
Karena kondisi Naina yang sakit dan belum pulih benar ayahnya membawa Naina pulang ke kampung.Naina tidak bisa membebankan tanggung jawab toko kepada Ai seorang diri,dan akhirnya memutuskan untuk tutup sementara sampai dia kembali ke ibu kota.
Naina sedang duduk di atas sofa,membaca novel dari aplikasi online.Sangat mudah sekarang, bermodalkan kuota hanya saja terlalu banyak komentar negatif yang lolos begitu saja,dan membuat para penulis yang baru belajar menghentikan cerita di tengah jalan.
”Suara mobil?”lirih Naina bertanya-tanya saat mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya,entah siapa dan ayahnya tidak memiliki hubungan dengan orang-orang yang menurutnya berekonomi tinggi.
Ayahnya pak Fahmi muncul dari belakang dan raut wajahnya begitu senang, seolah tahu siapa yang datang.
”Pak!”panggil Naina.
”Ayo kamu ganti baju,calon suami dan keluarganya datang"kata pak Fahmi dengan begitu entengnya, Naina panik dan buru-buru pergi meninggalkannya ruang tamu.Dia melangkah sekuat tenaga sampai bisa sampai di kamarnya.
Di luar rumah,Syam mengedarkan pandangannya.Rumah berjajar dan terlihat sangat begitu sederhana, namanya juga dikampung masih banyak warga yang memilih rumah panggung sebagai tempat hunian mereka semua.Berdinding bilik bambu,dan udara yang begitu segar membuat semua orang dari kota merasa betah di sana,tapi tidak dengan Syam.Dia lepas kacamata hitamnya, bibirnya menyungging terlihat mengejek, mengejek semua yang dia lihat tidak seperti yang ada di ibu kota.
”Segar sekali ya udaranya”kata Ina dengan senyuman lebar di bibirnya.
”Iya mbak,segar banget"timpal Nuri.
”Ayah aku mau pulang"ketus Syam dan sontak mendapatkan tatapan tajam dari ayah Rahman.
”Kamu harus bertanggungjawab,jangan sampai kamu menyakiti gadis itu.Awas saja"ancam ayah Rahman,sudah cukup dia memanjakan anak bungsunya itu.
”Rahman,kamu jangan kasar-kasar sama anak kamu.Ibu gak rela”nenek Wilda menyela,dia sangat menyayangi semua cucunya apalagi Syam yang sangat dekat dengannya.Syam tersenyum tipis mendapatkan pembelaan dari neneknya.
****
Di ibukota,seorang pria turun dari motor matic nya lalu di susul dengan membuka helmnya.Dia adalah Rangga,guru bahasa Inggris disekolah yang sama dengan Naina, mendengar kabar yang menimpa Naina.Rangga memutuskan untuk menjenguk guru cantik dan sangat lembut itu, suaranya yang mendayu-dayu sangat tidak mudah di lupakan orang-orang yang mendengarnya apalagi senyuman lebar dan tulus Naina kepada semua orang.
__ADS_1
”Assalamualaikum”suara Rangga terdengar lantang dan melihat-lihat ke arah pintu rumah kontrakan tersebut."Assalamualaikum, permisi!”teriak Rangga dengan suara lebih kencang,para tetangga memperhatikannya.Salah satu di antara mereka melangkah untuk mendekati Rangga.
”Permisi mas,yang punya rumah gak ada"seru wanita tersebut dan membuat Rangga menoleh padanya.
”Kira-kira kemana ya Bu,Bu Naina pergi?"Rangga bertanya dengan raut wajah begitu kecewa.Dia sudah membelikan kue, buah-buahan dan cemilan untuk Naina.
”Mbak Nai dibawa ke kampung, katanya biar istirahat juga disana sekalian di terapi secara tradisional mas supaya cepat sembuh.Anak-anak juga pada kangen,gak ada yang ngajar ngaji”kata wanita sembari tersenyum.
”Oh,iya Bu terima kasih permisi”jata Rangga dengan tersenyum lebar,dan wanita itu pergi meninggalkannya.Rangga merasa bangga kepada Naina untuk kesekian kalinya.
Kamu benar-benar wanita Sholehah Bu Naina,aku gak salah karena mengidolakan kamu.
Rangga akhirnya pergi,dia tidak terlalu kecewa dan sudah memutuskan untuk berbicara serius dengan Naina perihal dia yang ingin melamar Naina untuk waktu dekat-dekat ini.
***
”Mas kamu bisa kan kalau nyimpen handuk langsung di jemur”kata Husna membuat Mirza yang sedang meminum kopinya merasa terganggu.
”Aku minta maaf,aku janji gak bakal mengulanginya lagi”kata Mirza tetap mengalah dengan senyuman di wajah tampannya,dia harus menerima istrinya dan akan berjuang merubah perlakuan buruk istrinya karena itu memang sudah tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Husna membawa handuk dan menjemurnya,dia kembali masuk dan duduk di sofa.
”Mas apa kita cari pembantu aja?”tanya Husna dan Mirza menoleh padanya.
”Iya nanti aku cari,tapi kamu harus belajar mengerjakan semua pekerjaan rumah ya ummi"Mirza tersenyum lebar, panggilan sayangnya untuk Husna membuat wanita itu tidak terima dan langsung memasang wajah masam.
”Jangan panggil aku kayak gitu mas aku gak suka"ketus Husna lalu bangkit dan melangkah pergi meninggalkan suaminya, Mirza terkejut saat Husna membanting pintu kamar begitu kasar.Tanpa berpikir panjang, Mirza pergi untuk menyusul istrinya dan meminta maaf agar istrinya tidak marah.
__ADS_1
****
Ina dan Tari memperhatikan Naina yang sudah berganti pakaian dan memakai riasan seadanya.Gamis berwarna lavender dan hijab berwarna hitam panjang sampai ke pinggangnya.Naina terus menundukkan kepalanya,dia pantas kebingungan karena Ratna memasak sangat banyak hari ini.Ternyata ada tamu dari kota.
”Disini udaranya enak ya pak,masih segar.Gak kayak di kota hehe"Tari tersenyum lebar dan pak Fahmi tersenyum.
”Pesawahan disini Alhamdulillah masih luas,hutan juga masih terlindungi dengan baik.”Pak Fahmi tersenyum lebar dan Tari mengangguk,nenek Wilda menatap Naina sinis dia tidak suka gadis itu,gadis cupu,pincang dan berpenampilan kolot,pantas saja cucunya Syam tidak mau.
”Ayo di minum Bu,pak"seru Bu Ratna.
”Terima kasih”mama Novi tersenyum lebar dan meminum air teh nya,Syam memperhatikan ibunya yang begitu terlihat serius menikmati secangkir teh hangat di udara yang begitu dingin itu.
”Maksud kami kesini ingin melamar anak bapak, walaupun pernikahan sudah ditetapkan.Kami belum melamar putri bapak dan ibu"seru ayah Rahman,pak Fahmi mengangguk.
Seorang ustadz yang masih kerabatnya keluarga Syam membuka suara,orang yang di anggap ketua kampung dan pak RT juga di hadirkan oleh pak Fahmi.Syam mendelik sebal saat tatapannya bertemu dengan tatapan Naina,jelas Naina meliriknya karena Syam terus memperhatikannya.Acara lamaran mendadak tanpa kehadiran Husna dan Mirza,Husna memiliki sifat iri hati yang diketahui semua orang.Ibunya Ratna tidak mau anaknya itu mengacaukan acara.
Berbagai macam kue dan pakaian dibawa keluarga Syam,sampai akhirnya waktu tiba untuk memakaikan cincin di jari manis Naina.
”Ayo nak”kata mama Novi dan sedikit melotot agar Syam mau berdiri,Syam akhirnya berdiri dan melangkah dengan langkah malas.Naina mendelik sebal dan memilih menatap ke arah lain,Syam mengeluarkan cincin berlian yang begitu mewah,pak Fahmi bahkan tidak bisa menebak berapa harga cincin itu.Naina menggerakkan tangannya dia ragu untuk mengulurkan tangannya.Ina tertawa-tawa merekam momen tersebut dan melihat wajah Naina merah,dia yang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki kecuali ayah dan adiknya.Naina benar-benar canggung.
”Ayo”ketus Syam meminta Naina mengulurkan tangannya.Naina ragu dan tangannya maju mundur tidak karuan,mama Novi mendekat dan mewakili Syam putranya untuk memasangkan cincin ke jari manis Naina.
Syam terbelalak melihat tingkah laku gadis dihadapannya.
Sok-sokan gak mau di sentuh, kamu kalau udah nikah sama aku pasti mau nempel terus, dasar jual mahal.
Syam bergumam.
__ADS_1