
Sudah sore Syam dan Amira belum juga pulang, Naina yang khawatir akhirnya menyusul keduanya. Syam memberikan kabar kepada Naina dua jam yang lalu, dan memberitahu di rumah sakit mana dia dan Amira berada. Naina sedang menunggu taksi yang sudah dia pesan, tapi tak kunjung terlihat. Naina mendelikan matanya saat melihat Romi berhenti dan berjalan ke arahnya.
” Bu Nai ngapain? sudah sore sebentar lagi Magrib” kata Romi dan Naina menatapnya sekilas.
” Saya lagi nunggu taksi” jawab Naina dan ponselnya berdering.
” Iya pak assalamualaikum. Saya sudah nungguin pak, kenapa lama ya?" Naina mengangkat telepon dari pengemudi taksi online yang tak kunjung sampai.
Naina membuang nafas kasar merasa frustasi, karena mendengar kabar tidak baik. Supir tidak bisa datang dan meminta Naina untuk membatalkan jasanya. Naina akhirnya hanya bisa mengelus dada, Romi memperhatikannya. Dan Naina pun selesai berbicara dengan supir taksi.
Bug.. Kedua mata Naina membulat saat Romi terdorong dan memeluknya, menahan Naina agar tidak jatuh karena terdorong olehnya.
” Astagfirullah hal adzim, pak" Naina mendorong Romi dan Romi juga panik.
” Maaf Bu, saya terdorong tadi. Ada yang mendorong saya" Romi menyapu sekeliling berusaha mencari orang yang mendorongnya dengan sengaja.
” Saya minta maaf bu” Romi menyesal dan Naina menatapnya tajam. Naina melangkah pergi meninggalkan Romi dengan penuh amarah, Romi mencengkram kuat rambutnya frustasi dan dia yakin Naina berpikiran yang tidak-tidak padanya.
***
Di rumah sakit.
Amira mengelus perut besarnya berulang kali, kehamilannya sudah menginjak usia 9 bulan. Syam sedang berbicara dengan dokter secara pribadi. Dan tidak lama Syam kembali dengan raut wajah murka, dia memang bukan ayah anak dari bayi itu. Tapi itu adalah anak sahabatnya Miko, dia tidak bisa membiarkan Amira melakukan hal gila kepada bayi yang tidak memiliki kesalahan apapun.
” Syam bayi kita gimana? bayi kita gak kenapa-kenapa kan Syam?" Amira menarik-narik baju Syam dan Syam menepisnya kasar.
” Ngapain minum obat diet? aku membelikan mu susu dan vitamin kamu malah mengkonsumsi obat diet? kamu boleh melakukan apapun sama diri kamu sendiri. Tapi tidak dengan anak itu, anak itu tanggung jawab ku Amira” tegas Syam dan Amira terus menangis.
” Tentu saja tanggung jawab kamu, kamu ayahnya”
__ADS_1
” Dasar gila” maki Syam dan Amira menundukkan wajahnya, dia takut melihat Syam yang sedang marah saat ini.
” Assalamualaikum” suara Naina terdengar dan dia datang ke kamar rawat Amira setelah melaksanakan shalat Maghrib.
” Waalaikumsalam” jawab Syam dan melangkah mendekati Naina.
” Kamu sendirian sayang?” Syam begitu lembut kepada Naina dan Amira yang mendengarnya merasa iri.
” Iya mas, mbak Amira gimana?” Naina ikut khawatir.
” Jangan so perhatian sama aku kamu Naina, kamu seneng kan aku masuk rumah sakit?” Amira berteriak-teriak dan Syam menatapnya tajam.
” Diam Amira” tegas Syam dan Amira merebahkan tubuhnya lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
” Mas jangan berteriak-teriak, mbak Amira harus di rawat?” Naina berusaha menenangkan suaminya. Dan Syam benar-benar kesal dengan sikap Amira.
” Ya dia harus dirawat” Syam menjawab sambil terus menatap Amira kesal, dia ajak Naina untuk duduk bersamanya.
” Iya kamu pulang ya, istirahat.” Pinta Syam dan Naina mengangguk.” Ayo aku antar, kita makan dulu di luar nanti" ajak Syam dan Naina memperhatikan Amira.
” Mas, masa mbak Amira di tinggal" Naina berhenti melangkah.
” Ayo kita pergi" ajak Syam karena ibu mertuanya sedang di perjalanan, dia takut Naina terluka jika bertemu dengan ibu mertuanya yang kasar itu.
” Mas.." Naina menatap Syam lekat dan tidak mau meninggalkan kamar rawat Amira.
” Nai, nurut aja. Jangan banyak nanya, ini untuk kebaikan kamu. Ayo" Syam merangkul pinggang istrinya dan menariknya, Naina terus menoleh melihat Amira masih dengan posisi yang sama.
Tidak lama setelah kepergian Naina dan Syam, Hani dan Rani datang. Rani masuk begitu juga dengan ibunya.
__ADS_1
” Kak” tegur Rani dan Amira menarik selimut.
” Dek" tangisan Amira pecah dan dia berpelukan dengan adiknya.
” Dimana Syam? istri sakit bukannya jagain. Dimana Syam, Amira?” Hani kesal.
” Syam nganterin Naina pulang dulu mah” lirih Amira menjawab.
” Gila, kamu juga istrinya. Kamu hamil anak dia, gimana sih Syam malah ninggalin kamu" Hani meradang kesal.
” Syam emang gak pernah sayang sama aku mah" lirih Amira tapi Hani malah menoyor kepalanya.
" Ya kamu usaha, rebut Syam dari istri pertamanya. Bodoh kamu Amira, kalau begini terus kamu sama bayi kamu gimana? mamah mau Syam nikahin kamu biar bertanggung jawab. Bukan setelah nikah malah gak perduli begini sama kamu”
” Mah, udah dong. Kasihan kakak, jangan di pukul terus” Rani menghalangi kepala Amira dengan tangannya, Hani juga malah menoyor kepalanya kesal.
*****
Keesokan harinya di sekolah, Naina terus kepikiran masalah kemarin. Saat Romi memeluknya, dia berpikir apa itu sebuah siasat dan akan menghancurkan rumah tangganya. Naina meraih ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk. Kedua mata Naina membulat dan ponselnya terjatuh kasar ke atas meja.
” Astaghfirullah hal adzim”
” Bu Naina kenapa?" tanya Bu Vika.
” Kenapa Bu?" Rangga ikut cemas.
Rizal yang sedang melangkah di sebelah ruangan guru berhenti saat melihat raut wajah panik Naina.
” Bu Naina kenapa tuh?" Rizal berbisik dan diam memperhatikan Naina serta guru-guru lain juga ikut panik. Naina mendapatkan teror kembali, dia mendapatkan gambar menjijikan dan pesan berbau ancaman. Isi pesan tersebut memintanya untuk meninggalkan Syam secepatnya, Romi yang penasaran meraih ponsel Naina dan Naina langsung merebut ponselnya.
__ADS_1
” Permisi, saya mau ke toilet dulu” kata Naina dan melangkah pergi meninggalkan ruangan guru, dia melewati Rizal dan Rizal terus memperhatikannya.