Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Teror


__ADS_3

Syam keluar dari rumah saat pintu bel berbunyi, satpam sedang di belakang dan tidak bisa melihat siapa yang datang. Syam membuka pintu gerbang sedikit, hanya pas untuk tubuhnya. Syam mengernyit heran, tidak ada siapa-siapa dan malah ada tas di depan gerbang rumahnya.


” Iseng banget sih” gerutu Syam dan menendang tas tersebut, tapi dia diam memperhatikan. Rasa penasaran muncul dan Syam mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa isi tas tersebut. Alangkah terkejutnya saat dia melihat kucing mati berlumuran darah di sana.


” Satpam!” Syam berteriak. Pak satpam datang saat mendengar suara majikannya, Amira juga keluar untuk melihat apa yang terjadi.


” Ada apa pak?" tanya pak satpam.


” Lihat” tunjuk Syam ke kardus berlumuran darah itu. Syam mundur dan merasa mual melihatnya. Pak satpam langsung membawa kardus untuk dia kubur.


” Syam” panggil Amira.


Syam langsung berlari ke arah mobilnya. Dia masuk dan menekan klakson mobil agar Amira membuka pintu gerbang, Amira membuka pintu gerbang karena takut dan Syam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ruko dimana wanita yang dia khawatirkan saat ini berada.


” Mau kemana dia?" geram Amira dan sudah yakin bahwa Syam akan pergi menemui Naina.


Di perjalanan, Syam benar-benar terlihat gelisah. Dia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, hampir menabrak penyeberang jalan dan Syam tidak perduli. Sesampainya di ruko, Syam keluar dari mobilnya. Tubuhnya terasa kaku, matanya terasa perih melihat pemandangan di depan toko Naina. Naina sedang berbincang dengan Ali dan tertawa bersama, entah apa yang keduanya bicarakan tapi melihat laptop dan lembaran kertas di atas meja sepertinya keduanya membicarakan tentang pekerjaan. Naina dan Ali semakin dekat, dan Naina menanyakan apa yang tidak dia ketahui mengenai bisnis online nya kepada Ali yang lebih mahir darinya.


” Naina” panggil Syam seraya melangkah dengan tegas mendekati Naina dan Ali. Naina dan Ali menoleh, keduanya yang sedang berbincang hangat terlihat bingung melihat kedatangan Syam.


” Aku mau bicara” ucap Syam lalu meraih pergelangan tangan Naina dan menariknya.


” Nai” panggil Ali.


” Lepas mas” titah Naina tapi Syam semakin mengeratkan cekalan tangannya.


” Ikut aku, ini tentang peneror itu” Syam berbisik karena tidak mau Ali ikut campur.


” Lepas dulu" pinta Naina.” Kita bukan suami istri lagi mas” tegas Naina mengingatkan, tangan Syam akhirnya terlepas dan Naina menoleh kepada Ali. Ali mengangguk, sebagai kode jika Naina boleh pergi meninggalkan pekerjaan. Naina melangkah mengikuti Syam, keduanya berdiri cukup jauh dari Ali.


” Ada apa mas? gak puas kamu gangguin aku terus?”


” Hebat ya kamu sekarang semakin dekat dengan Ali, mudah banget bagi kamu lupain aku dan berduaan sama dia”


” Aku gak berduaan sama mas Ali, disini juga banyak orang dan kami sedang bekerja mas. Aku mohon jangan ganggu aku”


” Peneror itu meneror aku Naina, dan bukan tidak mungkin dia juga akan meneror kamu. Kamu sebaiknya tinggal sama aku Nai”


” Kamu yang membuang aku mas, kenapa sekarang kamu malah seenaknya meminta aku tinggal di rumah kamu. Tolong hargai aku sedikit saja” Naina mulai kesal dan hendak pergi tapi Syam menghadang kakinya sampai Naina tersandung dan hampir terjatuh, secepat kilat Syam merangkul pinggang mantan istrinya itu dan Naina jatuh ke pelukannya. Kedua mata Naina nampak berair, dia terkejut dengan tangan Syam yang merangkulnya. Naina mendorong dada Syam dan mundur menjauh. Ali yang melihat Naina tidak nyaman dengan perilaku Syam buru-buru mendekat.


” Keterlaluan kamu mas” ketus Naina.

__ADS_1


” Aku kangen sama kamu Nai"


” Aku benci sama kamu mas!" bentak Naina dan dia pergi lalu masuk ke toko nya, Ali menahan Syam yang ingin menyusul Naina.


” Jangan ikut campur” ucap Syam dan tatapannya begitu tajam menatap Ali.


” Jangan merendahkan Naina seperti itu, dia hidup sendirian sekarang tanpa kamu dan itu tidak mudah. Menjadi seorang janda tidak mudah, dan jangan membuat kehidupannya semakin sulit” tegas Ali lalu mengarahkan tangannya ke mobil Syam agar Syam segera pergi.


” Cih” Syam berdesis dan mau tidak mau dia harus pergi setelah sadar menjadi sorotan orang-orang di sana.


Malam hari tiba, Naina sedang berdiri di hadapan jendela terbuka di lantai dua ruko nya. Ali dari kamar di rukonya memperhatikan. Naina terlihat menangis dan bingung. Kembalinya dia ke ibukota terasa begitu salah.


Gerddt! suara ponsel Naina bergetar, Naina meraih ponselnya di atas meja dan panggilan masuk dari Ali. Naina langsung melirik ke lantai dua ruko Ali dan Ali sedang memperhatikannya, Ali terlihat melambaikan tangan dan Naina mengangkat teleponnya.


” Halo assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam, Naina kamu tidak apa-apa?”


” Ya aku gak apa-apa mas”


” Telepon saja kalau ada sesuatu”


” Mas Ali mau tidur di ruko lagi?"


” Oh" singkat Naina.


” Ya sudah selamat tidur Nai, jangan lupa telepon kalau ada sesuatu”


” Iya mas makasih”


” Iya assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Panggilan pun berakhir, Naina menutup jendela dan gorden jendelanya. Ali memperhatikan dan dia pun menutup gorden jendelanya. Ali terdiam sejenak.


” Apa ini? kenapa aku begitu khawatir sama Naina. Ada apa denganmu Ali" berbicara sendiri lalu menampar pipinya sendiri.


” Auw sakit" Ali meringis lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, Naina melihat seorang pria turun dari sebuah mobil dan melangkah ke arah tokonya. Entah siapa, Naina diam dan melirik Ai. Pria tampan itu pun masuk ke dalam toko Naina.


” Cari apa ya mas?” tanya Ai, sopan dan ramah seperti ke pengunjung lain.


” Saya mau cari baju perempuan”


” Iya memang disini hanya tersedia baju muslimah saja, mas mau ukuran apa?”


Pria itu diam dan memperhatikan Naina.


” Mungkin ukuran L, saya mau ukuran L. Bawa semua model pakaian yang sederhana, dan warnanya tidak terlalu cerah” pintanya dan Ai mengangguk, Naina yang sedang menuliskan catatan pengeluaran dan dia belum menyisikan uang untuk dia sedekahkan, bagian orang tuanya, untuk sekolah Kabir dan gaji Ai menoleh. Melihat seorang pria yang meminta beberapa barang jualannya membuat Naina sedikit khawatir. Ali dari tokonya juga diam-diam memperhatikan pria yang terlihat mencurigakan itu.


” Ya saya mau semuanya” seru pria tersebut dan Ai melirik Naina, Naina mengangguk dan Ai membawa semuanya ke atas meja dan Naina meraih kalkulator untuk menghitung semuanya. Ai kembali menyapa pengunjung lain, lalu pria itu diam-diam memperhatikan Naina yang sedang menghitung semuanya.


” 980rb sudah termasuk diskon. Ini nota nya, dan ini barangnya” seru Naina dan pria itupun mengeluarkan uang.


” Terima kasih” seru Naina dan pria itupun pergi membawa belanjaannya.


Ponsel Naina berdering. Naina diam karena panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Panggilan pun berakhir dan tidak lama pesan masuk muncul. Naina meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.


” Kamu cantik” isi pesan tersebut. Naina diam dan tiba-tiba dia mengingat pria yang tadi, suaranya pun seperti tidak asing baginya. Naina bangkit dari duduknya dan melangkah sekuat tenaga untuk melihat pria itu. Dia yakin pria itu yang menerornya selama ini.


” Ai, Ai” panggil Naina histeris dan Ai keluar.


” Ya mbak kenapa?”


” Kemana pria tadi Ai, dia pria itu” ucap Naina dan Ai diam. Keduanya saling menatap lekat dan sama-sama ketakutan.


*****


Uwais tersenyum lebar dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil memikirkan Naina yang baru dia lihat tadi, pria tampan itu mulai menyukai Naina yang selama ini menjadi targetnya karena menikah dengan Syam. Uwais di penjara karena kesalahan yang tidak dia lakukan dan dia baru bebas satu tahun yang lalu. Uwais menelepon seseorang dan panggilan tersambung.


” Ada apa Uwais?”


” Jaga gadis itu untukku, jangan biarkan dia menyakitinya”


” Bukannya gadis itu juga akan kamu jadikan target Uwais?"


” Tidak, jangan. Aku tidak rela. Dia gadis baik-baik aku hanya butuh Syam dan Rangga bukan dia. Awasi juga Amira jangan sampai dia macam-macam, jangan sampai gadisku lecet”


” Oke”

__ADS_1


Panggilan berakhir.


__ADS_2