" Naina mendongak dan mengelus pipi suaminya.
” Aku baik-baik aja, gak usah khawatir” Uwais tersenyum lalu keduanya berpelukan erat dan dilihat oleh para pelayan, mereka langsung putar balik dan tidak jadi melewati kamar bos mereka.
*****
Akbar berubah pikiran.
Akbar berdiri di atas jembatan, memperhatikan air laut dari atas sana yang bisa menenggelamkannya jika dia melompat. Akbar tidak bisa melanjutkan rencana pernikahannya dengan Ai karena dia merasa tidak bisa untuk menjadi seorang pemimpin rumah tangga.
” Akbar!” teriak Ali. Dan Akbar menoleh." Kamu gila Akbar, pernikahan kamu 3 hari lagi. Ngapain kamu disini?” Ali kesal dan Akbar mengarahkan tangannya agar Ali tidak mendekat.
” Menjauh dariku mas”
” Turun!” tegas Ali melihat Akbar malah nekat naik ke atas pagar.
” Semua orang menyalahkan ku karena Ai hamil, semua keluarga ku menghujat ku karena gadis sialan itu” maki Akbar.
” Istighfar kamu Akbar, Ai hamil karena kamu. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah” Ali benar-benar kesal.” Turun Akbar”
” Aku gak bisa mas” tutur Akbar sambil menangis.
” Turun, ayo kita bicara berdua” ajak Ali. Dia melangkah mendekat. Untuk mencegah Akbar yang ingin melompat ke bawah sana.
” Aku malu mas”
” Kamu malu? apalagi Ai. Kamu tega ninggalin Ai sendirian?” ucap Ali sembari terus melangkah mendekat. Akbar terus menangis dan menatap ke bawah jembatan. Kedua matanya tertutup dan bersiap untuk melompat. Ali yang mendapatkan kesempatan langsung memeluk perut Akbar dan menariknya dari pagar jembatan.
” Gila kamu" maki Ali terus-menerus dan Akbar terus berontak.
” Lepas mas, aku ingin mati saja”
Plak! Ali menampar pipi Akbar sekuat tenaga, sudut bibir Akbar meneteskan darah.
” Akbar, kamu sudah melakukan kesalahan dan Ai akan sendirian kalau kamu pergi. Istighfar, jangan begini” Ali terus menenangkan dan berusaha menyadarkan Akbar. Setelah Akbar tenang Ali menarik dan membantunya untuk berdiri.
” Kamu membuat keributan, aku antar pulang ayo" ajak Ali dan memperhatikan semua orang yang menonton dan merekam video bagaimana aksi Akbar tadi. Akbar melangkah di papah oleh Ali, Ali mencengkram kuat kerah bajunya takut-takut Akbar kabur. Keduanya menunggu kesempatan untuk menyeberang, saat melihat sebuah truk melaju kencang Akbar melepaskan cengkraman tangan Ali dan berlari ke tengah jalan.
Brak! brug... Tubuhnya tertabrak truk, terhempas cukup jauh dan kepalanya membentur aspal. Kedua mata Ali membulat melihat kejadian singkat di depan matanya, dia berlari ke arah Akbar yang tergeletak di tengah Jalan.
” Akbar" Ali memangku kepala Akbar ke pangkuannya.” Tolong!” berteriak.
Air mata Ali menetes, kemeja putihnya penuh dengan darah.
” Berjanji padaku aku mohon” tutur Akbar dengan mulut yang mengeluarkan darah, Ali menahan darah yang menetes terus-menerus dari belakang kepala pria itu.
” Jangan banyak bicara!” bentak Ali dan berusaha menggendong Akbar tapi dia tidak bisa, karena tiba-tiba tubuhnya lemas melihat darah. Ali fobia dengan darah, dan tangannya gemetar hebat. Semua orang memburu Akbar dan Ali untuk membantu keduanya.
Sementara di tempat lain, Naina dan Ai sedang bersama.
” Aku minta cuti ya mbak" tutur Ai.
” Iya Ai, semoga pernikahan kamu lancar ya. Aku juga mau ngomong sesuatu”
” Apa mbak?” Ai takut di pecat sekarang.
” Mas Uwais mulai gak suka aku capek di toko, mas Uwais bilang mau cari pegawai tambahan. Gimana menurut kamu Ai?”
” Itu bagus mbak, mbak lagi hamil mas Uwais wajar sangat khawatir.”
” Iya Ai, aku sudah membuat berita penerimaan karyawan baru untuk dua orang di media sosial. Mudah-mudahan ada yang mau"
” Insya Allah, pasti banyak yang mau kerja sama mbak hehe" Ai tersenyum. Naina juga tersenyum lalu Naina menyentuh perut Ai.
” Kita berdua lagi hamil, anak kita seumuran nanti” tutur Naina, Ai mengangguk. Ai merasa senang karena Naina tidak melihat hina dirinya walaupun dia sudah melakukan kesalahan. Ai benar-benar merasa beruntung.
__ADS_1