
Hari ini Naina sibuk di toko, orderan masuk sangat banyak hari ini. Naina masih memakai laptop lamanya padahal Uwais sudah membelikan laptop baru.
” Mbak, mau gak?” imbuh Mia menawari Naina es cendol.
” Mau” Naina antusias.” Biar aku ganti uangnya mbak”
” Enggak usah mbak, ini emang buat mbak. Ai sama mbak Dita juga aku beliin tadi hehe” Mia tersenyum.
” Oh gitu, ada acara apa bagi-bagi cendol?”
” Enggak ada acara apa-apa mbak, mau bagi-bagi aja” Mia tersenyum lagi dan Naina juga tersenyum.
Keduanya menikmati es cendol sama-sama, Naina menoleh dan melihat Ai pergi ke ruko Ali. Saat ini memang waktunya istirahat, Naina juga sebentar lagi pulang dan harus bersiap untuk pergi ke bandara menjemput suaminya. Dia benar-benar merindukan Uwais, sudah tidak mau lagi dia tidur sendirian.
****
Pertemuan.
Fatma sedang bersama Syam di rumah sakit, dia harus melakukan kontrol dan Syam yang mengantarnya. Fatma diam dan Syam sesekali menoleh memperhatikannya.
” Fatma, mau minum?” imbuh Syam.
” Enggak mas” singkat Fatma.
” Fatma” lirih Syam seraya merangkul bahu istrinya itu dan Fatma refleks menepis tangannya kasar karena takut. Syam diam dan saling menatap lekat dengan istrinya yang ketakutan melihatnya.
” Maaf mas" lirih Fatma lalu menundukkan kepalanya.
” Aku ke toilet dulu” ucap Syam dan bangkit dari duduknya, dia pergi meninggalkan Fatma dan Fatma menangis. Fatma mengusap air matanya saat ada yang lewat di hadapannya. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk keluar dari rumah sakit. Hanya tinggal menebus obat dan biar Syam yang melakukannya. Fatma pergi ke taman rumah sakit untuk mencari udara segar disana, dia melangkah perlahan dan menunggu Syam menyusulnya.
” Fatma” panggil seseorang dan langkah Fatma terhenti. Fatma mengenal suara itu, sangat mengenal dan dia tersenyum. Fatma diam saat langkah kaki pria di belakangnya mendekat, Fatma berbalik dan langsung memeluk pria itu.
” Fatma kamu kenapa? kenapa bisa begini?" lirih Kabir saat melihat wajah Fatma.
” Tolong aku Kabir hiks,,,”
” Siapa yang melakukan ini sama kamu?”
” Bawa aku pergi Kabir, aku mohon” pinta Fatma seraya melepaskan pelukannya. Dia raih tangan Kabir dan menariknya.” Ayo kita pergi” ajaknya lagi.
Kabir mengangguk dan menuruti permintaan Fatma untuk meninggalkan rumah sakit padahal Kabir sedang menemani temannya untuk berobat dia malah pergi. Kabir membawa Fatma menuju apartemennya, sesampainya di sana Fatma duduk dan mengedarkan pandangannya melihat tempat tinggal Kabir.
” Kamu tinggal sendirian?”
” Iya aku tinggal sendiri” jawab Kabir dan dia sedang mencari kotak p3k. Setelah dia menemukannya Kabir mendekati Fatma, Fatma diam saat Kabir mengompres pipinya.
” Aku baik-baik saja Kabir”
” Siapa yang melakukannya? aku melepas mu supaya bisa mendapatkan kebahagiaan yang gak bisa aku kasih buat kamu. Tapi nyatanya, kamu jadi begini. Bilang sama aku siapa?”
Fatma diam dan menundukkan kepalanya, Kabir memperhatikannya dengan seksama dan Fatma terkejut saat Kabir menciumnya seraya meletakkan sapu tangan berisi es batu ke atas meja. Fatma menutup matanya, melayani keinginan laki-laki yang dia cintai itu. Sementara di rumah sakit Syam kebingungan mencari istrinya, dia sudah menanyakan kepada semua orang dan mencari kemana-mana.
*****
Uwais pulang.
Naina sedang menunggu suaminya di bandara, dia di antar bodyguard dan bi Astri. Naina tidak mau hanya pergi dengan para lelaki.
” Mending Bu Naina tunggu saja di dalam mobil” titah Bi Astri.
” Enggak bi, saya mau disini aja” Naina menolak dan terus menunggu dengan sabar.
Bi Astri diam dan sama-sama menunggu, saat melihat Uwais dan rombongan nya bi Astri pergi meninggalkan Naina. Naina tersenyum melihat suaminya, Uwais juga tersenyum lebar. Uwais menggeleng kepala saat melihat istrinya akan melangkah menghampirinya, biar dia saja yang mendekat istrinya jangan. Uwais menatap wajah ceria istrinya, tatapannya turun dan melihat perut istrinya. Dia yakin bayinya juga senang melihat kepulangannya.
” Mas” imbuh Naina saat Uwais sudah dekat, dia melangkah dan menghambur memeluk suaminya. Uwais juga membalas pelukannya erat. Uwais menoleh melirik Zidan dan Zidan mengajak semuanya untuk pergi meninggalkan keduanya.
” Nungguin siapa dari tadi?” goda Uwais.
” Enggak tahu nungguin siapa” balas Naina dan Uwais mencubit pinggang nya sampai Naina menjerit dan Uwais langsung membungkam mulutnya.
__ADS_1
” Sutt berisik, ayo”
” Gara-gara kamu”
Uwais terkekeh dan mengajak Naina pergi. Keduanya masuk ke dalam mobil, Uwais menarik sabuk pengaman untuk istrinya dan dia diam saat wajahnya dan wajah istrinya sangat dekat. Naina menggigit bibir bawahnya kelu dan melihat Uwais ingin menciumnya. Naina tidak bisa mundur, dia memalingkan wajahnya saat bibir Uwais akan sampai di bibirnya, Uwais mencium pipi istrinya cukup lama dan sangat lembut, Naina hanya tersenyum tipis.
” Kamu selamat sekarang, nanti di rumah jangan harap” imbuh Uwais lalu menjauh dan duduk dengan baik serta siap melajukan mobil mewahnya itu.
” Siapa takut” kata Naina.
” Nakal ya sekarang” Uwais mencubit hidung istrinya gemas dan Naina tersenyum.
****
Kecemburuan Rosa.
Rosa datang ke ruko untuk menemui Ali, hari sudah sore dan setelah dari ruko dia juga ingin pergi ke rumah orang tuanya.
Di lantai dua ruko, Ali yang sudah tahu Rosa akan datang dia juga bersiap untuk mengajak Rosa jalan-jalan nanti. Tanpa disadari Ai ada di ruko padahal tadi siang juga sudah datang. Ali menoleh melihat Ai keluar dari kamar mandi memakai pakaian sangat seksi dengan rambutnya yang terurai panjang.
” Ganti baju kamu Ai” titah Ali lalu memalingkan wajahnya.
” Kenapa?”
” Kalau ada yang melihat gimana? ganti” tegasnya.
” Kalau di depan suami bukannya sah sah saja mas?”
” Iya kamu benar, tapi jangan begini. Kamu lagi hamil Ai, menggoda suami kamu padahal kamu dalam keadaan hamil di luar nikah itu gak boleh” tutur Ali dan meraih tas nya.” Ganti baju, aku antar kamu pulang” katanya, dan hendak keluar tapi Ai memeluknya dari belakang. Ali diam dan Ai terus memeluknya.
” Lihat aku sebentar saja mas” pintanya mengemis.
” Aku gak bisa memberikan apa yang kamu mau, sekarang bukan waktunya. Kamu akan mendapatkannya nanti” tutur Ali dan berusaha melepaskan pelukan Ai dan akhirnya pelukan Ai terlepas, Ai melangkah cepat ke hadapan Ali dia mencium suaminya paksa, kedua mata Ali membulat atas apa yang dilakukan istrinya itu. Bersamaan pintu terbuka, senyuman Rosa lenyap melihat pemandangan di hadapannya.
” Ai!” bentak Ali setelah dia mendorong bahu istrinya itu pelan. Ai menoleh dan melihat Rosa di sana Ali juga menoleh dan Rosa diam lalu memalingkan wajahnya, Rosa bergegas pergi. Harusnya Ali memberitahu nya jika sedang bersama Ai, Ali sengaja membuatnya melihat semua itu. Itulah isi pikiran Rosa saat ini. Dia menuruni tangga untuk segera pergi.
” Rosa, sayang” panggil Ali dan Rosa sudah pergi meninggalkan ruko. Ali terkejut melihat vas bunga pecah dan melihat noda darah di atas keramik putih itu. Ali khawatir dan dia buru-buru berlari mencari Rosa. Ali yang melihat Rosa pergi dan berjalan bertelanjang kaki buru-buru mengejar dan menahannya, dia raih tangan istrinya itu dan melihat Rosa sedang menangis.
” Kamu mau kemana? kaki kamu berdarah sayang. Ayo”
” Enggak mas aku gak mau, aku mau pulang. Harusnya kamu bilang ada Ai, jadi aku gak usah kemari”
” Aku gak tahu Ai ada di ruko, aku baru pulang dari masjid dan bersiap ternyata Ai ada di kamar mandi. Jangan nangis”
Ali menghapus air mata istrinya itu lembut dan Rosa tetap tidak mau, dia ingin pulang.
” Aku antar ayo” ajak Ali, dia tidak bisa membiarkan Rosa pulang sendirian.
****
Malam hari tiba, pukul 9 malam Fatma sama sekali belum jelas dia ada dimana. Syam sudah mencarinya kemana-mana bersama keluarga yang lain. Fatma masih di apartemen Kabir, dia tertidur pulas dengan Kabir yang terus membelai rambutnya. Fatma membuka matanya perlahan dan dia langsung melihat Kabir.
” Jam berapa?”
” Jam 9” jawab Kabir sambil tersenyum.
Fatma panik dan dia hendak bangkit tapi Kabir menahannya, Kabir menempelkan wajahnya di dada telanjang Fatma.
” Sebentar lagi aku mohon”
” Jangan Kabir” Fatma menolak saat Kabir ingin membuat kecupan di buah dadanya.
” Hanya sedikit”
” Enggak, aku mau mandi” lirih Fatma tapi Kabir meremas buah dadanya lembut dan menindih Fatma kembali. Fatma tidak sadar Kabir meninggalkan bekas kecupan di lehernya, keduanya sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang salah mana yang benar. Terlebih Fatma yang mendapatkan perlindungan dari Kabir membuatnya rela memberikan apa saja, apapun sekalipun harga dirinya.
Pukul 10 malam, Syam pulang karena Syifa menangis. Bu Anggi tidak ragu menggendong dan menyayangi Syifa seperti cucu kandungnya sendiri. Syam mendekati Syifa yang sedang digendong oleh Bu Anggi, Syam belum mendapatkan baby sitter baru. Syifa kadang juga di bawa oleh mama Novi.
” Sini nak” imbuh Syam dan Bu Anggi membiarkan Syifa diambil oleh Syam.
__ADS_1
” Syam, bagaimana? dimana Fatma?" lirih Bu Anggi yang sangat khawatir kepada putrinya. Syam menggeleng kepala dan raut wajahnya benar-benar terlihat sangat sedih.
” Astaghfirullah hal adzim, kamu dimana sebenarnya” imbuh Bu Anggi.
” Aku hanya pulang sebentar, nanti aku cari lagi Fatma bu” kata Syam dan Bu Anggi mengangguk.
” Bubu” tunjuk Syifa saat melihat ibu sambungnya Fatma. Yang dia panggil ibu itu. Syam dan Bu Anggi menoleh.” Bubu”
” Fatma” lirih Bu Anggi dan setengah berlari mendekati Fatma yang baru masuk ke rumah itu.
” Assalamu'alaikum” imbuh Fatma.
” Wa'alaikumus Salaam, kamu darimana aja” suara Bu Anggi sedikit membentak.
” Aku dari rumah nenek” kata Fatma, Bu Anggi memeluk Fatma erat dan Fatma diam. Syam memperhatikan istrinya itu lekat dari ujung kaki sampai ujung kepala.
” Bubu” kata Syifa. Fatma tersenyum lalu mendekatinya.
” Ayo gendong sama ibu” ajaknya dan Syam memberikan Syifa, Fatma juga menyalami tangan suaminya itu lembut.
” Kenapa kamu pergi sembarangan dari rumah sakit?" Syam kesal.
” Maaf” lirih Fatma.
Syam menggeleng kepala dan semua keluarga merasa tenang karena Fatma sudah pulang.
****
Di rumah Naina dan Uwais, Naina sedang bersandar di dada suaminya itu. Keduanya sedang menonton televisi bersama, Uwais mencium rambut istrinya berulangkali. Sangat wangi dan memanjakan hidungnya.
” Kamu pake sampo apaan sih yang?”
” Wangi ya?”
” He'em wangi banget, yang bawah wangi gak?"
” Apaan sih?” Naina menoleh sinis. Dan Uwais tertawa terbahak-bahak melihat istrinya kesal.” Males ah awas”
” Yeah marah”
” Mas awas aku mau tidur”
” Enggak, manjain aku dulu baru tidur”
Naina menggeleng kepala dan Uwais cemberut dan membiarkan Naina berbaring, Uwais juga membaringkan tubuhnya dengan posisi miring sambil memeluk istrinya.
” Mas”
” Hemm?”
” Aku mau foto maternity, kandungan aku kan udah mau 7 bulan kita harus nyiapin semuanya dari sekarang buat syukuran sama maternity” tutur Naina dan memiringkan tubuhnya, sehingga dia berhadapan dengan suaminya. Uwais mengelus perut istrinya lembut, keduanya tertawa saat bayi mereka menendang di dalam sana.
” Iya kita siapkan semuanya dari sekarang”
” Aku mau foto maternity nya di puncak mas, udaranya juga pasti enak disana”
” Sekalian honeymoon” Uwais tersenyum.
” Lagi?” Naina mengernyit heran. Dan Uwais mengangguk. Naina tersenyum lebar.
” Sayang, ayo” tiba-tiba Uwais merengek.
” Apa?”
” Aku mau nengok bayi kita, siap-siap ya, dandan yang cantik.”
” Emang sekarang aku gak cantik?"
” Cantik lah masa enggak, istri aku cantik tapi aku mau saat ini lebih cantik dari biasanya” Uwais tersenyum lalu mengecup bibir istrinya sekilas, Naina tersenyum lebar dan dia turun dari ranjang untuk bersiap, Uwais tersenyum dan dia memilih keluar dari kamar untuk mengambil air soda.
__ADS_1