Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Ini salah


__ADS_3

Naina diam mendengarkan semuanya, semua yang diceritakan Rizal. Rizal berharap Naina ingat walaupun hanya satu hal, tapi Naina sama sekali tidak ingat. Dia berulangkali menggeleng kepala, Rizal diam. Menghela nafasnya sejenak, dia diam dan berhenti menceritakan semuanya.


”Bu Nai ingat sama mas Uwais?” ucap Rizal.


”Belum”


Rizal mengernyit heran, lalu kenapa bisa dia bertanya Uwais tanpa ragu saat ini.


”Apa dia memaksa? bagaimana bisa kalian hidup bersama kalau Bu Nai sama dia aja gak ingat” nada bicaranya terdengar kesal. Naina tersenyum tipis.


”Saya juga berpikir begitu, bagaimana bisa? tapi mas Uwais memiliki semua bukti kuat kalau saya istrinya, ditambah Naura. Kami sudah lama terpisah, melihatnya saya tidak tega walaupun belum ingat. Tapi saya tahu Naura memang anak saya, saya yakin itu” tutur Naina dan Rizal terdiam.


”Aku murid Bu Naina, kita juga cukup dekat. Semoga Bu Nai percaya dan mau menghubungi ku kalau ada masalah”


”In sha Allah” jawab Naina sambil tersenyum tipis.


***


Malam hari, Naina sedang menyuapi Naura makan. Setelah selesai, di susul buah-buahan segar yang di potong dadu. Naura semakin lahap, semakin terlihat bahagia setelah kehadiran ibunya.


”Papa” seru Naura begitu antusias saat melihat Uwais pulang, Naina tersenyum. Membantu Naura turun dari sofa dan Naura berlari menghampiri Uwais.” Papa pulang” ucapnya kembali.


Uwais tersenyum, dia gendong putrinya itu. Naina mendekat, menyalami tangan suaminya lembut, Uwais membalas dengan usapan lembut di kepala Naina.


”Aku bikin teh ya” ucap Naina dan Uwais mengangguk.


”Ayo kita duduk” ucap Uwais, membawa Naura ke arah sofa. Dia duduk dan Naura di pangkuannya. Uwais menyuapi Naura buah, tidak lama Naina datang dan Uwais menoleh. Naina mendekat, dia membungkuk dan meletakkan segelas teh hangat untuk suaminya di atas meja.


”Terima kasih” kata Uwais sambil tersenyum. Naina juga tersenyum lebar, Naura tidak bisa diam di pangkuan Uwais. Terus bergerak-gerak dan sampai berdiri di pangkuan ayahnya. Naina tersenyum, tertawa bersama suami dan anaknya. Entah kapan ingatannya akan kembali, dia pun tidak tahu. Dia sedang menunggu, agar rasa canggung dan kecemasannya lenyap.


kakek, bi Astri dan Zidan diam memperhatikan ketiganya. Suasana yang begitu bahagia, kedua mata kakek nampak berair. Betapa bahagianya dia melihat Uwais dan Naura yang bisa berkumpul bersama dengan Naina, doa dan harapan kakek adalah Naina lekas sembuh. Mengingat segalanya, karena itu sangat penting.


Malam semakin larut, Naura sudah tertidur pulas. Di kamarnya, bersama Eva. Sementara Naina dan Uwais, sudah bersiap untuk tidur. Naina menoleh, memiringkan tubuhnya lalu meletakkan telapak tangannya di dada Uwais. Uwais yang sedang diam melamun, kaget. Dia menoleh dan melihat istrinya tersenyum manis.


”Kamu diem aja dari tadi, gelisah banget kelihatannya. Ada apa mas?” ujar Naina bertanya. Uwais juga memiringkan tubuhnya, lalu membelai rambut istrinya lembut.


”Aku takut Nai” jawab Uwais. Naina mengernyit heran.


”Takut apa? ada yang jahil sama kamu mas?” ucap Naina, seolah-olah jika itu benar dia yang akan melindungi suaminya. Uwais terkekeh-kekeh, dan Naina cemberut.” Kenapa sih mas”


”Aku takut, kamu ninggalin aku. Sabar ya Nai, semoga kamu bisa segera ingat semuanya. Kita sama-sama terus ya, jangan pernah ada keraguan di hati kamu. Aku suami kamu, Naura anak kita” tutur Uwais dan Naina diam mendengarkan. Uwais tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke kening Naina, dia kecup mesra kening istrinya itu.


”Aku gak ragu mas, aku cuma canggung. Itu yang aku rasain, gak usah khawatir. Aku disini, sama kamu dan Naura” lirih Naina, dia tatap wajah suaminya lekat. Suaminya yang belum dia ingat seperti apa dulu, bagaimana dia dan Uwais menikah dan yang lainnya. Uwais tersenyum lebar dan mengangguk” Apa kita menikah karena paksaan mas?”


”Enggak, aku memang sedikit memaksa kamu sayang. Biar kamu mau, kamu susah banget di deketin. Awal-awal pernikahan kita gak sedekat seperti pasangan pada umumnya, kita baru mengenal sebentar. Aku datang ke rumah kamu tanpa sepengetahuan kamu, kita menikah dan akhirinya aku berhasil membuat kamu dekat sama aku Nai” tutur Uwais menceritakan sepenggal kisah percintaan dengan pemaksaan yang dia lakukan, Naina diam dan tersenyum lebar.


”Aku jutek banget ya?”

__ADS_1


”Enggak, buktinya kita sampai memiliki Naura” goda Uwais dan tersenyum mesum, Naina diam saat Uwais menggesekkan hidungnya di hidungnya gemas. Di susul dengan kecupan mesra di bibir. Keduanya berpelukan hangat, wajah Naina menempel di dada suaminya. Uwais mendekap tubuh istrinya erat. Keduanya sangat bahagia, walaupun Naina belum ingat apa-apa.


******


Waktu berlalu, di kediaman Fatma semua orang panik saat Fatma mengalami kontraksi. Kehamilan, dan menjelang kelahiran pertama untuk Fatma. Dia belum paham mulesnya kontraksi seperti apa, sakitnya melahirkan seperti apa. Ayahnya langsung membawa Fatma ke rumah sakit.


Di ruang bersalin, Bu Anggi dengan setia mendampingi putrinya.


”Bu, telepon mas Syam bu” pinta Fatma.


”Jangan mikirin suami kamu yang bertanggung jawab itu Fatma, ada ibu di sini” sinis Bu Anggi menjawab. Fatma terus menangis dan terus menangis, kelahiran anaknya tanpa dihadiri ayah kandungnya, apakah benar? dia memang kecewa dengan Syam, tapi Syam tetaplah suaminya. Belum jatuh talak, ataupun yang menyatakan keduanya akan berpisah. Setelah berpikir panjang, Fatma mengurungkan niatnya untuk menggugat cerai suaminya. Rasa cintanya terlalu besar, anaknya juga butuh sosok ayahnya. Bertahan demi anak memang tidak salah, tapi menyiksa diri sendiri.


brak..


Pintu terbuka, semuanya menoleh pada Syam yang masuk. Tatapan Bu Anggi langsung berubah tajam, dia tidak suka melihat kehadiran menantunya itu. Bibir Fatma mengukir tersenyum, tidak lama dia meringis lagi dan memegang perut besarnya.


”Fatma” suara Syam serak, dia mendekati Fatma lalu memeluknya erat.


”Mas, kamu datang?” ucap Fatma, dia merasa bahagia.


”Iya aku disini, aku minta maaf telat” ujar Syam, Fatma mengangguk dan Syam mengenggam tangannya erat, kontraksi masih terus berlangsung. Bu Anggi yang tidak tahan melihat Syam akhirnya keluar.


”Berbaring Bu, biar saya periksa” ujar dokter dan Fatma berbaring dibantu suaminya. Dokter memeriksa, bersamaan dengan ketuban yang pecah, rasa sakit yang menderanya membuat Fatma terus meringis. Syam memegang kedua tangan istrinya itu.


”Kamu kuat Fatma” Syam berbisik ditelinga istrinya.


”Ayah ngapain sih bawa Syam kemari” ketus Bu Anggi di luar ruangan kepada suaminya.


”Syam gak ngakuin itu anaknya, dia malah pulangin Fatma ke kita. Aku gak rela” tegas Bu Anggi.


”Sudah Bu, biarin aja Syam melihat bagaimana perjuangan Fatma. Semoga saja dengan melihat Fatma, dia bisa sadar kalau tuduhannya salah. Keduanya memang gak hidup satu rumah, tapi Syam tetap tanggung jawab Bu" tuturnya dan Bu Anggi tetap tidak mau mendengarkan.


Bu Anggi terduduk malas, dia bangkit lagi saat mendengar suara bayi begitu kencang dari dalam ruangan.


”Cucu kita lahir” ujar ayah Fatma, Bu Anggi ingin masuk tapi perawat yang baru keluar tidak mengizinkannya.


”Cucu saya, laki-laki atau perempuan?” tanya Bu Anggi.


”Cucu ibu perempuan” ucap perawat, Bu Anggi tersenyum lebar. Betapa bahagianya dia mendengar kabar tersebut.


”Duduk dulu” ajak suaminya dan Bu Anggi duduk, menunggu sampai keduanya bisa melihat sang cucu.


****


Raut wajah Naina begitu pucat, dia bingung harus bagaimana. Tangan kanannya bergerak, mengelus perut ratanya yang mulai terasa mengalami sedikit perubahan. Tangan kirinya memegang benda kecil, yang menunjukkan hasil yang dia khawatirkan, yaitu garis dua. Naina sudah telat, setelah kejadian malam itu Uwais membobol pertahanannya.


”Aku harus gimana?” ucapnya kepada diri sendiri. Naina keluar dari kamar mandi, sambil terus memandangi tespack di tangannya.

__ADS_1


”Sayang, aku dengar dari Bi Astri kamu sakit. Kenapa?” tutur Uwais yang baru masuk ke dalam kamar, Naina menoleh dan kaget, dia sembunyikan testpack di belakang punggungnya. Uwais tersenyum, dia sudah berdiri di hadapan Naina.” Apa itu tadi?”


”Bukan apa-apa mas” jawab Naina sambil menunduk. Senyuman Uwais meluntur saat Naina menolak untuk dia sentuh.


”Nai...” Ucap Uwais lembut.


”Aku mau tidur sebentar” ujar Naina, dua melangkah melewati Uwais tapi Uwais menarik lengan kirinya, membuat keduanya kini berhadapan kembali dan saling menatap.


Uwais diam terpaku saat tatapannya teralihkan pada benda kecil di tangan istrinya.


”Lepas mas!” tegas Naina, begitu sinis dan melepaskan tangannya.


”Aku lihat” ucap Uwais seraya merebut tespack di tangan istrinya, Naina menunduk lemah dan menangis. Uwais tersenyum lebar, kedua matanya berkaca-kaca mendapati kabar bahagia ini, istrinya hamil.


Uwais memeluk Naina erat, dia ciumi rambut istrinya itu.” Kamu hamil sayang, pokoknya kita periksa sekarang ya. Alhamdulillah” tuturnya begitu bahagia.


”Lepas mas” kata Naina, dia dorong tubuh suaminya kasar sampai pelukan Uwais terlepas.


”Kenapa?” suara Uwais berubah.


”Ini salah, aku salah” ucap Naina begitu sedih dan frustasi. Dia mundur sejauh mungkin dari suaminya, tapi Uwais maju mendekat.


”Salah apa sayang?” Uwais masih berusaha tenang. Dia panik saat melihat Naina menangis." Naina, kepala kamu sakit lagi?” khawatir.


”Jangan dekati aku, aku mohon. Aku mau pergi saja, ini salah. Aku hamil, ini salah” tutur Naina serak, air matanya terus menetes membasahi kedua pipinya.


”Aku suami kamu, anak itu hasil hubungan kita, ada orang tuanya yang jelas. Salah darimana Nai, apa kamu mengira bahwa hubungan kita ini gak jelas? kamu masih ragu aku suami kamu?” ujar Uwais sedikit kesal. Naina diam, tidak menimpali ucapan suaminya. Dia remas rambutnya frustasi, Uwais panik saat tubuh istrinya terhuyung lemas, akan terjatuh. Dia sigap menahan, merengkuh tubuh Naina erat. Naina merasa pusing, tatapannya kabur dan kini semuanya gelap.


”Naina” Uwais panik. Istrinya tidak sadarkan diri, Uwais akhirnya menggendong istrinya itu. Dia mengambil kerudung dan menutupi rambut istrinya asal, Uwais keluar, melangkah dengan sesekali berlari membawa tubuh istrinya.


”Bos” seru Eva.


”Titah Zidan menyiapkan mobil” tegas Uwais memerintah, Eva langsung mengeluarkan ponselnya, menelepon Zidan yang sedang di luar rumah.


Di lantai satu.


”Mama kenapa, mama hiks.." Tangisan Naura pecah, melihat ibunya digendong seperti itu. Kakek datang untuk melihat apa yang terjadi.


”Sama bibi” ajak Bi Astri lalu menggendong Naura.


”Jaga Naura” titah Uwais, dia tatap muka polos anaknya itu sekilas, lalu kembali melangkah membawa Naina.


”Mama” jerit Naura.


”Main ya, ayo sama bibi”


”Mau sama papa, mama. Mama kenapa?” Naura tetap histeris, bi Astri memaksa membawanya pergi untuk ditenangkan.

__ADS_1


Zidan yang melihat majikan perempuannya pingsan, lekas membuka pintu mobil. Uwais membawa Naina masuk perlahan.


”Ke rumah sakit cepat” tegas Uwais dan Zidan masuk, mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman Uwais.


__ADS_2