Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Bertengkar


__ADS_3

Naina mengajak Syam ke belakang rumah, banyak orang di dalam dan Naina merasa belakang rumah adalah tempat paling aman.


” Kamu lihat aku kan mas?” tunjuk Naina memegang kaki sakitnya dan Syam mengangguk.


” Terus kenapa?”


” 11 tahun yang lalu, ini sudah 11 tahun tapi aku belum bisa melupakan kejadian itu dimana aku kecelakaan, keluargaku kecelakaan sampai ibuku meninggal. Kecelakaan maut yang disebabkan oleh orang yang mabuk, seorang pemuda. Karena keluarga ku tidak memiliki uang, kasus di tutup begitu saja dan bekasnya, kaki ini” tutur Naina menjelaskan, Syam terdiam dan menatap istrinya lekat. Syam menelan ludahnya kasar dan kedua matanya gerak-gerak terlihat gelisah.


” Ada orang yang mengincar keselamatan kamu mas, dan aku mau kamu jujur. Kamu pernah terlibat dalam kecelakaan 11 tahun yang lalu? dimana pun itu tolong ingat-ingat” tegas Naina mulai merasa kesal karena suaminya diam.


” Kamu menuduh aku Nai? aku gak tahu apa-apa”


” Jujur mas, aku mau kamu jujur setidaknya kalau kamu jujur aku akan memiliki pertimbangan untuk meninggalkan kamu” lirih Naina dan air matanya menetes deras, Syam ingin mengusap air mata istrinya tapi Naina menolak. Naina menepis tangannya begitu kasar.” Kamu mempertahankan aku karena cinta dan sayang sama aku atau karena kamu merasa bersalah, aku merasa gak pernah mendapatkan cinta dan sayang dari kamu. Kamu kasar sama aku, kamu hina aku dan sekarang bapak, keluarga aku udah tahu. Kalau udah begini gimana caranya? semuanya akan terasa canggung”


” Aku sayang dan cinta sama kamu Naina, aku harus apa untuk membuktikan hal itu?”


” Kamu harus jujur, hanya itu yang harus kamu lakukan mas”


Syam terdiam dan Naina mundur menjauh, lalu berbalik tidak mau menatap suaminya. Dia mendapatkan jawaban secara tidak langsung dari diamnya Syam dan malah bertele-tele membuatnya kesal, sikap kasar Syam selama ini padanya membuat Naina merasa menemukan jawabannya saat ini. Syam hanya merasa iba padanya. Syam maju dan memeluk istrinya itu erat.


” Aku sayang sama aku, oke aku jujur aku bakal jujur tapi tolong jangan tinggalin aku” lirih Syam sembari menutup matanya. Naina diam dan menunggu jawaban atas pertanyaannya.


” Aku pernah terlibat dalam masalah kecelakaan, ya 11 tahun yang lalu. Sumpah Naina, aku tidak sengaja meninggalkan mu dan ibu kamu saat itu. Aku menyesal Nai, aku benar-benar menyesal. Aku sadar kalau kamu itu gadis yang sama setelah aku melihat foto ibu kamu di rumah kamu, wajahnya tidak pernah hilang dari ingatanku. Tapi aku bersumpah bukan semuanya salah aku Nai, aku tidak sendirian saat itu.” Syam menangis dan air matanya jatuh ke pucuk kepala Naina, Naina tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menangis lalu melangkah pergi. Naina tidak masuk, melainkan dia benar-benar ingin pergi dan membutuhkan waktu sendirian saat ini. Syam tidak mau kehilangan Naina pun menyusulnya tapi Naina menolak dan tidak mau diikuti oleh suaminya.


” Jangan pergi Nai”


” Biarkan aku sendiri dulu mas, aku mohon. Tolong, apa aku harus memohon supaya kamu mau melepaskan aku?"


” Lepas seperti apa maksudnya, kamu milikku Naina dan tidak akan pernah aku melepaskan kamu” Syam setengah berteriak dan Naina melangkah mendekati supir.


” Pak, tolong antarkan barang-barang saya ke toko. Bu Sumi yang akan memberikannya” pinta Naina dan supir mengangguk. Syam menggeleng kepala dan Naina menoleh.


” Tegas kamu mas ninggalin keluarga aku yang sedang terluka” lirih Naina.


” Aku minta maaf Nai”


” Iya tapi aku mau sendiri” tegas Naina.


” Enggak, gak boleh. Mau ngapain kamu keluar mau ketemuan sama Ali atau Rizal terus siapa lagi yang suka sama kamu itu di luar sana” Syam berteriak-teriak sampai semua orang di dalam sana keluar karena mendengar keributan, mama Novi dan ayah Rahman melangkah mendekati keduanya yang sedang bertengkar entah karena apa.


” Berhenti menuduh aku mas, aku gak punya hubungan sama siapapun dan aku gak pernah berniat untuk mengkhianati kamu. Aaaghh sakit, lepas mas” Naina merasa ngilu di bagian bahu dan lengannya karena di tahan Syam terlalu kuat.


” Syam lepas, Naina kesakitan. Gila kamu” maki ayah Rahman tapi Syam tidak mau melepaskan Naina. Padahal Naina sudah benar-benar tidak kuasa menahan sakit.


” Lepas!”


Plak! tamparan keras mendarat di pipi kiri Syam, mama Novi menampar anaknya agar melepaskan gadis malang itu.


” Mama” lirih Naina dan mama Novi menahan Naina di belakang punggungnya.


” Naina baru saja kehilangan bayinya, tega kamu menyakiti Naina lagi” mama Novi benar-benar merasa gagal dalam mendidik anak laki-lakinya itu.


” Ada apa sebenarnya Naina?” ayah Rahman bertanya. Naina akhirnya menceritakan semuanya dan Syam memegang pipinya sambil menatap Naina yang sedang menceritakan segalanya itu dengan tatapan tajam, ayah Rahman ataupun mama Novi sama sekali tidak tahu jika keluarga Naina adalah korban Syam dan teman-temannya. Ayah Rahman bahkan meminta pengacaranya untuk memberikan uang untuk biaya pengobatan tapi ternyata uang tersebut hanya sampai beberapa lembar dan lebih banyaknya di gunakan oleh Syam.

__ADS_1


” Aku izin untuk pergi sebentar, aku butuh waktu sendiri. Hanya di toko, aku minta maaf karena gak bisa menegur mas Syam untuk tidak bermain-main dengan kata-kata cerai. Sudah dua talak yang mas Syam katakan, mama dan ayah adalah orang tua. Lebih paham, itu sebabnya aku belum mau melayani suamiku sendiri karena mas Syam tidak mengatakannya keinginannya untuk rujuk bersamaku dan sibuk dengan keluarga harmonis nya. Aku minta maaf karena membuat keluarga ini kecewa, aku gagal menjaga kehamilan ku. Aku minta maaf” lirih Naina panjang lebar dan melangkah mendekati bibi yang sudah mengemas tas berukuran besar. Mama Novi menangis dan memukuli bahu Syam sekuat tenaga, nenek Wilda melepaskan sandalnya dan dia lemparkan ke punggung cucunya itu.


” Lihat Naina, itu urusan kita berdua. Tidak seharusnya kamu membeberkan semua ini kepada keluarga, kamu keterlaluan Naina. Kamu menghinaku, aku juga sudah malas melihat kamu Naina. Kamu yang tidak bisa menghargai suami, dan biasanya menyepelekan seorang suami tidak pantas hidup lebih lama lagi sama aku. Aku talak kamu Naina Inayah, talak tiga. Dan kita sudah selesai sampai disini” kata Syam dan mama Novi dan semua orang terkejut. Syam meringis saat ayah Rahman memukulinya.


” Istighfar, istighfar Syam. Tarik ucapan kamu itu, kamu akan menyesal Syam” bentak ayah Rahman tapi Syam tidak mau.


” Aku sudah menceraikannya, terserah dia mau kemana. Pergi sana dan seret kaki pincang mu itu” usir Syam dan menatap Naina tajam, Amira menyeringai lebar dan hanya dirinya dan Syifa yang berhak atas Syam sekarang.


Bug bug bug nenek Wilda memukuli punggung Syam dan setelah itu pingsan tidak sadarkan diri.


” Assalamu'alaikum” lirih Naina berpamitan. Dia melangkah meninggalkan kediaman mertuanya dengan kedua mata yang terus berlinang air mata. Nenek Wilda di bopong masuk ke dalam rumah dan mama Novi berlari menyusul Naina.


” Naina sayang, ayo nak pulang nak. Mama akan mengusir Syam dan kamu jangan pergi sayang, ayo sayang pulang sama mama nak” ajak mama Novi seraya menarik-narik tas Naina dan tidak membiarkan Naina pergi.


” Mama jangan begini, ayo Mama pulang ini sudah sore. Do'ain Naina ya ma, Naina minta maaf kalau Naina banyak salah selama ini” lirih Naina dan mengusap air matanya.


” Enggak Nai ayo pulang”


” Mama, Naina mohon jangan begini. Naina pamit assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam” lirih mama Novi menjawab dengan suara serak dan menatap kepergian menantunya. Mama Novi kembali ke rumah dan meminta supir untuk mengikuti kemana Naina pergi jika menantunya mau mama Novi meminta untuk mengantarkan Naina kemanapun yang dia inginkan.


” Syamsul pergi kamu, Amira dan bawa anak itu juga. Itu bukan cucuku, jika Naina tidak tinggal disini maka wanita sialan itu juga tidak boleh tinggal termasuk kamu” usir ayah Rahman dengan tegasnya.


” Ayah, aku anakmu ayah” lirih Syam panik karena pertama kalinya ayahnya mengusirnya.


” Seorang pria sejati, taat, menghargai perempuan dan tidak mempermainkan pernikahan itulah anakku. Sementara kamu? kamu siapa?" lirih ayah Rahman benar-benar tidak mau melihat Syam lagi. Kurang apa dan apa sebabnya anak laki-lakinya menjadi pribadi seperti itu, mama Novi juga sudah tidak bisa berbicara lagi, mama Novi hanya menangis.


” Ayah, mama. Aku menantu kalian, Syifa tidak tahu apa-apa aku mohon jangan usir kami” Amira memelas tapi keputusan ayah Rahman sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


Syam menatap neneknya lekat berharap mendapatkan bantuan.


” Pergi kamu, Naina kurang apa? dia juga cantik. Kamu membuang wanita Sholehah dan cantik dan taat hanya untuk Amira, gila benar-benar gila kamu” maki nenek Wilda dengan nafas yang tersengal-sengal dan terus menunjuk ke arah pintu. Syam akhirnya menyerah karena tidak ada yang mau membelanya.


*****


Malam semakin larut, Naina terus melangkah setelah keluar dari masjid melaksanakan sholat magrib dan isya. Dia malas untuk naik angkutan umum dan memilih berjalan dan merasakan hembusan angin kasar yang menerpa kulit wajahnya, Naina menengadah ke atas dan tetesan air hujan jatuh di wajahnya semakin kencang dan semakin deras. Naina tidak perduli dan mengancingkan jaketnya. Naina berhenti melangkah saat melihat sepeda motor berhenti dan membuatnya silau karena lampu motor tersebut. Naina terus melangkah menundukkan kepalanya.


” Bu Nai, sedang apa disini?” tanya Rizal dan Naina berhenti melangkah.” Kenapa basah? Bu Naina sengaja hujan-hujanan?”


Naina diam dan menatap Rizal lekat, bibirnya bergetar dan air matanya bercampur dengan air hujan.


” Aku diceraikan, sudah talak tiga. Aku harus apa Rizal?” lirih Naina dan Rizal terkejut.


” Apa? bang Syam menceraikan ibu hanya untuk wanita sinting itu? keterlaluan” maki Rizal tidak terima.” Aku antar pulang ayo, tidak akan aku biarkan wanita sialan itu menggeser posisi ibu”


” Sudah talak tiga, tidak bisa Rizal. Kamu paham tidak sih sebenernya, benar-benar percuma ngomong sama kamu” Naina semakin kesal dan semakin sedih lalu melangkah pergi meninggalkan Rizal yang mendorong motornya dan mengikuti Naina.


Sementara itu, Ali juga terkejut melihat Naina yang dikejar seorang pemuda dari belakang. Ali menepikan mobilnya dan hendak turun tapi ponselnya bergetar dan panggilan masuk dari Mirza. Ali memakai headset dan mengemudikan mobilnya pelan.


” Ali kamu sering berkomunikasi sama Naina?” tanya Mirza ketus.


” Wa'alaikumussalaam, sudah bagus-bagus mengucapkan salam lebih dulu malah main semprot. Aku gak pernah berkomunikasi sama Naina, aku baru bertemu dua kali disini, satu kali di pernikahan mas waktu itu”

__ADS_1


” Maaf, assalamu'alaikum”


Ali tersenyum lebar mendengarnya.


” Ayah mertuaku sedang sakit, mendengar Naina di ceraikan terus nama kamu di sebut-sebut Ali”


” Ali yang lain mungkin, kan nama Ali banyak. Naina juga tidak mungkin seperti itu”


” Kamu kan yang bilang bertemu sama Naina, Ali mana lagi kalau bukan kamu”


” Hemm” hanya berdehem dan terus menyetir perlahan mengikuti Naina.


” Ya sudah jangan macam-macam kamu ya Ali”


” Astaghfirullah hal adzim” Ali mengusap wajahnya.


” Jangan macam-macam ingat, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumussalaam”


Ali menggeleng kepala dan dia keluar dari mobil membawa payung dan melihat pemuda yang mengikuti Naina merebut tas Naina paksa.


” Pulang sana, sudah malam” titah Naina kepada Rizal dan Rizal menggeleng kepala.


” Kalau ibu diculik gimana? aku antar ayo” Rizal menyalakan motornya tapi tidak lama motornya mati.” Sialan”


” Rizal!” tegur Naina saat mendengar Rizal mengumpat. Rizal hanya tersenyum lebar, Naina menoleh saat tubuhnya tidak tertimpa air hujan kembali dan melihat Ali memayungi dirinya sementara Ali basah.


” Assalamu'alaikum. Ini sudah malam, kenapa masih di jalan? mau kemana? anak ini menganggu?” tanya Ali dan Rizal mendengus sebal.


” Wa'alaikumussalaam”


” Anak? siapa yang kamu panggil anak tidak lihat aku sebesar ini”


” Emm tidak, ini murid ku. Kami tidak sengaja bertemu, begitu” Naina menjelaskan dan memperhatikan Ali yang mengusap rambut basahnya ke belakang.


” Motornya mogok” kata Rizal dan Naina tersenyum.


” Aku bisa pulang sendiri”


” Biar aku antar kalian berdua, ayo” ajak Ali.


” Tak mau” kata Rizal menolak.” Ayo ibu aku antar pulang”


” Aku bisa sendiri”


” Naina, ini sudah malam. Ini jam 9 malam, jika kamu kenapa-kenapa aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Ayo, aku antar bersama anak ini juga. Tinggalkan saja motornya” goda Ali dan membuat Rizal kesal.


” Rizal kita cari bengkel, kita titip motor mu disana”


” Bu, kalau motor ku hilang gimana?”


” Ada bengkel teman ku disana, tidak jauh. Aku antar dan titip di sana, Naina sebaiknya kamu menunggu di mobil” kata Ali dan memberikan kunci mobilnya kepada Naina. Rizal menyunggingkan bibirnya melihat pria itu begitu terlihat akrab sampai tidak ragu memberikan kunci mobilnya.

__ADS_1


” Baru berapa jam menjadi janda, kenapa saingan ku yang model beginian. Aduh” gumam Rizal.


__ADS_2