
Naina sedang mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat, dan dia harus segera bersiap ke rumah suaminya. Uwais duduk hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya karena dia juga ingin mandi. Setelah selesai mandi, Naina keluar dan menggosok rambutnya dengan handuk kecil, Uwais memperhatikan Naina dari ujung rambut sampai ujung kaki. Naina memakai jubah handuk panjang yang tertutup tapi tetap saja membuat Uwais tidak tahan, Uwais mendekat dan Naina terkejut saat dipeluk dari belakang dan dia tidak dalaman sama sekali.
” Mas” lirih Naina.
” Hemm?”
” Aku,,,” bingung mau bilang apa dan Uwais melepaskan pelukannya.
” Aku menunggu sayang” Uwais berbisik, bibirnya menempel di telinga Naina dan Naina merasa geli. Uwais masuk ke kamar mandi untuk segera mandi dan bersiap karena kakeknya terus menelepon. Naina bergegas memakai pakaiannya, lain kali dia harus membawa bajunya ke kamar mandi.
****
Rumah Uwais.
Naina diam dan menatap sekitar saat mobil masuk melewati gerbang yang sangat tinggi dan berwarna hitam, Uwais menoleh dan memperhatikan istrinya itu.
Uwais keluar, Naina memperhatikan Uwais yang berjalan memutari mobil lalu membuka pintu untuknya.
” Ayo” imbuh Uwais seraya mengulurkan tangannya. Naina diam dan Uwais membungkuk sedikit, Naina meraih tangan suaminya itu lalu keluar perlahan-lahan. Rumah besar yang begitu sepi, tapi terlihat tenang tapi juga menyeramkan jika malam begini. Uwais mengajak Naina masuk dan kedatangan keduanya disambut oleh kakeknya.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam, akhirnya kalian datang juga. Ayo, ayo” ajak kakek.
Naina dan Uwais langsung diajak ke dapur untuk makan bersama. Naina menyiapkan piring untuk Uwais dan kakek. Kakek tersenyum melihat Naina dan Uwais malu-malu di hadapannya.
” Ini rumah Uwais, semoga betah. Gak terlalu jauh juga dari ruko” imbuh kakek.
” Iya kek" Naina tersenyum. Padahal dia tidak membawa baju satupun karena Uwais tidak bilang apa-apa jika akan tinggal mulai malam ini di sini. Ketiganya menikmatinya makan malam bersama, Uwais pamit untuk mengajak Naina ke kamar dan beristirahat kakek pun mengizinkannya.
” Zidan" panggil kakek dan Zidan mendekat.
” Iya bos?"
” Awasi gadis itu, saya takut dia macam-macam dan menyakiti Uwais”
” Iya bos” Zidan mengangguk, kakek pergi menuju ke kamarnya.
Di kamar Uwais, Naina diajak masuk dengan tangan di genggam oleh Uwais. Naina tertegun melihat pemandangan dari lantai tiga rumah tersebut. Naina tidak bisa naik tangga terlalu lama dan Uwais mengajaknya naik lift. Naina melihat pemandangan malam yang begitu memanjakan mata.
” Kirimkan cemilan ke kamarku” titah Uwais setelah menekan tombol yang menempel di dekat pintu. Uwais melepaskan pakaiannya dan mengambil dua botol minuman dingin dari kulkas di kamarnya. Naina menoleh dan seketika memalingkan wajahnya melihat Uwais lagi-lagi tidak memakai baju.
” Kamu harus terbiasa melihat ku telanjang”
Naina diam dan meremas botol minumannya.
” Mau aku buka jendelanya?”
” Boleh?”
” Tentu”
Uwais meraih remote lalu menekannya jendela terbuka sendiri dan Naina bisa merasakan hembusan angin menerpa kulit wajahnya.
Tok tok tok ketukan pintu membuat keduanya menoleh. Naina ingin melihat siapa yang datang tapi Uwais menahan, dia sendiri yang melihat siapa dan ternyata pelayan membawa apa yang dia mau. Naina diam melihat suaminya membawa nampan dan mendekatinya.
” Apa tidak ada keluarga yang lain disini?”
” Tidak ada”
” Kalau kakek pergi, mas sendirian?"
” Banyak pelayan, bibi asri, Zidan dan bodyguard satu lagi, tukang kebun”
Naina terlihat berpikir keras, Uwais benar-benar kesepian selama ini. Naina terkejut saat Uwais menyapunya potongan buah apel dan Uwais tersenyum.
” Kenapa melamun?”
__ADS_1
Naina menggeleng kepala.
” Kamu kerja apa sebenarnya?”
” Meneruskan bisnis kakek, mengurus semuanya. Cuma aku belum pintar, Zidan masih harus memantau aku. Aku sudah punya istri aku akan bekerja dengan baik” Uwais tersenyum lalu mencubit dagu istrinya gemas. Dan Naina terlihat salah tingkah.
” Mas, kamu bukan cucu ketua mafia atau gangster atau bandar narkoba kan? kamu cari uang halal kan?”
” Insya Allah halal, Naina Naina aneh dasar”
” Aku gak mau makan uang nafkah dari hasil gak bener mas”
” Enggak sayang, kakek pengusaha tambang di luar kota. Di sini ada dua pabrik makanan, dan beberapa hotel yang harus aku urus. Di luar kota juga, pusing sih kalau bisa memilih aku mau jadi karyawan biasa aja”
” Kamu cucu satu-satunya mas?”
” Ibu aku, cuma anak satu-satunya. Ibu aku nikah sama ayah yang berasal dari keluarga biasa dan salah satu karyawan kakek, kakek gak setuju sampai ayah aku dipecat tapi ternyata ibu lebih memilih untuk menikah dengan ayah. Yang gak punya apa-apa, setelah menikah ayah dan ibu di usir pernah tinggal di luar negeri dan kakek gak tahu kalau aku dan Nafisah ada.” Lirih Uwais menceritakan, raut wajahnya berubah menjadi sedih dan Naina merasa bersalah karena sudah bertanya.
” Mas, aku minta maaf. Kamu gak sendirian, ada aku” Naina tersenyum, Uwais juga tersenyum lalu meraih tangan Naina dan menggenggamnya erat. Uwais bergeser, lalu merangkul bahu Naina dan menekan kepala Naina agar bersandar padanya. Naina bersandar, dan keduanya menikmati malam yang sejuk itu sambil melihat pemandangan sekitar.
*****
Keesokan harinya, Naina di antar oleh suaminya ke ruko. Lalu Uwais pergi untuk bekerja, Naina sangat sibuk dan tambah sibuk dengan kehadiran Rizal.
” Mbak yang warna choco masih ada gak?” tanya Ai karena ada pengunjung yang bertanya. Naina mengecek rak lalu mengambil baju yang ingin dilihat pembeli, Ai menerimanya dan menunjukannya kepada calon pembeli.
” Bu Nai tega banget ya sama aku” lirih Rizal dan Naina menoleh sekilas.
” Apaan sih Rizal, pulang sana” usir Naina dan mengangkat telepon dari customer"" Halo assalamu'alaikum,,, mendengarkan,, Oh ya, saya kemarin pulang kampung jadi pengirimannya agak telat soalnya adminnya juga keteteran maaf ya mbak, iya maaf ya. Oke, makasih mbak, Wa'alaikumus Salaam” Naina meletakkan ponselnya setelah selesai dan sedang sibuk memeriksa orderan masuk dari kemarin belum di cek.
” Bu Nai” Rizal merengek.
” Apa?” Naina mulai kesal.
” Bu Nai beneran udah nikah?”
” Aku gak percaya Bu Nai beneran suka sama dia, gantengan aku bu”
” Enggak, lebih ganteng mas Uwais” bantah Naina keceplosan, Rizal bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan toko Naina.” Aduh, marah tuh anak” ucap Naina dan melihat Rizal benar-benar pergi.
” Kenapa mbak?” tanya Ai.
” Pacar kamu ngambek”
” Idih pacar siapa mbak, males banget” Ai kesal karena digoda, Naina terkekeh-kekeh memperhatikannya.
” Sudah waktunya untuk makan siang, biar aku beli makanan dulu. Mau bakso atau nasi Padang?”
” Nasi Padang aja mbak biar kenyang”
” Ya sudah aku pergi dulu Ai, assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Naina pergi untuk membeli makan siang untuknya dan Ai.
*****
Syam sakit.
Syam dilarikan ke rumah sakit tadi subuh, dia terus muntah dan pingsan. Mama Novi setia mendampingi anaknya itu dan mengurusnya, ayah Rahman terus mengomel di luar ruangan.
” Sudah dewasa menyusahkan terus kerjaannya” ayah Rahman kesal. Tari diam begitu juga dengan Asil. Tari memendam masalahnya sendiri karena orang tuanya sibuk mengurus adiknya yang selalu menjadi sumber masalah itu.
” Lihat Naina sekarang dia sudah enak, sudah nikah lagi. Ayah tuh malu punya anak kayak begini, laki-laki satu-satunya” keluh ayah Rahman lagi.
” Ayah duduk, percuma ayah marah-marah terus Syam gak bakal terpengaruh. Jangan bawa-bawa Naina, Naina sudah bahagia dengan suaminya sekarang. Aku bersyukur dia sudah menikah lagi, dengan cucu satu-satunya tuan Baskoro. Kaya banget tuh” tutur Asil yang lega karena Naina sudah menikah dengan pria yang jauh lebih baik dari adiknya. Ayah Rahman diam lalu dia duduk dan memperhatikan Tari yang sama sekali tidak mengatakan apapun. Sementara di dalam ruangan, Syam membuat mama Novi pusing.
__ADS_1
” Aku mau ketemu Naina ma”
” Jangan ganggu Naina terus, kamu kenapa susah banget dibilangin sih?” mama Novi kesal.
” Aku sayang sama dia ma”
” Sudah terlambat, mau nangis darah pun Naina bukan milik kamu lagi” sinis mama Novi berucap lalu mama Novi memilih keluar meninggalkan Syam, terserah Syam mau melakukan apa.
*****
Sahabat.
Di sebuah restoran, Uwais sedang menunggu seseorang sambil menikmati secangkir kopi susu. Uwais meraih ponselnya di atas meja untuk menelepon Naina. Satu panggilan meluncur dan Naina langsung mengangkatnya, Uwais membuat panggilan video call.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
” Lagi apa?"
” Lagi makan, mas udah makan?”
” Baru mau, lagi nungguin temen.”
” Lagi dimana?”
” Di restoran”
Uwais terus tersenyum memperhatikan istrinya, Naina yang ditatap seperti itu berhenti menikmati makan siangnya dan meminum airnya. Bibirnya merah karena makanan yang dia makan baginya pedas, Uwais memperhatikan bibir merah itu dan ingin sekali menggigitnya.
” Aku lagi makan, udah dulu ya”
” Bentar lagi, jangan dulu di matiin” pinta Uwais dan Naina diam.
” Udah ya"
Uwais melirik sahabatnya yang ternyata sudah datang lalu diam mengangguk kepada istrinya.
” Aku jemput nanti, assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Panggilan video berakhir.
Uwais bangkit lalu berpelukan dengan sahabatnya itu.
” Apa kabar Uwais?”
” Aku baik, kamu bagaimana? ayo duduk” Uwais terlihat senang bertemu dengannya, Kaindra. Temannya di penjara yang mengajarinya banyak hal.
” Akhirnya kita bisa bertemu lagi” Kaindra tersenyum.
” Aku juga sangat senang” Uwais tersenyum lalu mengangkat tangannya dan pelayan restoran mendekat, Uwais dan Kaindra memesan makanan sebelum keduanya berbicara panjang lebar.
****
Ada yang kenal? Kaindra pernah dipenjara karena kasus penipuan besar namun setelah satu tahun dia terbukti bebas dari semua tuduhan, di penjara lah dia bertemu dengan Uwais.
Uwais didikannya keluarga Malik Harsya, jangan macam-macam.
Babang Uwais dah bucin
__ADS_1
Istri cantiknya babang Uwais.