Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Naina sedih


__ADS_3

Naina sudah mengatakan kepada keluarganya jika Ali akan datang dan untuk melamarnya, dan dia pun akan pulang. Mengingat Ali masih kerabat Mirza, pak Fahmi menanyakan perihal Ali kepada Mirza dan Mirza mengatakan hal yang baik untuk meyakinkan pak Fahmi karena memang Ali sangat baik dikenal oleh keluarganya juga seperti itu. Naina yang sudah bersiap untuk pulang mendapatkan pesan dari Ali untuk bertemu. Padahal sebentar lagi Travel datang. Naina pun datang dan dia terburu-buru.


” Mas” panggil Naina dan Ali menoleh.


Ali terlihat sedih sekaligus gelisah dan Naina tidak pernah melihat Ali seperti itu sebelumnya.


” Nai aku mau bicara sesuatu sama kamu”


” Iya mas silahkan”


Ali menundukkan kepalanya sejenak.


” Aku minta maaf”


” Minta maaf kenapa?”


” Kita gak bisa lanjut Nai, keluarga aku gak ada yang setuju. Aku benar-benar minta maaf” lirih Ali, dia maju UN mendekat tapi Naina mundur menjauh. Wajah kebahagiaan tiba-tiba redup, Naina diam dan mencoba tersenyum walaupun bibirnya terasa kaku. Kedua matanya berair dan dia bingung karena keluarganya sudah bersiap.


” Nai”


” Karena aku janda dan cacat mas?” Naina bertanya, suaranya berat dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak berani menjawab pertanyaan Naina.” Enggak apa-apa mas, tapi seharusnya kamu ngomong dari awal. Keluarga aku udah siap-siap dari Nol. Enggak apa-apa mas, terima kasih. Permisi, assalamu'alaikum”


” Nai” Ali ingin menahan Naina tapi dia tidak mampu.” Wa'alaikumus Salaam” jawab Ali.


Naina terus melangkah, air matanya menetes deras. Dia tekan dadanya yang terasa sesak, gadis mana yang tak sakit hati jika pria yang dia impikan memutus hubungan yang sudah menyangkut dua keluarga. Ayahnya bahkan sudah sangat senang, namun Allah tidak menghendakinya untuk bersama dengan Ali. Naina merogoh ponselnya yang bergetar. Panggilan masuk dari supir travel.


” Assalamu'alaikum pak, saya minta maaf saya gak jadi pergi malam ini”


” Kenapa begitu mbak? saya lagi di jalan”


” Saya sedang berduka pak”


” Innalilahi, iya gak apa-apa mbak kalau begitu”


Panggilan berakhir, Naina kembali ke rukonya dan menangis sejadi-jadinya di sana. Naina tak kuasa menelepon, dia mengirimkan pesan kepada Kabir untuk mengatakan kepada yang lain jika semuanya dibatalkan.


****


Dua hari kemudian, pertemuan ketiga pria terlibat masalah. Uwais, Syam dan Rangga di rumah Syam. Uwais dan Rangga saling menatap tajam. Uwais datang tanpa sepengetahuan Zidan.


” Jadi kamu yang selama ini meneror kami?” tanya Syam.


” Ya, singkat Uwais”


” Kurang ajar kamu Uwais” geram Rangga dan Syam menahannya untuk tidak menyerang Uwais.


” Aku sudah melaporkan kalian berdua ke polisi, siap-siap untuk tinggal di penjara” Uwais tersenyum sinis. Syam dan Rangga terlihat panik.


” Rangga yang menyetir saat itu, dan dia mabuk. Aku tidak tahu apa-apa Syam” Syam membela diri.


” Aku mabuk dan kau mengajakku bertengkar Syam, kamu yang menarik setir sembarangan” Rangga marah.


” Kalian berdua bersalah, kita berniat untuk liburan bahkan keluargaku sangat baik kepada kalian berdua. Kamu Syam kamu bahkan diam-diam menyukai adikku Nafisah. Kalian berdua salah” lirih Uwais dan dia tiba-tiba mengingat kenangan bersama keluarganya yang berputar seperti sebuah film.


” Tangkap aku jika bisa, kamu tidak akan bisa memenjarakan aku Uwais” Rangga bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, Uwais mengeluarkan senjatanya dan menembak...


Dorr! suara tembakan menggema, Rangga mengangkat kedua tangannya ke udara dan ketakutan.


” Di rumahku ada anak kecil aku mohon Uwais” rengek Syam dan Uwais menempelkan ujung senjata di kening Syam.

__ADS_1


” Anaknya Miko, dia mati sebelum aku membuat pembalasan padanya”


” Jangan bunuh aku Uwais, jangan masukkan aku ke penjara. Sebagai gantinya akan aku berikan wanita yang paling berharga untukku yaitu Naina. Kamu menyukai Naina kan?”


” Kamu” Uwais geram.” Kamu memberikan seorang wanita yang bahkan bukan milikmu”


” Dia akan mau menikah denganmu jika tahu aku akan kamu penjarakan Uwais”


” Cih” desis Uwais lalu dia mundur tapi tetap mengarahkan senjatanya. Rangga yang melihat Syam dan Uwais sibuk berdebat dia pergi, Uwais sadar tapi dia membiarkannya.


” Nikahi Naina” titah Syam kepada Uwais.” Tapi ceraikan dia setelah 6 bulan”


” Supaya kamu bisa menikahinya kembali?” Uwais menggeleng kepala melihat Syam mau menggunakannya untuk mendapatkan Naina. Syam mengangguk lalu dia berlutut di hadapan Uwais agar mau menikahi Naina. Dengan begitu dia bisa mendapatkan Naina dan Uwais tidak akan memenjarakannya karena Naina tidak akan membiarkan itu terjadi. Uwais yang malas menghadapi Syam memilih pergi dan Syam menatap kepergiannya.


Di tempat lain, Uwais berhenti di depan sebuah masjid dia lihat masjid yang terlihat ramai itu karena sudah masuk waktu sholat magrib. Uwais melemparkan senjata yang dia pegang ke bawah kakinya, dia remas rambutnya frustasi. Air matanya menetes deras, tidak mau dia melakukan hal itu namun dendam menggerogoti hatinya. Uwais mengusap air matanya dan bergegas untuk melaksanakan sholat magrib, pernah kita mendengar seburuk apapun kita sholat lah, sejahat apapun kita sholatlah karena sholat itu kewajiban. Sholat adalah kunci diterimanya semua amal baik dan amal ibadah kita. Uwais mengambil wudhu lalu dia sholat dengan kedua mata yang merah dan berair, terhalang oleh pembatas antara shaf perempuan dan laki-laki Naina juga sedang melaksanakan sholat dengan kedua mata berkaca-kaca. Setelah selesai Naina berdoa terus-menerus memohon ampun karena dia berharap kepada manusia yaitu Ali dan melupakan Tuhannya Allah yang memiliki kehidupannya dan semua kehidupan di alam semesta ini. Begitu juga dengan Uwais memohon ampun dan ingin terlepas dari hati kotornya yang dipenuhi dengan rasa dendam dan amarah. Setelah Naina selesai dia melipat mukenanya. Seorang wanita tua mendekat karena dia melihat Naina menangis.


” Assalamu'alaikum nak”


” Wa'alaikumus Salaam” Naina menoleh.


” Jika dia bukan untukmu dia akan menghilang tapi jika dia yang lain datang ke hadapan mu itu adalah titipan dari Allah untuk kau jaga” imbuh nenek seraya mengusap pucuk kepala Naina lembut, Naina diam dan melihat wanita tua itu pergi. Naina bergegas memasukkan mukenanya ke dalam tas untuk menyusul wanita tadi, apa yang di maksud dengan ucapannya. Naina sholat magrib di masjid karena dia takut telat sampai ke ruko. Naina keluar dan dia mencari wanita tadi. Naina terdiam melihat seorang pria yang dia kenal yang juga menatapnya bingung.


” Naina” gumam Uwais.


” Uwais?” gumam Naina.


Naina menundukkan kepalanya dan Uwais memalingkan wajahnya, Uwais memakai sepatunya lalu dia melangkah pergi meninggalkan area masjid. Naina pun memakai sandalnya untuk segera pulang. Uwais memperhatikan Naina yang masuk ke dalam angkot dan dia melajukan mobilnya perlahan mengikuti, untuk memastikan gadis itu aman sampai ke tempatnya. Di dalam angkot Naina menoleh dan melihat Uwais mengikutinya. Naina diam lalu menundukkan kepalanya.


******


Di apartemen, Amira sedang berkumpul dengan geng nya termasuk Hamdan.


” Aku kira Uwais bisa diajak kerjasama, tapi ternyata” Amira kesal.


” Aku benar-benar di permalukan oleh wanita itu, dia bahkan menamparku” Amira geram.


” Jangan memikirkan urusan itu terus Amira, layani aku” imbuh Hamdan lalu kedua pria bertubuh besar yang sering Amira suruh keluar dari apartemen.


” Bikin malu!” bentak Amira dan mendorong Hamdan agar menjauh.


” Kita sudah lama tidak memanjakan diri masing-masing”


” Diam!” Amira merasa jijik dan tidak mau melayani Hamdan.


Kreddtt.. Tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Hamdan dan Amira panik, Tari masuk dan melihat pemandangan yang begitu panas itu.


” Amira” Tari bingung melihat Amira ada di apartemen suaminya, dia lirik semua sepatu Amira berserak begitu juga dengan baju kotor dan botol alkohol.” Jadi kamu selama ini selingkuh sama Amira mas” teriak Tari lalu...


Plak! Tari menampar suaminya,Hamdan terkejut begitu juga dengan Amira.


” Kurang ajar kamu Amira, kurang ajar” Tari menangis histeris seraya menjambak dan memukuli Amira.


Hamdan menahannya dari belakang dan Tari menendang perut Amira sampai Amira terjatuh.


” Wanita murahan, aku bersyukur Syam menceraikan kamu Amira!”


” Kurang ajar” Amira terpancing emosi, ingin melawan tapi perutnya sakit.


” Tari berhenti, bikin malu kamu” Hamdan mencengkram kuat pergelangan tangan istrinya dan menariknya untuk segera keluar dari apartemen.

__ADS_1


” Lepas mas, lepas hiks,,,”


” Keluar” Hamdan menghempaskan tubuh istrinya sampai Tari tersungkur kasar ke lantai.” Jangan kemari lagi, kita bicarakan di rumah. Sekarang kamu pulang atau aku bunuh kamu Tari” ancam Hamdan dan Tari bangun perlahan-lahan.


” Kurang apa aku mas”


” Kamu mandul, kamu gak bisa bikin aku puas Tari dan Amira yang selalu bisa memuaskan aku”


Tari terus menangis mendengarnya.


” Pulang” titah Hamdan lalu dia masuk dan mengunci pintu. Tari melepaskan sepatu hak tinggi nya lalu dia lempar ke pintu sekuat tenaga, banyak orang yang memperhatikan keributan tersebut dan Tari terus menangis.


*****


Di toko Naina, Naina keluar dari toko untuk membuang sampah dan dia melihat Ali. Ali terlihat gelisah dan langsung memalingkan wajahnya begitu juga dengan Naina, Ai yang melihat hal tersebut merasa sedih. Naina membuang sampah dan dia masuk tidak lama Syam datang dan membuat Ali khawatir.


” Kamu mau apa kemari lagi mas?”


” Uwais akan memasukan aku ke penjara Nai” lirih Syam dan kedua mata Naina membulat mendengarnya, masih ada perasaan untuk Syam walaupun sedikit dan itu membuat Naina tidak tega melihat mantan suaminya yang pernah dia cintai begitu dalam masuk penjara terlebih ada Syifa.” Syifa bukan anak aku, dia anaknya Miko aku sudah melakukan tes DNA dan sekarang Uwais mau memasukkan aku ke penjara dan Rangga”


” Pak Rangga?” Naina bingung.


” Nai, kecelakaan itu bukan hanya ada aku. Tapi ada Rangga, Uwais, Miko dan keluarga Uwais. Rangga yang menyetir sampai kecelakaan itu terjadi”


Naina semakin terkejut mendengarnya.


” Uwais di penjara karena kesalahan aku Naina, aku mengakuinya tapi kecelakaan itu adalah perbuatan Rangga. Aku salah tapi Rangga lebih salah. Aku akan masuk penjara, ayah aku mama dan keluarga aku terlebih Syifa akan bagaimana jika aku di penjara Nai?” Syam menangis lalu dia berlutut di hadapan Naina dan memeluk kedua kaki Naina erat.


” Mas jangan begini”


” Aku minta maaf Naina, aku minta maaf. Aku sayang sama kamu Nai”


” Kamu salah mas, kamu tetap salah karena ada di sana tapi tidak berniat menolong siapapun yang sudah kesusahan. Keluarga Uwais dan keluarga aku bahkan ibu aku meninggal mas” lirih Naina dan mendorong Syam agar menjauh darinya Syam bangkit dari lantai dan meraih tangan Naina.


” Iya aku salah, aku tahu. Sebelum aku di penjara aku mau kamu jujur sama aku, kamu masih sayang kan sama aku Nai? ayo bilang. Pasti ada perasaan untuk aku walaupun hanya sisa” Syam menatap Naina sendu dan Naina sudah menangis. Syam melepaskan genggaman tangannya dan menunggu Naina jujur.


” Kita sudah selesai mas, aku mohon jangan terus kemari”


” Aku mau rujuk sama kamu Nai”


” Gak bisa mas walaupun aku mau”


” Kamu hanya perlu menikah dengan pria lain, setelah itu bercerai dan kita bisa menikah lagi Nai”


” Maaf mas tolong pergi”


Naina berbalik untuk meninggalkan Syam dan Syam menahannya.


” Aku akan di penjara Naina, dan hanya kamu yang bisa membuat hal itu tidak terjadi”


” Kamu ngomong apaan mas, minggir mas aku mau lewat”


” Uwais gak bakal masukin aku ke penjara kalau kamu mau nikah sama dia, dan aku bakal nungguin kamu sampai pisah sama dia Nai”


” Kamu pikir pernikahan itu permainan mas, awas”


” Pikirkan lagi Naina, hanya kamu yang bisa nolongin aku”


” Dan aku gak mau mas nikah sama Uwais, mas juga tahu dia seperti apa.”

__ADS_1


” Dia gak bakal berani nyakitin kamu Naina, hanya dengan menikah lagi terus bercerai aku bisa menikahi kamu lagi Naina”


” Enggak” tegas Naina dan dia menaiki tangga meninggalkan Syam, Syam tidak berani menyusul jika Naina sudah menaiki tangga menuju tempat beristirahat.


__ADS_2