
Dua hari berlalu, hubungan Syam dan Naina semakin memburuk.Tinggal di satu atap tapi tidak pernah saling menegur, Naina menyiapkan makan, semuanya seperti biasa.Rasa sakit masih dia rasakan sampai detik ini,Syam selalu pulang awal agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Naina.Saat ini,Syam sedang memperhatikan istrinya yang sedang membungkus paket bersama Ai.Ai merasa canggung karena kehadiran Syam.
”Ai,maaf lakban"pinta Naina,Ai menoleh dan Syam yang mengambil lakban di dalam lemari lalu memberikannya kepada Naina.Naina menerimanya sambil mendelik sebal.Ai melirik jam dinding,sudah waktunya dia pulang.
”Mbak Nai aku pulang dulu ya mbak"kata Ai berpamitan.
”Kamu gak pamitan sama saya Ai?saya juga ada disini”ketus Syam.Naina mencubit paha suaminya agar diam."Auw Nai”Syam meringis dan mengusap-usap pahanya.
”Hehe iya mas,aku pamit mas"Ai tersenyum.Naina menatap kepulangan Ai dan Syam bergeser padanya.
”Aku bantuin"kata Syam lalu merebut lakban dan menggantikan pekerjaan Naina,Naina diam memperhatikan Syam.Naina merebut lakban karena Syam menggunakannya terlalu banyak.”Kenapa?"Syam bingung, dia suka suara lakban yang ditarik-tarik saat membungkus paket.
”Jangan banyak-banyak, sewajarnya aja.Aku rugi, lakban mahal"ketus Naina.Syam diam dan Naina bangkit perlahan-lahan.Syam juga bangkit lalu membawa laptopnya.
Malam hari tiba, setelah makan malam Naina menonton televisi.Naina tidak banyak bicara dan diam walaupun Syam mengajaknya bicara.
”Sabar syam, dari pada di usir dari sini"gumam Syam.
Syam melirik Naina yang bangkit dari duduknya.
”Nai mau kemana?"Syam meraih tangan Naina.
”Aku ngantuk mas mau tidur”kata Naina lalu melangkah tapi Syam tidak melepaskan tangannya."Mas”Naina menatap Syam lekat.Agar Syam melepaskan tangannya.
”Aku minta maaf,aku harus bagaimana lagi Naina?"lirih Syam dan Naina menggeleng kepala.
”Kamu gak perlu repot-repot”Naina melepaskan tangannya lalu melangkah pergi.Syam menyenderkan kepalanya dan menutup matanya rapat-rapat.Di kamar Naina melepaskan hijabnya lalu Naina naik ke kasur dan tidur dengan posisi seperti biasa, posisi miring.
Pukul 2 dini hari,Naina terbangun karena merasakan benda berat menindih tubuhnya.Naina berusaha mendorong tangan besar dan kaki Syam,sangat pelan agar pria itu tidak terbangun dari tidurnya.
”Naina”lirih Syam dan suaranya serak,Syam terbatuk-batuk dan mengeratkan pelukannya.Naina berbalik.Dia lihat wajah Syam yang pucat serta keringat dingin di wajah suaminya.
”Mas"panggil Naina,dia tempelkan punggung tangannya didahi Syam"panas”Naina panik dan bangkit perlahan-lahan,dia dorong tangan dan kaki suaminya agar berbaring dengan benar.
”Nai.."Lirih Syam terus memanggil nama istrinya.
”Aku ambil air hangat,kamu diam disini mas.Aku ambil obat juga"Naina panik dan turun dari ranjang.Naina mengikat rambutnya,dia pergi untuk mengambil air kompresan dan obat.Naina juga membuka lemari dan ada roti,Naina membawa semuanya lalu kembali ke kamar.Syam sudah turun dari ranjang dan mendekati Naina,Naina meletakkan nampan di atas meja lalu menahan suaminya yang mengigau terus-menerus dan berjalan entah mau kemana.
”Mas,ayo duduk mas”ajak Naina dan mendorong tubuh tinggi besar itu sekuat tenaga.
”Kamu jahat sama aku Nai,kamu jahat Nai”ucap Syam terus-menerus.
__ADS_1
”Kamu yang jahat sama aku mas"Naina merasa gemas sendiri dan memukul lengan Syam kesal.Keduanya duduk di tepi ranjang,Naina memaksa Syam agar memakan roti sebelum minum obat.
”Mas,makan rotinya”Naina kesal karena Syam terus menolak sampai dia harus memaksanya.”Kayak anak kecil banget sih kamu”cibir Naina.
Syam akhirnya mau meminum obat,dia senderkan punggungnya di bahu ranjang lalu meminta Naina duduk di pangkuannya.
”Nai"Syam terus memukul-mukul pangkuannya.
”Kamu tambah sakit nanti,diam mas"Naina menahan kedua tangan Syam dan Syam menarik tangannya.Naina diam,dia duduk di pangkuan suaminya.Kepalanya menyender pada bahu Syam.
”Aku gak bisa kompres kamu kalau begini mas"imbuh Naina dan Syam tersenyum tipis,ada gunanya juga dia sakit bisa memeluk istrinya lagi.
”Aku gak mau di kompres Nai, kamu diam Nai jangan cerewet”Syam menekan kepala istrinya agar diam,Syam terus tersenyum lebar dan mengeratkan pelukannya.
Keesokan harinya,mama Novi datang setelah Naina menelepon dan mengadu jika Syam tidak mau makan.Syam menatap istrinya kesal,dia sedang disuapi ibunya saat ini.Naina menggeleng kepala.
"Sudah tua masih di suapi,dasar manja"gumam Naina.
Naina mendelik sebal,Syam takut Naina mengadu atas apa yang dia lakukan kepada Naina.Dia sudah menghina Naina, dan Naina marah sampai sekarang.
”Kamu harus bisa di urus Syam,kamu sudah dewasa jangan bikin capek istri kamu”mama Novi benar-benar kesal dan Naina menahan senyumannya.
”Awas kamu Naina nanti"Syam mengancam dalam hati.
”Halo Nai?"suara Husna terdengar panik.
”Ada apa mbak?"Naina duduk di sofa dan menunggu Husna mengatakan apa yang terjadi.
”Nai aku pinjem uang sama kamu boleh kan?2 juta aja Nai kamu pasti punya.Suami kamu kaya,kamu kerja sama usaha juga kamu punya kan Nai?"Husna begitu entengnya berbicara.
”Maaf mbak...”Naina akan menolak.
”Aku kirimin no rekening aku ya Nai sekarang"Husna tidak mau mendengar penolakan.
”Mbak dengerin aku dulu,aku gak bisa”Naina tidak bisa memberikan modal usahanya, dan uang dari Syam tiap bulan memang tersisa banyak.Tapi Naina tidak mau, Husna tidak pernah mengembalikan barang apalagi yang yang dia pinjam.”Aku gak bisa ngasih pinjaman mbak,aku juga harus minta izin mas Syam"Naina mencari alasan.
”Pelit kamu Nai,ya bilang aja sama suami kamu pasti di kasih.Dasar pelit kamu Nai,awas aja kalau mau pinjam sama aku"ketus Husna.
”Mas Syam lagi sakit, aku gak bisa minta izin sekarang mbak.Semua biaya sekolah Kabir aku yang tanggung, pengobatan bapak dan kehidupan orang tua kita sehari-hari.Kamu harusnya paham mbak,bapak udah gak kuat kerja berat.”Naina kesal dan akhirnya mengatakan semuanya.
”Oh mulai sombong kamu ya, aku gak mau tahu aku mau yang sekarang Nai.Suami kamu kaya, kalau suami kamu gak ngasih pinjam sama mertua kamu"ketus Husna setengah berteriak,Naina terkejut saat Syam sudah berdiri disebelahnya dan merebut ponselnya.Naina berusaha merebut tapi Syam menahannya,Syam membelai wajah Naina lembut agar diam,mama Novi tersenyum melihat keduanya dan Naina buru-buru menepis tangan Syam kasar.
__ADS_1
"Siapa yang berani bentak-bentak istri saya,kurang ajar kamu.Naina istri saya,gak ada yang berhak memaki-maki istri saya"tegas Syam, diseberang sana Husna terkejut.Volume ponsel Naina full walaupun tidak mengaktifkan loud speaker,Syam masih bisa mendengar sekilas apa yang dikatakan Husna.
”Iya, gak ada yang boleh maki-maki aku kecuali kamu kan mas"gumam Naina.
Syam terus mengomeli Husna sampai Husna tidak bisa lagi bicara, Husna akhirnya memutuskan panggilan karena tidak tahan mendengar makian Syam.
”Syam,kamu nelepon sama siapa?gak boleh kayak begitu"tegur mama Novi.
”Orang gila ma"jawab Syam lalu memberikan ponsel Naina.
Syam mendelik sebal kepada Naina,dan Naina membalasnya.Syam kembali ke kamar untuk beristirahat,Naina dan mama Novi duduk bersama.
”Nai,coba kamu bujuk Syam biar mau dibawa ke rumah sakit.Mama khawatir"pinta mama Novi mencemaskan keadaan Syam.
”Iya mama,nanti Nai coba"Naina tersenyum tipis.Dan mama Novi tersenyum lebar.
*****
Rumah baru.
Untuk kedua kalinya Naina datang ke rumah tersebut,saat pertama kali Naina belum melihat banyak barang-barang.Dan sekarang semuanya lengkap,Naina melihat ke dapur,ruang tamu,teras dan setiap sudut dia jelajahi.Rumah berdesain klasik tapi tidak ketinggalan zaman,siapa lagi kalau bukan suaminya yang menginginkan rumah seperti itu,mulai dari desain,lantai,dan semuanya keinginan Syam.Naina meraih makanan ikan dan memasukkannya ke dalam akuarium sedikit,Naina tersenyum melihat ikan-ikan kecil di dalam sana.
”Nai,aku capek"imbuh Syam dan mengajak Naina untuk melakukan sesuatu bersamanya.
”Ya tidur mas kalau capek,mas aku mau ngomong sesuatu"Naina tersenyum.
”Iya ayo tidur"Syam meraih tangan Naina dan tersenyum aneh, Naina mengernyit heran melihatnya.”Kamu mau ngomong apa?"
”Aku mau tidur di kamar sebelah kamar kamu,itu cukup buat aku mas"Naina berusaha melepaskan tangan Syam tapi tidak bisa.
”Kamu ngomong apa Naina?”Syam memeluk pinggang Naina erat.”Kamu berniat pisah ranjang sama aku? sebegitu bencinya kamu sama aku Nai.Aku salah,aku minta maaf.Aku harus gimana lagi Naina?"Syam kesal.
”Bukan mas, kita kan masih serumah.Aku udah maafin kamu,tapi tangan kamu suka gak bisa diam mas kalau aku lagi tidur"Naina menundukkan wajahnya malu-malu, Syam menahan tawanya jadi selama ini Naina tahu jika dia menyentuhnya.Syam hanya memeluk Naina, ketika gadis itu terlihat sudah tidur karena Syam merasa nyaman memeluk Naina.
”Kenapa kamu protes Naina?aku suami kamu.Baru di pegang-pegang doang ribet, apalagi kalau yang lainnya.Jangan sampai aku marah Nai,ayo tidur”ajak Syam dan Naina melihat jelas Syam terus tersenyum saat berbicara.
”Mas aku.."Naina gugup dan Syam terus menarik pinggangnya.
”Jangan bermimpi untuk tidur pisah sama aku Nai,kalau perlu aku kunci kamu di kamar biar gak kabur kalau aku tidur”ancam Syam.
”Ya aku juga gak bakal kayak begitu mas,aku cuma...”
__ADS_1
”Cuma apa?"Syam tersenyum lebar.