
Naina dan Syam keluar bersama-sama, Naina memegang lengan Syam karena takut bayangan hitam tadi muncul kembali. Syam menatap istrinya yang ketakutan, lalu dia merangkul pinggang istrinya. Entah bayangan seperti apa yang dilihat Naina sampai dia ketakutan seperti itu, dan sepertinya Syam akan memikirkan jika satpam harus ada dua di rumahnya.
” Mas Syam, mohon maaf menganggu.Tadi kami melihat seseorang berjalan-jalan di teras rumah mas Syam.”Imbuh seorang pria. Syam dan Naina saling melirik, Naina mengangguk memberikan kode kepada suaminya jika dia melihat hal yang sama dengan yang dikatakan bapak tadi.
” Tapi orangnya kabur mas, kami khawatir karena mendengar suara mbak Naina tadi. Apa mas Syam sama mbak Naina baik-baik saja?”
” Iya kami baik-baik saja, istri saya berteriak karena dia terkejut melihat bayangan hitam. Saya kira bohong, setelah mendengar bapak-bapak bicara saya yakin. Satpam di rumah kebetulan sedang cuti, jadi keamanan malam ini gak ada yang jaga.” Tutur Syam dan tersenyum lebar semuanya menganggukkan mendengarkan apa yang dikatakan Syam.
Setelah perbincangan singkat selesai, Syam berterima kasih berulang kali karena para tetangga sangat perhatian padanya. Padahal Syam dan Naina belum tinggal lama, Naina merangkul tangan Syam kuat dia takut sendirian setelah apa yang dia lihat tadi, ditambah ucapan para tetangganya. Syam mengunci pintu dan Naina tetap merangkul tangannya, Syam tersenyum lalu mengajak Naina ke dapur. Malam yang panjang bersama Naina, kembali gagal. Syam membuat teh hangat sendiri, Naina terlihat syok dan tidak mau ditinggal jauh. Teh hangat segelas berdua, Syam juga mengupas kulit jeruk lalu memberikannya kepada Naina.
” Mas, kamu bisa gak sih jangan pulang malam lagi aku takut mas” lirih Naina.
” Iya, aku gak bakal pulang malam lagi kalau pekerjaan selesai sore.” Syam tersenyum lebar.
” Sama aja.” Naina kesal. Naina menerima jeruk yang disuapi suaminya, Naina tersenyum dan menatap wajah Syam yang lelah tapi tetap mau menemaninya. "Mas kamu gak mau ngomong sesuatu sama aku?”
” Ngomong apa?” Syam menatap Naina.
__ADS_1
” Aku memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan foto yang dikirimkan murid aku waktu itu, aku gak mau kesalahpahaman ini terus ada diantara kita mas.” Imbuh Naina dan Syam tersenyum, pintar juga Naina sampai berpikir dewasa seperti itu.
” Aku ada rapat waktu itu, kamu lihat aja lagi fotonya. Aku bawa boneka untuk kamu, aku gak tahu kenapa dia ada di sana juga dan dia langsung memelukku, itu hanya foto andai video pasti kamu gak bakal mikir aneh-aneh. Jangan jadi pikiran, aku sama Amira sudah gak ada hubungan lagi Nai kamu harus percaya.” Syam tersenyum dan Naina memperhatikannya.
" Iya aku percaya mas.” Naina tersenyum.Syam mendekatinya lalu mengecup pucuk kepala Naina lembut.
” Terima kasih sudah percaya padaku." Syam tersenyum, lalu mengajak istrinya kembali ke kamar. Naina harus istirahat agar ketakutannya sedikit berkurang. Naina tidak mau melepaskan pelukan, dan Syam ingin lebih dari sekedar pelukan. Tapi kabilah dia tidak tega, padahal sudah tidak tahan menahannya.
****
Keesokan harinya setelah pulang mengajar Naina dijemput tapi dia langsung pulang ke rumah mertuanya. Karena dia masih takut di rumahnya dan Syam, Naina sangat penakut dan dia tidak mau coba-coba uji nyali.
” Mas Syam baik, dia sayang sama aku aku juga sayang sama dia. Kami saling melengkapi dan mencintai, mama gak usah khawatir aku berhasil membuat anak laki-laki mama menyerah dan jatuh cinta sama aku.” Naina tersenyum lebar dan mama Novi tertawa-tawa mendengar ucapannya, apa benar Syam seperti itu?mama Novi tidak yakin tapi dia percaya Naina tidak akan berbohong.
” Alhamdulillah, mama senang mendengarnya nak. Kalian mau mengadakan acara resepsi pernikahan kan sayang?" mama Novi tersenyum.
” Iya, mas Syam juga bilang sama aku tapi kami belum memikirkannya secara matang mama.” Naina tersenyum lebar,kenapa harus ada resepsi pernikahan bagi orang-orang kaya? di kampungnya hanya hari pernikahan dan hanya itu saja, tidak ada yang menggelar acara resepsi pernikahan.
__ADS_1
****
Di tempat lain, Amira menangis sejadi-jadinya. Rencananya untuk menjauhkan Syam dan Naina gagal total, Naina dan Syam malah semakin terlihat lengket. Rangkulan di pinggang Naina harusnya pinggangnya yang dirangkul, dan seharusnya dia yang merangkul lengan Syam. Amira merasa frustasi karena obsesi dan rasa cintanya kepada Syam, sampai dia tidak sadar ada pria lain yang bisa mencintainya sekalipun Amira tidak membalas cintanya. Miko diam membisu dan berdiri di pojokan, memperhatikan Amira yang sedang melampiaskan kekesalan nya dengan merusak barang-barang di apartemen. Miko datang setelah satpam mengubungi nya, dan memberitahu jika Amira sedang marah-marah dan tidak keluar dari apartemen sejak kemarin.
” Amira!” Miko panik saat Amira mengenggam pecahan kaca untuk menyakiti pergelangan tangannya dan Miko terpaksa memeluk lalu menenangkan Amira.
” Aku benci Syam, aku benci dia yang gak bisa memilih gadis baik dan gak baik Miko. Tolong aku, kembalikan Syam padaku aku sangat kendnyainya aku mohon. Aku akan melakukan apapun, asalkan Syam kembali padaku Miko.” Lirih Amira dan terus menangis sesenggukan, sepertinya Miko harus benar-benar meminta Syam secara pribadi, Ya dia harus segera bertemu dengan Syam agar Syam mau menerima Amira sekalipun menjadi yang kedua itu tidak masalah, Amira hanya ingin bersama Syam bukan dengan yang lain.
****
Di perusahaan, Syam sedang menutup matanya rapat-rapat dia sedang menunggu Naina membalas pesannya, sebentar lagi Syam pulang ke rumah orangtuanya menjemput Naina. Mungkin dengan di ajak jalan-jalan Naina akan bisa sedikit melupakan kejadian malam tadi.
Ting... Suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya dan Syam buru-buru menyambar ponselnya.
”Aku lagi buat kue sama mbak Tari,aku tunggu kamu pulang mas"pesan balasan dari Naina.
Syam tersenyum lebar dia merasa senang Naina bisa berbaur dengan keluarganya, dan sebagai seorang menantu itu pasti tidak mudah. Syam bangkit dan pintu terbuka dengan kasar di susul sosok Miko masuk ke ruangannya.
__ADS_1
” Kamu gak sopan Miko, kamu memang sahabat ku tapi kamu harus tahu sopan santun." Tegas Syam kesal dan Miko langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Syam dan Syam membalasnya, keduanya berkelahi. Syam yang membela dirinya dan Miko yang mencari keadilan untuk wanita yang dia cintai dan seolah-olah Syam menodai kesucian Amira.Sampai Syam harus bertanggung jawab atas kondisi Amira saat ini.