Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Honeymoon part 2


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Fatma, Fatma keluar dan keluarganya menyambutnya. Syam terlihat ragu untuk keluar tapi dia tidak memiliki pilihan lain dari pada mendapatkan banyak pertanyaan dan orang tuanya mengomel nanti. Fatma keluar dari mobil dan Syam mengepalkan tangannya karena dia tidak menunggunya untuk membuka pintu mobil padahal jelas-jelas keluarga Fatma memperhatikan.


” Mereka kok kayak berantem?" imbuh Bu Anggi.


” Mungkin Fatma capek jadi mukanya kayak begitu” seru suaminya menimpali.


Syam membawakan tas dan koper Fatma, Fatma menatap sinis dan Syam melotot. Fatma memalingkan wajahnya dan melangkah mendahului.


” Assalamu'alaikum” imbuhnya.


” Wa'alaikumus Salaam” jawab semua orang.


” Gimana di perjalanan?” tanya Bu Anggi.


” Capek bu” jawab Fatma.


” Nak Syam terima kasih sudah mau jemput Fatma. Ayo masuk" ajak ayah.


” Maaf om saya buru-buru banget nih, insya Allah lain kali saya mampir” Syam menolak.


” Oh gitu”


” Iya, saya permisi om, tante, semuanya. Assalamualaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Syam melangkah pergi dan Fatma menatap kepergiannya sinis. Syukurlah pria itu pergi, begitulah gumaman Fatma. Dia yang awalnya suka sekarang malah malas bertemu dengan Syam.


” Ibu, aku sama mas Syam kayaknya gak cocok. Kami mau pernikahan ini dibatalkan saja” pinta Fatma seraya merengek-rengek.


” Syam aja gak nolak, kamu pulang-pulang dari Turki jadi begini ketemu siapa kamu di sana sampai jadi berubah pikiran?” ketus ayahnya kesal dan Fatma menundukkan kepalanya, dia berlari dan abangnya menyusulnya.


” Fatma” panggil nya. Tapi Fatma tidak mau berbicara lagi dia ingin mengurung diri saja di kamar.


*****


Di Turki, Naina sedang tidur dan Uwais memperhatikannya sambil tersenyum. Naina membuka matanya dan dia sudah merasa cukup tidur siang.


” Mas ngapain?” tanya Naina dan menatap suaminya lekat.


” Lagi lihatin bidadari tidur”


” Mana?” Naina bangkit dan Uwais menoyor kepalanya.


” Kamu sayang”


Naina tersenyum. Keduanya saling menatap lekat, Uwais memperhatikan istrinya yang semakin cantik. Seorang istri akan bersinar bersama pria yang tepat, begitulah kira-kira.


” Mas aku lapar” imbuh Naina seraya menyentuh perutnya, Uwais juga meletakkan telapak tangannya di perut istrinya.


” Aku pesan makanan dulu, kamu diam aja di sini”


Naina mengangguk dan Uwais turun dari ranjang. Naina membuka selimut yang menyelimuti kakinya dia merasa kakinya sudah lebih baik, Naina harus melakukan terapi setelah dia di operasi dan dari sekarang Uwais mencari seseorang yang bisa melakukan terapi di rumah karena tidak mau bolak-balik ke rumah sakit.


Setelah makanan siap untuk di santap, Naina menikmati makanannya sambil melihat salju turun dari balik kaca jendela hotel. Uwais berpindah tempat, dia duduk di belakang Naina. Menarik pinggang Naina sampai Naina duduk di kedua pahanya. Naina menoleh, hendak berbicara tapi Uwais menciumnya. Naina diam dan menggigit bibir bawahnya kelu sambil memperhatikan wajah suaminya sedekat itu.


” Aku mau duduk di bawah” kata Naina dengan dan bergerak cepat tapi Uwais memeluk perutnya, menahannya agar tidak turun.


” Aku tidak izinkan” Uwais tersenyum tipis dan melihat kedua mata Naina membulat sempurna.


” Suapi aku" pinta Uwais karena Naina sedang menggigit buah apel, Naina memberikannya dan Uwais memintanya menggigit di bekas bibirnya, Naina menurut.

__ADS_1


” Kamu benar-benar udah bucin ya Nai" ejek Uwais. Naina mendorong dadanya kesal dan bangkit lalu berlari ke kamar mandi, perempuan mana yang tidak malu-malu kucing di goda seperti itu. Uwais berlari menyusul Naina, dia mendorong pintu kamar mandi dan Naina menahannya.


” Aku mau pipis” ucap Naina.


” Aku juga mau pipis Nai” Uwais tersenyum dan mendorong pintu lalu menarik tangan Naina dan dia masuk.


” Aku beneran mau pipis” imbuh Naina dan menyentuh area sensitifnya. Masih terhalang celananya.


” Aku mau mandi” alasan, Uwais mengisi bathub dan Naina yang sudah tidak tahan akhirnya pipis walaupun ada suaminya. Dia tidak perduli daripada jadi penyakit. Uwais masuk ke bathub dan menarik tangan istrinya, Naina mencubit dada telanjang suaminya kesal.


” Mandi bareng” ajak Uwais dan Naina menggeleng kepala.


” Enggak mau”


” Kenapa?” Uwais melepaskan ikatan rambut istrinya dan menggenggamnya, Naina diam dan menutup matanya saat bibir Uwais sudah menciumi lehernya. Naina diam dan Uwais memintanya berbalik. Rambut dan seluruh tubuh keduanya sudah basah, pakaian Naina satu persatu di lepas oleh Uwais. Dia hendak mencium bibir istrinya lagi tapi terhenti saat mendengar suara bel pintu berbunyi...


Ting nong, Ting nong


Naina terlihat panik dan Uwais bangkit dari bathtub dan meraih handuknya.


” Diam disini” titah Uwais dan Naina mengangguk. Uwais pergi hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya. Dia mengintip dari lubang pintu dan melihat Zidan. Pintu pun dia buka dan Kabir yang tiba-tiba ingin masuk setelah muncul dari balik tembok di tahan Uwais. Uwais hanya membuka pintu sedikit dan menahannya.


” Aku mau ketemu mbak Naina" kata Kabir.


” Dia tidur, jangan berisik." Ketus Uwais lalu menatap Zidan.” Kenapa?”


” Ada masalah” tutur Zidan. Uwais diam sejenak dan melirik Kabir.


” Kita bicara dua jam lagi” kata Uwais dengan cepat lalu...


Brug! menutup pintu sangat kencang dan membuat Kabir dan Zidan yang paham tertawa lalu pergi. Uwais kembali ke kamar mandi, tapi dia membawa istrinya. Menggendongnya ke kamar. Naina menarik selimut dan Uwais mulai menindihnya. Suara kecupan terdengar sangat jelas, keduanya tersenyum sesekali dan saling berbisik memuji satu sama lain. Kegiatan pun menuju ke puncaknya. Naina meringis dan Uwais melambatkan pergerakannya.


” Sakit?”


” Maaf maaf” Uwais tidak sengaja menindih kaki Naina dan kegiatan pun berlanjut sampai selesai.


Setelah kegiatan keduanya selesai, keduanya mandi bergantian dan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Uwais memperhatikan Naina akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat, tapi terlihat mudah lelah dan sering mengantuk. Lihat saja istrinya sekarang, sudah tidur lagi sambil memeluknya.


” Nai, aku ketemu Zidan dulu ya” kata Uwais dan Naina mengangguk antara sadar dan tidak. Uwais menyelimuti tubuh istrinya dan bersiap untuk pergi bertemu dengan Zidan. Naina tertidur pulas dan Uwais menutup pintu perlahan lahan.


Uwais pergi dan bertemu di depan hotel karena Zidan akan pulang duluan.


” Ada apa? Kabir dimana?”


” Rumah di teror bos, kebakaran terjadi di pos satpam.”


” Ada korban jiwa?”


” Tidak ada, satpam sudah dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan diobati. Beberapa waktu yang lalu Syam datang mencari Bu Naina. Entah niatnya apa dan kemungkinan besar dia dalangnya”


” Aku benar-benar tidak mau terlibat masalah lagi, resepsi pernikahan ku dan Naina sebulan lagi. Tolong urus ini dan selidiki dengan baik” pinta Uwais lirih, dia meneror musuh-musuh nya dan dia sekarang merasakan hal yang sama. Dia tidak takut apapun yang penting adalah Naina, Naina adalah hidupnya.


” Tentu, saya pamit pulang bos”


” Hati-hati” ujar Uwais dan menepuk bahu Zidan lembut, Zidan pergi meninggalkan Uwais yang akan dijaga oleh bodyguard dan dia harus mengurus segalanya. Uwais dan Naina akan menjalani bulan madu sekitar 4 hari lagi.


*****


Naina minta pulang.


Dua hari kemudian, Kabir sedang ada di kamar hotel Uwais dan Naina. Naina sedang rebahan di atas kasur sambil melihat isi galery foto di ponselnya. Dia sudah pergi ke beberapa tempat wisata di Turki khususnya di Istanbul, dan belanja berulangkali. Termasuk oleh-oleh untuk semua orang.

__ADS_1


” Makan terus” sindir Kabir dengan suara lantang melihat Naina yang tidak berhenti mengemil. Uwais yang sedang sibuk dengan laptopnya hanya tersenyum tipis.


” Apaan sih” ketus Naina.


Kabir melemparkan Snack kepada Naina dan Naina melemparkan bantal ke wajahnya.


” Diem, awas kamu” Naina mulai kesal. Dan Kabir tertawa terbahak-bahak melihatnya kesal.


” Kalian ribut terus dari tadi” tegur Uwais dan Naina diam.


” Udah ah aku capek gangguin mbak Nai terus, aku mau tidur” imbuh Kabir dan Naina tersenyum melihat adiknya pergi. Uwais mengunci pintu dan mengintip untuk melihat Kabir benar-benar sudah pergi, dia menutup laptopnya dan melompat ke atas kasur mendekati Naina.


” Kamu main hape terus dari tadi, cengengesan lagi. Chatting sama siapa?” Uwais merebut ponsel Naina dan Naina cemberut. Uwais memeriksa ponsel istrinya, awas saja jika istrinya berani-berani bermain-main dengannya. Tidak ada ampun.


” Enggak kan? curiga terus dasar” ketus Naina, Uwais merangkul bahunya lalu mencium pipinya.


” Iya maaf” Uwais meletakkan ponsel Naina dan mengajak Naina berbaring, Naina memperhatikan wajah suaminya begitu juga dengan suaminya yang menatapnya.


” Mau pegang ini boleh?” meminta izin, untuk menyentuh tahi lalat di bawah mata suaminya dan Uwais mengangguk. Naina menggerakan jari telunjuknya dan menekan bawah mata suaminya lembut.


Lalu dia berhenti dan Uwais menunjuk pipinya minta di cium lalu Naina menciumnya, Uwais menunjuk bibirnya dan Naina mengecupnya sekilas.


” Mas” panggil Naina begitu manja.


” Kenapa sayang?”


” Aku mau pulang mas, aku gak enak badan kayaknya. Di rumah kita lebih nyaman walaupun di sini juga hotelnya mewah dan bagus. Pulang yuk mas” tutur Naina, Uwais menempelkan punggung tangannya di kening istrinya memang terasa panas dan Naina benar-benar tidak mau lebih lama lagi di Turki.


” Mau pulang? katanya kamu mau ke selat Bosphorus sayang.”


” Enggak mas, lain kali aja. Aku capek” lirih Naina lalu Uwais mendekap erat tubuh nya.


” Iya pulang, aku urus semuanya sekarang juga.”


” Beneran?” Naina antusias dan Uwais mengangguk, Naina mengeratkan pelukannya dan dia merasa senang.


****


Kepanikan Ai.


Ai sedang meremas-remas kedua tangannya, dia menatap benda kecil di atas gayung. Dia sedang berada di kamar mandi cukup lama. Ai memperhatikan warna merah yang menyebar di atas tespack tersebut untuk menunjukkan hasilnya. Setelah merasa cukup Ai meraih testpack dan menutup matanya, dia buka matanya perlahan-lahan. Air matanya menetes deras melihat garis dua di sana, dia ingin sekali menjerit. Kalau sudah begini apa yang harus dia lakukan. Ai buru-buru keluar dari kamar mandi, dia menuruni tangga dan keluar dari toko lalu memperhatikan Akbar yang sedang berbicara dengan seorang gadis yang selalu membuatnya cemburu.


” Mas” panggil Ai dan Akbar menoleh, wajahnya terlihat pias melihat Ai marah padanya. Akbar melangkah mendekat dan Ai mengajaknya duduk, toko sudah tutup dan dia sebentar lagi pulang.


” Aku mau ngomong serius” tegas Ai.


” Kamu nangis?” tanya Akbar melihat kedua mata Ai merah. Ai mengedarkan pandangannya lalu meletakkan tangannya di atas meja dan membuka kepalan tangannya, Akbar membuang nafas kasar melihat apa yang Ai perlihatkan.


” Bagaimana bisa?” tanya Akbar.


” Apa kamu bilang mas? kita sudah melakukannya” Ai berbisik takut-takut ada yang mendengar.


” Ingat-ingat Ai, kamu main sama aku atau sama pria yang mana lagi? aku gak mudah untuk kamu tipu” bantah Akbar malah menuduh Ai macam-macam, Ai bahkan baru menjalin hubungan dengannya. Tanpa berpikir panjang Ai menampar Akbar sekuat tenaga. Suara tamparannya terdengar sangat kasar dan Ali yang hendak membuang sampah memperhatikan keduanya.


” Aku mau kamu tanggung jawab”


” Aku gak bisa” ucap Akbar, mana janji-janji manisnya dulu untuk membahagiakan Ai. Setelah dia mendapatkan kesucian gadis itu dengan mudah dia menuduh dan membantahnya seolah-olah Ai yang salah.


” Keterlaluan kamu hiks,, aku benci sama kamu mas” Ai menangis histeris dan memukuli dada Akbar sekuat tenaga dan menamparnya berulangkali.


” Ada apa ini? Ai berhenti” tegas Ali datang melerai pertengkaran keduanya yang menjadi tontonan banyak orang. Ai meraih tasnya dan berlari meninggalkan Ali dan Akbar padahal ruko belum dia kunci, Ai benar-benar lupa.

__ADS_1


” Akbar kamu apain anak orang sampai nangis kayak begitu?” tanya Ali dan menatap kepergian Ai.


” Enggak mas” jawab Akbar, bagaimana bisa dia terus terang. Ali menggeleng kepala, Akbar dan Ai terpaut usia 7 tahun.. Walaupun sudah dewasa Akbar tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan serius dengan seorang gadis sekalipun dengan Ai.


__ADS_2