Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Maternity part 2


__ADS_3

Naina terlihat kelelahan dan tidak nyaman dengan fotografer yang menatapnya dengan tatapan lain, baju kedua yang Naina pakai terlalu ketat. Uwais memperhatikan istrinya itu, satu Minggu yang lalu baju tersebut masih longgar tapi sekarang sangat ketat di tubuh istrinya. Uwais meraih tangan Naina dan menggeleng kepala melihat fotografer seraya mengangkat tangan kirinya, memberi kode jika dia ingin istirahat sejenak.


” Sayang kenapa?” tanya Uwais seraya menarik dagu Naina agar menatapnya, Zidan yang melihat pose alami keduanya mengambil foto dengan kamera ponselnya. Dia tersenyum lebar.


” Mas aku gak mau pakai baju ini” kata Naina.


” Gak ada baju lain sayang”


” Dada aku kelihatan banget mas, emang gak apa-apa? ada laki-laki lain disini bukan satu dua lagi” Naina berbisik. Uwais melepaskan kemejanya dan semua orang panik begitu juga dengan Naina.


” Mas, ngapain?”


Uwais diam dan menutupi setengah tubuh istrinya dengan kemejanya, dan dia hanya memakai kaos singlet sekarang. Uwais mengajak Naina pergi.


” Kita ganti baju dulu” ujar Uwais kepada Zidan dan Zidan mengangguk.


Naina diam dan menatap suaminya lekat, Uwais mengajak Naina ke mobil untuk mencari baju ganti dia berdiri di depan pintu mobil menunggu sekaligus menjaga, Naina menutup kaca mobil dan mencari gamis nya yang berwarna hitam. Yang mana saja yang penting warna hitam. Setelah selesai Naina mengetuk pintu dan Uwais membuka pintu perlahan.


” Sudah?” tanya Uwais dan Naina mengangguk. Naina dibantu keluar oleh suaminya perlahan dari dalam mobil, Uwais merapihkan kerudung istrinya itu dan Naina tersenyum. Keduanya kembali ke tempat tadi, pemotretan outdoor yang dilakukan hari ini.


” Kita mulai lagi” seru fotografer kepada teman-temannya. Naina dan Uwais bersiap, Naina terlihat gugup karena harus berhadapan dengan suaminya dengan wajah yang sangat dekat. Masalahnya banyak yang melihat. Keduanya tiba-tiba tertawa dan Uwais refleks menempelkan wajahnya di wajah istrinya dan momen tersebut berhasil di abadikan. Semua orang tersenyum melihat keduanya malu-malu.


****


Amira datang lagi.


Syam dan Fatma sedang membawa Syifa jalan-jalan di sebuah taman tidak jauh dari rumah. Fatma duduk sambil meniup balon sabun, Syifa menggendong Syam dan membantu Syifa yang tertawa-tawa ingin meraih gelembung sabun yang berterbangan ke arahnya.


” Harusnya aku di sana, bukan wanita itu. Kenapa kamu tega Syam” lirih Amira.


” Aku ibunya Syifa, bukan dia” Amira sangat sedih.


” Ibu,,,” lirih Syifa seraya turun dari gendongan ayahnya dan menghampiri Fatma.


” Duduk sama ibu” ajak Fatma dan Syifa duduk di pangkuannya. Syam tersenyum dan Fatma menoleh, Syam duduk di sebelah istrinya itu lalu meraih tangan Fatma dan menggenggamnya erat. Amira mengepalkan tangannya, dia tidak rela Syam dengan Naina begitu juga dengan Fatma. Dia akan melakukan apapun untuk memisahkan keduanya.


” Mau jalan-jalan malam ini?" ajak Syam.


” Mas gak sibuk?”


” Enggak, kita berdua aja” ajak Syam.


” Syifa?”


” Mama aku mau nginep malam ini”


...” Ya sudah” Fatma tersenyum, dia setuju....


” Kenapa Fatma sangat cantik kalau begini” gumam Syam sambil terus menatap Fatma.


” Mas Syam baik banget sekarang, maafin aku mas aku pernah mengkhianati kamu tapi aku janji aku gak bakal melakukan hal itu lagi” gumam Fatma.


*****


Hari terakhir di puncak.


Naina sedang memijat bahu suaminya, Uwais sampai tertidur pulas karena pijatan istrinya itu. Setelah Naina merasa Uwais tertidur lelap dia bergerak untuk turun dari ranjang dan ingin membereskan barang-barangnya. Naina juga ingin memasak makanan untuk nya dan Uwais.


” Masak dulu atau packing dulu ya?” Naina berbicara sendiri.” Mending aku masak dulu, biar mas Uwais bangun dia langsung makan” katanya lagi dan bergegas pergi menuju dapur. Dia mulai menyiapkan sayuran yang dibeli tadi pagi, beserta bumbu-bumbu nya. Uwais yang mencium aroma masakan istrinya terbangun, dia tersenyum manis.


” Sayang, kamu masak? lagi capek juga” seru Uwais tapi Naina tidak mendengarnya. Uwais menggaruk kepalanya lalu mengusap wajahnya kasar lalu dia turun dari ranjang dan melangkah untuk mendekati Naina. Uwais tersenyum dan melangkah pelan untuk mengagetkan istrinya itu. Uwais memeluk Naina, Naina yang terkejut tidak sengaja menyentuh wajan panas.


” Auw mas sakit”


Uwais panik dan melepaskan pelukannya dia raih tangan istrinya itu.


” Huff” Uwais meniupnya.” Aku minta maaf sayang”


” Iya mas”


Naina terus meringis, Uwais mematikkan kompor lalu menggendong Naina mengarah ke wastafel, Uwais menundukkan istrinya dan meraih tangan istrinya, Uwais membiarkan tangan istrinya tersiram air mengalir untuk mengurangi rasa sakit. Uwais sedih melihat tangan Naina langsung melepuh.

__ADS_1


” Kita ke rumah sakit terdekat disini, pasti ada”


” Iya ada mas, tapi gak usah ini cuma luka kecil”


” Sayang, jangan kebiasaan menganggap semuanya luka kecil”


Naina tersenyum lalu menyentuh pipi Uwais lembut.


” Kita harus pulang, gak ada waktu untuk dokter merawat luka sekecil ini biar kita beli salep aja nanti di jalan mas. Aku mau turun mas, aku mau lanjut masak” Naina bergeser ingin turun tapi Uwais menahannya.


” Sayang” Uwais menekan kedua pipi istrinya lembut, Naina menggeleng kepala dan tersenyum.


” Aku enggak apa-apa mas, beneran. Ayo aku mau turun”


” Oke, aku pinta Zidan untuk beli salep terus aku aja yang masak”


” Emang kamu bisa?” Naina ragu.


” Ya, bisa” jawab Uwais terlihat ragu juga.


Naina tersenyum dan Uwais mengangkatnya dari wastafel lalu membawanya ke dapur lagi, Uwais mendudukkan istrinya.


” Aku yang masak, kamu jadi penonton”


Uwais menggulung baju lengannya dan Naina terus tersenyum memperhatikan, melihat Uwais kesusahan Naina bangkit lalu memeluk suaminya dari belakang. Uwais tersenyum lebar.


” Naina biar aku saja”


” Aku bantuin mas”


Uwais pasrah karena memang dia tidak bisa, dia juga takut masakannya tidak enak dan malah mubajir nanti.


****


Ai dan Rosa.


Ali dan kedua istrinya sedang makan bertiga di ruko nya, Ali berada di antara kedua istrinya itu. Ai dan Rosa terlihat sesekali saling melemparkan tatapan sinis.


” Aaaa,,, mas” kata Ai dan menyuapi Ali begitu mesra, Rosa diam dan memalingkan wajahnya sambil mengunyah makanannya lembut.


Ai mendelik sebal melihat Rosa tersenyum. Ali merogoh sakunya saat ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari kakaknya Hasan, raut wajah Ali terlihat bingung. Tapi dia tetap mengangkat telepon dari kakaknya.


” Halo, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam, Ali Abang udah sampai di bandara tolong jemput. Nenek gak mau naik taksi sekalian bawa Rosa”


” Iya baik bang”


Panggilan berakhir.


” Ada apa mas?” tanya Rosa dan Ai kompak. Lalu keduanya saling menatap sinis.


” Ai kamu bisa kembali ke ruko Naina, aku sama Rosa harus ke bandara” ujar Ali, Ai terdiam mendengarnya.


” Mas Ali sama mbak Rosa mau kemana?” Ai memberanikan diri bertanya.


” Ada nenek sama abang” ucap Ali lagi seraya menekan lengan Rosa sekilas untuk segera bersiap, Rosa pun membereskan semuanya dan mengambil tas nya dan tas Ali lalu dia keluar mendahului.


” Apa aku boleh ikut?” tanya Ai.


” Jujur aku gak enak bilang begini sama kamu, kamu juga tahu kita menikah karena apa. Keluarga ku sama sekali belum menerima kehadiran kamu, sabar ya aku yakin nanti semuanya baik-baik saja untuk sekarang kamu harus sabar dulu” tutur Ali, Ai terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Ali. Ali mengelus pucuk kepala Ai lembut dan Ai menyalami tangan suaminya.


” Aku pergi”


” Iya mas, hati-hati” Ai berusaha tersenyum.


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Ali pun pergi menyusul Rosa dan tertinggal lah Ai sendiri, Ai membereskan makanannya sambil menangis terisak-isak pelan. Begitu rendahnya posisinya saat ini tapi dia masih tidak tahu diri dengan mengharapkan Ali hanya untuknya, dia lupa Ali juga memiliki keluarga yang tidak seorangpun hadir dalam pernikahannya dan Ali karena tidak ada yang mau menerima dirinya, seorang gadis yang hamil dengan pria lain lalu Ali menikahinya walaupun Ali harus menyakiti perasaan istri tercintanya Rosa.

__ADS_1


Sesampainya di bandara, Ali dan Rosa turun. Ali merangkul pinggang istrinya itu dan melangkah bersama. Nenek Ali Inuy terlihat senang melihat Ali dan Rosa.


” assalamu'alaikum” imbuh Ali lalu berpelukan dengan abangnya Hasan.


” Wa'alaikumus Salaam” jawab Hasan dan nenek. Nenek berpelukan dengan Rosa.


” Masya Allah perut kamu udah besar, nenek pangling” nenek tersenyum.


” Iya nek Alhamdulillah”


” kandungan kamu baik-baik aja kan nak?” tanya nenek khawatir, tidak mudah menjadi Rosa di saat suaminya harus dibagi dua dan dibagi dengan adil dengan wanita lain. Rosa mengangguk sambil tersenyum, nenek mengajak Rosa untuk melangkah bersama. Ali dan Hasan membawa semua barang-barang.


” Pernikahan poligami tidak muda, tapi jaminannya adalah surga jika kamu bisa ikhlas dan tawakal. Poligami bukan kejahatan, selama Ali masih berlaku adil dukung lah dia, sayangi dia dan jangan tinggalkan cucu nenek itu” tutur nenek berbisik, Rosa menoleh mendengarnya. Iya memang jaminannya surga, surga yang tidak dirindukan. Sangat jauh dari kata ikhlas, Rosa masih belum bisa menguasai rasa cemburu dan amarahnya.


*****


Di rumah Syam, Syam pulang dari kantor seperti biasa. Fatma menyambutnya, Fatma menyalami tangan suaminya itu lembut dan Syam mencium keningnya.


” Dimana Syifa?"


” Syifa lagi main mas di kamar, emm iya mas aku dapat chat. Ada tiga orang yang di rekomendasikan pihak kantor untuk menjadi baby sitter Syifa. Sebenarnya aku bisa mengurus Syifa sendiri mas” tutur Fatma.


” Enggak Fatma, kamu pasti capek setidaknya kalau ada baby sitter kamu bisa istirahat dan gantian dengan baby sitter jagain Syifa”


Fatma mengangguk mengiyakan. Hubungan keduanya semakin harmonis, mama Novi sendiri melihat jelas perubahan dari bahasa tubuh keduanya. Tentunya semua orang tua merasa senang dan bahagia melihatnya.


Di tempat lain, Naina dan Uwais sudah sampai di rumah. Naina tertidur pulas dan Uwais tidak tega membangunkannya, dia gendong istrinya itu menuju ke kamar. Zidan menutup pintu setelah Uwais masuk, Uwais membaringkan tubuh gemuk istrinya perlahan. Dia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan jari istrinya, Uwais mengeluarkan salep dan mengoleskan salep untuk luka bakar ke jari istrinya.


” Karena aku kamu terluka” tutur Uwais lalu mengelus pipi istrinya lembut, Naina diam walaupun dia sudah bangun.


” Anak kita pasti mirip sama kamu sayang”


” Hasil USG menunjukkan anak kita perempuan, mau laki-laki ataupun perempuan saat lahir nanti aku hanya berdoa supaya kamu dan anak kita baik-baik saja”


” Aku bahagia setelah memiliki kamu”


” Aku belum bisa menjadi suami yang baik”


” Tapi aku akan terus berusaha untuk mengimbangi istri terbaik ku ini” Uwais mencubit dagu istrinya lembut.


” Kamu suami terbaik mas, jangan merendah seperti itu” imbuh Naina dan Uwais terkejut melihat istrinya bangun sambil tersenyum padanya.


” Kamu udah bangun sayang?”


” Iya, aku mendengar semuanya mas”


” Aku malu” Uwais menutup wajahnya dengan bantal dan Naina tertawa k


melihatnya. Naina menarik bantal dari wajah tampan suaminya itu. Uwais mengelus pipi istrinya lembut.


” Ayo tidur lagi, aku ada urusan jadi harus pergi”


” Lama?”


” Enggak sayang, cuma sebentar. Mau nitip sesuatu?”


” Aku cuma mau jalan-jalan malam ini mas”


” Oke, aku hanya sebentar. Kita jalan-jalan nanti malam sekarang kamu tidur dulu”


Naina mengangguk, perjalanan pulang dari puncak beruntungnya tidak terjadi kemacetan panjang. Uwais menyelimuti tubuh istrinya dan Naina menyalami tangan suaminya, Uwais bangkit dari ranjang.


” Aku pergi assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Uwais melangkah pergi, dia keluar dari kamar lalu mengunci kamar dan Zidan sudah menunggu.


” Aku harus mencari hadiah terbaik untuk istriku” kata Uwais.


” Belikan yang terbaik, yang mahal Bu Naina pasti suka bos” kata Zidan dan terus melangkah mengikuti Uwais.

__ADS_1


” Naina bukan wanita seperti itu, dia gak suka barang-barang terlalu mahal aku takut dia malah menjualnya nanti”


Zidan cengengesan mendengarnya, keduanya masuk ke dalam lift dan Uwais harus segera pergi. Dia juga ada meeting hari ini.


__ADS_2