
Setelah pulang mengajar Naina mampir ke rumah Asil karena Asil memintanya datang untuk membicarakan hal yang sangat penting.
” Assalamu'alaikum” seru Naina dan dia sudah mengetuk pintu, dan menekan bel pintu.
” Wa'alaikumus salaam” sahut dari dalam.
Pintu pun terbuka, alangkah terkejutnya Naina dan langsung berbalik saat melihat Rizal bertelanjang dada.
” Aaaa,,, ibu ngapain disini?” Rizal berteriak, menjerit-jerit dan bersembunyi di balik pintu. Hanya kepalanya yang muncul.
” Kamu yang ngapain telanjang Rizal"
” Aku pakek celana Bu, aduh tunggu aku panggil mbak Asil” Rizal kabur dan tidak meminta Naina masuk, Rizal pergi bukan memanggil Asil tapi dia pergi untuk memakai baju. Dan dia kembali lagi dengan memakai baju yang menurutnya paling keren.
Plak ... Asil memukul bahu adik iparnya kuat.
” Mau kemana kamu? jangan main terus. Belajar, kalau mas Aldi marah semua orang kena termasuk mbak jangan aneh-aneh" seru Asil dan Rizal cemberut.
” Aku mau ke depan” Rizal mencari alasan hanya untuk melihat Naina.
” Dasar" Asil tersenyum lebar.
Asil dan Rizal melangkah bersama untuk melihat Naina.
” Nai" panggil Asil dan Naina menoleh, Naina tersenyum lalu berpelukan dengan Asil. Rizal merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan Asil menoyor kepalanya.
” Olahraga biar sehat, biar sehat. Satu dua tiga" Rizal menggerakkan tangannya agar Asil tidak salah paham.
” Ayo Nai masuk" ajak Asil dan Naina mengangguk.
Naina duduk dan Asil meminta bibi pekerja di rumahnya membuat minuman, Rizal duduk di kursi berseberangan dengan Naina.
” Rizal kamu ngapain? pergi sana. Usil banget” Asil kesal.
” Aku tahu masalah Bu Naina apa, aku perlu dilibatkan. Aku gak mau diminta bantuan terus dibuang begitu saja” menyindir Naina dan Naina menggeleng kepala, dia menyesal meminta bantuan Rizal. Rizal mengerucutkan bibirnya kesal dan tidak perduli dia tetap disana Asil pun kesal padanya. Bibi membawa dua gelas minuman dingin dan Rizal cemberut karena dia tidak dibagi.
” Bibi aku mana?” Rizal merengek.
” Bi tolong kasih bi biar diem nih anak” pinta Asil dan bibi mengangguk. Naina tersenyum melihat Asil yang pusing dengan tingkah laku Rizal.
__ADS_1
” Jadi gimana mbak kata mas Aldi?"
” Begini, aku minta kamu datang buat menyampaikan pesan dari mas Aldi. Mas Aldi ada urusan ke luar kota takutnya kamu mingguan kabar jadi mas Aldi nyuruh aku. Kamu dulu pernah terlibat masalah atau apa gitu Nai? siapa yang pernah terlibat masalah sama kamu dulu-dulu.” Tanya Asil dan Naina menggeleng kepala.
” Enggak ada yang aku curigai sih mbak, kalau masalah antara aku sama penjual lain gak mungkin juga sih sampai meneror begini” tutur Naina dan Asil mengangguk.
” Oh gitu, mungkin kamu pernah nolak pria kamu pernah pacaran terus kamu mutusin laki-laki itu terus dia sakit hati”
Naina terkekeh mendengarnya.
” Maaf mbak gak ada yang mau sama saya, gak mungkin ada yang suka juga sama orang kayak saya. Saya juga gak pernah pacaran” Naina tersenyum.
” Kata siapa? ibu sempurna. Ibu cantik, pinter jangan merendah seperti itu aku gak suka ya Bu" sahut Rizal cepat, Naina dan Asil bingung melihat tingkah lakunya.
” Pergi gak, pergi" usir Asil dan mengangkat bantal sofa. Rizal kabur membawa minumannya dan Asil membuang nafas kasar frustasi.
*****
Syam sedang berada di kantor di perusahaannya dia melamun dan tidak mengira jika Naina tidak peduli padanya dan tidak peduli walaupun dia bermesraan dengan Amira. Syam meraih ponselnya dan berinisiatif untuk menelepon Naina. Raut wajah pria itu terlihat kesal saat Naina tidak mengangkat telepon darinya.
” Dia sesibuk apa sebenernya, sampai gak ada waktu buat jawab telepon dari suami" setengah berteriak, dan terus memaki istrinya. Syam yang penasaran terus menelepon Naina, dan Naina akhirnya mengangkat telepon darinya.
” Astaghfirullah mas, hp emang aku silent. Sabar dong mas jangan begini" Naina merasa tidak enak hati dengan Asil yang berada di sebelahnya.
” Kamu dimana sekarang, gak usah banyak alasan”
” Aku masih di rumah mbak Asil" suara Naina begitu serak.
” Tunggu disana aku jemput sekarang" tegas Syam dan mematikan panggilan sepihak, dan tanpa mengucapkan salam. Hal yang paling tidak disukai Naina.
*****
Di sebuah restoran China, Hamdan dan Amira janjian untuk bertemu. Amira sangat susah keluar dari rumah karena semua orang memperhatikannya, Syam juga tidak mengizinkannya keluar tapi dia tidak bisa menolak Hamdan yang bisa saja membocorkan rahasia nya kepada Syam, bagaimana jadinya jika Syam tahu Naina berpelukan dengan Romi karena rencananya.
” Apa yang sebenarnya kamu lihat dari Syam?" Hamdan bertanya, meminum kopi dinginnya sambil memperhatikan Amira terus-menerus.
” Itu urusanku” ketus. Amira hanya ingin bekerjasama dengan Hamdan, tidak lebih dari itu dan tidak mau Hamdan tahu semua rahasianya.
” Apa benar itu anaknya Syam?” Hamdan bertanya seraya menunjuk perut Amira, Amira menarik jaketnya agar menutupi perut besarnya dengan sempurna.
__ADS_1
” Iya, itu sebabnya Syam sangat khawatir dia sampai meminta semua orang di rumah untuk memperhatikan ku" Amira tersenyum simpul, merasa bahagia. Amira berhenti mengunyah makanannya saat Hamdan meraih tangannya paksa lalu mengenggamnya kuat. Amira menatap Hamdan lekat dan Hamdan tersenyum tipis.
” Datang ke apartemen ku malam ini”
” Aku sedang hamil, jangan gila” Amira menepis tangan Hamdan kasar.
” Aku tidak akan melakukan apapun, kenapa otakmu langsung konek? pintar" puji Hamdan dan Amira bergidik ngeri, lebih tampan dan gagah suaminya ketimbang pria tua di hadapannya.
” Gila” maki Amira.
” Aku hanya butuh teman minum teh” Hamdan tak pantang menyerah.
” Aku tidak bisa” tegas Amira.
Hamdan kesal mendengar penolakan Amira, memang benar kedua istri Syam sama-sama bodoh. Begitulah makian dalam gumaman hati Hamdan, memaki kedua istri dari pria yang sama. Yang satunya setia, yang satunya lagi tukang adu domba.
****
Di rumah Asil, Rizal mengintip dari balik kaca jendela kamarnya di lantai dua. Dia lihat kakak iparnya mengantarkan Naina dan Syam, Naina terlihat ketakutan dan Rizal khawatir.
” Bang Syam? apa dia kasar sama Bu Naina, Bu Naina sangat sedih akhir-akhir ini. Aku harap bang Syam menjaga Bu Naina dengan baik, mencintainya. Karena kalau tidak, aku akan merebutnya” ungkapan perasaan Rizal kepada Naina yang sudah tidak bisa dibendung lagi, andaikan harus menyeberang lautan dia rela hanya untuk melihat Naina. Memang, pesona istri orang sangat menggoda.
” Syam jaga Naina, jangan galak-galak” Asil berbisik dan Syam mengangguk. Syam mendongakkan kepalanya dan Rizal yang sadar langsung mundur menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidurnya.
” Mbak Asil aku pulang, terima kasih kue nya” Naina tersenyum dan Asil mengangguk.
” Hati-hati, jangan lupa nanti kapan-kapan mampir lagi ya Nai”
” Naina sedang hamil besar jangan memintanya terus datang" ketus Syam dan Asil menghantam otot lengannya dengan kepalan tangannya, Syam meringis dan mengusap lengannya.
” Kalau begitu aku yang akan datang untuk melihat Naina" Asil tersenyum.
” Mbak bisa datang kapanpun” Naina tersenyum dan Syam sudah membuka pintu mobil." Aku sama mas Syam pulang mbak, assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumussalaam”
Naina masuk ke dalam mobil dan Asil memperhatikannya.
****
__ADS_1
”Sifat pemarah adalah musuh utama akal”