
Uwais diam dan Naina mengobati luka di wajah nya, Uwais mau Naina duduk di pangkuannya sambil mengobati lukanya.
” Kamu di pukul sampai begini, apa kamu membalasnya mas?"
Uwais diam, dia takut Naina menilainya buruk jika tahu dia membalas Syam.
” Enggak" singkat Uwais.
” Kamu gimana sih mas, kalau ada yang mukul kamu kamu harus balas mereka. Kamu bisa babak belur kalau gak melawan”
Uwais mengernyit heran dan menyentil kening istrinya.
” Auw mas..”
” Kamu beneran amnesia Naina, dulu kamu gak begini”
” Masa? harusnya aku dari dulu begini”
Uwais tersenyum mendengarnya. Setelah selesai mengobati luka suaminya, sebelum itu Uwais memilih mandi terlebih dahulu.
” Oke, sudah sekarang kita tidur” ajak Naina, dia ingin turun tapi Uwais menahannya.” Ayo tidur mas” ajak Naina.
” Apa gak ada sesuatu dulu gitu, sebelum tidur?”
” Dih” Naina langsung melebarkan matanya mendengar ucapan Uwais.
” Di sofa saja, disini”
” Enggak, aku takut Naura tiba-tiba bangun.”
” Naura mau punya adek loh sayang, kita mainnya di kamar lain aja bisa”
” Ih enggak malu, kelihatan banget sama orang-orang mau ngapain”
” Beneran gak dikasih malam ini?”
” Enggak” Naina tersenyum dan Uwais juga tersenyum. Naura sepertinya butuh baby sitter baru dan tidur di kamarnya sendiri bersama baby sitter supaya papah dan mamah nya bisa berproduksi kembali secara rutin. Naina dan uwais berbaring di antara Naura, keduanya saling menatap lekat dan tersenyum.
*****
keesokan harinya, Naina membawa Naura ke rukonya. Naura berlarian kesana-kemari bermain dengan ceria walaupun tidak ada teman.
__ADS_1
”Awas jatuh” tegur Ai dan Naura mengangguk. Naina tersenyum memperhatikan Naura.
”Naura, sini nak” ucap Naina, dia membuka kotak makanan berisi makanan yang dia buat dirumah untuk Naura.
”Apa mama?” Naura bertanya seraya duduk di kursi yang disiapkan Naina.
”Makan dulu, sebentar lagi papa datang" ujar Naina dan Naura mengangguk.” Bismillah...” Satu suapan masuk ke mulut Naura, dia mengunyah makanannya lembut dan memperhatikan ibunya. Naura sangat bahagia, ibu yang selalu dia tanyakan kepada ayahnya saat ini bersamanya. Dan Naura berharap ibunya tidak pergi jauh lagi.
”Assalamu'alaikum” salam seorang wanita dan Naina menoleh.
”Wa'alaikumus Salaam” jawab Naina, dia bingung karena melihat tatapan wanita itu seperti mengenalnya tapi dia sama sekali tidak mengenalinya.
”Mbak, udah lama kita gak ketemu” ucap Fatma, Naina terlihat kebingungan.
”Kita saling mengenal?” ucap Naina bertanya, Fatma terkejut. Naina benar-benar lupa semuanya, masa lalunya dan semuanya dia tidak ingat. Naina terus tersenyum, hanya itu yang bisa dia lakukan.
”Aku Fatma” lirih Fatma.” Aku kemari untuk meminta maaf karena perbuatan mas Syam” tutur Fatma.
Ekspresi wajah Naina berubah, senyumannya luntur seketika saat mendengar nama pria yang hampir melecehkannya itu.
”Kamu siapanya dia?” Naina bertanya, melihat keadaan sudah serius dia meminta Dita untuk mengajak Naura pergi ke lantai dua. Fatma memperhatikan Naura yang begitu cantik, sama seperti ibunya.
”Aku istrinya mas Syam” jawab Fatma, sambil mengelus perutnya. Tatapan Naina pun tertuju pada perut besar itu.
”Mas Syam bohong mbak, mbak memang gak ingat dan biar aku yang mengatakannya. Dulu mbak sama mas Syam pernah menikah, tapi kalian bercerai. Dia bukan suami mbak lagi, aku harap mbak hati-hati mulai sekarang.” Tutur Fatma dan Naina mendengarnya dengan baik.
Fatma, bagaimana bisa dia menjelek-jelekkan suaminya sendiri. Naina semakin tidak paham, jika Syam seburuk itu kenapa dulu dia mau menikah dengannya. Dan Uwais bilang dia pernah hamil, mengandung anaknya Syam. Nailah memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa ngilu, dia memaksakan diri untuk mengingat semuanya sampai kepalanya sakit.
”Mbak” Fatma panik. Naina menggeleng kepala, membantah bahwa dia kenapa-kenapa. Dia baik-baik saja.
”Saya gak tahu masalah kamu dan mas Syam apa, sampai kamu menjelek-jelekkan suami kamu sendiri sama saya” lirih Naina, tangannya di bawah meja berkeringat dingin karena Naina berusaha menahan sakitnya.
”Karena aku khawatir sama mbak Nai, mas Syam itu nekad mbak. Mbak kenal sama mas Syam dengan baik lebih dari aku mengenal mas Syam. Tapi mbak lupa semuanya dan aku mohon supaya mbak Nai hati-hati” lirih Fatma serak, dia raih tangan kanan Naina perlahan dan Naina diam.” Apapun yang mas Syam katakan, jangan percaya”
Naina menganggukkan kepalanya, dia yakin gadis dihadapannya itu jujur dan tidak main-main. Fatma merasa senang karena Naina mau berbicara baik-baik walaupun dia tidak ingat apa-apa.
Setelah mengobrol, Naina sempat menawarkan air minum tapi Fatma menolak. Naina diam membisu dan sakit kepalanya tak kunjung menghilang, Uwais yang baru sampai bergegas masuk ke dalam ruko dan melihat Naina sedang meminum obat nya.
”Nai, kepala kamu sakit lagi?” ucap Uwais dan membuat Naina kaget.
”Mas, kamu bikin aku kaget tahu gak. Salam dulu”
__ADS_1
”Maaf, kamu kenapa?”
”Kepala aku cuma sakit, tapi sekarang udah baikan” lirih Naina, Uwais menyentuh pucuk kepala istrinya itu lembut lalu menciumnya.
”Kita ke rumah sakit saja” Uwais sangat khawatir, Naina menggeleng kepala. Ai dan Mia diam, saling berbisik sambil cengengesan melihat keduanya. Naina sudah menerima dan percaya Uwais adalah suaminya, Ai sangat senang. Naina akan aman bersama suaminya dan untuk menjaga Naina dari Syam.
*****
Di rumah Rosa, dia marah. Tidak terima karena suaminya lebih perhatian kepada Ai istri mudanya, Ali berusaha untuk adil. Ai membutuhkan perhatian lebih karena sedang hamil. Tapi Rosa tak mau mengerti, begitulah rasa cemburu. Tidak memandang situasi dan kondisi.
”Kamu pilih aku atau Ai mas?” Rosa sudah tidak kuat lagi, akhirnya dia meminta suaminya untuk memilih. Ali terlihat marah dengan ucapan Rosa, bagaimana bisa dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit.
”Aku berusaha adil, jangan memintaku untuk memilih. Jangan memintaku untuk menyakiti salah satu diantara kalian berdua” lirih Ali meminta, dia berusaha meraih tangan istrinya itu tapi Rosa tidak mau. Begitu sulitnya kehidupan rumah tangga dalam situasi poligami, Rosa sering cemburu dan Ai pun begitu.
”Ayo bicara baik-baik, jangan berteriak. Malu sama tetangga, anak kita lagi tidur. Kalau dia bangun gimana?” Ali memelas, dia meraih jemari tangan istrinya lembut dan Rosa tersadar atas apa yang dia katakan, dia bahkan berteriak kepada suaminya sendiri. Betapa berdosa nya dia.
”Aku akan berusaha memperbaiki semuanya, tapi jangan minta aku untuk memilih. Aku sayang sama kamu begitu juga dengan Ai. Kamu bilang tidak kuat menahan rasa cemburu, lalu bagaimana dengan aku yang stres untuk memikirkan bagaimana caranya bersikap adil untuk kalian berdua?” suara Ali berat, wajahnya memerah. Buliran air bening jatuh membasahi pipinya itu, Rosa menoleh dan dia merasa hancur melihat suaminya menangis karena dirinya.
”Aku akan berusaha lagi, tapi aku butuh dukungan kamu. Jangan pernah berpikir untuk aku lepaskan ataupun untuk pergi jauh dariku Rosa. Aku tahu kamu cemburu, tapi tolong jangan berlebihan.” Pinta Ali, Rosa menangis sejadi-jadinya dan Ali langsung memeluknya erat." Aku minta maaf Rosa” lirihnya kembali.
”Aku minta maaf mas, aku kehilangan kendali karena aku cemburu. Aku minta maaf sudah berteriak sama kamu tadi hiks,,,” tutur Rosa merasa bersalah, dia usap air mata suaminya yang menetes karena ulahnya itu. Ali tersenyum karena Rosa begitu dewasa, berusaha pasrah akan semua yang terjadi walaupun terkadang dia memang belum bisa menahan amarahnya yang sering meledak-ledak.
Keduanya pun saling meminta maaf, dan Rosa akan berusaha untuk menerima jika Ali perhatian kepada Ai karena memang Ai sedang mengandung. Dan dia berharap cinta suaminya tidak berkurang sedikitpun untuknya.
******
Malam semakin larut, setelah menidurkan Naura. Naina tak kunjung mengantuk, dia berdiri di depan jendela. Menatap situasi diluar sana yang begitu gelap, angin berhembus kencang. Membuat rambut panjangnya tertiup dan kusut.
Naina tersenyum, dia menutup matanya. Tangan besar Uwais melilit pinggang rampingnya itu lalu menciumi lehernya.
”Kenapa belum tidur sayang?” ucap Uwais bertanya, lalu berhenti menciumi leher istrinya.
”Aku belum bisa tidur mas” suara Naina terdengar serak dan sedih, Uwais cemas lalu menarik kedua bahu istrinya itu agar menghadap padanya.
”Apa orang yang tadi siang yang datang ke ruko membuat kamu takut?” uwais bertanya dan menatap istrinya lekat.
”Aku cuma khawatir, bukan takut. Jangan salah paham” Naina tersenyum, tangannya bergerak mengancingkan kancing baju Uwais yang terbuka, padahal Uwais sengaja.
”Kenapa?”
”Aku khawatir, akan ada yang datang lagi mengaku-ngaku keluarga, teman, sahabat. Mereka datang tapi aku gak kenal, bisa saja aku dulu membuat hati seseorang sakit hati lalu dia datang untuk memanfaaatkan kondisi aku sekarang mas. Aku khawatir, Naura sama kamu. Aku mengkhawatirkan kalian berdua” tutur Naina, Uwais meraih tangannya. Menciumnya lalu mengenggamnya erat.
__ADS_1
”Kalau memang ada yang datang terus berbicara aneh-aneh atau yang lainnya, segera kabari aku Naina. Yang penting kamu percaya sama aku, jangan khawatir sama aku dan Naura. Justru aku mengkhawatirkan kamu yang sedang sakit. Dan jangan pernah menyembunyikan apapun dari aku” tutur Uwais, kemudian dia memeluk istrinya erat dan Naina membalas pelukan suaminya.
”Iya mas" singkat Naina, dia diam dan menutup mata. Merasakan pelukan hangat dan membuatnya tenang serta nyaman, raut wajah Uwais nampak khawatir. Jika ada yang macam-macam ataupun berbicara aneh-aneh sampai membuat Naina meragukan dia dan Naura bagaimana? dia berjuang keras untuk membuat Naina kembali ke pelukannya, dan dia tidak mau ada yang memanfaatkan kondisi istrinya itu.