
Naina melangkah kesana-kemari di rumah sakit, Mia diam-diam memperhatikannya. Memperhatikan Naina yang sepertinya mencari sesuatu bahkan Naina terlihat menangis begitu frustasi, Naina mencari Naura. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan Naura dan bi Astri untuk menanyakan apa yang terjadi dengan cincin dan liontin itu, sekaligus ingin mengembalikannya.
” Aku suami kamu”
” Aku suami kamu”
Suara Uwais terus terngiang-ngiang di telinganya, Naina kini tidak bisa melupakan Uwais dan Naura. Apakah anak kecil dan Uwais yang dia tahu adalah anak dan ayah atau bukan? berbagai macam pertanyaan menghantui Naina, dia benar-benar bingung.
” Bu Naina sepertinya mencari Naura bos, apa perlu kita bawa Naura kemari?" imbuh Mia yang langsung menelepon Uwais.
” Jangan, aku tidak mengizinkan siapapun membawa Naura ke rumah sakit. Naura masih belum sehat benar, dokter Fani bahkan menelepon dan melarang Naura untuk keluar rumah dan beristirahat dengan cukup. Awasi istriku, jangan sampai dia terluka. Lecet sedikit saja, kamu aku penggal Mia” tegas Uwais penuh penekanan, Mia mengernyit heran sekaligus takut mendengar ancaman majikannya. Uwais mengancam lalu mematikkan panggilan.
Di kantor, Uwais tidak fokus bekerja. Dia memikirkan istri dan anaknya. Uwais sesekali memeriksa cctv untuk melihat apa yang sedang Naura lakukan, Naura yang sudah hafal seluk beluk rumahnya melambaikan tangan ke cctv dan membuat Uwais terkekeh.
” Anak kita” lirih Uwais sembari memperhatikan foto Naina di meja kerjanya tersebut.
*****
Kedatangan Syam.
Naina sedang melayani para pembeli, dia mulai terbiasa lagi dengan pekerjaannya. Naina sendirian, pegawainya sedang keluar untuk makan siang. Naina menoleh saat mendengar suara langkah kaki. Dia lihat seorang pria membawa anak perempuan yang dia gandeng erat.
” Cari siapa ya?” tanya Naina.
” Naina” lirih Syam, dia melangkah cepat dan ingin memeluk Naina tapi Naina mengambil tumpukan pakaian lalu mengangkatnya ke udara ingin memukul Syam.” Kamu benar-benar hilang ingatan, kamu lupa sama aku?”
” Maaf, saya gak kenal kamu” ucap Naina lalu mundur menjauh.
” Saya suami kamu, ini anak kita Syifa. Saya bawa bukti-bukti kalau kita suami istri” tutur Syam lalu mengeluarkan berkas-berkas bukti dan buku nikah, dia letakkan semuanya di atas meja. Naina memperhatikan Syifa yang terlihat gelisah. Syam memperlihatkan semuanya agar Naina yakin, semua foto dirinya dan Naina dia perlihatkan.
” Saya suami kamu” lirih Syam. Naina duduk dan memeriksa semuanya, setelah Uwais kini ada pria lain yang mengaku-ngaku sebagai suaminya bahkan ada anak perempuan yang di klaim sebagai anaknya, tapi Naina merasa asing melihat Syifa. Syifa juga terlihat biasa saja, seharusnya jika memang Syifa anaknya. Syifa setidaknya akan memeluknya.
” Kamu percaya kan?” ucap Syam, dan ingin meraih tangan Naina tapi Naina menjauhkan tangannya. Dita, Mia dan Ai datang. Ketiganya terkejut melihat Syam dan mendengar Syam mengaku-ngaku sebagai suaminya Naina.
” Dia bohong mbak, dia bukan suami mbak.” Tegas Ai dan Naina menoleh, Naina merasa beruntung ketiganya datang.
” Naina, ini semuanya bukti”
” Kalau barang-barang seperti ini, mas Uwais juga punya. Mbak Naina dengan dia memang pernah menjadi suami istri tapi itu dulu, kalian berdua sudah bercerai. Mbak jangan percaya” tutur Ai dan menarik Naina ke belakang tubuhnya lalu Mia juga menghalangi Syam.
” Mereka bohong Naina, kita memang pernah bercerai tapi kita rujuk. Kamu sendiri yang ngajak rujuk, coba diingat-ingat Naina” seru Syam dan Ai mendelik sebal mendengar ucapannya.
” Mbak jangan percaya” Ai merasa frustasi karena melihat Naina diam.
” Jangan halangi saya untuk membawa istri saya” tegas Syam.
” Gila kamu, bener bener ya!” bentak Ai.
” Mending sekarang kamu pergi” usir Mia.
” Saya mau bersama istri saya”
” Mbak Naina bukan istri kamu”
” Dia istri saya”
Semuanya ribut dan saling menimpali ucapan masing-masing, Syifa menangis histeris. Keadaan ruko Naina benar-benar sangat berisik. Dita panik saat Naina pingsan, tubuh Naina menyenggol meja cukup keras dan bajunya robek karena sempat tersangkut paku kecil di tepi meja, Syam berusaha mendekat tapi Ai mendorongnya berulangkali.
” Pergi!” usir Ai berteriak.
__ADS_1
” Mbak, mbak Naina” imbuh Dita sambil menepuk-nepuk pipi Naina, Dita merasakan hawa panas saat menyentuh pipi Naina. Naina sedang demam.
” Kita bawa ke rumah sakit” ajak Syam, dia sudah membungkuk untuk menggendong Naina tapi Uwais datang dan menarik bahu Syam lalu menghempaskan nya kasar sampai Syam tersungkur.
” Minggir, sialan” bentak Uwais, Uwais meninggalkan kantor setelah mengecek cctv dan melihat kedatangan Syam dan Syifa. Uwais menggendong tubuh istrinya dan membawanya pergi, Dita meraih jas majikannya dan menyusul Uwais.
” Buka pintu" titah Uwais dan Dita membuka pintu mobil.
” Biar saya yang menyetir bos” imbuh Dita dan Uwais memberikan kunci mobilnya. Mobil mewah tersebut melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, Dita menelepon dokter yang menangani Naina selama ini untuk bersiap dan menyiapkan kamar. Keluarga Uwais sangat di prioritaskan, mengingat Uwais melaksanakan nazar nya membiayai 1000 persalinan di rumah sakit tersebut. Sesampainya di rumah sakit, Naina langsung masuk ke UGD. Tubuhnya menggigil, tidak lama Naina mengalami kejang.
” Silahkan tunggu di luar” imbuh perawat agar Uwais keluar.
” Saya mau disini, apa yang terjadi dengan istri saya?" setengah berteriak. Uwais di paksa keluar dan Dita menenangkan nya.
” Minggir!” bentak Uwais kepada Dita, merasa tidak bisa menangani Uwais Dita akhirnya mengirimkan pesan kepada Zidan untuk segera datang.
Satu jam berlalu, Naina sudah dipindah ke ruangan perawatan. Dia mengalami sakit kepala yang menjadi-jadi dikarenakan beban pikiran dan stres, Uwais memakai pakaian seperti seorang dokter agar bisa merawat Naina tanpa Naina tahu bahwa dia adalah Uwais. Naina belum siap mendengar kabar apapun, dia benar-benar merasa kebingungan dan entah harus percaya kepada siapa. Kini, Uwais dan Naina sedang berdua di kamar tersebut. Uwais menarik maskernya ke bawah lalu dia mengecup kening dan bibir istrinya lembut, Naina akan tertidur selama 3 jam. Dokter terpaksa menyuntiknya. Saat Naina koma, Uwais juga yang senantiasa merawatnya, menjaganya dan mengganti pakaiannya. Dia tidak pernah mengizinkan siapapun mengganti pakaian Naina kecuali dirinya.
Tok tok tok
” Bos" panggil Dita, dia datang membawa pakaian Naina. Naina memakai jas suaminya untuk menutupi bajunya yang robek. Uwais melangkah dan membuka pintu sedikit, lalu mengambil pakaian Naina dari Dita.
” Jaga disini” titah Uwais kepada Dita dan Mia, lalu keduanya mengangguk.
Uwais melepaskan masker dari wajahnya, dia harus mengganti pakaian Naina. Tanpa di sadari, mata Naina terbuka sedikit dan melihat Uwais samar-samar tapi tidak lama matanya tertutup lagi. Uwais duduk di tepi ranjang, dia tarik tubuh istrinya sampai di posisi duduk, dagu Naina menancap di bahunya. Uwais melepaskan pakaian Naina dan menjatuhkannya ke lantai. Uwais terdiam melihat leher dan dada istrinya yang hanya terhalang dengan bra berwarna merah, dia menelan ludahnya kasar. Uwais mendekatkan bibirnya ke leher Naina, sudah menempel tapi dia mengurungkan niatnya. Dia tidak bisa melakukan itu.
” Naina akan bingung nanti, jangan Uwais” gumam Uwais menyadarkan diri sendiri, Uwais buru-buru melepas bra istrinya dan menggantinya dengan yang baru lalu memakaikan piyama. Setelah selesai, Uwais mengganti pakaian Naina bagian bawah. Dia tutupi dengan selimut karena takut khilaf. Setelah selesai Uwais memasukkan pakaian kotor Naina ke dalam plastik, setelah itu dia mengompres kening istrinya dengan kain yang sudah di celupkan ke air hangat. Uwais berdiri memperhatikan istrinya, lalu dia duduk dan mengenggam tangan istrinya.
” Kalau aku telat Syam pasti sudah bawa kamu pergi, kamu istri aku sayang. Selamanya, tetap begitu” lirih Uwais.
Tanpa sadar Uwais tertidur dengan alas tangan Naina, seperti itu juga Uwais tidur saat Naina koma.
” Mamah, papah, Nau seneng” imbuhnya begitu polos sambil meletakkan kedua tangannya di dada.
” Nau!” teriak Fatin yang mencari Naura sedari tadi, dia hendak membuka pintu kamar Uwais tapi dia tidak bisa. Uwais tidak memberikan pelayan lain kecuali pelayan yang dia izinkan untuk masuk ke kamarnya.
” Ini pintu susah banget sih” gerutu Fatin sambil menarik-narik pintu kamar Uwais yang tidak menggunakan kunci biasa. Kuncinya adalah sebuah kartu, wajah dan sandi.
” Minggir!” tegas Mia, dia tarik lengan Fatin kasar dan Fatin terkejut.
” Mia, buka pintunya” titah Fatin.
” Kamu gak dikasih izin masuk ke kamar bos” tegas Mia.
” Nau ada di dalam”
” Nau, bisa keluar sendiri” tegas Mia. Tidak lama pintu dua lapis itu bergeser, Naura keluar dan memperhatikan dua pelayan itu. Bi Astri yang mendengar suara ribut-ribut datang.
” Ini sudah malam, kalian kenapa sebenarnya?" ketus Bi Astri lalu menggendong Naura, Mia dan Fatin saling menatap sinis dan keduanya pergi ke kamar masing-masing.
Kembali ke rumah sakit, jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Naina terbangun dan Uwais masih tidur dengan posisi duduk beralaskan tangannya. Naina merasakan kepalanya pusing, entah dimana dia dan memperhatikan tiang besi infusan. Naina menoleh dan memperhatikan seorang dokter yang sedang berdiri membelakanginya. Naina memperhatikan dokter tersebut dengan seksama, tubuh tinggi dan bahasa tubuhnya terasa tidak asing untuk Naina.
” Apa saya di rumah sakit?” tanya Naina, Uwais terdiam sejenak mendengar suara istrinya.
” Iya, kamu di rumah sakit. Saya periksa dulu. Teman-teman kamu sudah pulang semua besok mereka kembali” tutur Uwais, sudah saatnya Naina di suntik lagi. Uwais melangkah ke sebelah kiri Naina. Naina memperhatikan mata sipit dan tahi lalat di bawah mata dokter tersebut. Tatapan tajamnya benar-benar tidak asing bagi Naina. Uwais menarik lengan Naina untuk menyuntiknya, Naina menolak.
” Apa bisa saya di suntik oleh dokter perempuan?”
” Semuanya sudah memiliki pasien masing-masing, kamu tanggung jawab saya. Ini tidak sakit” tutur Uwais lalu menarik baju Naina lagi. Naina diam dan tiba-tiba mencengkram kuat pergelangan tangan Uwais. Uwais menatap Naina lekat yang terus menutup matanya, setelah selesai di suntik Uwais membantu Naina membenarkan posisi bantalnya, Naina gugup saat wajahnya menempel di dada dokter itu tidak sengaja. Dia berbaring lagi setelah itu.
__ADS_1
” Terima kasih dokter”
” Ya” singkat Uwais.
Uwais melangkah pergi keluar dari kamar tersebut, sesampainya di luar dia diam dan terduduk lemas.
” Kamu benar-benar lupa aku siapa? benar-benar lupa?” lirih Uwais merasa hancur, Uwais melangkah pergi dan dia harus pulang lalu kembali lagi ke rumah sakit.
*******
Keesokan harinya, Uwais ada pekerjaan penting dan dia belum ke rumah sakit. Naina sudah menunggu dokter yang akan memeriksanya tapi dokter yang lain yang datang.
” Apa dokter yang kemarin malam pulang?” tanya Naina kepada dokter wanita yang sedang memeriksanya saat ini.
” Hemm?” dokter wanita itupun bingung. Namun perawat di sebelahnya paham apa yang dimaksud Naina.
” Sebentar lagi dokter yang kemarin datang” kata perawat dan Naina mengangguk. Setelah di periksa, semuanya keluar dan tertinggal lah Naina sendirian. Naina merebahkan tubuhnya lagi dan menatap botol infusan baru, dua sudah menghabiskan dua botol infusan. Dia benar-benar merasa lemas.
Tidak lama Kabir datang untuk melihat Naina, setelah kakaknya itu bangun dari komanya dia belum pernah bertemu.
” Mbak” panggil Kabir saat masuk dan Naina bangkit dan duduk." Maaf aku telat”
” Siapa kamu?” tanya Naina dan Kabir yang baru saja meletakkan tas nya kebingungan.
” Aku?" menunjuk dirinya sendiri.” Aku Kabir mbak” Kabir mendekat, dia ingin memeluk Naina tapi Naina melemparkan tas kepadanya.
” Menjauh dari saya!” berteriak.
” Aku Kabir, mbak beneran gak ingat atau pura-pura?” Kabir memaksa mendekat, Naina memukuli nya berulang kali sampai jarum infusan nya terlepas." Aaaghh sakit mbak!” Kabir berteriak.
Naina terus memukul dan turun dari ranjang.
” Mbak, cukup” kata Kabir.
” Jangan sentuh aku” tegas Naina.
Di luar kamar semua orang bingung apa yang terjadi di dalam sana, suara ribut-ribut dan Uwais terlihat keluar dari ruangan dokter dan sudah memakai setelan dokter.
” Naina” lirih Uwais lalu memakai maskernya, dia setengah berlari dan menerobos kerumunan.” Permisi, permisi” katanya.
” Kasihan sekali pak Uwais” lirih dokter Farhan, dokter yang menangani Naina selama ini dan mengizinkan Uwais memakai pakaiannya.
Uwais masuk ke dalam kamar dan melihat Naina ketakutan karena Kabir, Naina melihat dokter yang dia tunggu-tunggu langsung mendekat dan bersembunyi di belakang tubuh Uwais. Kabir meringis memegang rambutnya yang dijambak berulangkali.
” Sakit” imbuh Kabir.” Sakit bodoh” teriak Kabir.
” Kabir!” bentak Uwais dan kedua matanya begitu tajam menatap adik iparnya, Kabir tersentak ketika mendengar suara Uwais dan memperhatikan dokter di hadapannya dengan seksama. Uwais berbalik dan mengajak Naina keluar, tangan istrinya lecet lecet dan berdarah. Sesampainya di luar perawat membawa kursi roda dan Uwais menekan bahu Naina agar duduk. Naina menangis, dia menangis tersedu-sedu. Uwais tidak tega melihatnya.
” Tunggu di sini” kata Uwais tapi Naina menarik bajunya.
” Mau pergi kemana?”
” Kamu harus tetap di infus Bu Naina, tunggu disini” kata Uwais dan Naina melepaskan bajunya, Uwais melangkah pergi masuk ke kamar berantakan tadi. Dia langsung mencengkram kuat kerah baju adik iparnya.
” Maaf bang maaf” imbuh Kabir ketakutan.
” Kamu tahu kakak kamu sedang sakit, kamu malah memanggilnya dengan sebutan tidak pantas” geram Uwais dan Kabir hampir menangis.
” Maaf bang, mbak Naina memukuli aku bang”
__ADS_1
” Itu karena kamu memaksa nya, dia gak kenal kamu dia juga gak kenal semua orang tapi kamu memaksa mendekat.” Kesal Uwais lalu melepaskan cengkeramannya, Kabir terdiam merasa bersalah