Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Bersatu kembali


__ADS_3

Uwais masuk dan melihat Naina langsung memalingkan wajahnya. Uwais duduk di hadapan Naina lalu meraih kedua tangan Naina tapi Naina menepisnya, Uwais hanya tersenyum tipis.


” Beri aku kesempatan” pinta Uwais.


” Dasar mesum” ketus Naina.


” Gara-gara semalam? dengerin aku Naina” Uwais meraih tangan Naina, mengenggamnya paksa sampai Naina tidak bisa melepaskan genggaman tangan kuatnya dan akhirnya tangan Naina melemah melihat tatapan sendu Uwais.” Aku sama sekali enggak ngapa-ngapain, kita cuma tidur bersama tapi aku gak ngapa-ngapain kamu sayang”


” Sayang?” kedua mata Naina membulat.


” Maaf, maaf. Maksud aku, Naina” Uwais menahan tawanya.” Kamu demam, terus mengigau mungkin karena kehujanan. Aku gak bisa ninggalin istri aku sendirian, kamu pikir aku tega. Terus kamu pikir aku memanfaatkan kesempatan? menunggu kamu bangun dari koma satu tahun itu bukan waktu yang sebentar Nai, terus kamu pikir aku berani menyentuh kamu untuk menyalurkan nafsu semata? kamu emang lupa aku siapa, aku bagaimana tapi aku mohon percaya sama aku, aku ini suami kamu.”


” Aku butuh bukti” kata Naina, Uwais melepaskan genggaman tangannya lalu mengeluarkan semua isi tas yang dia bawa. Naina meraih buku nikah, fotonya dan Naina serta semuanya yang mencantumkan bahwa Naina adalah istrinya. Naina memeriksa semuanya dan Uwais diam memperhatikan.


” Siapa ayah dan ibuku?"


” Pak Fahmi dan Bu Ratna, kakak kamu Husna, adik kamu Kabir. Kita menikah dua tahun yang lalu, satu tahun yang lalu kamu kecelakaan. Peluru bersarang di kepala kamu dan kamu koma, dua bulan yang lalu kamu bangun dari koma tapi gak ingat apapun.” Tutur Uwais dan Naina terdiam.


” Lihat ini, ini kita di Turki saat honeymoon, ini waktu kita jalan-jalan, ini kita setiap pagi di taman rumah. Aku juga ada videonya” seru Uwais antusias dan berharap Naina ingat walaupun hanya sedikit, Uwais memperlihatkan video dirinya dan Naina. Naina meraih ponsel Uwais dan memperhatikan video tersebut, Uwais memang gemar mengambil foto dan video untuk koleksi pribadi nya apalagi Naura, pertumbuhan Naura dia abadikan melalui foto dan video. Video berhenti dan Naina meletakkan ponsel Uwais.


” Aku tetap gak ingat apa-apa”


” Tapi semua bukti ini jelas Naina, kamu istri aku”


” Aku bingung” lirih Naina.


Uwais memalingkan wajahnya kesal, entah dia harus bagaimana lagi. Naina sama sekali tidak ingat apa-apa walaupun setelah melihat semuanya. Tiba-tiba Naina memijat dahinya, dia merasa kepalanya pusing lagi. Naina bangkit dari duduknya dan Uwais juga bangkit.


” Silahkan pergi, aku mau istirahat” kata Naina.


” Apa?” Uwais terkejut.” Semua yang kamu lihat ini masih bikin kamu ragu Nai?” suara Uwais meninggi.


” Pergi” usir Naina mendorong bahu Uwais dan dia membuka pintu, Uwais meremas rambutnya frustasi dan dia keluar. Naina berdiri mematung karena Uwais tak kunjung menuruni tangga.


Uwais merogoh sakunya dan berbalik lalu mendekati Naina lagi.


” Kamu belum melihat ini, ini hasil USG”


” USG?" Naina semakin bingung.


” Anak kita, seperti aku seorang suami yang merindukan kepulangan istrinya di sisi lain juga ada seorang anak perempuan yang merindukan ibunya. Anak kita, dia memanggil kamu mamah. Memanggil kamu setiap hari dan menunggu kamu pulang” tutur Uwais lirih, air mata Naina menetes mendengarnya.


” Enggak masalah kalau kamu gak percaya aku suami kamu, tapi anak kita apa kamu masih meragukannya? anak kita berumur 19 bulan dua hari yang lalu. Sejak lahir dia gak pernah mendapatkan kasih sayang dari kamu ibunya Naina, anak kita lahir prematur. Anak kita tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar dan sangat manja seperti kamu ibunya” tutur Uwais, suaranya kini serak terbayang Naura yang selalu menanyakan ibunya. Kedua mata Uwais berkaca-kaca dan Naina melihatnya jelas.


” Kamu pernah bertemu dengan anak kita, tapi tetap saja kamu gak ingat apapun. Dan sekarang kamu ngusir aku, kamu gak mau ikut sama aku padahal semalam hampir saja terjadi hal buruk sama kamu Naina. Sebagai seorang suami kamu pikir aku bisa tenang?”


Air mata Uwais menetes membasahi pipinya.


” Papah, mamah kemana? dimana? kapan pulang itu yang selalu anak kita tanyakan. Kamu pernah bertemu dengan anak kita Naina”


” Aku gak pernah...”


” Pernah Naina, kamu ketemu sama anak kita Naura. Di rumah sakit” tegas Uwais, Naina tersentak kaget. Naura yang di rumah sakit adalah anaknya.” Naura berlari saat lihat kamu, ibunya. Naura ngejar kamu Nai, dia tahu dia kenal sama ibunya walaupun ibunya gak kenal sama dia. Kamu gak tahu betapa manisnya senyuman Naura saat ketemu sama kamu, senyuman yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Aku bisa menjadi ayah sekaligus sebagai ibu untuk Naura, tapi seorang anak sejatinya memang butuh sosok ibu yang nyata.”

__ADS_1


Uwais menangis begitu juga dengan Naina, Naina menangis sesenggukan. Uwais mengusap air matanya dan memperhatikan istrinya itu.


” Kita ketemu di taman gak jauh dari sini, aku bawa Naura nanti. Itu juga kalau kamu mau ketemu sama anak kamu dan pulang sama aku dan anak kita” ucap Uwais dan Naina mendongak menatapnya. Uwais juga menatapnya lekat, keduanya saling menatap lekat. Uwais tiba-tiba melangkah dan menekan tengkuk istrinya, Uwais menelan ludahnya kasar saat melihat bibir merah Naina sedikit terbuka tanpa berpikir panjang dia melangkah cepat dan merangkul lalu menekan tengkuk istrinya. Naina terkejut saat Uwais menciumnya, Naina sempat berontak tapi Uwais mengenggam tangannya lembut lalu menggiring Naina masih ke kamar kembali. Uwais menendang pintu dan melepaskan ciumannya sekilas. Naina terlihat mengernyitkan keningnya saat bayangan kenangan masa lalunya bersama Uwais berputar seperti comedy putar tapi tidak berwarna dan buram. Uwais tersenyum saat tangan Naina meremas bahunya. Naina ingin berontak tapi dia tidak bisa. Uwais memainkan dan menciuminya begitu lembut, suara kecupan memenuhi ruangan sempit itu. Uwais berhenti saat dia mulai tidak bisa menguasai hawa nafsunya, maka berhenti menjadi pilihannya sekarang. Uwais mengusap bibir Naina yang basah karena ulahnya, Naina diam dan tertunduk dalam. Setelah menyadari apa yang dia lakukan, Uwais merasa bersalah.


” Aku,,,,” lirih Uwais.


” Keluar” usir Naina.


” Naina”


” Aku bilang keluar” suara Naina meninggi. Uwais akhirnya keluar dan dia berhenti lagi.


” Aku sama Naura akan datang ke taman nanti sore, kalau kamu gak datang berarti kamu gak menghargai aku sekaligus gak menganggap kehadiran anak kamu sendiri” imbuh Uwais dan Naina mendengarnya, Uwais melangkah pergi menuruni tangga. Dia usap usap bibirnya yang sudah lama tidak berciuman itu. Naina di kamarnya diam, tidak menangis ataupun bergerak. Dia memikirkan kepergian Uwais dan Naura anaknya.


*****


Rosa datang.


Ali hari ini akan pulang, mendengar anaknya sakit dia akan langsung ke ruko dan Rosa yang juga sudah menunggunya datang ke ruko. Ai yang sedang menyuapi Alika menyuapi Aisyah juga karena Aisyah terlihat memperhatikan Alika yang sedang makan.


” Enggak usah” kata Rosa yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat anaknya makan satu sendok dengan anak yang lain. Padahal itu Alika bukan orang lain.


” Tapi Aisyah mau makan mbak” ucap Ai.


” Aku minta sayurnya aja Ai, gak usah di suapi begini. Alika juga kan sempat sakit kalau Aisyah sakit gimana?"


” Alika udah sembuh mbak” kata Ai terlihat kesal dan tidak suka dengan ucapan Rosa.


" Abi pulang” katanya kepada Alika dan Alika tersenyum seraya menggerakkan tangannya. Ali keluar dari mobilnya dan melangkah mendekati Ai dan Alika, dia geser tas selempang ke belakang lalu menggendong Alika. Ai menyalami tangannya lembut.


” Mas cepet banget sampenya”


” Alhamdulillah gak macet" Ali tersenyum, Ali menggendong Alika dengan lengan kanan dan tangan kirinya merangkul bahu Ai.


Ali dan Ai melangkah bersama, Ali yang tidak tahu Rosa juga ada terdiam melihatnya. Rosa terlihat tidak suka melihat kebersamaan Ali dengan istri keduanya dan Alika.


” Aisyah” Ali menyapa Aisyah lalu menggendongnya dengan lengan kiri dan mengajak keduanya duduk, dia letakkan kedua anaknya di kedua pahanya, sementara kedua istrinya terlihat saling menatap sinis.


****


Pertemuan spesial.


Naina berdandan secantik mungkin karena akan bertemu dengan Uwais dan putrinya. Naina terdiam sejenak, untuk apa juga dia berdandan seperti itu. Naina jadi merasa malu sendiri. Naina ingin menghapus apa yang sudah menempel di wajahnya tapi dia urungkan, mubajir. Setelah siap Naina turun ke bawah, Mia dan Dita yang tahu bos mereka akan bertemu saling menyenggol.


” Mia, Dita saya pergi dulu”


” Siap mbak, hati-hati”


” Iya, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Naina keluar dari rukonya dan taksi yang dia pesan juga sudah datang. Naina masuk ke dalam taksi.

__ADS_1


” Kemana mbak?”


” Jalan aja dulu pak, gak jauh kok” kata Naina dan dia menyenderkan punggungnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, ponsel Naina berdering dan panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Naina mengangkat telepon tersebut tanpa ragu.


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam, aku sudah di jalan” ucap Uwais.


” Aku juga”


” Sampai ketemu di taman”


” Hemm”


Panggilan berakhir. Naina menggigit bibir bawahnya kelu, dia menggeleng kepala mengingat kejadian tadi pagi saat berciuman dengan suaminya sendiri, tapi terasa begitu aneh karena dia belum mengingat segalanya. Dia tidak menganggap Uwais asing, tapi dia hanya merasa canggung. Di taman, Naina keluar dari taksi dan membayar tumpangannya. Dia rapihkan kerudung pashmina nya itu sekilas lalu melangkah masuk ke taman dan belum melihat tanda-tanda Uwais ada di sana. Naina akhirnya duduk di sebuah kursi panjang, Naina terlihat tegang dan menundukkan kepalanya. Tidak lama mobil Uwais sampai, Naura begitu terlihat manis saat ini. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya.


” Papah ganteng gak?”


Naura mengangguk dan Uwais tersenyum, Uwais merapihkan rambutnya dan berdehem berulangkali karena gugup. Setelah itu dia keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Naura, setelah mengunci pintu mobil Uwais menggendong Naura tapi Naura ingin berjalan dan Uwais menggandeng tangannya. Uwais dan Naura terus melangkah dan Uwais mengedarkan pandangannya mencari dimana Naina.


” Mamah” imbuh Naura, genggaman tangan Uwais terlepas dan Naura berlari.


” Mamah” teriak Naura begitu antusias dengan senyuman lebarnya, Naina menoleh dan dia bangkit dari duduknya. Uwais menambatkan langkahnya saat Naura benar-benar melihat Naina dan tidak salah orang. Naina memperhatikan putrinya dengan seksama, air matanya berlinang. Naina melangkah mendekati Naura. Dia berlutut dan Naura menghambur memeluknya. Naura terus tersenyum dan memeluk Naina erat apalagi Naina, Naina menciumi putrinya itu lembut dan Naura tertawa kecil.


” Mamah”


” Iya, ini mamah sayang” kata Naina, Naina merapihkan rambut putrinya itu lembut lalu mencium kening Naura lagi. Tidak ada keraguan saat dia melihat Naura, Uwais melangkah mendekati keduanya. Naina bangkit lalu menggendong Naura.


” Kita duduk” ajak Uwais, tangannya merangkul pinggang Naina dan Naina menjauh, melihat Naina menolak Uwais hanya tersenyum. Jika sudah waktunya, istrinya itu Jangankan menolak, jauh-jauh dengannya saja pasti menangis. Ketiganya duduk bersama, Naina memangku Naura sambil terus memandang putrinya itu. Tiba-tiba Uwais mendekatkan wajahnya ke wajah Naura sehingga Naina juga melihatnya, Naina mendorong bahu Uwais kesal dan membuat Uwais terkekeh.


” Ajak mamah nya pulang” Uwais berbisik kepada Naura. Dan Naina yang mendengar menatap Uwais lekat, jika dilihat-lihat kenapa dia baru sadar Uwais sangat tampan. Dia malah semakin tidak percaya Uwais suaminya.


” Mamah pulang” kata Naura dan Naina diam.


” Masih ragu? atau apalagi yang ingin kamu tanyakan?” ucap Uwais dan Naina menggeleng kepala.


” Aku yakin Naura anakku, dia mirip aku”


” Berarti kamu juga yakin aku suami kamu”


Naina terdiam dan bertatapan sejenak dengan Uwais.


” Enggak tahu" kata Naina lalu bangkit, menggendong Naura dan membawanya pergi untuk bermain. Uwais tersenyum kecut mendengarnya. Naina dan Naura berlarian bersama, Naura menunjuk penjual es krim dan Uwais pergi untuk membeli es krim dengan rasa yang sama. Setelah selesai, Uwais mendekati keduanya.


” Ini punya Nau, punya mamah dan ini punya papah” tutur Uwais dan Naura tersenyum. Naura tidak mau berhenti duduk di pangkuan ibunya.


” Coba” kata Naura menyodorkan es krim kepada Uwais, Uwais dan Naura selalu mencoba makanan satu sama lain. Uwais mencoba es krim Naura padahal rasanya sama, yang penting Naura senang.” Mamah” kata Naura lagi, Naina mengangguk dan Uwais membantu Naura memegang es krim agar Naina menggigit di bekas bibirnya. Naina mendelik sebal karena paham apa yang diinginkan Uwais.


” Tadi sudah mencium ku apa gak cukup?" gumam Naina.


” Aku akan berusaha membuat kamu ingat semua sentuhan suami kamu ini Naina" gumam Uwais.


Keduanya saling menatap lekat dan Uwais mengusap bibir Naina yang kotor karena es krim, Naina diam dan Uwais tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2