
Hari ini Naina sedang sibuk memasak dibantu bibi untuk menjamu ayah,ibu dan adiknya. Syam yang menjemput ketiganya ke terminal karena dia tidak mengizinkan Naina untuk pergi jauh-jauh ke terminal. Syam sedang menunggu dan Kabir bilang sebentar lagi bus yang mereka tumpangi sampai di terminal. Syam menunggu sambil melihat foto di galery ponselnya. Siapa lagi kalau bukan foto Naina. Syam dan Naina sempat bertengkar karena Amira yang bahkan berani datang ke rumah untuk mencari Syam, Syam tidak tega kalau Naina sudah menangis. Dia dan Naina bahkan belum melakukan hubungan suami istri karena pertengkaran mereka yang disebabkan oleh Amira.
” Halo bang" suara Kabir terdengar saat Syam mengangkat telepon darinya.
” Sampai belum?”
” Udah turun bang, Abang dimana?"
” Mobil putih aku keluar nih, lihat gak?" Syam keluar dari mobil lalu melirik kanan-kiri. Kabir mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan Syam melambai sekilas lalu melangkah mendekati ketiganya.
” Syam makin ganteng ya pak" Bu Ratna berbisik.
” Naina merawatnya dengan baik" balas pak Fahmi berbisik. Keduanya tersenyum lebar, Syam menyalami tangan ibu dan ayah mertuanya lalu kabir menyalami tangannya. Saat masuk ke dalam mobil Syam ketiganya merasa nyaman karena sejuk tidak seperti di luar. Kabir duduk di sebelah Syam dan Syam mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya. Dari terminal ke rumah menempuh jarak sekitar 30 menit.
****
Di rumah Naina kedatangan tamu yaitu keluarga mertuanya datang termasuk Arthur, Naina bersyukur Hamdan sudah tidak ada karena kembali bekerja. Naina membuat minuman dingin di bantu Tari dan Asil. Naina tidak pernah mengatakan kepada siapapun apa yang dilakukan Tari padanya dan Naina berharap Tari bisa menyadari jika perlindungan yang dia berikan untuk Hamdan membuat Hamdan bebas berulah kembali sekalipun kepada keluarga istrinya.
” Nai mama gak bawa apa-apa" kata mama Novi dan meminta bibi membawa semua makanan yang mama Novi bawa.
” Mama itu banyak banget aku jadi ngerepotin mama" Naina tersenyum malu-malu.
” Ya enggak apa-apa Nai, mama dan semuanya sengaja datang dan bawa makanan karena keluarga kamu mau datang. Kita harus menyambut keluarga kamu dengan baik nak" mama Novi tersenyum lebar seraya menepuk bahu Naina dan Naina mengangguk.
” Terima kasih banyak mama" lirih Naina merasa terharu karena mertuanya sangat baik padanya, awalnya Naina takut kehidupannya seperti di sinetron tersiksa di keluarga suami karena dia memiliki kekurangan fisik.
Naina melayani semua keluarga dengan baik, setelah menunggu cukup lama Naina melihat mobil suaminya datang. Syam keluar dari mobil dan menarik pintu mobil tengah dan ketiganya keluar. Naina tersenyum lebar melihat ayahnya, dia buru-buru melangkah lalu memeluk ayahnya erat. Syam tersenyum melihat Naina seperti itu kemarin juga Naina menangis karena merindukan keluarganya.
” Pak Fahmi gimana sehat?” tanya ayah Rahman lalu pak Fahmi bersalaman dan ayah Rahman memeluknya. Naina tersenyum dan memeluk adiknya Kabir.
__ADS_1
” Nai” Syam menarik tangan Naina dan menatap Naina kesal.
” Dia adik aku mas" kata Naina.
” Peluk aja aku Kabir gak boleh" tegas Syam berbisik lalu memeluk tubuh istrinya erat.
” Mas malu, lepasin" Naina kesal dan Syam melepaskannya. Kabir tertawa-tawa melihat keduanya dan tawanya berhenti saat melihat Resta yang begitu cantik dan Resta juga memperhatikannya.
” Adik Naina ganteng juga" Resta berbisik.
Pak Fahmi tersenyum melihat kemesraan Naina dan Syam, Naina meninggalkan Syam karena kesal lalu dia mengajak Bu Ratna seraya merangkul tangan ibunya itu. Tanpa menunggu lama semua makanan di siapkan, Syam sangat sadar keluarganya banyak itu sebabnya di dapur meja berukuran panjang dan lebar serta ada 9 kursi walaupun tetap saja tidak cukup. Syam yang sudah kenyang memilih nanti untuk makan dan Naina pun hanya makan sedikit agar bisa menemani suaminya makan nanti. Syam melangkah ke lantai dua rumahnya dia mendengar suara cekikikan di balkon.
” Ayo kakak kesini dong, lagi rame nih kalau kakak datang terus kakak ngomong sama semua keluarga Naina kakak pacarnya bang Syam, aku yakin Naina si pincang bakal di bawa pulang sama keluarganya” kata Resta sedang berbicara dengan Amira di telepon. Syam merebut ponsel Resta lalu membantingnya ke lantai, kedua mata Resta berair dan hampir menangis.
” Pulang sana kalau kamu cuma mau buat keributan, pulang dan tahan Amira supaya gak datang. Kalau kamu gak mau nurut ayah sama ibumu bakal tahu kalau kamu pernah tidur bersama teman kamu di hotel Resta!” Syam geram dan menatap tajam Resta sampai gadis itu menangis karena takut, bagaimana jadinya jika orang tua angkatnya tahu dia yang diambil dari panti asuhan tidak menghargai mereka.
” Enggak tahu diri kamu" maki Syam.” Sudah syukur kamu hidup enak, kamu di manjakan oleh semua orang. Mulai sekarang jangan tinggal di rumah orang tuaku dan kamu harus berubah, kamu harus tahu diri. Kalau kamu mau jualan, di pinggir jalan sana gak usah sekolah layani saja pria hidung belang. Itu kan yang kamu mau" Syam benar-benar meluapkan emosinya dan Resta tidak berhenti menangis.
” Iya bang maaf" suara Resta begitu berat.
” Awas kamu kalau berani menghina Naina, Naina istriku. Sesuci apa kamu sampai berani menghina Naina ku Resta, kamu gak lebih baik dari Naina kamu sama buruknya dengan Amira. Pergi kamu sekarang, atau aku yang harus menyeret kamu keluar" makian dan ancaman Syam membuat Resta takut dan akhirnya dia bangkit lalu pergi menuruni tangga dengan cepat. Setelah keluar dari rumah Resta menoleh dan melihat Syam menatapnya tajam dari balkon. Resta menangis dan pergi keluar melewati pintu gerbang. Syam mencengkram kuat pagar balkon dan merasa puas setelah memaki dan memarahi Resta.
” Mas Syam" suara Naina terdengar, Syam tersenyum lalu pergi dari balkon dia akan turun menuruni tangga tapi Naina sudah sampai di atas tangga.
” Kamu ngapain naik? kaki kamu sakit lagi nanti” Syam membungkuk dan memijat lutut Naina lalu Naina menarik bahunya.
” Jangan mas, gak sopan seorang suami kayak gitu. Kamu mau makan sekarang?” Naina tersenyum dan menahan rasa penasarannya setelah melihat kepergian Resta sambil menangis.
” Aku maunya kamu sayang" Syam memeluk Naina dan Naina terkejut sekaligus takut ada yang melihat.
__ADS_1
” Mas ada yang lihat nanti" Naina menutup matanya saat Syam mencium kening dan turun ke mata hidung dan sekarang di pipi. Naina tersenyum tipis saat Syam mengusap bibirnya untuk dia cium.
” Aku cium ya”
” Aku masih marah ya mas”
” Nyebelin kamu Nai, nanti aja ngomongnya kenapa sih. Jadi buyar konsentrasi aku Nai” Syam kesal dan menjatuhkan dahinya ke bahu Naina.
” Kamu harus tegas mas kalau ada mbak Amira, itu juga kalau kamu mau hubungan kita baik-baik saja” kata Naina lalu melangkah untuk pergi tapi Syam menggendong nya lalu masuk ke kamar dan menendang pintu. Begitu cepat tubuh mungil Naina dibawa suaminya, Naina panik saat Syam sudah menindihnya dan bertumpu pada kedua lututnya.
” Mas” Naina takut. Syam membelai wajah cantik Nana dan melepaskan hijab Naina.” Di bawah banyak orang mas” kata Naina.
” Keburu kamu datang bulan Nai, boleh ya sekarang” Syam sudah tidak tahan lagi lalu membungkam mulut Naina dengan tangannya lalu mencium leher Naina dan membuat kecupan sangat keras sampai membekas di leher Naina.
” Orang-orang sudah bisa nebak kita lagi ngapain kalau mereka tahu kita di kamar ini mas, ayo udah dulu. Aku datang bulan masih lama. Keluarga aku baru datang masa langsung kita tinggalin buat main mas” Naina membujuk Syam dan menyentuh pipi suaminya itu. Lehernya terasa sakit karena kecupan keras suaminya. Sudah dua kali Syam melakukan itu dan untuk yang pertama kali Naina sampai menjerit-jerit kesakitan.
” Cium dulu” Syam mengerucutkan bibirnya. Naina tidak berani dan belum berani untuk mencium suaminya walaupun dia mau.
Cup kiss... Naina mengecup bibir Syam sambil memegang kedua pipi suaminya lembut. Naina mendorong tubuh Syam lalu memakai hijabnya lagi dan pergi keluar dari kamar. Syam yang berbaring memegang bibirnya sambil tersenyum lebar karena di cium Naina.
Di lantai bawah karena hari sudah sore Naina mengambil remote lalu menekannya sampai tirai jendela yang sangat tinggi tertutup sendiri.
” Mbak keren banget” seru Kabir membuat Naina terkejut, Kabir belum pernah melihat hal tersebut di kampung.
” Kamu bikin kaget mbak Kabir" Naina memukul bahu adiknya pelan.” Kamu harus tahu Kabir rumah ini yang desain mas Syam sendiri" imbuh Naina dan Kabir semakin terkejut.
” Emang iya mbak? aku hampir lupa mas Syam kan emang seorang arsitektur. Mbak betah tinggal di sini?” Kabir tersenyum.
” Betah” Naina tersenyum lalu mengajak Kabir jalan-jalan keluar dari rumah dan Kabir juga ingin melihat kolam renang. Naina melangkah seraya mengirimkan pesan kepada Ai agar datang ke rumah, di rumah banyak makanan dan Ai pasti senang. Naina juga meminta toko untuk di tutup sekarang saja kalau mau Ai juga bisa menginap.
__ADS_1