Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Kehamilan


__ADS_3

Zidan, Dita, Mia dan bodyguard mengejar Amira dan anak buahnya. Polisi sedang meluncur untuk memburu para pelaku. Dita dan Mia melepaskan cadar mereka karena merasa kesulitan. Amira dan anak buahnya berhenti saat berada di jembatan, dari seberang ada polisi di belakang mereka anak buah Uwais semua. Zidan menggerakkan tangannya, sehingga semuanya menyembunyikan senjata mereka. Anak buah Uwais mundur setelah warga datang bergerombol untuk menangkap Amira dan komplotannya.


” Turunkan senjata kalian!” teriak salah seorang polisi. Amira diam dan saling melirik dengan anak buahnya.


” Kita sudah selesai nyonya” imbuh anak buah Amira.


” Tidak, Uwais yang membuat semuanya kacau. Dia akan aku balas, belum selesai” sahut Amira.


” Angkat tangan” teriak polisi lagi dan anak buah Amira menyerah. Amira yang tidak mau di penjara akhirnya berlari dan melompat dari jembatan sampai membuat semua orang kaget.


” Sial” gumam Zidan dan dia meleos pergi dan berpencar dengan anak buah Uwais yang lain.


” Kamu pikir dia mati?” tanya Mia kepada Dita.


” Bisa iya ataupun tidak, dari jembatan ke bawah sana sangat tinggi. Pihak kepolisian tidak akan diam”


” Bos akan marah, dia mau wanita itu dibawa ke hadapannya tapi sekarang”


” Itu urusan Zidan” imbuh Dita dan Mia mengangguk.


*****


Malam hari tiba, Naina sedang duduk di pangkuan suaminya. Dia memeluk tengkuk suaminya dan suaminya memeluk pinggangnya.


” Sudah aku bilang jangan melamun” tegur Uwais dan Naina menoleh, jarak wajah keduanya begitu dekat.


” Aku takut” Naina melepaskan pelukannya dan memegang perutnya.


” Sudah aku bilang jangan banyak pikiran”


” Iya mas” Naina tersenyum lalu memeluk suaminya lagi, Uwais membiarkan Naina bersandar di bahunya. Naina tersenyum dan menutup matanya, merasakan betapa nyamannya dia bersandar di bahu suaminya tercinta. Setelah pulang dari pernikahan Syam dan Fatma. Naina bahkan lupa untuk mengintrogasi adiknya Kabir. Kabir belum tahu apa yang terjadi, jangankan berbicara dengan Fatma. Nomor Fatma mati, dan dia dilarang keluar dari rumah oleh Naina.


****


Di rumah sakit.


Keesokan harinya, Fatma sudah siuman. Dia sempat kritis semalam. Syam yang sudah berstatus sebagai suaminya ada di sana, menunggu Fatma sadar.


” Kabir” lirih Fatma, kedua matanya meneteskan air mata. Syam yang mendengar suara Fatma sekilas membuka matanya perlahan. Syam bangkit dari sofa dan mendekati Fatma.


” Fatma, jangan bergerak dulu” Syam menahan Fatma yang hendak bangun entah mau kemana, Fatma diam saat melihat Syam. Dia baru ingat jika dia sudah menjadi istri pria kasar itu.


” Kenapa begini? aku tidak mau menjadi istrinya. Aku tidak mau” gumam Fatma, hanya sebatas dalam diam dia protes. Dia tidak bisa melawan keinginan keluarga dan Syam yang juga tidak ada niatan untuk menolak perjodohan mereka. Dalam hati dan pikirannya hanya ada Kabir.


” Diam, aku panggil dokter” imbuh Syam dan dia pergi. Bersamaan dengan kedatangan keluarga Fatma.


” Syam ada apa?” tanya Bu Anggi.


” Fatma sudah sadar Bu” jawab Syam, Bu Anggi buru-buru masuk dan Syam pergi untuk memanggil dokter. Fatma diam saat melihat kedatangan ibu, ayah dan kakaknya.


” Fatma, anakku.” Bu Anggi menangis, dia merasa bahagia melihat putrinya sudah sadar. Fatma tersenyum dan rambutnya terus di usap oleh ayahnya.


Di koridor, Syam menerima telepon dari mama Novi.


” Fatma sudah siuman, mama tidak usah khawatir”


” Alhamdulillah, jaga dia. Dia istri kamu”


” Mama gak usah bawel, aku juga tahu" ketus.


” Awas kamu kalau menyakiti Fatma”


” Hemm” mengiyakan dengan malasnya.


****


Di rumah Naina dan Uwais, Naina sedang memakaikan dasi untuk suaminya. Uwais tersenyum dan memeluk pinggang istrinya itu. Naina tidak diijinkan untuk keluar dari rumah, dia juga masih takut.


” Mas aku mau jalan-jalan”


” Istriku mau kemana?”


” Makan di luar?” Naina tersenyum dan Uwais menggeleng kepala dan membuat Naina berhenti tersenyum, Uwais menarik dagu istrinya dengan jarinya dan Naina mendongak menatapnya.


” Cari tempat yang bagus, kita makan malam di luar nanti” imbuhnya.


” Bener?” Naina antusias dan masih tidak percaya.

__ADS_1


” Iya sayang”


Naina tersenyum lagi lalu memeluk Uwais erat. Uwais menciumi rambut istrinya lembut. Naina melepaskan pelukannya dia memakai kerudung instan dan siap untuk mengantarkan suaminya bekerja sampai di depan pintu rumah. Setelah keluar dari rumah Uwais melepaskan genggaman tangannya.


” Aku pergi” imbuhnya, Naina mengangguk dan menyalami tangan suaminya itu. Uwais melangkah mundur, kedua tangannya masuk ke saku celana dan dia terus tersenyum memperhatikan Naina yang melambaikan tangan padanya.


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam, hati-hati” jawab Naina. Uwais mengangguk dan terus tersenyum.” Jangan melangkah mundur, kamu jatuh nanti”


Uwais berhenti melangkah dan diam.


” Apa?" tanya Naina tanpa suara.


Uwais memperhatikan semua bodyguard.


” Berbalik!” titah Uwais, pelayan yang hendak keluar pun ikut berbalik saat mendengarnya, Zidan hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah laku majikannya. Sementara Naina terlihat kebingungan sambil mengedarkan pandangan, dia menoleh dan melihat Uwais melangkah cepat. Setelah dekat pada istrinya Uwais menekan kedua telinga istrinya lalu mencium bibir Naina lembut. Kedua mata Naina membulat, bibir Uwais hanya menempel lalu memberikan kecupan sekilas. Uwais melepaskan tangannya dan tersenyum.


” Aku pergi" imbuhnya seraya mengelus pucuk kepala istrinya lembut, Naina mengangguk dan menatap kepergian suaminya itu. Naina menggeleng kepala dan menggigit bibirnya yang terasa basah. Suaminya benar-benar keterlaluan, pikirnya. Uwais melambaikan tangannya dan Naina membalasnya walaupun dia terlihat malu kepada semua orang di sana.


*****


Rumah Ali dan Rosa.


Ali dan Rosa masuk ke dalam rumah mereka, rumah yang sudah di renovasi. Ali tidak mungkin menyatukan Ai dan Rosa. Rumah tersebut memang dari awal akan dia hadiahkan kepada istrinya. Tempat tinggal istri dan anak-anaknya nanti.


” Mas aku mau ke lantai dua” pinta Rosa antusias dan menaiki tangga cepat, Ali menyusul dan merangkul pinggang nya.


” Pelan-pelan, kalau jatuh gimana?” Ali tersenyum dan Rosa juga tersenyum. Ali bahagia melihat Rosa bahagia.


Rosa masuk ke sebuah kamar paling besar yang ada di lantai dua tersebut.


” Mas aku mau kamar ini” katanya dan memperhatikan kamar tersebut.


” Iya, terserah istriku mau tidur dimana” kata Ali lalu duduk di sebelah istrinya.


” Mas apa kamu punya uang?”


” Memangnya kamu mau beli apa? insyaallah ada”


” Aku mau beli beberapa barang untuk rumah kita ini mas, aku mau tempat tidur baru”


” Mesum" cibir Rosa lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar sambil tersenyum, Ali juga tersenyum dan menyusul istrinya itu.


******


Makan malam lesehan.


Naina dan Uwais duduk berseberangan, meja panjang menjadi pembatas keduanya. Keduanya menunggu pesanan mereka datang, sate dan sup daging. Naina ingin makan semua itu malam ini. Uwais memperhatikan istrinya yang sibuk bermain ponsel, dia merasa dicuekin istrinya sendiri.


” Sayang, bisa gak ponselnya di buang aja?” tanya Uwais, Naina menatap suaminya dengan kedua mata membulat.


” Jangan mas, semua pekerjaan aku ada disini” Naina mengenggam ponselnya erat, takut Uwais benar-benar membuang ponselnya.


” Kita kan lagi makan malam, simpan dulu dong ponselnya. Kamu dari tadi sibuk main hp, pulang aja ayo. Males" Uwais marah, dia hendak bangkit dan Naina menarik tangannya.


” Mas” Naina merengek seraya menggoyangkan lengan suaminya.” Maaf, aku minta maaf cuekin kamu tadi. Aku dapat email penting mas”


” Pekerjaan kamu lebih penting, ketimbang aku? yang benar saja” Uwais menggeleng kepala lalu mendengus sebal.


” Enggak mas, kamu yang penting buat aku. Ada beberapa chat dan email, ada tiga sekolah yang mau aku jadi guru di sekolah mereka mas. Jangan marah, senyum, jangan cemberut kayak gitu mas” Naina mengenggam tangan suaminya erat, berusaha membujuk agar suaminya tidak marah lagi padanya.


” Kalau ada tawaran untuk kamu jadi guru, gak usah diambil. Toko aja sudah membuat aku jadi prioritas kedua apalagi kamu jadi guru, belum lagi banyak murid yang godain kamu. Enggak, aku gak mau kamu jadi guru lagi” tutur Uwais sambil menatap ke arah lain, dia sedang kesal saat ini.


” Lihat aku mas, iya enggak mas. Aku gak ngambil tawaran itu. Aku juga lagi hamil, sibuk di toko terus sibuk sama kamu. Aku juga takut gak ada waktu buat suami aku mas” Naina tersenyum, Uwais menoleh menatap istrinya yang tersenyum seperti itu.” Jangan marah lagi" pinta Naina. Uwais mengangkat kedua bahunya, dia tidak mau.


” Ya sudah” imbuh Naina lalu melepaskan genggaman tangan suaminya, Uwais panik dan dia meraih tangan Naina lalu dia yang sekarang mengenggam tangan istrinya itu. Naina tersenyum lebar dan merasa senang dengan reaksi suaminya seperti itu.


” Iya aku gak marah sayang, jangan diulangi lagi”


Naina mengangguk mengiyakan. Pesanan keduanya akhirnya datang, Naina menyiapkan piring untuk suaminya dan Uwais terus tersenyum merasa bahagia. Keduanya saling menyuapi dan Uwais berulangkali mengusap bibir istrinya, bukan kotor tapi dia ingin menciuminya namun banyak orang. Naina belum menghadiahkan sebuah kecupan sedari dia pulang bekerja.


” Nai” lirih Syam.


” Iya mas nanti” jawab Naina pelan dan Uwais tersenyum, istrinya pintar juga langsung paham apa maksudnya.


” Aku suapi” kata Uwais dan Naina menerima suapan darinya.” Makan yang banyak”

__ADS_1


” Terima kasih mas, kamu nurutin semua kemauan aku dari awal kamu tahu aku hamil”


” Kalau aku mampu, kamu tidak hamil pun aku cukupkan dan turuti semua keinginan kamu sayang. Aku suami kamu”


Naina mengangguk dan keduanya tersenyum bersama. Setelah menikmati makan malam, keduanya pulang. Di perjalanan Naina diam dan sesekali berbicara dengan suaminya. Sesampainya di rumah, tujuan keduanya adalah kamar.


” Sayang, aku mau mandi dulu” ucap Uwais dan melepas pakaiannya, lalu meraih handuknya.


” Aku juga mau mandi” kata Naina.


” Ini sudah malam”


” Tapi gerah mas, kamu juga mau mandi kan?”


Uwais tersenyum lebar lalu melihat Naina melepas kerudungnya. Naina terkejut saat Uwais menggendongnya.


” Mas” imbuhnya.


” Apa? mau mandi kan? ayo kita berendam dulu” ajak Uwais dan membawa Naina masuk ke kamar mandi.


” Lepas bajumu sayang” titah Uwais, Naina menurut dan Uwais mempersiapkan air hangat untuk berendam. Setelah siap dia masuk di susul Naina yang menindih tubuhnya, Uwais memperhatikan punggung telanjang Naina di hadapannya. Naina juga merasakan sesuatu yang menegang di dekat pahanya.


” Kapan aku bisa merasakan tendangan anak kita sayang?” menanyakan hal yang sering dia tanyakan selama ini.


” Sebentar lagi mas” jawab Naina.


Uwais tersenyum lalu mendekatkan hidungnya ke leher Naina. Naina menutup matanya dan Uwais menggerakkan hidungnya di lehernya, di susul dengan ciuman kecil dan berakhir dengan kecupan keras di sana dan membuat Naina mendesah kasar.


” Aku mencintaimu Naina”


” Aku juga mas”


” Jangan pernah tinggalin aku sayang"


” Tidak akan mas”


Keduanya tersenyum lebar, dan Uwais berhenti. Dia tidak akan meminta takut istrinya lelah hari ini.


” Mas” panggil Naina lalu menoleh. Naina mencium bibir suaminya sekilas, menggoda. Tangannya membelai dada kekar telanjang itu.


” Jangan menggodaku” pinta Uwais dan menahan tangan istrinya.


” Memang aku sengaja mas” Naina tersenyum.


” Jadi kamu mau melakukannya sekarang? emangnya gak capek?”


Naina menggeleng kepala. Uwais menelan ludahnya kasar dan memperhatikan setengah dada istrinya yang terendam air.


” Aku mau ini” tunjuk Uwais dan Naina menundukkan kepalanya.


” Ini jatah anak kita nanti” goda Naina.


” Aku dulu, baru anak kita. Aku akan mencuri jatah anakku sekalipun dia sudah lahir nanti”


” Dasar” Naina tersenyum. Uwais juga tersenyum lalu menempelkan wajahnya di wajah istrinya, bibirnya mulai bermain dengan bibir istrinya.


****


Fatma sudah pulang.


Kondisi Fatma yang sudah membaik membuat dia bisa pulang, bukan ke rumahnya tapi ke rumah suaminya yang akan menjadi penjara baginya mulai sekarang. Dia dan Kabir sudah tidak pernah berkomunikasi, Kabir juga terus menghindari Naina dan dia tidur di apartemen milik Uwais. Apartemen milik Uwais yang dekat dengan tempat kerjanya. Kabir sudah mulai bekerja dan memikirkan rencana untuk kuliah.


” Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa bilang sama mama” ucap mama Novi kepada Fatma, mama Novi tidak bisa bersikap kasar walaupun dia tahu kelakuan Fatma.


” Ehmm iya ma” Fatma canggung menjawab.


” Rumah kamu sangat sederhana Syam” kata ayah mertua kepada Syam.


” Naina tidak suka rumah terlalu besar” jawab Syam refleks.


Deg,,,, dia kaget sendiri.


Mama Novi menoleh sinis termasuk keluarga lainnya, ayah Rahman mengepalkan tangannya karena Syam malah menyebut Naina mantan istrinya dan bukan Fatma.


” Maksudku, aku suka rumah yang seperti ini” kata Syam lagi. Dan ucapannya sama sekali tidak berguna. Fatma menatap wajah kedua orang tuanya sendu, orang tuanya terlihat sedih dan khawatir melihat sikap suaminya Syam. Fatma harus bicara dengan Syam agar menjaga sikap di saat berhadapan dengan keluarganya.


” Makanan sudah siap” kata bibi.

__ADS_1


” Ayo kita makan dulu" ajak ayah Rahman, beruntung ada bibi datang memecah suasana tegang tersebut.


__ADS_2