Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Uwais marah


__ADS_3

Uwais mengepalkan tangannya kuat, dia berada di bathtub di kamar mandinya. Naura masih tertidur pulas. Sementara Naina masih di kamar bawah dengan perasaan penuh penyesalan.


” Papah!" teriak Naura, Uwais bangkit dari bathtub dan meraih handuk kimono nya lalu memakainya dan keluar untuk melihat Naura.


” Nau, ada apa nak?"


” Mamah dimana papah?”


Uwais terdiam sejenak.


” Mamah lagi istirahat, ayo Naura tidur lagi ya”


Naura mengangguk, Uwais membaringkan tubuhnya dan wajah Naura menempel di dadanya, tangan mungil itu memeluk lehernya erat. Uwais menepuk-nepuk bokong Naura sampai Naura tertidur lagi.


Di kamarnya, Naina benar-benar menyesal. Dia sudah pindah ke kamar di lantai tiga, dan tidak berani menemui Uwais untuk meminta maaf karena melihat tatapan Uwais tadi membuatnya sangat ketakutan.


” Bodoh kamu Naina” kata Naina memaki diri sendiri. Dia benar-benar bingung sekarang harus bagaimana, Naina berguling-guling di atas kasur dan menangis sampai sakit kepala dan hidungnya mampet, tidak lama dia tertidur. Satu jam kemudian, Uwais datang ke kamar Naina. Dia masuk perlahan-lahan dan dia juga memiliki kunci kamar Naina. Uwais diam berdiri mematung menatap istrinya.


” Dia menangis?" gumam nya karena melihat kedua mata Naina bengkak. Uwais menempelkan punggung tangannya di kening Naina dan Naina mengalami demam lagi. Uwais duduk di tepi ranjang untuk membangunkan istrinya takut Naina tidak sadarkan diri.


” Naina" panggil nya.


” Mas aku minta maaf” Naina mengigau.


" Naina kamu demam” kata Uwais panik, dia keluar untuk memanggil pelayan.” Pelayan!” berteriak.


” Ada apa bos?”


” Ambil kompresan dan obat istri saya” titah Uwais dan pelayan mengangguk, Uwais kembali masuk untuk menjaga Naina. Naina terus mengigau tidak berhenti, tidak lama pelayan datang dan Uwais mengompres kening istrinya.


” Mas, aku minta maaf” lirih Naina lalu lalu mencengkram kuat kerah baju suaminya sampai Uwais tertarik dan wajahnya hampir membentur wajah Naina.


” Iya iya” kata Uwais mengiyakan, lalu dia ikut berbaring dan Naina menenggelamkan wajahnya di dada suaminya yang wangi itu. Uwais menciumi rambut istrinya berulangkali.” Aku di sini" ucap Uwais. Naina tertidur lagi dan Uwais menjaganya. Uwais menoleh saat pintu terbuka, Naura masuk dan dia baru bangun.


” Mamah kenapa hiks,,," Naura sedih melihat kompresan di kening ibunya, jelas itu menunjukkan ibunya sedang sakit.. Uwais menekan bibirnya agar Naura berhenti menangis.


” Shutt, mamah lagi istirahat.”


” Mamah sakit?” tanya Naura dan Uwais mengangguk, Naura merebahkan tubuhnya dan memeluk ibunya itu. Ketiganya tertidur bersama di antara Naina yang terus mengigau dan Uwais berulangkali menenangkannya. Waktu berlalu, Naina terbangun dari tidurnya. Naina memiringkan tubuhnya ke kanan dia bergeser sampai hidungnya dan hidung Uwais beradu dan membuat Uwais terbangun.


” Hemmm" Naina dan uwais sama-sama menahan nafas, keduanya saling menatap lekat.


” Maaf mas” kata Naina lalu mundur menjauh. Uwais juga turun dari ranjang hendak melangkah pergi tapi Naina meraih tangannya.” Mas aku mau ngomong sebentar”


” Apa?”


” Aku minta maaf mas, aku gak sengaja tadi,,,”


” Aku banyak kerjaan” ucap Uwais menyela ucapan Naina lalu melangkah pergi sampai genggaman tangan Naina terlepas, Naina diam menatap kepergian suaminya. Naina benar-benar menyesal, dia keterlaluan sampai membuat suaminya marah. Naina menoleh dan melihat Naura terbangun.


” Mamah”


” Iya sayang”


*****


Kedatangan Syam.


Syam tidak tahu Naina sudah dibawa oleh Uwais pergi, dia datang ke ruko Naina dan menggebrak gebrak pintu rolling door ruko tersebut.


Brak! brak! brak!


Suaranya sangat berisik dan menganggu orang lain, Ali yang ada di ruko keluar dari rukonya mendengar suara berisik dari ruko Naina dia khawatir. Ali memperhatikan Syam yang berusaha merusak kunci gembok rolling door tersebut, Ali menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


” Syam!” tegur Ali dan Syam menoleh, Ali mengernyit heran melihat langkah Syam sempoyongan, kedua matanya merah dan tubuhnya mengeluarkan aroma alkohol.” Kamu mabuk Syam?” tanya Ali dan Syam tersenyum kecut.


” Dimana Naina? dimana!!” setengah berteriak.


” Naina gak ada, dia dibawa suaminya”


” Jangan bohong!” bentak Syam.

__ADS_1


” Terserah kalau kamu gak percaya, mending kamu pulang. Kamu mabuk Syam biar saya antar”


” Enggak usah sok peduli sama saya" ketus Syam. Syam melangkah pergi sambil melirik ruko Naina, bagaimana bisa Uwais membawa Naina pergi apa Naina sudah ingat semuanya? jika begitu dia tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Naina lagi. Syam benar-benar merasa putus asa. Ali terus memperhatikan Syam, dia khawatir Syam kenapa-kenapa di jalan. Tidak lama Ali pun kembali masuk ke ruko dan mengunci rukonya, dia tidur bersama Ai dan Alika di ruko.


****


Uwais berubah.


Pagi ini seperti biasa, Naina belum mengingat apapun. Naina memasak sarapan dibantu bibi, bibi memintanya untuk sarapan bersama yang lain dan Naina menurut. Naina duduk dan sesekali melirik suaminya. Uwais sudah sibuk menyantap sarapannya.


” Minumnya pak” kata Fatin seraya meletakkan gelas minum Uwais yang tadinya berada jauh dari Uwais, Uwais diam saat melihat Naina menatap Fatin kesal.


” Apa ini? mana aku tahu itu gelasnya, dia juga menerima apa yang diberikan Fatin" gumam Naina.


” Ya, terima kasih” kata Uwais lalu tersenyum kepada Fatin dan Fatin cengengesan.


” Mamah suapi” ucap Naura, dia tidak mau lagi di suapi oleh Fatin karena ibunya sudah ada.


” Kemari mamah suapi” tutur Naina sambil terus melirik suaminya kesal.


” Apa mas Uwais punya hubungan sama baby sitter ini? lalu untuk apa aku?” gumam Naina, pikirannya entah kemana hanya dengan melihat senyuman Uwais tadi. Uwais mengunyah makanannya lembut sambil memperhatikan wajah istrinya yang merah menahan tangis. Dia mengenal Naina seperti apa.


” Enggak enak kan sayang? itu baru Fatin ngasih aku segelas air bukan yang lainnya. Masih ragu buat menerima kenyataan kalau aku ini suami kamu?” gumam Uwais merasa sedikit puas melihat Naina cemburu walaupun Naina tidak ingat apa-apa. Di samping itu dia juga merasa khawatir.


” Nau, papah berangkat kerja dulu ya” kata Uwais berpamitan kepada Naura.


” Iya papah”


” Biar saya bawain tas nya pak” ucap Fatin, Naina bangkit dan merebut tas suaminya.


” Biar saya saja” ucap Naina, Uwais melangkah pergi dan Naina menyusul.


” Sial” umpat Fatin dalam hati.


Sesampainya di luar rumah, Naina berhadapan dengan Uwais.


” Ini tas kamu mas”


” Iya terima kasih” jawab Uwais begitu datar.


” Mas aku minta maaf” seru Naina berbicara cepat.


” Untuk?” Uwais menahan senyumnya.


” Waktu itu aku gak sengaja”


” Waktu itu kapan?”


” Waktu di kolam renang mas aku gak sengaja”


Uwais mengangguk. Dia belum merasa cukup atas ucapan Naina.


” Aku pergi” ucap Uwais. Dia melangkah pergi dan Naina sedih dengan reaksi suaminya yang biasa saja, Naina berbalik dia bahkan tidak diberikan kesempatan untuk menyalami tangan suaminya itu. Naina benar-benar sedih. Uwais diam di dalam mobil menatap kepergian istrinya masuk ke dalam rumah.


” Ada apa bos?” tanya Zidan.


” Aku sedang memberinya pelajaran”


” Bu Naina sedang hilang ingatan, kondisinya akan semakin buruk jika bos menghukumnya” tutur Zidan, dia mengingatkan Uwais yang dia juga tahu pasti ingin di manjakan oleh Naina dan menyentuh Naina dengan bebas tapi dengan keadaan sekarang Uwais harus banyak-banyak bersabar.


” Jalan” ucap Uwais memerintah dan Zidan mengangguk, Uwais diam dan memalingkan wajahnya. Dia juga tidak tega tapi dia tidak suka dengan sikap Naina yang berani menamparnya.


******


Bertemu Kabir.


Fatma keluar dari rumah sakit sendirian, dengan perut yang semakin besar dia berjalan sendiri. Kedua matanya merah hendak menangis, dia memiliki suami tapi memeriksakan kandungannya sendirian tanpa suaminya terasa hampa.


” Anak ibu gak salah apa-apa, kamu pasti kangen sama kak Syifa. Kak Syifa sering pegang perut mama tiap hari, semoga kita bisa ketemu lagi sama ayah sama kakak kamu nak” lirih Fatma seraya mengelus perutnya. Dari kejauhan sebuah mobil nampak melambatkan laju mobilnya saat melihat Fatma. Fatma menoleh saat mobil berhenti di hadapannya. Kabir keluar dan membuat Fatma mendelik sebal.


” Mau apalagi kamu Kabir? gak puas juga kamu bikin hidup aku sengsara jelas kamu tahu ini anak mas Syam tapi kamu malah bilang ini anak kamu, sekarang mas Syam gak perduli sama aku sama anaknya juga ini salah kamu Kabir” tutur Fatma sambil menangis.

__ADS_1


” Iya Fatma iya, ini salah aku!” bentak Kabir kesal.” Aku minta maaf, aku sudah bikin hidup kamu sulit. Karena aku sayang sama kamu Fatma”


” Ini bukan sayang, apalagi cinta Kabir..Ini nafsu. Kamu lihat? aku periksa kandungan sendirian. Keluarga aku gak ada yang mau nganterin apalagi mas Syam yang nyangka ini anak kamu”


” Aku minta maaf Fatma”


” Enggak ada gunanya kamu minta maaf”


” Aku janji gak bakal gangguin kamu mulai sekarang, aku Ikhlas kamu sama mas Syam. Aku minta maaf karena udah nyakitin kamu, aku minta maaf. Aku janji setelah ini kamu gak bakal lihat aku lagi Fatma, semoga kamu bahagia” tutur Kabir sambil bercucuran air mata, dia melangkah pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Fatma dia menatap kepergian mobil tersebut, dia merasa penyesalan Kabid benar-benar tidak berguna di situasi yang sudah kacau seperti ini.


Di rumah mama Novi, Syifa menangis dan terus menerus meminta untuk bertemu dengan ibunya.


” Nenek aku mau ketemu sama ibu” lirih Syifa.


” Iya nanti ya sayang”


” Aku maunya sekarang, aku mau ketemu ini nek" Syifa terus merengek.” Hiks,,,,”


” Berisik! nangis terus dari tadi" bentak Syam dan Syifa kaget mendengarnya.


” Syam jangan kasar sama Syifa”


” Dia nangis terus ma, aku pusing”


” Namanya juga anak-anak Syam” mama Novi kesal." Ayo ikut nenek” ajak mama Novi dan Syifa mengangguk, Syifa takut melihat Syam yang terus marah-marah.


****


Bertengkar.


Uwais masih belum pulang, dia sedang ada meeting tapi dia sepertinya tidak fokus. Zidan diam memperhatikan.


” Apa tuan mau datang ke acara kami? kami sangat banyak berharap.” Seru seorang pria seorang sekertaris dari perusahaan yang secara khusus datang ingin mengundang Uwais.


” Acaranya kapan?” tanya Uwais padahal pria tersebut sudah menyebutkannya.


” Dua hari lagi bos” kata Zidan berbisik dan Uwais mengangguk.


” Saya akan datang pasti” tutur Uwais dan Zidan terkejut, padahal dua hari lagi ada acara lain di luar kota.


” Kami tunggu tuan, terima kasih” tutur pria tersebut merasa senang. Pertemuan pun bubar dan Zidan masih bingung dengan keputusan Uwais. Zidan melangkah di belakang Uwais yang terus memijat tengkuknya.


” Apa kita perlu menelepon dokter Farhan?" tanya Zidan karena melihat Uwais sepertinya sedang sakit.


” Tidak usah” singkat Uwais lalu terus melangkah dan Zidan mengangguk. Uwais akhirnya pulang dan sesampainya di rumah dia melirik kamar Naina.


” Sedang apa dia?” tanya Uwais kepada bi Astri yang melangkah di belakangnya.


” Bu Naina baru saja masuk setelah menidurkan Nau bos” ucap Bi Astri dan Uwais tersenyum.


” Jangan sampai dia kabur" ucap Uwais dan Bi Astri mengangguk, Uwais masuk ke kamarnya dan mendekati Naura yang sudah tertidur pulas. Uwais mengecup kening putrinya itu lalu dia masuk ke ruangan ganti baju. Di kamar Naina, Naina sama sekali tidak bisa tidur dia bahkan tidak tahu Uwais sudah pulang atau belum. Hujan deras turun dan Naina takut saat mendengar suara gemuruh petir menyambar. Dia akhirnya keluar untuk melihat mobil Uwais sudah ada atau belum.


” Mau kemana Bu?” tanya Fatin.


” Mau lihat keluar” kata Naina.


” Ngapain Bu? di luar hujan atau ibu cuma mau tahu pak Uwais sudah pulang atau belum. Ibu kan istrinya, ibu gak tahu? saya aja tahu kalau pak Uwais sudah pulang” kata Fatin berbangga diri.


” Dia sudah pulang? dia gak datang ke kamar aku?” gumam Naina sedih.


” Kamu cuma baby sitter Fatin, sebaiknya kamu jaga sikap” tegas Naina.


” Kalau status saya sebagai baby sitter memang jelas, status ibu seorang istri tapi tidurnya pisah kamar. Lagi berantem ya bu? atau pak Uwais yang gak mau satu kamar sama ibu secara kan ya, ibu amnesia”


” Fatin!” bentak Dita, Fatin diam dan Dita menarik Naina ke belakang tubuhnya tapi Naina tidak mau.


” Yang sopan ya, saya istri sah bos kamu. Bagaimana pun hubungan saya dengan suami saya itu urusan kami, kami pisah kamar bukan karena ada masalah. Tapi karena ada sesuatu hal yang gak seharusnya kamu tahu, tapi sekarang saya sama suami saya bakal tidur sekamar lagi” tutur Naina dan Fatin mengepalkan tangannya, Naina tahu Fatin merendahkannya karena keadaannya. Naina melangkah pergi masuk ke kamarnya mengambil bantal nya.


” Mau tidur bareng beneran lagi sekarang” kata Fatin berbisik, Naina tersenyum kecut lalu melangkah pergi meninggalkan Fatin dan Dita. Dia melangkah mendekati kamar suaminya yang super besar itu, Naina berdiri dan tidak lama suara pintu terbuka dan bergeser.


” Lihat bukan? dengan berdiri saya langsung di persilahkan masuk” kata Naina mengejek dan Fatin sangat kesal. Naina masuk ke kamar Uwais masa bodo dengan keadaaan nanti yang penting Fatin tidak merendahkannya lagi dan tahu bahwa dia dan Uwais baik-baik saja.

__ADS_1


” Fatin, gila ya kamu” maki Dita." Ngomong apaan kamu sama Bu Naina tadi”


” Enggak usah ikut campur kamu Dita” ketus Fatin.


__ADS_2