
Naina masih berdiri di depan tirai yang menjadi pintu kamar Ai, Naina mendengar suara isakan tangis namun sangat pelan.
” Assalamu'alaikum, Ai. Ini mbak” imbuh Naina.
Ai berhenti menangis dan melirik ke arah tirai, dia lihat bayangan seorang wanita di sana.
” Wa'alaikumus Salaam, masuk mbak” sahut Ai. Naina masuk setelah mendapatkan izin, Ai memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya buru-buru. Ai menoleh dan tersenyum kepada Naina. Naina juga tersenyum dan duduk di tepi ranjang.
” Apa aku ada salah sama kamu Ai?” lirih Naina bertanya. Ai menggeleng cepat melihat raut wajah yang begitu sangat sedih Naina.
” Enggak mbak, mbak gak ada salah sama aku”
” Kamu kemana aja selama ini? banyak customer yang komplen karena kamu admin mbak gak bisa dihubungi. Apa ada masalah di toko Ai? toko bisa sampai sebesar sekarang itu juga karena jasa kamu” tutur Naina, Ai menundukkan kepalanya begitu dalam dan Naina meraih tangannya lalu mengenggamnya.” Aku minta maaf”
” Bukan begitu mbak, aku lagi ada masalah. Hape aku matikan, aku juga gak bisa fokus kerja karena masalah ini mbak. Aku yang minta maaf, mbak baru pulang pasti capek”
” Iya masalah apa?”
Ai terdiam dan saling bertatap dengan Naina.
” Kalau bisa, aku pasti bantuin kamu. Kamu udah kayak adik aku Ai, kamu gak bedanya Kabir buat aku” suara Naina berat. Air mata Ai kembali menetes deras, Naina panik melihat Ai menangis. Dia usap air mata Ai lembut.
” Aku percaya sama mbak, tolong jaga rahasia ini ya mbak” lirih Ai dan Naina mengangguk.
” Iya bilang aja sama aku Ai”
Ai terdiam sejenak.
” Aku beneran nyesel mbak, aku khilaf” tangisan Ai semakin menjadi. Kedua matanya bahkan sudah bengkak karena terus-menerus menangis.
” Iya, ada apa?”
” A-ku,,,," Ai ragu.
Naina diam dan menunggu kejujuran Ai.
” Aku kehilangan apa yang menjadi hak berharga untuk perempuan mbak”
Naina memalingkan wajahnya, tidak detail pun dia sudah paham.
” Akbar?" tanya Naina.
Ai mengangguk dan terus menangis, Naina memeluk Ai erat dan Ai menangis dalam pelukannya.
” Dia mau kan tanggung jawab?”
Ai menggeleng kepala, Naina ikut menangis dan dia tidak suka dengan Akbar yang tidak mau bertanggung jawab.
” Perempuan saat melakukannya pasti ada bekasnya, apalagi kalau hamil. Beda dengan laki-laki Ai”
” Aku hamil mbak hiks,,,,"
” Apa?" Naina semakin terkejut.
” Aku hamil mbak hiks”
Tiba-tiba pelukan Naina terlepas dan Ai menarik tangannya agar Naina tidak pergi.
” Cuma mbak yang aku percaya, aku mohon jangan bilang siapa-siapa”
” Sedalam apapun bangkai di kubur, bau nya akan tercium juga. Begitu juga dengan kehamilan kamu, semakin lama bukan semakin kecil tapi semakin besar dan semua orang bisa melihat itu” tutur Naina, air matanya juga menetes. Dia berbalik dan mengeluarkan buku dan pena dari tas nya, dia menuliskan alamatnya sekarang dan memberikannya kepada Ai.” Telepon aku, datang kalau kamu butuh tempat tinggal. Akbar harus bertanggung jawab, ini bukan hanya kesalahan kamu.”
” Mas Akbar gak mau tanggung jawab mbak"
” Sekarang bukan mau lagi tapi dia harus bertanggungjawab. Aku pergi Ai, Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Ai terus menangis, Naina berpamitan dengan semua keluarga Ai dan dia juga membawa oleh-oleh untuk semuanya. Naina melangkah keluar dari rumah dan Uwais yang menunggu di dalam mobil memperhatikan istrinya yang terlihat sedih itu, dia keluar dari mobil dan Naina sampai di hadapannya.
” Sayang, kenapa?” Uwais panik melihat air mata istrinya.
” Mas aku mau ke toko”
” Pulang aja ya”
Naina menggeleng kepala dan Uwais membuka pintu mobil, Naina masuk begitu juga dengan Uwais dan mobil melaju meninggalkan kediaman Ai. Uwais meraih tangan Naina dan menyetir dengan satu kiri.
” Kenapa sih sayang?”
Naina menggeleng kepala.
” Pulang aja ya ini udah malam”
” Aku ke toko ngambil laptop doang mas”
” Biar aku nyuruh seseorang untuk ke toko kamu ya, kita pulang aja sekarang. Aku gak mau dibantah” tegas Uwais yang khawatir dan akhirnya Naina mengangguk. Dia takut melihat tatapan sinis suaminya karena dia bersikukuh untuk ke toko.
Sesampainya di rumah, Naina dan Uwais langsung mandi. Tentunya bersama. Setelah mandi Naina memperhatikan kalender di atas meja yang dia pegang sekarang. Uwais mengancingkan kancing bajunya dan memperhatikan istrinya.
__ADS_1
” Kenapa?”
” Kita nikah udah 4 bulan gak kerasa”
Uwais tersenyum lalu mendekati Naina, dia berdiri di belakang tubuh istrinya.. Tubuhnya menempel di tubuh istrinya lalu memegang tangan Naina yang memegang kalender.
” Iya gak kerasa” imbuh Uwais.
” Aku datang bulan udah telat dua bulan mas” ujar Naina dan Uwais terkejut.
” Jangan-jangan kamu hamil sayang?” katanya lalu menarik kedua bahu Naina agar berbalik.” Kamu hamil?”
” Enggak tahu mas”
” Periksa yuk” ajaknya.
” Aku minta beliin testpack aja sama Kabir mas sekarang”
" Biar aku yang beli” Uwais antusias dan Naina terkekeh-kekeh memperhatikannya.
” Hehe, jangan mas ini udah malam”
" Baru jam 8, aku yang beli ya kamu istirahat aja” Uwais mengajak Naina ke atas ranjang dan Naina merebahkan tubuhnya, Uwais mengecup kening dan bibir istrinya lalu menarik selimut supaya istrinya tidak kedinginan.” Aku pergi ya assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam, pake jaket mas”
” Iya" Uwais tersenyum dan dia pergi.
*****
Keesokan paginya, Ai sedang duduk menyendiri. Dia memilih pergi dari rumah setelah memberitahu keluarganya dan keluarganya marah sekaligus menyiksanya. Ai bangkit dan dia terkejut saat tangannya di raih oleh Akbar.
” Lepas”
” Aku ke rumah kamu gak ada, wajah kamu kenapa?” Akbar khawatir dan Ai menolak saat Akbar ingin menyentuh wajahnya.
” Bukannya kamu gak perduli? pergi, jangan tambah pikiran aku mas” Ai kembali menangis dan mendorong tubuh Akbar. Ai pergi dan Akbar terus menyusulnya.
” Aku minta maaf, aku salah”
Ai tetap diam dan terus melangkah.
” Kamu lagi hamil anak aku kan? kenapa kamu menghindar?”
” Karena kamu gak mau mengakuinya. Aku bisa urus anak aku sendiri” tegas Ai.
" Lepas” Ai berontak.
” Aku mau tanggung jawab!" tegas Akbar dan mencengkram kedua pipi Ai agar diam. Ai terdiam, dan memperhatikan Akbar. Akbar tiba-tiba memeluknya erat.” Aku mau kita menikah, jangan begini Ai”
” Keluarga aku udah ngusir aku mas”
” Aku sama keluargaku akan datang nanti malam, kita akan menikah jangan kabur begini. Ayo kita pulang” ucap Akbar membujuk, Ai terus menangis dan Akbar merangkul bahunya dan membawanya pergi.
*****
Di rumah Naina, Uwais sedang duduk di tepi ranjang menunggu Naina di kamar mandi yang sedang memakai tespack. Uwais bangkit dan mendekati pintu kamar mandi.
” Sayang udah belum?”
” Sebentar lagi mas” sahut Naina.
Uwais membuang nafas kasar dan ia duduk kembali, pintu kamar mandi terbuka dan Uwais menoleh. Dia dekati istrinya yang baru keluar itu.
” Gimana?” Uwais bertanya seraya memperhatikan kedua tangan Naina yang sengaja di sembunyikan di balik punggung. Naina menggeleng kepala dan menundukkan kepalanya. Uwais terlihat sedih karena melihat istrinya sedih.” Enggak apa-apa, nanti kita berusaha lebih keras. Jangan sedih ya” menenangkan istrinya dengan pelukan dan ciuman mesra.
Naina mengangkat kepalanya dan tersenyum.” Aku hamil” imbuhnya dan memperlihatkan tespack di tangannya.
” Beneran?” Uwais terlihat kebingungan dan meraih tespack di tangan istrinya. Naina mengangguk dan Uwais memeluk Naina erat, Naina berpegangan pada kedua bahu suaminya saat tubuhnya terangkat.” Enggak bohong kan?”
” Enggak mas, Alhamdulillah” Naina tersenyum, Uwais menurunkan Naina dan terus memeluk dan menciumi istrinya.
” Alhamdulillah” lirih Uwais dan dia merasa kabar gembira dan bahagia tersebut terasa sebuah mimpi.
” Kamu akan menjadi seorang ayah mas”
Uwais tersenyum lalu berlutut dan menciumi perut istrinya.
” Assalamu'alaikum sayang, anak ayah sama ibu di dalam sana" tuturnya lalu menempelkan telinganya di perut Naina dan Naina tertawa kecil.
” Belum kerasa apa-apa mas”
” Kapan? aku mau tahu bagaimana anakku menendang di dalam sana”
” Nanti” Naina tersenyum lalu Uwais bangkit.
” Kita ke rumah sakit ya, kita periksa ya"
” Kamu harus kerja kan?"
__ADS_1
” Enggak, aku mau libur aja aku mau nemenin kamu di toko” Uwais merengek-rengek seperti anak kecil dan Naina mengangguk mengiyakan.
” Ya sudah aku siap-siap dulu”
” Oke, aku mau ketemu kakek, kakek pasti senang” Uwais pergi dan Naina menggeleng kepala sambil tersenyum.
Uwais benar-benar datang ke kamar kakek, di sana kakek sedang menikmati sarapan paginya yaitu roti bakar. Dia sedang malas keluar kamar.
” Kakek” seru Uwais dan kakek menoleh.
” Jam berapa ini, kamu gak kerja?"
” Ada kabar gembira” Uwais tersenyum dan kedua matanya berbinar. Kakek bingung dan berhenti menikmati sarapannya.
” Apa?”
” Naina hamil, aku akan menjadi seorang ayah”
” Aaaa!" kakek menjerit karena terkejut.” Yang benar kamu?”
” Iya kek, Naina hamil. Aku gak kerja dulu hari ini. Mau bawa Naina periksa kandungan sama bantuin dia di toko”
” Iya ayo bawa dia untuk diperiksa, aku akan memiliki cicit.” Kakek sangat senang apalagi Uwais. Kakek terus meminta Uwais pergi membawa Naina ke rumah sakit dan akhirnya Uwais pergi meninggalkan kamar kakeknya.
Uwais melangkah menuju kamarnya dan dia berpapasan dengan Naina yang sudah siap untuk berangkat ke toko.
” Ke rumah sakit ayo” ajak Uwais.
” Ini masih pagi mas, agak siangan aja”
” Enggak aku maunya sekarang” memaksa. Naina melangkah mengikuti suaminya dan keduanya benar-benar akan pergi ke rumah sakit.
*****
Di kediaman orang tua Syam, Syam sedang menggendong dan mengayunkan Syifa dalam dekapannya. Dia tidak diizinkan tinggal di rumahnya karena Syifa sendirian di sana. Berbeda dengan saat di rumah orang tuanya.
” Syam, Syifa udah waktunya makan” tutur mama Novi dan Syam menoleh.
” Iya ma” singkatnya.
” Ajak main Fatma kemari, Syifa sama Fatma harus bisa dekat. Fatma calon ibunya syam”
Syam terdiam dan memalingkan wajahnya.
” Syam, jangan kasar-kasar sama Fatma. Jangan samakan Fatma dengan Naina, awas kamu” tegas mama Novi.
” Naina dan Fatma memang gak bakal sama mah, Naina terbaik”
” Naina terbaik tapi dia pergi ulah kamu sendiri, karena kamu terlalu kasar Syam.”
” Terserah aku mau aku apakan Fatma setelah kami menikah, mama gak usah ikut campur” ketus Syam. Dan dia berlalu pergi meninggalkan ibunya sambil menggendong Syifa yang terus menoleh memperhatikan mama Novi.
” Astaghfirullah hal adzim itu anak” imbuh mama Novi pelan dan dia tersenyum memperhatikan Syifa. Syam pergi ke kamarnya dan Syifa dibawa oleh baby sitter. Syam merogoh ponselnya saat ponselnya berdering, panggilan masuk dari Aldi.
” Assalamu'alaikum mas”
” Wa'alaikumus Salaam Syam, kamu dimana?”
” Aku di rumah, ada apa ya mas?”
Aldi terdiam sejenak.
” Kamu benar Syam, Amira masih hidup. Tes DNA tidak cocok dengan ibunya Amira. Mayat wanita di tengah hutan itu mayat wanita lain” tutur Aldi, Syam yang sedang duduk bangkit karena terkejut.
” Berarti aku gak salah lihat mas”
” Iya kamu gak salah lihat, dia bisa saja mengincar Syifa lagi. Ada kemungkinan besar Naina juga sedang dalam bahaya sekarang. Aku butuh alamat kantor atau alamat Uwais langsung. Kamu punya Syam?”
” Aku punya, tapi biarkan aku saja yang menemui Naina mas”
” Jangan” timpal Aldi cepat.” Hubungan kamu dan Uwais sudah tidak baik, jangan memperburuk keadaan Syam. Apalagi cari-cari alasan untuk melihat Naina. Kamu akan menikah sebentar lagi hargai itu”
Syam mendengus sebal mendengar ucapan kakak iparnya dan Aldi tersenyum.
****
Di rumah sakit, Naina dan Uwais duduk di kursi berbeda dan bersebelahan. Tangan keduanya bergenggaman di bawah meja, Naina sedang hamil 3 bulan. Operasi yang sudah direncanakan tidak mungkin bisa dilakukan. Karena akan sangat beresiko untuk kehamilan Naina.
” Ibu Naina bisa menjalani terapi setelah melahirkan operasi kita atur ulang kembali” tutur dokter lagi.
” Apa kondisi kaki istri saya akan semakin buruk jika operasinya ditunda kembali dokter?” Uwais cemas, Naina diam dan memperhatikan suaminya.
” Justru dengan adanya terapi akan sedikit beresiko untuk kondisi kaki Bu Naina semakin buruk. Kami sebagai dokter tidak bisa melakukan operasi karena ini sangat beresiko, apalagi operasi untuk kedua kalinya.”
Uwais dan Naina diam sejenak.
” Kalau begitu kami batalkan jadwal operasi saya dokter, saya menerima usulan terapi untuk kaki saya.” Tutur Naina.
” Sayang" lirih Uwais dan Naina menggeleng kepala. Naina memang mau sembuh tapi dia lebih tidak mau buah cintanya bersama Uwais terancam. Naina mengusap punggung tangan suaminya untuk meyakinkan suaminya, akhirnya setelah kesepakatan di buat operasi batal di laksanakan. Dan Naina akan menunggu sampai terapi kakinya bisa di laksanakan.
__ADS_1