Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Pernikahan


__ADS_3

Ai menangis tanpa suara, wajahnya begitu pucat. Tangan terkepal kuat sampai kuku tajamnya menusuk tangannya sendiri. Ali memperhatikannya diam-diam, keduanya duduk bersama di depan kamar jenazah. Akbar meninggal, keluarganya lepas tanggung jawab dan hanya ayahnya yang sedang menuju ke rumah sakit sekarang. Naina dan Uwais sedang membeli makanan dan air minum di luar rumah sakit.


” Ai” tegur Ali karena melihat tangan Ai berdarah. Ai diam dan sama sekali tidak mendengar apa-apa, tatapannya dipenuhi dengan amarah kepada Akbar.


” Mas” suara Rosa terdengar dan Ali menoleh. Rosa memperhatikan Ai yang terus menangis dan dia melirik pintu kamar jenazah.


” Kamu kemari sama siapa?” tanya Ali.


” Aku pake motor mas tadi, kamu terluka?" Rosa khawatir melihat pakaian suaminya bersimbah darah.


” Ini bukan darah aku, aku gak apa-apa” kata Ali dan Rosa merasa lega. Rosa memeluk suaminya erat dan Ali juga memeluknya.


” Aku khawatir mas”


” Aku gak apa-apa, jangan khawatir”


” Kamu ganti baju aja dulu” kata Rosa." Aku bawain baju ayo mas" ajak Rosa dan Ali mengangguk, Rosa dan Ali pergi dan Ali sempat menoleh melihat Ai di sana sendirian.


” Tega kamu begini sama aku mas, aku harus gimana sekarang? tega kamu pergi seenaknya tanpa memikirkan aku dan anak kamu” lirih Ai berbisik, dia elus perutnya lembut dan terus menangis. Naina dan Uwais datang, lalu Naina duduk mendekati Ai.


” Aku ada untuk kamu Ai, jangan nangis terus” lirih Naina dan Ai memeluknya sambil terus menangis.


” Aku kira dia benar-benar mau tanggung jawab, tapi dia malah membuat aku tambah susah mbak hiks,,,,”


” Sabar, kamu kuat. Anak kamu butuh kamu Ai. Jangan sampai kamu kayak Akbar. Anak kamu cuma punya kamu sekarang” tutur Naina dan Ai terus menangis, Uwais menggeleng kepala melihat apa yang terjadi. Istrinya juga jadi ikut sedih sekarang.


” Assalamu'alaikum” imbuh seorang pria paruh baya.


” Wa'alaikumus Salaam” jawab semuanya. Sembari menoleh.


” Dimana anak saya, Akbar?” imbuhnya bertanya, dengan kedua mata bengkak karena terus menangis sepanjang perjalanan.


” Ada di dalam” ucap Uwais, tanpa ragu ayah Akbar masuk ke ruangan jenazah. Ai diam mendengar suara jeritan kakek dari calon bayinya itu. Naina mengusap-usap bahunya agar Ai tenang. Uwais diam memperhatikan istrinya.


*****


Keesokan harinya, keluarga Fatma datang ke rumah Syam. Syam dan Fatma diam dan hanya saling melirik.


” Pernikahan sebentar lagi, aku benar-benar tidak mau” gumam Fatma. Dia hanya bisa protes dalam hati, hanya bisa menuruti kedua orang tuanya.


” Aku benar-benar merindukan kamu Naina” gumam Syam. Dan menatap ke arah lain tidak mau melihat Fatma di seberangnya.


” Kalian berdua kok diem dieman sih” ujar mama Novi.


” Ayo Syam ajak Fatma ke taman” titah Ayah Rahman. Tatapan Syam terlihat dia tidak suka tapi ayah Rahman langsung menginjak kakinya agar mau. Syam bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan ruang tamu begitu saja.


” Ibu aku pergi dulu” Fatma berpamitan kepada ibunya dan ibunya mengangguk.


Fatma pun pergi dan menyusul Syam ke taman. Di taman Syam berdiri dengan angkuhnya dan Fatma mendelik sebal.


” Kamu senang kita menikah sebentar lagi?” tanya Syam ketus. Dan Fatma menggeleng kepala.


” Aku juga tidak mau, kalau mas berani kenapa gak bilang di depan semua keluarga tadi” balas Fatma ketus. Dan Syam berbalik.


” Belagu banget kamu Fatma” maki nya.


” Aku cuma ngasih saran sama kamu mas” ujar Fatma, Fatma tiba-tiba mundur menjauh saat melihat tatapan tajam Syam dan Syam melangkah padanya lalu mencengkram lengannya.


” Jaga sikapmu Fatma” tegasnya.


” Hargai aku mas, setidaknya sebagai seorang perempuan. Sakit mas” Fatma terus meringis dan hampir menangis. Dia akhirnya berhasil melepaskan cekalan tangan Syam. Fatma hendak berlari dan Syam tersenyum kecut.


” Awas kamu kalau kita sudah menikah” tegas Syam dan Fatma terdiam, tidak jadi dia berlari mendengar sebuah ancaman yang semua gadis pun akan bergidik ngeri mendengarnya. Fatma tidak berani menoleh, dia melangkah cepat meninggalkan Syam yang memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Fatma menangis, dan dia butuh Kabir untuk membantunya sekarang. Kabir tidak tahu dia akan menikah bahkan sudah bertunangan, Fatma berharap Kabir tidak berpikiran aneh-aneh padanya karena menyembunyikan hal sebesar itu.


******


Pegawai baru.


Hari ini Naina datang lebih awal ke toko, Sekitar 2 orang wanita menunggunya, terlihat sangat cantik, tegas dan bertubuh tinggi. Naina mengernyit heran, apa benar kedua wanita cantik itu mau bekerja di toko kecilnya?. Naina benar-benar bingung. Naina memilih Dita dan Mia dengan kriteria yang sesuai dengan keinginan nya. Tentunya berhijab. Dita dan Novi terlihat kesusahan dengan kerudung yang mereka kenakan.


” Kenapa?” tanya Naina dan Dita menggeleng kepala.


” Kalian datang pagi-pagi sekali, bagus. Saya suka” imbuh Naina.

__ADS_1


” Jadi kami di terima mbak?” tanya Mia. Dita menyenggol kakinya dengan kakinya dan Mia terlihat panik.” Maksud saya, saya di terima mbak?”


” Iya, mbak Dita sama mbak Mia saya terima” tutur Naina sambil tersenyum, keduanya juga tersenyum lebar merasa senang.


” Mari masuk, saya ajari dan jelaskan semuanya. Lantai dua bisa kalian gunakan untuk istirahat, kamar mandi juga di sana. Setiap barang yang keluar wajib di tulis, dan kalian harus hafal semua harga barang disini” tutur Naina, Dita dan Mia menelan ludahnya kasar. Sesusah itu lah pekerjaan mereka sekarang. Keduanya mengangguk dengan begitu sopan kepada istri bos mereka.


Waktu berlalu, di kantor Uwais sudah buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Dia menoleh saat Zidan masuk. Membawa setumpuk berkas yang harus Uwais periksa.


” Kurang ajar kamu Zidan.” Uwais kesal.


Zidan tersenyum tipis.


” Dita dan Mia akan bekerja dengan baik bos, tidak usah khawatir” imbuh Zidan.


” Aku ingin bukti, jika mereka bekerja tidak baik awas kamu” ancam Uwais, Zidan tersenyum lagi. Tidak ada rasa takut kepada Uwais melainkan rasa segan dan karena Uwais cucu dari bos pertamanya.


” Aku periksa nanti, aku harus pergi. Naina ingin makan siang denganku. Zidan, ibu hamil memang begitu ya? kemarin Naina minta bakso malang dan sekarang dia terus menelepon memintaku datang. Dia tidak pernah manja begini biasanya” tutur Uwais dan meraih jas nya.


” Mungkin itu semua kemauan anak mu bos” kata Zidan dan Uwais terdiam.


” Pinter juga kamu” pujinya sambil tersenyum.


Uwais melangkah pergi meninggalkan ruangannya, dan Zidan membereskan meja kerjanya. Sepanjang perjalanan menuju keluar dari perusahaan. Semua karyawan wanita memperhatikan Uwais, beberapa karyawan juga takjub melihat ketampanan dan karisma bos mereka.


” Kemana bos?” tanya supir.


” Mana kunci” pinta Uwais dan supir memberikannya. Uwais masuk ke dalam mobil dan bodyguard mengangkat telepon dari Zidan.


” Ikuti kemana pun bos pergi” titah Zidan dan semuanya bergegas untuk menyusul Uwais.


Di toko Naina, benar saja Naina sedang menunggu suaminya dengan makanan di hadapannya. Rosa diam-diam memperhatikan Naina dan melangkah mendekatinya.


” Lagi nungguin siapa mbak?” tanya Rosa dan Naina tersenyum, senyumannya terlihat canggung. Tidak bisanya Rosa mendekatinya.


” Lagi nungguin suami” kata Naina dan Rosa mengangguk.


” Assalamu'alaikum sayang” seru Uwais dan Naina menoleh. Naina tersenyum dan menyalami tangan suaminya buru-buru, akhirnya suaminya datang.


” Wa'alaikumus Salaam, mobil kamu dimana mas?”


” Mas” panggil Rosa kepada Ali.


” Kenapa?”


” Ayo makan di luar” ajak Rosa.


” Di luar dimana?" Ali bingung.


” Di depan toko mas, ayo” Rosa memaksa dan menarik-narik tangan suaminya, Ali menggeleng kepala dan saat dia keluar dari toko dia baru paham apa yang diinginkan Rosa. Ali menundukkan kepalanya saat melihat Naina sedang di suapi oleh Uwais. Dan Naina terlihat begitu senang.


” Mang batagor dua” pinta Rosa, dia memesan dua batagor untuknya dan Ali.


” Kita sudah makan kan tadi?” ucap Ali.


” Tapi aku lapar lagi mas” Rosa tersenyum dan Ali juga tersenyum, Rosa sangat manja. Dan Ali yang memiliki kepribadian keras dan tegas harus banyak belajar untuk memahami istrinya itu. Walaupun Rosa begitu, dia tidak ada niat untuk menunda kehamilan. Karena Ali sudah ingin seorang anak di usianya yang sudah 31 tahun itu.


Uwais melirik Dita dan Mia, Dita mengangguk dan Uwais tersenyum kepada Naina.


” Mas aku gak ganggu kamu kan?” Naina merasa tidak enak hati.


” Sekalipun aku sibuk, aku akan berusaha untuk datang kalau kamu yang minta”


Naina tersenyum lebar.


” Mas aku besok harus hadir di acara pernikahan Ai”


” Ai menikah? sama siapa?”


” Aku gak tahu, siapapun pria itu dia benar-benar laki-laki yang sangat baik”


Uwais tersenyum kecut.


” Sayang, apa aku bukan laki-laki yang baik? aku tahu, menikahi mu dengan sedikit memaksa saat itu. Aku bukan laki-laki baik?” imbuh Uwais dan Naina tertawa kecil. Lalu menekan kedua pipi suaminya dengan tangannya.

__ADS_1


” Suamiku sedang cemburu?”


” Aku sangat cemburu sayang”


” Suamiku sangat baik, benar-benar baik. Aku minta maaf karena pernah menilai kamu dengan buruk mas”


” Cium aku, baru aku maafkan” pinta Uwais sambil mengedipkan matanya genit dan Naina memukul bahunya.” Berani ya mukul aku begitu?”


” Jangan minta hal aneh-aneh” Naina cemberut dan menikmati makanannya kembali. Uwais mengusap sudut bibir istrinya lembut dan Naina diam terpaku melihat suaminya.


*****


Pernikahan Ai.


Keributan terjadi di ruko Ali, Rosa menangis sejadi-jadinya saat tahu suaminya akan menikahi gadis lain. Rosa tidak bisa terima dan terus memukuli suaminya.


” Dengarkan aku dulu Rosa”


” Tega kamu mas, hiksss.... Tega kamu begini sama aku” Rosa terus menangis. Padahal dia punya kabar baik pagi ini untuk suaminya. Dia hamil.


” Dia sudah hamil, aku menikahinya karena ini keinginan Akbar. Akbar sudah seperti adikku sendiri”


” Aku gak mau mas, hiksss. Aku gak mau punya suami yang harus di bagi-bagi. Aku salah apa mas? aku berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu tapi kamu tega begini sama aku. Aku mau cerai mas, aku mau cerai aku gak perduli walaupun aku sedang hamil” Rosa berteriak-teriak, tubuhnya ambruk ke lantai dan Ali memeluknya erat.


” Kamu hamil sayang? bilang sama aku?"


” Lepas mas, jangan peluk aku” Rosa terus berontak.


” Aku gak ada niat sekalipun untuk melakukan itu, kamu istriku. Ini anak kita Rosa” Ali mengelus perut istrinya tapi Rosa tidak mau. Rosa bangkit dan meraih tas nya." Kamu mau kemana sekarang?”


” Aku mau pulang, pergi sana mas. Nikahi wanita itu”


Ali menyambar tas istrinya dan mengunci pintu.


” Aku mau pulang mas, aku bisa ngurus anakku sendiri. Aku gak perlu kamu.”


Ali terus memaksa memeluk dan mencium istrinya. Rosa terus berontak tapi dia tidak bisa, pakaiannya sudah terlepas semua dan tubuhnya tertindih tubuh suaminya.


Di rumah keluarga Ai, semuanya bingung karena mempelai pria tak kunjung datang. Pernikahan sederhana tanpa riasan sedikitpun. Ai sedang di dandani oleh Naina di kamar. Ai terus menangis dan Naina tidak berani bertanya dan hanya menenangkan dirinya.


” Mempelai pria pasti datang” lirih Naina.


” Sekalipun tidak, aku tidak perduli mbak”


” Jangan begitu Ai, kamu harus memikirkan masa depan anakmu”


Ai diam membisu, dia usap air matanya. Dia dinikahi hanya karena dasar kasihan. Ali dan Rosa bahkan masih pengantin baru seperti Naina dan Syam.


” Mempelai pria sudah datang, Ai ayo" ajak kakak Ai dan Naina menoleh.


” Ayo Ai” ajak Naina, Ai bangkit dari duduknya dan melangkah di temani oleh Naina. Kedua mata Naina membulat melihat mempelai pria yang sudah duduk di sana, Ali. Ali terlihat sangat terpaksa untuk menikahi Ai. Atas keinginan Akbar dan takut Ai melakukan hal gila sama seperti Akbar. Ali benar-benar trauma melihat Akbar meregang nyawa di hadapannya. Ai duduk dengan wajah tertunduk dalam. Naina mundur dan Uwais menariknya.


” Ali?” Uwais bingung.


” Aku juga baru tahu mas” jawab Naina.


Uwais merangkul pinggang istrinya, Ali baru menikah sudah berani menikahi gadis lain, bukan tidak mungkin Ali juga bisa merebut Naina darinya. Uwais benar-benar takut. Ijab qobul pun sah, Ali dan Ai sudah menjadi suami istri sekarang. Air mata Ai tak bisa di bendung lagi dia terus menangis. Pernikahan di laksanakan malam hari. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


” Naina pulang yuk” ajak Uwais yang belum istirahat setelah seharian bekerja.


” Aku pamit dulu ya mas, aku juga capek” kata Naina dan Uwais mengangguk. Naina melangkah mendekati Ai dan Ali.


” Mas Ali, Ai. Aku sama mas Uwais mau pulang. Selamat ya atas pernikahan kalian. Mas Ali tolong jaga Ai, dia sudah seperti adik saya sendiri” tutur Naina dan Ali mengangguk.


” Makasih ya mbak” imbuh Ai.


” Kalau ada apa-apa, telepon aja”


Naina dan Uwais pergi dan acara pun bubar. Ai dan Ali masuk ke kamar mereka untuk beristirahat, Ai duduk di tepi ranjang begitu juga dengan Ali.


” Ai” lirih Ali hendak menyentuh tangan istrinya tapi Ai bergeser menjauh.” Saya gak bakal menyentuh kamu, di dalam perut kamu anak pria lain tapi saya siap bertanggung jawab atas kamu dan anak ini yang akan saya anggap anak saya sendiri” tutur Ali dan Ai diam.


” Sebaiknya kamu istirahat aja sekarang” titah Ali dan Ai mengangguk.

__ADS_1


Ali merentangkan kain sarungnya dan meraih satu bantal, dia merebahkan tubuhnya di sana dan memiringkan tubuhnya membelakangi Ai yang juga merebahkan tubuhnya menghadap ke tembok. Air mata Ali menetes, dia berat menikahi Ai dan dia juga tidak mau berpisah dengan istri yang dia cintai. Rosa. Dia berharap Rosa tidak benar-benar akan meninggalkannya.


” Hiks,,,,” suara isakan tangis terdengar. Ali menoleh sekilas dan Ai sedang menangis terisak-isak pelan di atas tempat tidurnya. Ali tidak berani mendekat, dia akan berusaha untuk bersikap adil dan baik untuk kedua istrinya.


__ADS_2