
Naina duduk di tengah-tengah, dan Rizal duduk di depan bersama Ali. Ali memperhatikan Rizal yang terus memperhatikan Naina. Ali sampai hari menegurnya berulangkali dengan berdehem tapi Rizal tidak memperdulikannya.
” Nai, dimana rumah kamu?” Ali bertanya karena Naina tak kunjung memintanya berhenti.
” Di sana, toko aku yang warnanya kuning” jawab Naina dan Ali memperhatikan sekitar, Naina tinggal di toko? apa benar gadis itu bercerai dengan suaminya sampai harus tinggal di toko sepi seperti ini. Banyak pertanyaan yang muncul di benak Ali, mobil pun berhenti dan Naina turun. Ali buru-buru turun dan mengunci pintu mobil, mengunci Rizal di dalam sana.
” Buka!” teriak Rizal setelah menurunkan kaca mobil dan Ali hanya menoleh.
” Naina, saya minta maaf karena sudah lancang. Tapi, kamu beneran tinggal disini? ini sangat sepi. Kamu wanita, apa sebenarnya yang terjadi Naina?” lirih Ali dan menyapu sekeliling, bagaimana bisa Naina tidur di dalam toko sendirian.
” Saya udah biasa mas, terima kasih sudah mengantarkan saya kemari. Terima kasih banyak”
” Iya sama-sama, mas Mirza tadi menelepon katanya ayah kamu sedang sakit, terus apa maksudnya ya nama saya disebut-sebut di dalam pertengkaran kamu dan suami kamu?”
Naina terdiam mendengar ucapan Ali, pasti ayahnya mengatakan tentang Syam saat mengucapkan cerai di telepon dan sekarang hal tersebut sudah benar-benar kenyataan dan pupus.
” Maaf kalau mas Ali jadi gak nyaman, itu hanya salah paham. Saya minta maaf, dan saya cuma mau bilang kalau saya sudah bukan istri dari Syamsul lagi jadi mas Ali gak usah khawatir terlibat masalah”
” Apa karena saya yang membuat perceraian itu terjadi Naina?” Ali merasa bersalah dan namanya disebut-sebut.
” Bukan mas, masalah lain. Mas Ali gak usah khawatir, saya pamit Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumussalaam”
Ali diam menunggu sampai Naina benar-benar masuk, Naina kesusahan menarik rolling door dan Ali membantunya.
” Terima kasih mas”
” Ayo masuk” titah Ali dan Naina masuk lalu Ali mendengar Naina mengunci pintu dan menutup tirai setelah mengunci rolling door. Ali masuk kembali ke dalam mobilnya untuk segera pergi mengantarkan Rizal yang sedang cemberut itu.
Naina membereskan kasur tipis tergelar di lantai untuk dia tidur malam ini. Hanya ada kipas angin kecil, Naina membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Setelah itu dia berbaring dengan posisi miring sambil terus menangis.
*****
Keesokan harinya, Naina dan Ai sedang mencari pertokoan yang dikontrakkan. Naina terlihat lelah setelah pulang mengajar dia harus berpergian lagi mencari toko sekaligus rumah untuknya.
” Mbak, kita kemana lagi?” teriak Ai yang sedang mengemudikan motor.
” Kita ke toko saja, kamu juga pasti capek kita makan bakso dulu” sahut Naina.
Akhirnya Ai pun mencari pedagang bakso dan keduanya sama-sama lelah. Naina mengusap peluh di dahinya. Dia dorong rambutnya yang melintas keluar melewati inner. Naina memesan dua mangkuk bakso dan dia mencari informasi lagi di mana dia bisa pindah.
” Mbak, mungkin toko itu memang buat mbak. Kenapa harus pindah, mas Syam pasti sudah bayar untuk beberapa tahun” imbuh Ai dan Naina memberikan ponselnya. Ai membaca pesan yang diperlihatkan Naina.
” Mas Syam memintaku untuk segera pindah” lirih Naina.
” Ya Allah, yang sabar ya mbak maaf kalau aku sok tahu tadi”
” Enggak apa-apa Ai” Naina tersenyum.
” Jahat banget ya mas Syam, biarin. Aku do'ain dia gak bahagia sama wanita itu” kata Ai kesal.
” Ai, gak boleh begitu. Kalau do'anya berbalik sama kamu gimana?”
” Ih naudzubillah mbak, takut”
” Iya mangkanya berdoa yang baik-baik aja”
Ai mengangguk dan tidak berani memaki lagi.
__ADS_1
*****
Di tempat lain, Syam sedang berbicara dengan temannya di sebuah restoran. Temannya memang tidak terlalu pandai agama tapi mungkin dia lebih baik ketimbang dirinya, namun temannya mengatakan dia tidak terlalu paham tapi dia memiliki teman yang seorang ustadz, seseorang yang lebih paham untuk hal yang sedang di alami Syam saat ini.
” Lama bener temen lu” kata Syam.
” Ya sabar, dia orangnya sibuk. Lagian elu aneh-aneh aja sih ngapain main-main sama kata-kata cerai” kata Ilham.
” Keceplosan” singkat Syam.
” Gue gak paham, teman gue nanti lebih paham dia mondok selama 20 tahun dia paham gue juga ada urusan sama dia”
Syam mengangguk dan mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan yang sudah dia gigit berulang kali itu. Syam menoleh saat temannya itu melambaikan tangan ke atas karena temannya sudah datang.
Ilham bangkit dan berpelukan dengan temannya sekilas.
” Pak ustadz lama bener”
” Jangan memanggilku begitu”
” Ayo duduk” Ilham tertawa dan mengajak temannya duduk. Syam menoleh dan terkejut saat melihat Ali.
” Sialan” umpat Syam dan mencengkram kuat kerah baju Ali. Ali hanya diam, begitu tenang karena tidak akan benar menghadapi Syam yang sekeras batu itu.
” Syam, ini teman aku yang aku maksud. Dia paham Syam, lepas ayo.” Ilham melepaskan cengkraman Syam sekuat tenaga dan Syam duduk.” Ali duduk li” ajak Ilham dan Ali duduk kembali, Ali tidak paham apa-apa dengan yang dimaksud Ilham.
” Ada apa sebenernya?” Ali bertanya.
” Begini, kamu kan paham tentang agama enggak kayak gue sama Syamsul. Ini Syamsul, teman aku juga. Dia punya masalah” tutur Ilham dan Syam menatap Ali penuh amarah.
” Masalah apa?” Ali bingung.
” Hukum talak tiga, itu talak akhir. Akhir dari segalanya, talak satu dua masih bisa untuk kembali atau disebut rujuk. Tapi untuk talak tiga tidak bisa, sekalipun bisa si wanita harus terlebih dahulu menikah dengan laki-laki lain jika di suatu saat nanti wanita tersebut dengan suaminya bercerai, maka si mantan suaminya dan si wanita ini bisa menikah kembali” tutur Ali dan Syam mendengarkannya.
” Apa tidak cara lain?” tanya Syam tidak terima dengan jawaban Ali.
” Silahkan tanyakan kepada ahli agama jika tidak percaya, berulang-ulang kali seorang wanita mengucapkan talak itu tidak akan terpengaruh dan jika seorang wanita terus menuntut cerai hukumnya Haram jika tidak ada alasan yang syar'i, tapi satu kali saja seorang laki-laki mengucapkan talak dengan niat yang benar-benar berniat menceraikan maka jatuhlah talak, jika tidak ada niat mana mungkin kepikiran mau mentalak istrinya.” Tutur Ali menjelaskan lagi dan tersenyum melihat Ilham manggut-manggut mendengarkan, karena memang Ilham sering bertanya padanya terlebih dia akan segera menikah.” Mau dalam keadaan marah, keadaan bimbang, keadaan bingung seorang suami tidak bisa bermain-main dengan kata Talak, istri juga manusia seorang suami juga manusia, jika seorang isteri salah maka tegur supaya sadar begitu juga gunanya ada talak satu dan dua, jika tidak bisa di tegur talak satu kemudian rujuk, tidak bisa di didik lagi terus talak dua setelah talak langsung ke talak itu sudah berakhir, dan tidak ada talak ke 4 intinya ada kesempatan lagi kecuali si wanitanya menikah terlebih dahulu, menikah dan menjalani rumah tangga sesuai dengan sejatinya rumah tangga kemudian bercerai bisa di kawin oleh mantannya”
Syam diam mendengarkan ucapan Ali, tapi dia ragu untuk percaya dengan ucapan Ali.
” Apa ini niatmu untuk mengambil Naina dariku?” ketus Syam bertanya dan Ali hanya tersenyum.
” Syam, elu jangan main-main. Agama bukan permainan, sadar lu” tegur Ilham.
” Gue gak percaya, mending gue tanya ke ustadz” kata Syam dan bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Ali dan Ilham.
” Ali maaf ya Ali, Syam memang begitu”
” Iya gak apa-apa, ayo kita bicarakan tentang pekerjaan kita sekarang karena aku juga harus pergi lagi” ujar Ali seraya mengeluarkan laptopnya begitu juga dengan Ilham.
*****
Malam hari tiba, Naina duduk sendirian di sebuah kafe sudah satu jam dia disana hanya memesan minuman dan sudah menghabiskan tiga gelas. Naina menatap jam tangannya, dia merasa cukup dan membayar minumannya lalu pergi untuk segera pulang.
” Huff” Naina membuang nafas kasar, dia belum bisa mengatakan kepada keluarganya jika dia dan Syam sudah benar-benar bercerai saat ini, apalagi ayahnya. Ayahnya sedang sakit dan Naina bertekad untuk pulang sebentar dan berbicara langsung kepada keluarganya. Naina terus melangkah dan tidak menghiraukan beberapa pemuda yang menggodanya, Naina terus melangkah sampai dia berhenti saat melihat mobil Ali terparkir di dekat sebuah pohon rindang dan Ali terlihat sedang meminum kopi sambil bekerja.
” Dia mau apa sebenernya?” Naina berbisik, semalaman juga Ali ada di tempat yang sama. Ali kembali setelah mengantarkan Rizal dan pergi setelah subuh. Naina melangkah mendekati mobil Ali, dan Ali sedang memperhatikan toko Naina.
” Kenapa lampunya tidak menyala, apa dia sedang keluar? kemana Naina?” Ali khawatir dan menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Brak brak brak
” Astaghfirullah hal adzim" Ali terkejut saat Naina menggebrak kaca mobilnya.” Bikin kaget saja” kata Ali dan meminum kopinya lagi.
” Keluar mas” seru Naina dan terus menggebrak kaca mobil, Ali menggerakkan tangannya agar Naina mundur karena dia akan keluar. Ali keluar dan menutup pintu mobil.
” Mas Ali ngapain disini?”
” Emm saya, sedang beristirahat ya saya sedang berhenti disini” mencari alasan.
” Begitu juga dengan semalam? mas Ali berada disini juga semalam. Saya tahu” kata Naina dan Ali menahan senyumannya.
” Saya ingin berbicara sebentar, mau menemaniku makan malam?” ajak Ali dan Naina menggeleng kepala.
” Saya tidak lapar” kata Naina dan melangkah, namun perutnya berbunyi sampai membuat Ali tergelak.
” Kamu berbohong Naina, perut saya juga terus bernyanyi sedari tadi. Mungkin makanan berkuah dan panas cocok untuk cuaca dingin setelah hujan ini” kata Ali dan melangkah pergi meninggalkan Naina, Naina menepuk dahinya sekilas dan berjalan menyusul Ali.
Setibanya di sebuah restauran, Ali memesan makanan yang dia suka untuknya dan untuk Naina karena Naina enggan memilih. Gadis itu malu-malu padanya. Setelah makanan datang, Ali dan Naina menikmati makanan bersama. Kedua mata Naina berbinar merasakan lezatnya makanan berkuah dan panas itu. Ali menggigit sendoknya dan memperhatikan Naina yang makan begitu lahap.
” Apa dia tidak makan? gadis selalu seperti itu ketika galau, menyiksa diri sendiri” gumam Ali dan melanjutkan aktivitasnya. Suara Naina meminum kuah dari sendok membuat Ali tersenyum.
” Jangan berisik kalau makan” kata Ali.
” Ini sudah pasti akan bersuara, coba saja sendiri” Naina kesal. Dan Ali melakukan apa yang Naina lakukan lalu Naina tertawa kecil.
” Saya yang salah ternyata” Ali tersenyum dan Naina juga tersenyum.
Setelah makan malam bersama selesai, Ali memesan makanan penutup yaitu eskrim. Naina diam dan tidak terlihat Ali ingin membicarakan sesuatu dengannya.
” Aku bertemu Syamsul tadi siang” ucap Ali dan Naina terkejut.
” Dia membuat masalah?”
” Dia hanya mencengkram bajuku”
” Saya benar-benar minta maaf, dia memang seperti itu”
” Tidak masalah, yang jadi kabar baik adalah dia ingin kembali sama kamu” ucapan Ali kali ini membuat Naina terdiam.
” Itu tidak mungkin, sudah talak tiga" lirih Naina.
” Kamu bisa menikah lagi dan jika bercerai kamu bisa kembali dengan Syam”
” Pernikahan bukanlah mainan, aku tidak mau. Dia sudah menceraikan ku, tidak ada tempat terbaik untuk orang cacat di dunia ini" Naina sedih.
” Jangan sedih, sekarang Allah memberikan mu ujian nanti tidak lama lagi aku yakin kebahagiaan akan datang untukmu. Sabar, dunia memang tidak ada yang adil dimana pun itu tapi jika kita bersyukur itu akan lebih baik dan membuat kita merasa berharga. Semua orang memiliki kekurangan” Ali tersenyum dan Naina mengangguk.
” Mas Ali, aku ingin bertanya kenapa juga orang cacat selalu dipandang rendah?”
” Karena mereka hanya melihat dengan mata, bukan dengan hati. Orang seperti itu tidak akan pernah bisa melihat keindahan yang sesungguhnya” tutur Ali dan menundukkan wajahnya karena Naina menatapnya lekat.
” Juga, hanya orang istimewa yang bisa melihat keindahan yang sesungguhnya. Apa aku salah?"
” Tidak, kamu sangat benar Naina”
Naina tersenyum tipis dan kembali menghabiskan es krim nya.
*****
__ADS_1
”Bagaimana caraku untuk memberitahumu, jika berbicara denganmu menyembuhkan segala sesuatu yang ada di hatiku” - Naina Inayah.