Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Sarapan pagi spesial


__ADS_3

Pagi ini Naina bangun cepat, pagi pertama bersama Uwais dan Naura. Naina sedang memasak, Uwais masih di kamar dan mengira Naina hanya turun tidak masak, Naura yang sudah bangun mencari dimana ibunya. Dia sudah akan menangis mendapati Naina tidak ada.


” Mamah hiks,,,” tangisannya pecah. Uwais menenangkan nya lalu menggendongnya.


” Ayo kita cari mamah sama-sama” kata Uwais dan membawa Naura keluar dari kamar.


Setelah sampai di lantai satu, Uwais melihat Naina sekilas di balik kaca dapur yang menerawang itu. Dia bisa melihat Naina sedang memasak sendiri.


” Mamah” suara Naura cukup keras dan Naina menoleh.


” Nau, mamah di dapur sayang” kata Naina seraya melangkah ke wastafel lalu mencuci tangannya dan mematikan kompor, Naina keluar dari dapur untuk melihat Naura kenapa. Dari luar kita memang bisa melihat Naina tapi dari dalam dapur Naina tidak bisa melihat apa-apa, kaca anti ghibah Uwais menyebutnya. Karena tidak akan ada pelayan yang berani bersikap kurang ajar di dapur.


” Anak mamah kok nangis, ayo sini” Naina menggerakkan tangannya, Uwais tersenyum dan Naura berpindah ke gendongan Naina.


” Mamah, selamat pagi” tutur Naura dan Naina merasa bangga mendengarnya.


” Masya Allah anak mamah pinter banget, cium dulu cium dulu” Naina merasa gemas lalu mencium pipi Naura dua kali.


” Papahnya belum” kata Uwais, Naina berbalik dan membawa Naura pergi masa bodo dengan ucapan Uwais, Uwais cemberut lalu menyusul Naina sambil menggandeng pinggang ramping istrinya. Naura dan Uwais duduk, Naina membuatkan susu hangat untuk keduanya.


” Aku gak suka susu hangat" kata Uwais.


” Mau teh?” tanya Naina.


” Aku mau air dingin”


” Ini masih pagi perut kamu sakit nanti, habiskan dulu susunya baru aku kasih” kata Naina dan Uwais tersenyum simpul karena Naina perhatian padanya. Uwais akhirnya meminum susu hangatnya bersama Naura.


” Naura, ayo mandi" ajak Fatin yang tiba-tiba datang. Uwais mengangguk saat Naura menatapnya.


” Mamah aku mandi dulu” kata Naura.


” Iya sayang, tolong ya mbak” kata Naina begitu ramah kepada Fatin, Fatin sama sekali tidak menimpali ucapannya dan Uwais tidak suka itu. Ingin berteriak ada Naura, ia sebenarnya ingin meneriaki Fatin saat ini juga. Naura pergi bersama Fatin, Uwais menarik tirai dinding kaca dapur dan Naina menoleh.


” Ngapain?”


” Mau bantuin kamu”


” Ih enggak ah, kamu mending siap-siap kan harus kerja”


” Kok manggil nya kamu kamu terus sih, kesel dengernya” protes Uwais.


” Kan aku manggilnya mas juga”


” Ya, mas aja gitu gak usah kamu kamu"


” Ya udah Uwais aja”


" Dih songong, gak sopan. Ayang gak boleh gitu” Uwais kesal tapi dia juga ingin tertawa, dia sentil kening istrinya dan Naina meringis." Enggak boleh”


Naina tersenyum dan Uwais memeluknya dari belakang. Naina diam karena Uwais sama sekali tidak berhenti menyentuhnya, dia memang suaminya tapi Naina merasa canggung.


” Mas aku lagi masak”


” Iya aku juga lihat” Uwais tetap memeluk Naina, dia ciumi bahu istrinya itu. Naina berbalik dan mendorong tubuh suaminya agar berhenti. Pelukan pun terlepas dan Naina kembali memasak, tapi tidak lama Uwais memeluknya lagi.” Mas,,, ih” Naina mulai kesal. Naina mematikkan kompor karena masakannya sudah matang, Naina melangkah tapi Uwais tidak melepaskannya. Naina berbalik ingin mendorong tubuh suaminya lagi tapi Uwais mengangkatnya ke atas meja.


” Mas” Naina melotot. Dia takut jatuh, Uwais mengangkatnya lagi dan menurunkannya." Jahat banget sih”


” Bercanda, jangan marah”


Naina diam.


” Aku gak kemana-mana hari ini, mau main sama Naura” kata Naina saat hendak pergi. Uwais mengangguk.


” Kita makan siang sama-sama nanti, mau makan dimana?"


” Beneran?" Naina tersenyum, Naura juga pasti senang jika nanti makan siang di luar.


” Iya”


” Aku gak tahu tempat makan yang enak, kamu yang pilih aja” Naina tersenyum lagi, Uwais mengangguk lalu mencondongkan tubuhnya dan Naina menjauhkan wajahnya.


” Panggil aku sayang dulu” pinta Uwais, Naina menggeleng kepala dan pergi." Sayang, mau kemana?"


Naina tidak menjawab dan terus tersenyum. Uwais cemberut dan menatap kepergian istrinya dengan tatapan sendunya itu.


******

__ADS_1


Kabir bingung.


Sebagai kakak ipar, Uwais sudah menegur Kabir tapi itu tidak cukup mengingat kesalahan yang dia lakukan. Uwais akhirnya memberitahu mertuanya atas apa yang dilakukan Kabir. Saat ini Kabir sedang di maki-maki oleh pak Fahmi, orang tua mana yang tak kecewa saat anaknya melakukan hal itu. Pak Fahmi merasa dia telah gagal mendidik Kabir.


” Naina itu lagi sakit, kamu gak sayang sama mbak kamu? malah minta tolong sama kakak ipar kamu yang udah sibuk ngurusin mbak kamu Kabir, bapak malu” ucap pak Fahmi, Kabir diam dan menatap ponselnya yang terus mengeluarkan suara.


” Keturunan keluarga kita gak ada yang pernah seperti kamu, bikin malu.”


” Iya pak iya”


” Jangan iya iya aja kamu Kabir, jangan anggap sepele. Dosa kamu” suara pak Fahmi berubah berat, karena mendengar ucapan anaknya yang begitu menyepelekan masalahnya sendiri. Tanpa basa-basi, pak Fahmi mematikkan telepon sepihak. Jelas Kabid panik, berusaha menelepon balik tapi di tolak, entah bagaimana nasibnya sekarang. Di salahkan karena memang dia salah, Fatma juga merasakan hal yang lebih parah menyangkut rumah tangga nya atas kesalahannya di masa lalu. Dia harus pulang ke rumah orang tuanya dan juga mendapatkan perlakuan tidak baik dari keluarganya. Saat ini, Fatma sedang melamun di kamarnya. Dia usap perutnya yang bergetar saat bayinya yang tidak salah apa-apa menendang, memberikan ibunya sedikit semangat karena ada kehidupan lain yang harus ibunya jaga di dalam sana.


” Fatma” seru Bu Anggi, Fatma menoleh seraya mengusap air matanya.


” Kenapa ibu kemari? kalau ayah tahu ibu bisa kena marah” lirih Fatma, ayahnya sangat marah dan melarang semua orang berbicara dengannya.


” Makan nak” lirih Bu Anggi, sebesar apapun kesalahan anaknya ibu mana yang tega mendiamkannya terlalu lama. Fatma merasa malu, sesal tiada guna. Dia salah, dia benar-benar melampaui batas. Hanya tangisan yang mewakili penyesalannya, sementara mulut tak mampu lagi membela diri karena sudah tidak ada yang bisa dia jaga dalam kehidupannya. Harga diri, nama baik keluarganya semua rusak karena kesalahannya.


” Makan nak, kamu gak bisa begini. Bayi kamu kasihan” lirih Bu Anggi.” Ibu suapi ya” katanya lagi, lalu mengaduk makanan di dalam piring. Fatma tetap menangis, bagaimana bisa ibunya masih mengkhawatirkannya setelah apa yang dia lakukan. Fatma membuka mulutnya dan menerima suapan pertama, dia kunyah makanannya lembut. Bu Anggi menyuapi putri satu-satunya itu penuh kasih sayang, tak lupa dia mengelus rambut Fatma berulangkali.


*****


Makan siang di restoran.


Uwais pulang saat jam istirahat, dia juga tidak akan kembali lagi. Dia ingin bekerja setengah hari saja, terserah toh perusahaannya miliknya. Naina dan Naura sudah sampai di restoran di antar supir.


” Mamah, papah” kata Naura seraya menunjuk Uwais. Naina mengangkat tangannya dan Uwais tersenyum. Uwais melangkah mendekati istri dan anaknya, Uwais mengulurkan tangannya saat berhadapan dengan Naina. Naina meraih tangannya lalu menyalaminya walaupun canggung.


” Duduk mas” kata Naina.


" Iya sayang” Uwais duduk." Belum pesan makanan?”


” Belum, aku gak tahu...” Ucapan Naina terhenti, dia tidak tahu makanan kesukaan dan makanan yang tidak sukai Uwais.


” Oke" singkat Uwais dan membuka buku menu makanan dan memilih. Setelah selesai ketiganya menunggu pesanan datang. Naina sesekali melirik suaminya, suaminya yang begitu rapih dengan setelan jas nya. Uwais menoleh tapi Naina langsung memalingkan wajahnya, mana mau dia ketahuan jika sedang memperhatikannya. Uwais tersenyum, di bawah meja tangannya merayap lalu mengenggam tangan Naina dan Naina menoleh.


” Mas” Naina melotot, melirik Naura dengan ekor matanya agar Uwais berhenti.


” Papah mau ke mal" pinta Naura tiba-tiba.


” Ngapain?” sontak Uwais menjawab dan kedua matanya membulat sempurna.” Enggak usah, ngapain sih. Ini kan waktu spesial kita bertiga gak usah ngajak orang lain” Uwais berbisik takut Naura mendengar.


” Oh gitu ya mas”


" Ya iyalah, awas kamu kalau telepon dia" ancamnya dan Naina tersenyum. Tidak lama makanan yang ketiganya pesan datang, Naura tidak mau duduk di kursi khusus balita akhirnya Uwais yang memangku nya.


” Mamah suapi ya” kata Naina dan Naura membuka mulutnya.” Bismillah,,,,,”


suapan pertama masuk.


” Papah nya gak di suapi?" ucap Uwais dan Naina akhirnya menyuapinya, Uwais menerimanya dengan rasa bahagia dan saling menatap lekat dengan istrinya itu.


Uwais tersenyum dan Naina membalas senyumannya.


" Mamah mau lagi" kata Naura dan Naina menyuapinya lagi.


” Mau lagi, ini a....” Naina menyuapi Naura kembali.” Duduknya di mamah ya, biarin papah makan dulu”


” Iya mamah”


” Sinis mas" Naina mengangkat Naura ke pangkuannya.


” Punyaku ini sangat enak sayang, cobain” Uwais ingin menyuapi Naina tapi Naina terdiam.” Kenapa? ayo"


” Iya mas” Naina akhirnya menerima suapan tersebut dan Uwais tersenyum. Naina menyuapi Naura dan Uwais menyuapi Naina. Uwais sangat bahagia dan memperhatikan Naina dan Naura yang sedang bercanda, melihat keduanya tertawa membuat Uwais terpaku. Sama-sama cantik, Naina dan Naura. Suasana yang selalu dia impikan sejak lama akhirnya kini berlangsung di depan matanya.


” Kamu kenapa?” lirih Naina ternyata, Uwais tersadar dari lamunannya dan tersenyum.


” Aku terharu”


” Terharu kenapa?”


" Melihat keluarga kita begitu harmonis, pengunjung yang lain pasti iri" kata Uwais dan Naina tersenyum.


Setelah menikmati makan siang bersama, ketiganya pulang. Naura tidak jadi ingin ke mal karena mengantuk, sekarang memang jam tidur baginya. Sepanjang perjalanan Naina dan Uwais mengobrol, Uwais ingin mengajak Naina dan Naura ke sebuah acara tekan bisnisnya Minggu depan.


” Aku malu mas"

__ADS_1


Uwais terdiam lalu menghentikan mobilnya yang sudah masuk melewati gerbang rumah mewah tersebut.


” Mau kenapa?"


" Aku takut bikin kamu malu, aku gak bisa menyesuaikan dandanan aku seperti istri-istri pebisnis lainnya” lirih Naina.


” Shuttt, kamu ini kenapa bicara begitu? kamu begini aja udah cantik” puji Uwais agar Naina tidak merasa rendah diri, tapi tetap saja Naina diam.” Ayo kita masuk, biar aku yang gendong Nau" kata Uwais dan dia keluar dari mobil, lalu membuka pintu mobil untuk istrinya. Dia menggendong Naura yang sudah tertidur pulas. Ketiganya masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di kamar Uwais merebahkan tubuh Naura dan Naina menyelimutinya. Uwais dan Naina berdiri memperhatikan Naura.


” Anak kita sangat cantik” kata Naina.


” Seperti kamu” ucap Uwais seraya meraih tangan Naina dan Naina menoleh.” Mau jalan-jalan di luar?"


” Mau mas" kata Naina antusias dan Uwais menarik tangannya, mengajak Naina pergi dari kamar. Uwais mengajak Naina ke pekarangan rumah, baru pertama kali Naina benar-benar melihat pekarangan rumah sebesar itu, berbagai macam bunga ada di sana. Tempat bermain Naura, kolam ikan menjadi pusat perhatian Naina.


” Aku akan mengajak kamu ke kolam renang, Naura sangat suka berenang. Kami sering berenang sama-sama”


" Apa aku bisa berenang?" tanya Naina.


” Enggak kamu gak bisa, tapi aku sering bantuin kamu”


” Oh” Naina mengangguk dua kali, lalu terus melangkah mengikuti Uwais. Genggaman tangan Uwais belum juga terlepas. Uwais mengajak Naina ke kolam renang dan Naina memperhatikan sekitar.


” Naura selalu bermain disini” Uwais menunjuk kolam renang khusus untuk anaknya dan tidak jauh dari sana kolam renang dewasa. Naina merah main bebek yang mengapung di kolam renang Naura lalu meletakkannya di pinggiran kolam renang. Naina menoleh saat Uwais masuk ke dalam air. Lalu muncul lagi.


” Mau berenang bersama?” tanya Uwais seraya mengulurkan tangannya.


Naina menggeleng kepala sambil tersenyum.


” Aku takut tenggelam mas" katanya.


” Aku bantu, ayo”


Naina menggeleng kepala, Uwais berenang ke tepian mendekati Naina. Dia raih tangan istrinya itu.


” Ayo sayang”


” Aku takut mas”


” Aku bantuin kamu”


Naina terdiam sejenak dan tidak lama dia akhirnya mengangguk setuju, Uwais tersenyum dan Naina melepaskan sepatunya. Naina memeluk leher suaminya erat kedua kakinya menginjak kaki Uwais namun Naina terpeleset, pelukannya sontak terlepas dan dia tenggelam. Uwais panik dan berenang untuk menolong istrinya, Naina terus berusaha berontak tapi kakinya kram. Naina mulai kehabisan nafas, kedua matanya terbuka saat bayangan masa lalunya bersama suaminya dan yang lain berputar kembali. Naina menutup matanya saat dia benar-benar tidak bisa bernafas, tubuhnya semakin tenggelam. Uwais meraih tangan istrinya dan menarik pinggangnya, dia bawa istrinya itu untuk segera keluar dari dalam air. Sesampainya di pinggir kolam renang, Uwais menekan-nekan dada istrinya.


” Naina, ini aku" kata Uwais panik, Uwais menjepit hidung istrinya dan membuka mulut Naina lalu memberikan nafas buatan, satu kali dua kali Naina akhirnya memuntahkan air dari dalam mulutnya.


” Uhuk,, Uhuk" dia terbatuk.


” Naina, aku minta maaf” Uwais merasa bersalah.


” Lemes mas" kata Naina.


” Kita ke kamat sayang” ucap Uwais lalu menggendong tubuh istrinya dan membawanya pergi menuju ke kamar, semua pelayan terkejut melihat Naina digendong seperti itu.


” Ada apa bos? Bu Naina kenapa?” tanya Bi Astri.


” Tolong buatin teh hangat bi"


" Iya bos, ke kamar di bawah aja bos ke atas kejauhan” kata bibi dan uwais membawa Naina ke kamar di lantai satu, bibi pergi untuk membuat teh hangat. Sesampainya di kamar Naina duduk di tepi ranjang dan Uwais membuka lemari lalu mengambil handuk. Uwais membungkuk sedikit dan mengeringkan rambut serta wajah istrinya.


” Mana yang sakit?"


” Kepala aku sakit mas”


” Minum obat ya”


Naina mengangguk. Uwais berdiri dan menatap tubuh istrinya basah kuyup dan Naina juga kedinginan. Uwais tiba-tiba membungkuk kaki, memegang baju Naina dan menariknya.


” Aku bantu ganti baju” ucap Uwais.


” Mas...”


Plak


Naina yang panik Uwais akan membuka bajunya menampar suaminya sendiri, Uwais terdiam apalagi Naina yang merasa bersalah. Uwais menjauhkan tangannya dan dia berdiri mematung sambil memalingkan wajahnya karena pipinya sudah ditampar istrinya sendiri.


” Mas aku,,,,” lirih Naina ingin meminta maaf tapi Uwais melangkah pergi keluar dari kamar meninggalkannya dengan raut wajah tidak bersahabat. Naina tahu Uwais pasti marah, tapi dia tidak sengaja

__ADS_1


__ADS_2