Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Sabar


__ADS_3

Syam yang mendapatkan kabar istrinya terluka parah dan dilarikan ke rumah sakit buru-buru meninggalkan pekerjaannya dan menuju rumah sakit bakti Husada. Syam mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, kedua matanya merah dan berair. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya, dia khawatir kepada Naina dan bayi yang sedang dikandung istrinya. Mendapatkan kabar Naina jatuh dari tangga membuat Syam berpikiran yang tidak-tidak, tapi dia masih berharap keduanya bisa selamat. Istri dan bayinya bisa selamat atas pertolongan Allah.


*****


Waktu berlalu, Syam hanya bisa menundukkan kepalanya dan menangis. Semua keluarga yang ikut menunggu juga terlihat hening, semuanya tidak berani mengeluarkan suara dan menunggu Naina sadar. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Syam mengangkat kepalanya dan menatap ayah ibu, kakak dan neneknya.


” Kalian pulang saja, sudah subuh. Aku yang akan menjaga Naina” pinta Syam lirih, ayah Rahman menepuk bahunya dua kali.


” Sabar, jangan berbicara yang aneh-aneh kepada Naina" pinta ayah Rahman dan Syam mengangguk.


” Jangan kasar sama Naina, ini takdir. Jangan marah padanya, jangan sakiti dia Syam” seru mama Novi dan Syam diam.


” Mama, ayah sama nenek pulang saja. Aku yang temani Syam disini” imbuh Tari.


” Ya sudah, temani adik kamu" mama Novi mengusap bahu Tari dan Tari mengangguk. Akhirnya semuanya pulang, Syam duduk kembali dan Tari mengusap-usap bahunya. Tari diam dan menatap wajah Syam yang terlihat sedih, kecewa dan bingung. Syam menoleh saat pintu kamar rawat dimana istrinya berada terbuka, perawat dan dokter memberitahu jika Syam suami Naina bisa masuk. Hanya saja kondisi Naina masih lemah dan syok. Syam masuk dan Tari menunggu di luar. Naina yang sedang berbaring dengan wajah pucat, bibir membiru itu melirik suaminya. Naina memegang perutnya. Dan Syam melangkah mendekatinya.


” Mas” lirih Naina sambil menangis.


” Kenapa kamu bisa jatuh, kalau jalan itu lihat-lihat Naina. Anak kita sudah tiada, kamu ini memang tidak pernah bisa hati-hati...” Syam mengepalkan tangannya dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Naina keguguran.


” Mas aku minta maaf, aku juga gak mau ini terjadi. Aku sudah hati-hati mas, tolong jangan begini aku sedang butuh kamu mas. Aku butuh dukungan kamu hiks...” Tangisan Naina semakin menjadi, dia ingin dipeluk dan ditenangkan saat ini dan bukan sebaliknya. Syam menarik kursi kasar dan duduk di sebelah ranjang memperhatikan Naina yang menangis.


” Aku kecewa sama kamu Naina"


” Ini takdir mas, aku gak bisa apa-apa. Aku mohon jangan berbicara seperti itu”


” Lalu aku harus apa Naina? aku kehilangan anakku, anak kita. Dan itu gara-gara kamu yang gak bisa hati-hati”


” Mas ..” Naina benar-benar kecewa dan menatap Syam lekat. Begitu mudahnya Syam memaki dan menyalahkannya, itulah kebiasaan buruk Syam sebagai seorang suami yang tidak memiliki pemikiran yang baik.


” Diam kamu" bentak Syam dan Naina tersentak kaget mendengarnya.


Di luar, Tari yang mendengar suara Syam begitu tinggi dan terdengar berulang kali memaki Naina serta tangisan Naina yang menjadi-jadi membuatnya khawatir. Tari mengintip dari balik kaca jendela dan benar-benar merasa iba melihat Naina menangis dan Syam yang tidak bisa menerima memakinya.


” Tari” panggil Asil yang baru datang bersama Rizal yang mengantarnya, Rizal memang sudah seperti adiknya sendiri dan selalu mengantarnya kemana-mana dan anak-anaknya.


” Mbak, akhirnya mbak datang. Kasihan Naina mbak, dia jatuh dari atas tangga” tutur Tari. Rizal mengintip ke dalam kamar rawat dan tidak lama dia duduk bersebelahan dengan Asil.


” Kenapa bisa jatuh?”


” Enggak tahu, Naina keguguran. Bayinya sudah 7 bulan, Naina pasti sangat sedih”


” innalillahiwainnailaihirojiun” imbuh Rizal dan Asil saat mendengar kabar duka tersebut.


Ketiganya diam menunggu sampai Syam selesai berbicara di dalam sana, Rizal mendengus sebal saat mendengar makian Syam. Bisa-bisanya Syam memaki pujaan hatinya, begitulah isi hati pemuda itu. Tidak lama Syam keluar dan membanting pintu.

__ADS_1


" Syamsul gila kamu” maki Asil yang tidak terima Naina diperlakukan seperti itu.


” Gak usah ikut campur mbak” ketus Syam dan ingin pergi tapi Asil mencengkram kuat bajunya.


” Aku juga perempuan, aku juga pernah keguguran. Harusnya kamu hibur istri kamu Syam, gila kamu sampai ngomong kasar sama Naina. Kedengaran sampai ini, Istighfar. Dimana hati nurani kamu, kamu gak cinta sama Naina? kamu gak sayang sama istri kamu?" Asil kesal dan memukuli lengan besar adiknya itu.


” Aku juga perempuan, seorang ibu. Sampai kapan kamu akan seperti ini” Asil terus memukul tangan adiknya dan Syam tidak perduli, Syam mengeluarkan ponselnya dan mendengar kabar bahwa Amira sedang dibawa menuju ke rumah sakit karena mengalami pecah ketuban.


” Aku tunggu di luar” kata Syam kepada Hamdan yang membawa Amira bersama supir.


” Syamsul” teriak Asil dan Syam tidak perduli dan malah lari meninggalkannya. Tari dan Asil akhirnya masuk ke dalam ruangan, Rizal memilih menunggu di luar. Bukan saatnya dia menggoda wanita yang dia cintai yang sedang bersedih itu.


” Mbak” lirih Naina saat Asil mendekatinya. Naina terus menangis membuat Asil dan Tari saling menatap lekat.” Mas Syam kemana mbak?”


” Dia pergi Nai, kamu gak usah nangis terus. Kamu harus banyak istirahat Naina” Asil menangis melihat kondisi Naina dan Naina terus memeluknya. Tari pergi untuk melihat kemana Syam pergi, mendengar Syam yang berucap akan menunggu di luar, sudah pasti di luar rumah sakit.


Tari terkejut melihat suaminya dan Syam yang sedang menggendong Amira, tidak lama perawat datang dan Syam membaringkan tubuh Amira untuk segera dibawa. Syam mengusap keringat di wajahnya, dia gemetar ketakutan melihat jeritan dan rintihan Amira. Menahan rasa sakit yang amat sangat luar biasa sesaat akan melahirkan, itulah kodrat wanita.


” Naina nangis tuh” kata Tari.


” Biarkan saja dia, biar mikir”


” Gila kamu Syam, Naina sedang berduka. Dia kehilangan anaknya”


” Itu juga anakku, apa mbak pikir aku baik-baik saja sekarang” bentak Syam dan Tari diam membisu tidak berani mengeluarkan kata-kata lagi. Hamdan diam saat Tari menoleh padanya.


*****


” Mbak, biar aku suapi” imbuh Ai dan Naina menoleh.


” Enggak usah, aku juga udah kenyang. Ai kamu boleh pulang, biar toko tutup dulu. Kamu istirahat ya”


” Aku mau disini aja jagain mbak Nai, keluarga aku juga udah ngasih izin. Mbak gak usah khawatir, ada aku” lirih Ai dan tangisan Naina semakin deras.


” Terima kasih, sudah mau merawat aku. Kamu gadis yang baik Ai, semoga Allah membalas semua kebaikan kamu”


” Aamiin mbak”


Naina tersenyum dan meminta Ai untuk membawanya ke taman, dia ingin mencari udara segar untuk membuatnya tenang. Sementara di kamar rawat Amira, Syam sedang menggendong anak perempuan berkulit putih dan sangat cantik itu di pangkuannya. Syam lupa jika ada istrinya yang lain sedang berduka saking bahagianya dia menjadi seorang ayah walaupun anak tersebut adalah anak sahabatnya bukan anaknya sendiri. Mama Novi menggeleng kepala melihat Syam yang begitu menyayangi bayi mungil yang memang tidak berdosa itu, tapi hal tersebut membuat Amira semakin besar kepala. Amira menjalani operasi sesar.


” Aku akan menjaga anakmu, anakmu yang sangat cantik ini. Miko" gumam Syam dan mengelus pipi bayi perempuannya lembut.


” Syam, mama mau lihat Naina. Ayo” ajak mama Novi dan Syam menoleh.


” Syam aku mau makan, suapi aku” kata Amira yang tidak mau membiarkan suaminya pergi dan meninggalkannya serta bayinya.” Naina sudah gagal menjaga kehamilannya, untuk apa kamu menemui dia Syam. Bayi kita nanti menangis kalau kamu pergi" imbuhnya kembali membujuk, Hamdan tersenyum tipis melihat akting dari Amira yang luar biasa sementara dirinya harus mengurus cctv dan membersihkan minyak yang ada di tangga, dia membersihkan dan mengurusnya saat semua orang pergi ke rumah sakit dan menyuap para pelayan yang melihat apa yang dia lakukan.

__ADS_1


” Mama disini saja, mama belum menggendong anakku. Aku akan memberikannya nama yang terbaik, Syifa Anggraini Ibrahim” ucap Syam dan terus menatap bayinya. Mama Novi menggeleng kepala dan tidak mau menyentuh bayi yang bukan cucunya itu.


” Ya sudah mama pergi dulu” mama Novi akhirnya pergi dan Amira mengerucutkan bibirnya.


” Cantik sekali” puji Tari melihat bayi perempuan itu.


***


Di taman, Naina duduk di kursi roda dan meminta Ai untuk membeli makanan keluar. Semata-mata karena dia juga ingin sendirian, Naina meneteskan air matanya. Semua orang yang melihatnya hanya penasaran tidak berani menegur.


” Kondisi lambung mu baik-baik saja, kamu hanya kurang istirahat” imbuh seorang dokter laki-laki kepada pasiennya sekaligus sahabatnya.


” Apa aku harus kontrol lagi?” tanya pasien tersebut khawatir.


” Kamu bisa menghubungi ku kapanpun jika merasa sakit lagi, jangan sampai telat makan, hindari makanan pedas asam dan semua yang sudah sering aku sebutkan”


” Iya aku masih ingat" menjawab sambil tersenyum lebar. Naina menoleh saat mendengar suara yang dia kenali, Ali terdiam melihat wanita yang dia kenali dengan wajah pucat dan sendirian. Naina terus menatap Ali, ingin pergi tapi dia tidak memiliki cukup tenaga.


” Dia teman mu Ali?”


” Ya, dia teman ku. Terima kasih, akan aku hubungi nanti jika aku mengalami masalah lagi” kata Ali kepada sahabatnya itu dan dokter tersebut pergi, meninggalkan Ali. Ali melangkah mendekati Naina dan Naina memalingkan wajahnya.


” Naina, kenapa disini? perutmu?” lirih Ali saat melihat perut Naina tidak terlihat seperti sebelumnya, apa mungkin gadis itu sudah melahirkan tapi kenapa terlihat sangat sedih.


” Saya keguguran, jangan bilang-bilang sama mas Mirza karena sudah pasti mas Mirza bakal bilang sama keluarga saya mas” pinta Naina dan Ali terkejut mendengarnya.


” innalillahiwainnailaihirojiun, saya turut berduka Naina. Saya tidak akan bilang sama mas Mirza” kata Ali lirih merasa kasihan dan melihat tatapan Naina kosong. Ali melangkah lagi dan tidak berani duduk.


” Kenapa sendirian? dimana suami kamu?”


” Dia sedang berbahagia atas kelahiran anaknya dari wanita lain” jawab Naina dan Ali terdiam. Keningnya mengerut dan tidak paham dengan ucapan Naina.” saya bingung mas, saya harus bilang apa sama bapak. Mas Ali juga kenal kan sama bapak saya”


Ali menatap wajah Naina dari samping itu lekat, Naina menceritakan segalanya padanya padahal dia dan Naina tidak sedekat itu. Tapi Ali paham, sikap spontan Naina adalah sikap seseorang yang sedang mengalami stress berat.


” Sabar, berdoa, semoga kamu bisa hamil lagi jika sudah waktunya dan jika sudah ada rezekinya. Dan, lebih baik jujur. Orang tua sangat mengidam-idamkan kehadiran cucu, jika terus disembunyikan lebih lama itu akan semakin membuat kecewa” kata Ali dan menatap lurus ke depan saat Naina menoleh padanya.


” Saya mau tanya sama mas Ali”


” Mau nanya apa?”


” Kenapa mas Ali membeli barang-barang lusinan dari saya sementara harga di grosir jauh lebih murah, dan bukannya mas Ali punya pabrik jahit sendiri?” Naina bertanya karena dia tiba-tiba ingat dengan Ali yang memborong dagangannya, saat Naina dan Mirza masih berhubungan, Mirza yang mengatakan kepada Ali bahwa Naina butuh uang saat itu dan Aku berinisiatif untuk membeli dan memborong dagangan Naina. Padahal Naina dan Ali belum pernah bertemu saat itu, dan hanya beberapa kali Mirza menceritakan Ali kepada Naina.


” Itu sudah lama, tidak perlu di bahas. Katakan saja sama keluarga di kampung, itu lebih baik” jawab Ali dan Naina mengangguk, Ali mengambil kantung plastik berisi minuman dan roti dan membaginya bersama Naina. Naina kesusahan membuka botol susu cokelat itu dan Ali membantunya. Naina percaya kepada Ali karena dia yakin Ali orang baik, dan juga takut jika Ali mengadu kepada Mirza.


” Terima kasih” lirih Naina dan memakan rotinya, meminum susunya. Naina melihat Syam memperhatikan dari kejauhan, Naina tidak perduli dan kecewa kepada suaminya yang lebih memilih bersama dengan Amira dan bayi anaknya Miko ketimbang menemaninya yang sedang sedih karena keguguran. Ali diam tidak berani berbicara karena Naina juga diam, Syam berbalik pergi dan memilih kembali untuk melihat bayinya ketimbang melihat Naina yang sudah membuatnya kecewa.

__ADS_1


” Naina, aku permisi. Jaga dirimu baik-baik, semoga kita bertemu lagi.” Tutur Ali dan bangkit dari duduknya.


” Aku mohon jangan bilang sama mas Mirza, aku sendiri yang akan menelepon keluargaku” pinta Naina dan Ali mengangguk


__ADS_2