
Naina sedang mengemasi barang-barang Syam untuk Syam yang akan pergi ke luar kota sore ini. Syam melarang Naina dan dia tidak tahu istrinya menyiapkan semuanya. Syam keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk berwarna putih yang melingkar di pinggangnya. Syam terkejut melihat Naina mempersiapkan kebutuhannya.
” Nai duduk" titah Syam dan Naina duduk lalu menatap suaminya lekat.” Siapa yang memintamu menyiapkan baju aku Naina?” Syam juga duduk di tepi ranjang seraya menggosok rambutnya dengan handuk kecil, Naina bangkit dan berdiri dihadapan suaminya sambil merebut handuk lalu mengeringkan rambut suaminya itu.
” Jangan berlebihan mas aku bisa dan itu bukan pekerjaan yang berat, kamu disana jaga diri baik-baik ya mas." Naina khawatir dalam benaknya dia tak rela melepas suaminya pergi tapi tidak mungkin dia melarang karena suaminya memang pergi untuk bekerja bukan untuk bermain-main.
” Aku khawatir Nai, aku bisa menyiapkan semuanya sendiri” Syam menatap wajah cantik istrinya lekat.” Kamu khawatir? ini memang kepergian pertama ku setelah kita menikah, aku bekerja disana. Jangan berpikiran macam-macam" Syam tersenyum tipis.
” Istri mana yang enggak khawatir mas" lirih Naina dan terkejut saat Syam memeluk dan menarik pinggang Naina sampai Naina jatuh ke pangkuannya.
” Do'akan aku semoga pekerjaan ku lancar dan selesai secepatnya" Syam tersenyum dan Naina juga tersenyum.
Setelah selesai Syam memakai pakaiannya dan Naina mengancingkan kancing kemeja suaminya sayupe, Naina membeli kemeja itu dua hari yang lalu dan Syam menerimanya dengan senang hati. Kemeja berwarna hitam dan sakunya berwarna putih di dada kiri. Naina mengantarkan suaminya sampai keluar dari rumah, tidak henti-hentinya Syam mencium dan memeluk istrinya itu.
” Jaga diri baik-baik assalamualaikum” ucap Syam dan dia juga sempat mengusap pucuk kepala istrinya lembut.
" Waalaikumsalam” Naina tersenyum dan Syam masuk ke dalam mobil, Syam tidak pergi sendirian dia pergi bersama tiga orang karyawannya termasuk Bayu.
*****
3 hari berlalu, Syam akan pulang hari ini dan Naina sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya. Setiap hari Syam dan Naina tidak lupa saling memberikan kabar dan Syam berulang kali mengatakan bahwa Syam takut istrinya di goda pria lain. Naina sedang melangkah untuk meninggalkan sekolah dan segera pulang. Naina berhenti melangkah saat mendengar suara tangisan seorang perempuan padahal semua murid sudah pulang dan hanya ada beberapa guru yang masih ada di sekolah.
” Ada orang di sana?" Naina berbisik dan ingin melihat siapa yang sedang menangis di belakang pohon besar itu. Suara isakan tangis menghilang dan Naina mengernyit heran. Naina melangkah untuk melihat karena dia yakin itu adalah manusia dan bukan halusinasinya. Rani terkejut saat melihat Naina memergokinya tengah menangis dan dia belum pulang sedari tadi.
” Rani, kamu kenapa?” lirih Naina bertanya dan melihat kedua mata sembab Rani.
” Aku gak kenapa-kenapa Bu" jawab Rani ketus karena baginya Naina adalah wanita yang merebut Syam dari kakaknya Amira. Rani berdiri dan Naina mundur menjauh.
" Kenapa kamu gak pulang? kalau ada masalah kamu bisa menceritakannya sama ibu." Naina menawarkan diri karena melihat raut wajah tegang Rani sangat jelas jika gadis itu sedang mengalami masalah besar.” Ayo ibu antar pulang" ajak Naina seraya mengulurkan tangannya dari kejauhan Romi memperhatikan Naina dan Rani sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
” Bu" lirih Rani dan Naina tersenyum.
” Iya?”
” Apa ibu gak malu punya suami kaya dan ganteng? harusnya ibu sadar diri. Ibu pincang dan ibu gak pantes kalau lagi berendengan sama mas Syam, saya berkata jujur Bu" ucap Rani sinis dan membuat senyuman Naina lenyap, tapi tidak lama Naina tersenyum kembali lebih lebar daripada senyuman yang tadi.
” Kalau ibu bisa merubah takdir ibu sendiri ibu akan meminta dan memilih pria yang juga memiliki kekurangan fisik seperti ibu, supaya kami bisa saling menghargai. Tapi nyatanya ibu gak bisa menemukan sosok seperti itu dan malah mas Syam suami ibu yang datang melamar dan sekarang kami sedang berdoa akan hadirnya seorang anak” tanpa ragu Naina menjelaskan membuat Rani terdiam akan ucapan gurunya itu.” Masyarakat kita memang sering menilai seseorang dari fisik, derajat dan keturunan. Tapi kamu harus tahu manusia seperti ibu dan seperti mereka yang lain yang juga memiliki kekurangan fisik bisa dan berhak hidup bahagia. Saling menghargai tepatnya” Naina tersenyum tipis.
Rani menekuk wajahnya dalam-dalam merasa bersalah atas apa yang dia katakan tadi, kenapa bisa dia berbicara seperti itu padahal kakaknya sendiri bilang jika hubungannya dan Syam sudah berakhir.
” Apa ibu gak pernah merasa sakit hati?" tanya Rani kembali dan Naina terkekeh-kekeh.
” Ibu juga manusia, manusia yang tak luput dari kesalahan. Jika ibu bilang ibu gak sakit hati itu adalah sebuah kebohongan, tapi mungkin karena sudah terbiasa rasanya hanya sedikit sakit. Ibu sudah hidup 10 tahun dengan kondisi kaki begini, ibu jua menyesal karena kejadian kecelakaan itu membuat kaki ibu pincang. Tapi Alhamdulillah nya, ibu masih diberikan kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri" Naina tersenyum lebar dan kembali mengulurkan tangannya, Rani ragu dan dia merasa malu sekarang, jika dia seperti Naina dia tidak akan kuat, terkadang orang-orang baik di hadapan Naina tapi saat di belakang mereka menghina fisik Naina, termasuk beberapa guru dan murid. Rani akhirnya meraih tangan Naina dan Naina melangkah begitu juga dengan Rani, keduanya melangkah bersama untuk pulang. Rumah Rani searah dan Naina tahu alamat semua murid-muridnya untuk berjaga-jaga.
****
Di kediaman orang tua Syam, Tari dan suaminya Hamdan tengah berdebat. Memperdebatkan tentang sikap kurang ajar Hamdan kepada semua gadis termasuk Naina dan Asil. Hamdan tidak suka Tari mengikuti perkataan Asil tempo hari dan sekarang Tari menjadi sangat berani padanya.
” Tega kamu kalau melakukan itu sama aku” kata Hamdan dan Tari menatapnya lekat. Air matanya menetes deras, sampai kapan Tari harus mengubur rasa cemburunya saat dia tahu suaminya lebih tertarik kepada wanita lain.
” Kamu yang tega sama aku mas, kalau kamu sayang sama aku. Sama istri kamu ini, sudah pasti kamu gak akan menolak" lirih Tari seraya mengusap air matanya.
” Sudah diam, jangan sampai aku berteriak dan semua orang di rumah ini mendengar pertengkaran kira." Ancam Hamdan dan ketakutan Tari adalah orang tuanya.
” Jangan mas" Tari mulai mengalah kembali seperti yang sebelumnya dia lakukan, Hamdan tersenyum tipis karena sudah berhasil menakut-nakuti istrinya.
” Awas saja kalau kamu berani berbicara seperti itu lagi" katanya begitu tegas dan Tari hanya bisa mengangguk seraya menekuk wajahnya dalam-dalam.
****
__ADS_1
Setelah mengantar Rani pulang naik taksi Naina pulang naik taksi juga, dia harus memasak makanan lezat untuk suaminya. Namun saat dia melihat mobil suaminya sudah terparkir di depan rumah ada rasa sedih dan bahagia menjadi satu. Bahagia karena suaminya sudah pulang, serta sedih karena belum sempat memasak makanan untuk suaminya. Naina masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan bibi.
” Assalamualaikum bi"
" Waalaikumsalam mbak Nai, mbak Nai mas Syam sudah pulang tapi kayaknya mas Syam lagi sakit" kata bibi dan Naina terkejut mendengarnya.
” Kapan mas Syam pulang bi?"
” Baru sampai mbak"
Naina mengangguk dan berpamitan untuk segera pergi dan melihat suaminya. Syam sedang merebahkan tubuhnya dengan punggung bersandar pada bahu ranjang. Naina tersenyum dan Syam tidak membuat ekspresi apapun.
” Assalamualaikum mas" Naina mendekat dan ingin menyalami tangan suaminya.
” Kenapa pulang telat? aku datang ke sekolah untuk menjemput kamu Nai" ketus Syam dan Naina berhenti tersenyum.
” Ada masalah sedikit, mas mau minum apa? aku buatkan sekarang" kata Naina dan Syam menggeleng kepala.
” Kamu keluar aja Nai aku ingin sendiri" usir Syam dan Naina tersentak kaget dengan kedua mata yang langsung berair, entah apa yang terjadi di luar kota sampai sikap suaminya berubah seketika. Naina melangkah keluar dari kamar dan meneteskan air matanya padahal Naina ingin mengatakan kabar gembira jika dia sedang mengandung saat ini. Naina mengecek nya tadi pagi dengan testpack yang dia beli kemarin, dia sudah telat dua mingguan dan hasilnya positif.
” Mas Syam kenapa sih? apa dia gak kangen sama aku" lirih Naina lalu melangkah pergi dan tidak mau melihat Syam karena merasa sakit hati di usir oleh suaminya dari kamar, bibi memperhatikan kepergian Naina keluar melewati pintu gerbang tanpa menyapa pak satpam padahal Naina sangat ramah biasanya.
Ada sesuatu yang terjadi di luar kota sampai-sampai membuat Syam tidak bisa berpikir jernih lagi dan sedang berada dalam kondisi kebingungan sekarang. Syam turun dari ranjang tempat tidur lalu dia melangkah mendekati laci dan menarik laci tersebut, alangkah terkejutnya Syam saat melihat alat tes kehamilan dan hasilnya garis dua.
” Naina" teriak Syam dan melangkah cepat untuk mencari istrinya.
****
Naina memutuskan untuk pergi ke toko, dari pada dia pergi ke tempat tidak jelas dia lebih memilih untuk bekerja. Naina menaiki bus dan bus berhenti saat lampu merah menyala, Romi yang juga sedang menunggu melirik ke arah kiri dan melihat Naina di sana. Duduk di sebelah kaca dengan raut wajah begitu sedih.
__ADS_1
"Bu Nai kenapa? kenapa masih memakai seragam yang tadi?" gumam Romi.
Bus melaju setelah lampu hijau menyala, Romi diam-diam mengikuti Naina untuk memastikan Naina baik-baik saja. Bus berhenti saat Naina meminta berhenti lalu bangkit dari duduknya dan turun dari bus, Romi turun dari motornya dan melihat Naina masuk ke sebuah toko pakaian.