Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Melepas rindu part 2


__ADS_3

Keluarga Syam sudah pulang semua, ayah Rahman meminta Syam untuk mengajak semuanya jalan-jalan mumpung di Jakarta dan Syam tanpa di suruh pun dia sudah memikirkannya. Ai juga datang pas setelah keluarga Syam pulang, Ai dan Kabir saling melirik malu-malu. Ai dan Kabir memang seumuran hanya saja Ai tidak sekolah dan bekerja di toko Naina untuk membiayai kebutuhannya sendiri tanpa harus meminta kepada orang tuanya.


” Bapak yang ini enak pak cobain” Naina membuka tutup toples berisi kue kering asin dan pak Fahmi mencobanya dengan senang hati, Bu Ratna memperhatikan seisi rumah dan Syam risih. Dia kurang menyukainya ibu tiri Naina dan begitu juga dengan Husna yang selalu seenaknya.


” Kalian baik-baik saja kan?” pak Fahmi menatap Syam dan Naina bergantian.


” Kami baik-baik saja pak” Naina tersenyum dan Syam mengangguk.


” Bang aku boleh jalan-jalan gak besok?" Kabir antusias.


” Kita semua jalan-jalan besok” Syam tersenyum dan Kabir tersenyum lebar,dia tidak sabar untuk segera besok.


” Ai ayo ikut kamu tidur di kamar dekat bibi" ajak Naina dan Ai bangkit dari duduknya lalu mengikuti kemana Naina pergi.


” Ibu sama bapak istirahat, besok kita semua jalan-jalan" imbuh Syam dan mertuanya mengangguk.


” Aku juga mau istirahat biar besok bisa jalan-jalan” Kabir tersenyum dan Syam juga tersenyum. Semua orang pergi untuk beristirahat karena memang hari pun sudah larut.


Syam juga pergi ke kamar dan menunggu Naina. Setelah Naina merasa yakin Si akan nyaman dia pergi ke kamarnya sembari melirik tirai jendela takut-takut bayangan itu kembali muncul, Naina buru-buru masuk dan mengunci pintu kamar. Suara gemericik air dari kamar mandi terdengar Syam sedang di kamar mandi dan Naina membuka hijabnya sekarang. Dia membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum dia akan membasuh wajahnya nanti. Syam keluar dan melihat Naina sedang menunggunya untuk keluar dari kamar mandi.


” Sayang” panggil Syam begitu lembut Naina di hadapannya tersenyum.


” Apa mas?"


” Kamu mau ke kamar mandi masuk gih”


" Iya mas" Naina tersenyum dia melangkah tapi Syam meraih tangannya.” Kenapa mas? mau teh?"

__ADS_1


” Aku mau yang lain, siap-siap ya Nai dandan yang cantik" pinta Syam lalu mendorong Naina pelan masuk ke kamar mandi dan dia sendiri yang menutup pintu, di dalam kamar mandi Naina tersenyum simpul dan kedua pipinya merah merona. Naina menyentuh lehernya dan tanda merah bisa dia lihat jelas. Mungkin malam ini di tempat lain juga akan berbekas tanda kecupan yang sama. Setelah Naina membersihkan wajah dan cuci tangan sama kaki Naina keluar dari kamar mandi dia mencari suaminya tapi tidak ada, mungkin Syam sedang di dapur. Pikir Naina. Naina melirik baju tidur dan Syam yang memilihkannya.


” Mas Syam beneran mau main malam ini?” Naina berbisik dan mengigit bibirnya lalu dia melepaskan semua pakaiannya untuk memakai baju tidur berwarna pink yang di pilihkan suaminya sendiri.


Deg... Naina langsung duduk di tepi ranjang saat suaminya masuk membawa air minum dan biskuit karena Syam melihat Naina tidak makan dengan benar hari ini dan sibuk mengurus semua orang. Naina baru memakai celana dan dia belum memakai atasan piyama itu.


” Mas” Naina menutupi tubuh bagian atasnya dengan atasan piyama yang belum dia pakai, Syam juga berbalik dan melihat dada dan perut rata Naina sekilas. Naina buru-buru memakai pakaiannya dan duduk di kursi di depan meja riasnya.


” Aku belum dandan mas” kata Naina lalu mengoleskan lipstik sekenanya.


” Ehmm iya" Syam gugup dan meletakkan nampan di atas meja.


Saat Naina tengah merias wajahnya alakadarnya Syam mendekat, tangannya bergelayut di bahu Naina. Naina berhenti dari aktivitasnya dan menatap raut wajah Syam dari bayangan di cermin.


” Jangan lama-lama Nai, gak pake apa-apa aja kamu udah cantik" kata Syam dan Naina meletakkan pensil alis di atas meja riasnya karena Syam menarik tangannya meminta gadis itu agar berdiri. Naina diam saat Syam memeluknya dari belakang, Syam dan Naina kini saling menatap lekat di bayangan cermin. Naina menutup matanya saat Syam meraih tangannya dan dia genggam erat, Syam menggigit telinga Naina sampai Naina bergidik ngeri.


” Baca doa dulu ya mas"


” Ya Nai, semoga kamu cepat hamil ya”


” Aamiin” Naina tersenyum.


Keduanya tersenyum bersama saling berbisik dan Syam yang memimpin do'a sebelum keduanya memulai, anak-anak Sholeh dan Sholehah idaman semua orang tua. Syam memang terbilang nikah muda di usianya yang baru 25 tahun terkadang dia manja dan tidak bisa bersikap dewasa. Tapi Naina yakin dia dan Syam bisa melewati semua cobaan bersama-sama. Naina sangat mencintai suaminya walaupun dia terkadang jengkel dengan sifat cemburu dan pemarah suaminya. Sudah hampir 4 bulan keduanya menikah, saling mengenal, memahami dan saling mengalah. Tapi Naina yang sering mengalah karena dia bukan orang yang mau masalah berlarut-larut.


” Mas sakit" protes Naina.


” Aku juga sakit, masuknya susah sabar ya"

__ADS_1


” Iya mas”


Syam terus berusaha untuk masuk tapi dia tidak berani memaksa karena melihat Naina merintih, ciuman kecil mengisi kegiatan mereka. Syam yang baru pertama kali melihat tubuh polos istrinya terus tersenyum dan Naina merasa malu sekaligus takut.


” Mas apa bisa di persingkat?" kata Naina sudah mulai bisa menikmati tapi pangkal pahanya benar-benar perih dan terganjal oleh milik suaminya.


” Masih lama sayang” bisik Syam dengan suara serak.


Tubuh Syam sudah berkeringat begitu juga dengan Naina. Naina berusaha membalas semampu yang dia bisa karena dia baru pertama kali kontak fisik dengan Syam suaminya. Tidak pernah berpacaran dan hubungannya bersama Mirza pun LDR jarang bertemu mungkin itu penyebabnya Mirza lebih memilih Husna karena sering bertemu dengan Husna. Dan Husna sangat cantik seperti gadis-gadis modern jaman sekarang.


” Nai enak gak?"


” Mas..." Naina bingung harus menjawab apa dan dia meremas rambut suaminya. Obrolan random keduanya sesekali terjadi, setelah satu jam lebih termasuk pemanasan keduanya selesai dan saling menatap sambil meringkuk di bawah selimut. Syam menutup matanya berulang kali berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, Naina menarik selimut menutupi tubuhnya dan tubuh Syam. Dia merasa takut, perih dan ngilu sekarang. Dia kira rasanya biasa saja tapi benar saja seperti yang dikatakan orang-orang.


” Nai sakit ya?" Syam mengusap wajah istrinya yang berkeringat itu.


” Iya mas" Naina tersenyum lalu menarik selimut kembali sampai menutupi setengah wajahnya. Antara malu dan grogi menjadi satu. Syam tersenyum lalu Naina bergeser ingin dipeluk suaminya. Syam memeluk Naina sedikit longgar Naina menatap dada besar suaminya tetap di hadapannya itu.


******


Sesuai janjinya, Syam benar-benar mengajak semuanya untuk jalan-jalan. Naina duduk di sebelahnya. Di kursi tengah pak Fahmi dan Bu Ratna, di bagian belakang Ai dan Kabir dan keduanya terlihat canggung. Naina terus memijat dahinya, dia semalam mandi supaya subuh bisa santai tapi ternyata Syam mengajaknya kembali untuk bermain saat subuh dan Naina mandi lagi. Dia mandi dua kali dan tidur dengan rambut basah dan sekarang Naina merasa pusing.


” Sayang, kamu kenapa?” Syam berbisik karena melihat Naina begitu lemas. Naina menoleh dan dari belakang pak Fahmi memperhatikan keduanya.


” Iya nak kamu kenapa? lemes banget kelihatannya" imbuh pak Fahmi yang juga khawatir dan Naina menoleh padanya.


” Enggak kenapa-kenapa pak, mungkin Nai cuma kelelahan" kata Naina seraya melirik suaminya sinis. Syam menatap istrinya lekat dan menunggu lampu hijau menyala. Syam meraih tangan Naina lalu mengenggam nya, Naina diam dan membalas genggaman suaminya itu. Syam tersenyum ketika mengingat apa yang terjadi semalam dan tadi subuh. Naina pasti lelah karena melayaninya. Dan Naina harus terbiasa mulai sekarang.

__ADS_1


__ADS_2