
Syam sedang berada di kamar Amira, Amira tertidur pulas di pangkuannya. Syam menunggu sampai Amira tidur dan dia ingin pergi meninggalkan Amira untuk bertemu dengan Naina. Setelah merasa yakin bahwa Amira tidur, Syam memindahkan bantal ke bawa kepala istrinya itu perlahan. Dan dia turun dari ranjang dan keluar meninggalkan kamar Amira. Syam melangkah cepat menuju kamarnya dan kamar Naina. Dia sudah memegang gagang pintu tapi berhenti saat mendengar suara merdu istrinya sedang mengaji. Syam tersenyum dan masuk perlahan, dia tatap punggung istrinya yang berbalut kain mukena. Naina sama sekali tidak menoleh dan mengakhiri kegiatannya karena dia sudah merasa cukup.
” Nai" panggil Syam dan Naina menoleh, Naina sedang meletakkan Al-Qur'an dan melipat Mukenanya.
” Iya mas kenapa? mau kopi?”
” Enggak, aku maunya kamu kemari. Duduk disini” Syam menepuk tepi ranjang di sebelahnya dan Naina melangkah mendekati suaminya.
” Mau makan mas?” menawari suaminya apapun adalah usaha Naina untuk menjadi istri terbaik walaupun Syam selalu kasar padanya.
” Enggak” Syam memeluk tubuh gemuk istrinya dan tangan kanannya mengusap perut besar Naina. Naina tersenyum, sentuhan lembut suaminya begitu membuat Naina bahagia.
” Aku minta maaf karena kasar sama kamu tadi, kamu mau maafin aku Nai?” Syam menatap istrinya lekat dan Naina mengangguk.” Beneran kamu mau maafin aku Naina?"
” Iya mas, sudah. Jangan diingat-ingat lagi” Naina tersenyum dan Syam juga tersenyum, Syam mengecup kening dan bibir manis istrinya sekilas.
” Mas aku mau ngomong sama kamu, tapi jangan marah" Naina takut.
” Ayo ngomong aja, aku janji gak akan marah sama kamu”
” Aku mau jalan-jalan, berdua.” Pinta Naina dan Syam tersenyum. Naina tahu suaminya belum percaya sepenuhnya padanya, tapi suaminya yang dia diamkan ternyata mau mendekatinya hanya untuk membuatnya tidak mendiamkannya lagi. Hal tersebut benar-benar membuat Naina senang, dan merasa masih sangat dibutuhkan oleh suaminya.
” Mau makan di luar?”
” Dimana mas?”
” Ada tempat bagus, outdoor. Kamu pasti suka”
” Iya mas aku mau”
” Ya sudah sekarang siap-siap” titah Syam dan Naina mengangguk, dia begitu bersemangat untuk segera bersiap untuk pergi begitu juga dengan Syam.
*****
Di sebuah rumah kontrakan, seorang pria sedang berbaring di atas kasurnya. Tubuhnya terasa lelah dan dia ingin beristirahat, namun. Pikirannya tidak bisa lepas dari bayang-bayang Naina. Naina yang diperlakukan kasar oleh Syam.
” Astaghfirullah hal adzim" lirih Ali. Dia bangkit dan duduk atas kasur, dia usap wajahnya karena merasa bersalah sudah menyentuh Naina tadi dan juga sekarang membayangkan Naina, gadis yang bukan mahramnya. Ali pun turun dari ranjang, dan dia memilih pergi untuk mengambil air wudhu dan menenangkan hatinya dengan mengaji. Ali memiliki rumah peninggalan orang tuanya, hanya saja terlalu besar dan hanya ada bibi yang beres-beres. Ali lebih nyaman di kontrakan kecilnya, dan juga kontrakannya lebih dekat dengan tempat kerjanya.
****
Di restoran outdoor yang Syam maksud, Syam membawa Naina ke tempat tersebut. Walaupun bukan restorannya sendiri, dia merasa memang harus memberikan suasana nyaman tersebut untuk istrinya Naina. Naina menatap pemandangan dari lantai dua restoran tersebut dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, Syam terus tersenyum memperhatikan Naina.
” Kamu senang Nai?”
” Iya mas aku senang, terima kasih mas udah bawa aku kesini”
” Iya, tapi kita pulangnya ke hotel” Syam tersenyum dan Naina melirik kanan-kiri, takut ada yang mendengar. Semua orang bisa menebak maksud dari suaminya itu apa.
__ADS_1
” Mas jangan ngomong begitu” Naina berbisik dan Syam tersenyum.
” Ayo makan, jangan lihatin pemandangan terus tapi kamu gak makan" ucap Syam seraya menyuapi istrinya. Naina benar-benar merasa senang dan terus tersenyum.
Setelah selesai, keduanya pun pergi dan malam semakin larut. Benar saja, Syam membawa istrinya ke hotel. Naina memperhatikan kasur dengan taburan kelopak bunga mawar merah. Naina tersenyum dan meraih satu kelopak bunga mawar dan menghirup aromanya. Naina tersenyum dan Syam keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.
” Mas kamu pesan kamar hotel kapan?" Naina menatap suaminya lekat.
” Tadi siang”
Deg... Naina terdiam, berarti suaminya marah karena memang suaminya sudah memesan kamar hotel juga. Naina merasa bersalah dan memegang tangan suaminya.
” Aku minta maaf ya mas" lirih Naina.
” Minta maaf kenapa?”
” Aku gak bermaksud nolak kamu, aku gak tahu kalau kamu udah pesan kamar hotel”
” Iya enggak apa-apa”
Syam tersenyum dan mendekatkan wajahnya, Naina tersenyum dan mundur menjauh.
” Aku mau ke kamar mandi sebentar” ucap Naina dan pergi meninggalkan Syam. Syam tersenyum dan membiarkan Naina untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
****
” Berani sekali kamu bermain-main sama aku Nai" Amira berbisik dan tatapannya begitu tajam.
” Mereka sedang bulan madu untuk yang kesekian kalinya, lihat dirimu yang rendah ini. Yang tidak pernah mendapatkan cinta dari Syam" tutur Tari dan Amira menoleh. Keduanya saling menatap tajam dan Amira mengangkat tangannya untuk menampar Tari.
Plak,,, hantaman keras di pipi Amira membuat gadis itu meringis. Tangan Amira di cekal dan malah dia yang ditampar kakak iparnya itu.
” Jangan berani mengangkat tangan mu di rumah ini" tegas Tari dan mencekal pergelangan tangan Amira.
” Berani kau menyentuhku" Amira mencekik leher Tari sekuat tenaga dan Tari melepaskan tangannya. Dan dia berusaha melepaskan tangan Amira di lehernya.
” Amira” suara Tari berat dan tidak bisa melepaskan tangan Amira. Sampai ayah Rahman datang melerai keduanya, Tari langsung berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.
” Apa-apaan ini? gila kamu Amira" ayah Rahman tidak terima dan setengah berteriak. Amira menundukkan kepalanya dan memilih pergi." Amira" panggil ayah Rahman tapi Amira tidak mau berhenti.
” Ayah leher ku sakit” adu Tari dan ayah Rahman mengecek leher anaknya.
” Kamu bertengkar sama dia? kamu bisa saja kenapa-kenapa. Berani sekali anak itu" ayah Rahman benar-benar tidak terima dan mengajak Tari pergi meninggalkan balkon.
****
Sementara di sekolah, Naina sedang menikmati jam istirahatnya. Dia pergi dari hotel di antar suaminya yang ternyata semalam membawa seragam mengajar istrinya agar pagi-pagi tak usah pulang ke rumah terlebih dahulu. Naina merasa senang dan bahagia.
__ADS_1
” Bu Nai bahagia banget kelihatannya” imbuh Rizal yang langsung duduk di sebelah Naina, Naina yang memilih menikmati makan siangnya sendirian itu terkejut dan langsung berdiri.
” Kamu ngapain disini Rizal? ayo sana pergi. Teman-teman kamu di kantin" usir Naina dan Rizal menggeleng kepala.
” Ibu kemarin bertengkar sama bang Syam?” Rizal yang khawatir akhirnya bertanya.
” Astaghfirullah hal adzim, jangan sampai kamu ibu hukum Rizal. Kamu gangguin ibu terus, ibu ini guru kamu jangan macam-macam"
” Aku duduk Bu, kapan aku macam-macam. Ibu bahagia karena apa?”
” Huff" Naina membuang nafas kasar dan membereskan kotak makanannya, Naina bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Rizal yang cemberut karena dia acuhkan. Naina terus mengomel karena Rizal semakin tidak sopan padanya. Naina mengeluarkan ponselnya yang bergetar dan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
” Jangan-jangan peneror itu lagi” Naina berbisik dan mematikkan panggilan tersebut lalu mematikkan ponselnya, itu lebih baik daripada dia kembali merasa was-was.
****
Sore hari tiba, Syam belum pulang dan meminta Naina membuatkan puding karena dia ingin memakan puding hari ini. Amira melangkah mendekati Naina dan Naina menoleh.
” Kamu sama Syam darimana semalam?" tanya Amira penuh dengan rasa cemburu, amarah dan dia sangat penasaran.
” Sebaiknya mbak Amira gak usah penasaran, nanti sakit hati" kata Naina dan fokus menuangkan puding yang panas itu ke dalam wadah.
” Kamu gak sopan banget Nai, kamu udah berani sama aku. Ayo ngomong kamu sama Syam kemana?”
” Aku juga gak pernah penasaran sama rumah tangga mbak Amira, kenapa aku harus memberitahukan semuanya sama mbak Amira sekarang? kita urus saja rumah tangga masing-masing” imbuh Naina dan melangkah pergi meninggalkan dapur, Amira meremas rambutnya frustasi dan menatap kepergian Naina. Amira hendak melangkah tapi dia terdiam saat melihat minyak goreng. Bibirnya menyeringai lebar, hatinya sudah tertutupi dengan rasa cemburu dan tidak bisa menerima jika Syam dan Naina dekat lagi padahal dia sudah melakukan apapun agar Naina dan Syam menjauh.
Tidak lama, Naina keluar dari kamarnya untuk kembali ke dapur karena dia akan memasukkan puding buatannya yang mungkin sudah dingin sekarang ke dalam kulkas. Naina terus melangkah tanpa ragu, bibirnya tersenyum lebar dan dia yakin suaminya akan suka dengan puding buatannya.
” Nai, kemari nak" panggil mama Novi dari lantai satu.
” Iya ma, sebentar" sahut Naina dan menuruni tangga perlahan. Mama Novi duduk menunggu Naina sampai padanya.
” Aaaa,,,,” jerit Naina saat kakinya terpeleset. Mama Novi yang melihat menantu kesayangannya terjatuh dan berguling-guling di atas tangga setengah berlari untuk memburu menantunya.
” Naina, Astaghfirullah hal adzim" mama Novi terus melangkah dan..
Brug.. Naina tersungkur kasar ke lantai setelah tubuhnya berguling-guling.
” Naina, Nai" seru mama Novi sambil terus menangis, Naina meringis dan berteriak-teriak memegang perut besarnya.
” Mama tolong ma, mama" Naina terus menangis dan mama Novi menyapu sekeliling.
” Tolong, tolong. Mas" teriak mama Novi dan memangku kepala Naina perlahan ke pangkuannya." Tahan Nai, kita ke rumah sakit nak”
” Mama, perut aku sakit ma” Naina memegang perutnya, tidak sadar darah mengucur dari dahi sampai ke dagunya.. Kepalanya terbentur berulang kali, tapi Naina tetap mengkhawatirkan keadaan calon bayinya tidak perduli kepalanya sesakit apa.
Mama Novi menangis semakin menjadi-jadi saat melihat Naina mengalami pendarahan, ayah Rahman dan Tari membopong tubuh Naina dan dibantu oleh bibi untuk segera di bawa ke rumah sakit. Nenek Wilda terus menangis dan menelepon Syam untuk segera pergi menyusul semuanya.
__ADS_1
” Rasain, mangkanya jangan berani-berani sama aku Nai” imbuh Amira dengan santainya dan berharap Naina mengalami keguguran, Amira pergi ke kamarnya dengan membawa piring berisi potongan buah.