
Naina sudah berdiri di depan pintu kamar mertuanya, Naina ragu untuk memanggil ataupun mengetuk pintu. Namun dia tak tega mendengar suara isakan tangis ibu mertuanya, pagi ini Syam tidak ada karena Syam pergi ke sebuah kota dan mengatakan akan pulang malam hari. Naina diberikan tanggung jawab untuk menjaga ibunya, mama Novi sering sakit-sakitan sekarang. Beban yang ditanggung anak laki-laki Syam seperti batu besar yang berada di bahunya, sebuah penyesalan saat mama Novi teringat bahwa dirinya selalu memanjakan Syam dan membuat Syam menjadi pribadi yang manja, kasar dan semaunya sendiri. Semua keinginannya harus bisa dia dapatkan bagaimana pun caranya.
” Naina" panggil ayah Rahman dan Naina menoleh.” Biar ayah saja, kamu harus siap-siap untuk mengajar kan?" kata ayah Rahman dan Naina mengangguk. Naina pergi lalu menoleh saat ayah Rahman masuk ke kamar untuk menenangkan istrinya, Naina menjadi malas untuk sarapan dan dia memutuskan untuk memakan sarapannya di jalan saja.
Di kamar, ayah Rahman memeluk istrinya erat dan menepuk-nepuk bahu istrinya.
” Mama harus sabar ya ma" kata ayah Rahman dan mama Novi terus menangis.
” Mama sakit hati, apa Amira tidak pernah diajarkan sopan santun oleh orang tuanya?” mama Novi kesal.
” Hush jangan berbicara seperti itu ma, kita juga belum tentu baik dalam urusan anak" kata ayah Rahman dan mama Novi terus terisak-isak pelan.” Biarkan saja dia mau bicara apa, mama harus bisa menahan amarah dan sebaiknya menghindar saat ada Amira” ayah Rahman memberikan usul, dia juga sakit hati melihat mama Novi menangis sampai seperti itu.
****
Siang hari di kediaman Miko, Miko pulang walaupun harus meninggalkan pekerjaannya. Dia syok saat mendengar kabar Amira menikah dengan Syam yang sudah memiliki Naina bahkan Amira sudah hamil. Ada kecurigaan terhadap Amira bahwa anak yang Amira kandung adalah anaknya bukan anak Syam, Miko bahkan menghitung usia kehamilan Amira dari kejadian malam yang indah dan berdosa itu.
" Miko?” lirih ibunya saat melihat Miko masuk ke dapur dimana ibunya sedang membuat kue karena Rafli ingin kue kering.
” Mamah" Miko langsung memeluk ibunya erat dan ibunya membalas pelukannya. Keduanya saling merindu karena berjauhan, Miko bahkan sulit dihubungi dan membuat ibunya khawatir sampai meminta orang untuk mencari tahu apa kegiatan anaknya sampai lupa kepada keluarga.
” Kenapa kamu susah dihubungi Miko!" ibunya kesal lalu memukul dada anaknya itu, Miko tersenyum tipis lalu mengambil satu kue kering di atas nampan dan memakannya.
" Aku sibuk mama, aku pulang juga karena ada pekerjaan” Miko duduk di tepi meja sambil memikirkan Amira.
” Kamu bahkan gak datang saat Amira menikah, kalian sangat dekat mama sudah bilang sama Amira kalau kamu sibuk dan gak bisa datang" tersenyum lebar seraya mengusap-usap bahu lebar anaknya. Miko mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
****
Kelas bubar setelah Naina keluar, Naina tidak akan langsung pulang maupun ke toko setelah dari sekolah. Dia memiliki janji dengan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu karena sahabatnya pindah ke kota lain selama satu tahun untuk mencari ketenangan dan sekarang sahabatnya kembali ke ibukota dan tinggal kembali di ibu kota.
” Bu Naina” panggil Rangga dan Naina menoleh.
" Iya pak ada apa?” Naina melirik kartu undangan pernikahan ditangan Rangga.
” Saya akan menikah Minggu depan, saya harap Bu Nai bisa hadir ini kartu undangannya. Hanya Bu Nai yang belum saya kasih" kata Rangga dan Naina menerima undangan pernikahan tersebut.
” Alhamdulillah, semoga lancar ya pak.” Kata Naina begitu senang dan bahagia akhirnya Rangga akan menikah." Saya permisi” kata Naina seraya melangkah pergi dan Rangga mengernyit heran. Apa Naina benar-benar tidak memiliki sedikitpun ketertarikan kepadanya, padahal dia juga manis dan tampan dan Naina malah bahagia menerima undangan pernikahannya.
Di restoran.
Naina menunggu sahabatnya yang sedang dalam perjalanan menuju restoran, Naina menunggu dengan sabar dan dia terlihat pucat karena terlalu lelah dan telat makan pagi ini. Naina merasakan getaran dari dalam tas yang sedang dalam pangkuannya. Naina buru-buru melihat pesan masuk atau panggilan masuk yang membuat ponselnya bergetar.
Naina mengetikan beberapa kata hendak membalas pesan dari suaminya.
Waalaikumsalam, aku lagi di restoran mas mau ketemu sahabat aku yang aku ceritain kemarin sama kamu. Balas Naina.
Naina tersenyum dan melambaikan tangan kepada sahabatnya yang juga sedang hamil. Naina bangkit lalu berpelukan dengan sahabatnya.
” Bagaimana kabar kamu Naina?" Kiran bertanya dan tatapannya langsung ke perut Naina. (Kiran Malik Harsya, kurang lebih sudah dua tahun bersahabat dengan Naina berawal dari Kiran yang selalu membeli koleksi baju muslimah di toko Naina).
” Alhamdulillah, kamu gimana? aku bahagia kamu kembali tinggal di ibu kota" Naina tersenyum dan Kiran juga tersenyum. Kiran pindah selama satu tahun karena Andrian yang memang sibuk dengan kantor baru dan permasalahan di pabrik membuat Kiran tidak kuasa jauh-jauh dengan suaminya ataupun Andrian yang harus bolak-balik ke ibukota.
__ADS_1
" Aku baik" Kiran tersenyum lalu meraih tangan Naina, Naina sama sekali tidak terlihat baik-baik saja dan Kiran bisa melihat itu. Sahabatnya Naina sedang sedih dan hancur karena pernikahan Syam dan Amira. Walaupun Syam tidak salah tetap saja poligami sangat menyakitkan. ”Jujur Naina, aku bangga sama kamu" lirih Kiran.
” Kenapa?" Naina bingung.
” Kamu sangat sabar, kalau aku mungkin sudah mengajukan perceraian sama suami aku" lirih Kiran sedih atas apa yang sedang dialami Naina.
” Aku hanya berusaha untuk menerima takdir Kiran, lebih dari itu aku juga gak mampu” Naina tiba-tiba meneteskan air matanya dan dengan sigap Kiran mengusapnya.
” Aku sudah disini, katakan semuanya padaku. Aku gak percaya sama berita simpang siur di masyarakat. Aku hanya bisa berdoa semoga kamu tetap bahagia walaupun dalam keadaan seperti ini kamu pasti kuat Naina. Kamu wanita yang sangat hebat" Kiran mengusap bahu lalu menekan kepala Naina agar bersandar di bahunya, benar saja tidak lama air mata Naina tumpah dan tidak bisa Naina menahannya. Dia hanya pura-pura tegas dan terus merasakan sakit saat mengingat suaminya bukan hanya miliknya seorang.
****
Di tempat lain, Amira tidak bisa berdiam diri dia harus bekerja kembali agar mendapatkan uang karena uang dari Syam tidak cukup untuknya. Namun sayang, semua perusahaan tidak bisa mengontrak seorang model yang sedang trending karena menjadi istri kedua dan memang tidak ada yang mau menerima Amira.
” Untuk iklan yang kecil-kecil pun aku gak masalah pak" pinta Amira seraya merengek-rengek kepada seorang pria yaitu seorang manager.
” Gak bisa Amira, gak ada yang mau. Kamu terima saja kalau karir kamu sudah berakhir dan dengan mudah digantikan oleh model yang lebih cantik dan lebih seksi dari kamu" kata pria tersebut dan Amira mendelik sebal.
” Sekali saja" pinta Amira." Apapun itu mau menjadi model apapun atau iklan apapun aku gak masalah" Amira terus memohon.
Tatapan pria tersebut berubah dan Amira diam, mata pria itu tertuju pada dua gundukan gunung kenyal yang terlihat belahannya. Amira langsung kesal dan menyiram wajah pria itu dengan minumannya.
” Dasar mesum" maki Amira lalu bangkit dari duduknya.
” Jangan jual mahal kamu Amira, lakukan saja nanti kamu dapat uang” katanya seraya memberikan kartu namanya yang tercatat alamat rumah nya disana. Amira membuang kartu nama tersebut ke lantai.
__ADS_1
” Jangan macam-macam” tegas Amira sambil mengacungkan jari telunjuknya. Lalu dia melangkah pergi meninggalkan kafe tersebut.