Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Penjelasan Miko.


__ADS_3

Amira melangkah untuk segera pergi meninggalkan kafe, Amira terkejut saat melihat Miko dan dia buru-buru masuk ke dalam mobilnya.


” Amira berhenti!” teriak Miko lalu berdiri di depan mobil Amira.


” Ngapain sih dia?” Amira kesal dan terus menekan klakson mobil sampai membuat orang disekitar risih karena kelakuannya. Amira menurunkan kaca mobilnya dan Miko tetap menghadang jalannya.


” Miko minggir!” teriak Amira dan terus menekan klakson mobil.


” Kenapa kamu takut Amira? kenapa kamu panik saat melihat ku?” tanya Miko dengan suara lantang. Karena tidak memiliki pilihan lain bahkan security sudah melangkah untuk menegur Amira dan Miko.


” Masuk” titah Amira dan mendorong pintu mobil agar Miko masuk untuk segera pergi dari pada terlibat masalah. Miko akhirnya masuk lalu Amira mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sampai di jalan dia mengemudi dengan kecepatan tinggi, perhatian Miko langsung tertuju pada perut Amira yang sudah besar itu. Amira menatapnya tajam dan Miko terus menatap perut Amira.


” Kamu harus jujur sama aku Amira, itu anak aku kan? tapi kenapa kamu malah menikah dengan Syam?" lirih Miko bertanya dan Amira meliriknya tajam.


” Jangan aneh-aneh kamu Miko, ini anak Syam untuk apa aku meminta pertanggungjawaban Syam kalau ini anak kamu” mencari alasan dan berusaha menyangkal ucapan Miko.


” Gak usah bohong, aku kenal Syam dia gak bakal mau tidur dengan wanita mana pun karena dia memang orang baik-baik Amira. Sadar Amira, kamu sudah membuat rumah tangga Syam dan Naina kesulitan. Semua orang membicarakan kalian bertiga, dan Naina yang paling tersiksa” Miko berusaha untuk menyadarkan Amira atas kesalahan fatalnya. Amira terlihat tidak perduli dan hanya diam membisu sambil terus menyetir tidak ada arah tujuan.” Ayo ngaku kamu, itu anak aku kan?” ada perasaan senang dan sedih, dia akan menjadi ayah tapi Amira tidak mau mengaku jika bayi itu anaknya.


” Turun” kata Amira mengusir Miko lalu dia menepikan mobilnya dan Miko panik.


” Kamu belum menjawab pertanyaan ku Amira, aku yakin itu anakku” Miko bersikukuh.


” Ini bukan anak kamu, jangan ngaku-ngaku. Aku berhubungan dengan Syam sebelum sama kamu, kamu pikir Syam gak tergoda selama aku pacaran sama dia? cium cium terus kemana menurut kamu arahnya?" Amira kesal dan ucapannya membuat Miko terdiam dengan raut wajah yang begitu sedih.


” Kamu bohong" lirih Miko.


” Keluar, keluar dari mobil ku Miko. Jangan sampai aku berteriak dan membuat orang-orang menghajar kamu seperti maling” Amira sudah tidak tahan, dia keluar dari mobil lalu memutari mobil dan membuka pintu mobil agar Miko segera pergi.


” Miko ayo cepat keluar!" Amira setengah berteriak. Karena Miko tak kunjung keluar Amira mencengkram kuat kerah baju Miko lalu menariknya agar keluar dari mobil.


” Amira jangan bohong" Miko sedih. Dan tubuhnya sudah keluar dari mobil Amira sekarang.


” Gak usah banyak ngomong, minggir” Amira melepaskan cengkeramannya kasar lalu dia menutup pintu mobil dan Miko bangun karena terjatuh ke trotoar jalan. Miko berlari dan tidak bisa mengejar mobil Amira. Dia cengkram rambut lalu menampar wajahnya berkali-kali. Dia yakin Amira sedang mengandung anaknya bukan anak Syam dan dia perlu berbicara dengan Syam tanpa menunggu lama.


*****


Malam hari tiba, Naina sedang menyiapkan pakaian untuk suaminya yang sedang mandi saat ini. Naina menikmati lumpia basah yang dia inginkan dan Syam mencarinya cukup kesusahan, tidak masalah yang penting istrinya senang lelah Syam terbayarkan sudah. Syam keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk berwarna cokelat yang melingkar di pinggang nya. Naina bangkit lalu meraih handuk kecil dan dia naik ke atas kasur dan mengeringkan rambut suaminya perlahan-lahan.


” Kamu belum menemui Amira mas" Naina takut suaminya tidak bisa bersikap adil.


” Nanti aku temui dia, gimana hari ini sayang?” Syam menggerakan tangannya mengelus perut istrinya itu.” Apa bayi kita sudah menendang?”


” Belum mas, mungkin bayi Amira yang sudah menendang-nendang sekarang” kata Naina dan Syam meraih tangannya agar berhenti.


” Jujur aku kesal Naina” kata Syam dan Naina mengernyit heran.


” Apanya?” bingung.


” Kalau aku sama kamu sedang mengobrol jangan bawa-bawa Amira apa gak bisa?” ketus Syam dan ingin melangkah tapi Naina tiba-tiba memeluknya.

__ADS_1


” Aku minta maaf mas” suara Naina berat dan Syam tersenyum.


” Iya Nai gak kenapa-kenapa kok" Syam membalas pelukan Naina dan keduanya berpelukan hangat, Naina sangat senang suaminya sudah pulang dalam keadaan sehat dan selamat seperti sesaat suaminya pergi untuk bekerja.


****


Keesokan paginya, Naina dan keluarga yang lain sedang sarapan. Amira dan Syam sedang bertengkar di kamar sampai suara keduanya terdengar di seluruh penjuru rumah. Naina mengunyah makanannya lembut berusaha untuk acuh tapi tetap tidak bisa, dia kesal saat suaminya Syam dimaki-maki oleh Amira seperti itu bahkan sampai membawa nama-nama binatang.


” Ini sudah keterlaluan” kata Ayah Rahman sudah bangkit dan mama Novi menahannya, mama Novi sudah berusaha melerai keduanya tapi Amira malah memakinya dan Syam melarang semua orang untuk ikut campur terutama Naina, bukan apa-apa ketika Amira marah dia selalu kasar Syam takut keluarganya terluka apalagi Naina yang sedang hamil.


” Kenapa kamu gak datang ke kamar aku Syam ? kenapa kamu gak menemui aku istri kamu ini" kesal Amira dan menarik-narik baju Syam sampai kusut.


” Aku ketiduran jadi gak sempat menyapamu, kamu juga apa salahnya ketika suami pulang datang menyambut ku" kata Syam ada benarnya, Amira ingin Syam tunduk dan datang padanya. Padahal sudah tugas seorang istri menyambut suami saat pulang bekerja dengan baik bukannya ingin ditemui seperti seorang permaisuri.


” Alasan” kata Amira lalu berbalik dan menangis." Naina tidak begitu cantik dan sempurna sampai kamu tergila-gila sama dia Syam”


” Kamu gak bisa melihat seperti apa Naina, dia sangat sempurna dan hanya aku yang bisa melihatnya. Matamu bukan mataku, cara pandang kita berbeda. Jangan berusaha untuk menjadikan Naina sumber masalah apalagi sumber amarahmu Amira. Aku juga bisa melakukannya untuk menganggap kamu wanita buruk sampai aku gak sanggup melihat kamu lagi" tegas Syam tapi dengan nada rendah dan membuat Amira merasa sesak mendengarnya. Amira menangis karena tidak kuat lagi menahan amarah dan kekesalannya kepada Naina dan Syam.


” Aku harus bekerja, assalamualaikum” lirih Syam lalu melangkah pergi meninggalkan Amira.


” Aaaaa...!!" Amira berteriak frustasi dan sangat kencang lalu melemparkan semua barang-barang di kamarnya. Syam sama sekali tidak perduli lalu dia berpapasan dengan bibi dan meminta bibi merapihkan kamar Amira setelah amarah Amira mereda.


Di perjalanan menuju ke sekolah, Naina diam dan memainkan ponselnya ada kabar menyenangkan hari ini. Kiran ingin datang ke toko Naina bersama yang lain dan Naina mengizinkan tapi sore, ada rapat guru hari ini Naina pulang rada sore dari sekolah. Beberapa murid yang bandel membuat para guru harus berunding bagaimana caranya supaya mereka bisa disiplin karena ujian sebentar lagi.


Ponsel Syam berdering dan Syam melirik ponselnya.


” Miko? mas Miko sahabat kamu mas?" Naina tak lekas mengangkat telepon dan lebih dulu bertanya.


” Iya angkat saja, aku gak bisa" kata Syam lalu Naina mengangkat telepon sekaligus memegang ponsel suaminya.


” Halo Syam?" suara Miko terdengar lantang setelah Naina menekan tombol loud speaker.


” Ya kenapa? kamu sudah pulang?"


” Hemm, aku ingin bertemu. Siang ini apa bisa?” ajak Miko dan Naina mendengarkannya.


” Ya aku bisa, kirimkan saja alamatnya kamu mau ketemu dimana” seru Syam.


" Oke" singkat Miko lalu mematikkan panggilan.


” Waalaikumsalam, teman kamu gak sopan mas" protes Naina dan Syam tersenyum lebar.


***


Bertemu dengan Miko?


Syam masuk ke dalam restoran di mana Miko sudah menunggunya dan dia telat 10 menit, Syam melangkah seraya mencari keberadaan sahabatnya. Miko mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan Syam tersenyum dan melangkahkan kakinya dengan cepat. Miko dan Syam berpelukan sekilas saling menepuk bahu dan keduanya duduk bersamaan. Sebelum memulai pembicaraan penting tersebut, Miko memilih menawarkan daftar menu makanan dan Syam yang belum makan siang memesan makanan serta minuman begitu juga dengan Miko walaupun dirinya sudah makan, keduanya pernah berkelahi tapi tidak membuat keduanya bisa bermusuhan. Sahabat tidak lah sama dengan seorang teman, sangat susah mendapatkan sahabat seperti Miko walaupun di belakang Syam Miko mengkhianatinya.


Keduanya menikmati makan bersama. Setelah makan Miko gugup dan bingung harus memulai dari mana dan seperti apa. Syam mudah tersulut emosi dan dia tidak mau perkelahian yang kedua kalinya terjadi.

__ADS_1


” Syam sebelum aku bicara, aku minta maaf ya" suara Miko bergetar dan Syam kebingungan.


” Elu kenapa? gak biasanya begini” kata Syam malah menjadi khawatir sekarang.


” Aku juga gak bisa menunda-nunda lagi, aku dan Amira pernah berhubungan di apartemennya dan aku pulang saking kagetnya mendengar Amira hamil sudah 6 bulan dan kamu menikahinya” akhirnya Miko merasa lega setelah menceritakan apa yang terjadi walaupun dia langsung melihat wajah Syam merah karena menahan amarah, Syam benar-benar ditipu oleh Amira. Sampai keluarganya mendiamkannya, semua teman-temannya membicarakannya dibelakang, dan Amira sudah pasti hamil anak Miko.


” Katakan padaku Syam kenapa bisa kamu mau menikah dengan Amira padahal ada Naina?” Miko masih penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya setelah menjelaskan kebenaran yang membuat Syam frustasi sekarang.


” Kejadiaannya saat aku ke Surabaya, Amira juga ada di sana. Aku gak pernah merespon nya karena aku sudah memiliki Naina, kamu sendiri tahu kalau aku dan Amira sudah bubar sebelum aku dan Naina menikah. Di hotel, malam itu ada pegawai hotel yang datang ke kamarku karena aku memesan makanan. Aku juga meminta air minum, awalnya tidak ada yang aneh aku juga meminta pria itu untuk memeriksa keran air yang sempat macet. Setelah selesai aku juga sudah meminum minuman aku, tiba-tiba kepalaku pusing sangat sakit dan tiba-tiba Amira masuk lalu pria itu meninggalkan kami berdua. Amira berusaha untuk memanfaaatkan saat aku gak sadar karena ulahnya agar menidurinya, aku berusaha melawan tapi dia dibantu oleh dua orang laki-laki dan aku gak bisa melawan sampai akhirnya aku menindih Amira dan untungnya Bayu dan rekan kerja ku yang lain datang membantu" Syam menceritakan panjang lebar apa yang terjadi sampai foto itu bisa ada. Dan digunakan Amira untuk memfitnah dan masuk ke dalam rumah tangganya.


Miko meremas rambutnya frustasi setelah mendengar apa yang dilakukan Amira untuk mendapatkan Syam, bagaimana pun caranya Amira tidak perduli.


” Kejadian di Surabaya tidak sampai enam bulan. Aku bingung saat dia mengatakan bahwa dia sudah hamil 6 bulan" kata Syam kembali.


” Sudah pasti itu anakku” Miko menyenderkan punggungnya dan saling bertatapan sejenak dengan Syam." Aku benar-benar minta maaf atas apa yang dilakukan Amira, bantu aku agar bisa mendapatkan Amira dan bayi ku.” Pinta Miko dengan suara lirih dan Syam terdiam. Syam dan Bayu saat ini sedang membutuhkan bukti kuat karena kesaksian Bayu serta karyawan lain tidak kuat. Dan dengan kehadiran Miko Syam mendapatkan bukti paling kuat yaitu Miko sendiri dan Miko akan mencari sesuatu di apartemen Amira untuk dijadikan bukti.


*****


Waktu pulang sekolah tiba, Naina pulang seperti biasa karena rapat diadakan jam istirahat dan besok. Syam tidak bisa menjemput Naina, padahal Naina sudah menunggu satu jam setelah bubar sekolah. Hanya dirinya guru yang masih disekolah dan ada juga beberapa murid yang masih sibuk di perpustakaan. Naina juga menunggu taksi dan hujan turun semakin deras.


” Aduh gimana ya?" Naina kebingungan saat melihat kedatangan taksi tapi dia tidak bisa menerobos hujan dan dia juga tidak membawa payung. Supir taksi sudah menurunkan kaca mobil sambil mengirimkan pesan kepada Naina untuk segera keluar dari area sekolah. Naina akhirnya memasukkan ponselnya ke saku jaketnya, lalu tas nya di jadikan payung untuk melindungi kepalanya. Naina ingin berlari namun dia sadar diri. Air hujan berhasil menyentuh kulit wajahnya, lalu bahu dan tangannya. Naina mengernyit heran saat air hujan tidak bisa di rasakan lagi.


” Ayo Bu, kenapa malah melamun" kata Rizal yang memasang badan untuk melindungi gurunya, dia membuka jaket anti airnya dan dia tutupi tubuh gurunya itu. Naina kembali melangkah dan sesekali melirik tubuh Rizal yang semakin basah karena air hujan. Rizal membukakan pintu mobil dan Naina buru-buru masuk.


” Rizal terima kasih" Naina tersenyum lebar.


” Sama-sama Bu"


” Kamu mau pulang bareng?" Naina tidak tega dan menawarkan untuk pulang bersama walaupun tidak searah.


" Gak usah bu" kata Rizal lalu mengetuk mobil didekat supir taksi meminta supir taksi segera melajukan taksi nya. Naina menoleh terus-menerus dan melihat Rizal berdiri hujan-hujanan memperhatikan kepergiannya.


Sesampainya di toko hujan mulai reda, hanya gerimis kecil yang jatuh di pucuk kepala Naina saat keluar dari taksi. Naina membayar tumpangannya lalu supir taksi berbahasa pergi. Naina melangkah menuju tokonya dan dia berpapasan dengan seorang wanita yang dia kenal, yang sengaja jauh-jauh datang ke toko Naina hanya untuk membicarakan sesuatu. Wanita tersebut adalah tetangga saat Naina mengontrak.


” Eh ibu Ami, assalamualaikum” sapa Naina ramah.


" Waalaikumsalam, Bu Naina baru datang padahal saya dari tadi loh disini" katanya seraya cengengesan dan Naina tersenyum samar.


” Ada keperluan apa ya, sampai jauh-jauh kemari?" Naina jadi teringat dengan ibu kontrakan yang sangat baik padanya, entah bagaimana kabarnya sekarang. Saat kabar Syam mencuat ke publik ibu kontrakan sempat menghubungi Naina dan meminta Naina agar bisa sabar menghadapi Syam yang kawin lagi.


" Ibu Naina pasti sedih kan karena suaminya menikah lagi, mangkanya ibu jangan sombong dulu ibu menolak adik saya dan sekarang ibu dimadu" katanya dengan tawa yang menggelegar mengejek Naina. Dulu adik Bu Ami sempat akan melamar Naina tapi Naina menolak karena istri adik Bu Ami sudah dua, dia akan menjadi yang ketiga jika menikah dengan adik Bu Ami.


” Setidaknya saya menjadi yang pertama, dibandingkan harus menjadi yang ketiga" imbuh Naina dan tersenyum lebar." Assalamualaikum” Naina pamit dan Bu Ami terlihat kesal.


” Sombong” makinya dengan suara lantang.


Naina masuk ke dalam toko tanpa menyapa Ai, Ai sedih dan mendengar apa yang dikatakan Bu Ami yang hanya ingin menghina Naina sedari tadi menunggu, selama satu jam. Di belakang, Naina menyiapkan pakaian dia harus segera mengganti pakaiannya yang basah. Ibu Ami bukan yang pertama. Bahkan ada orang yang bertanya sengaja kepada Naina untuk mengolok-olok Naina.


” *Aku kira bertanya adalah sebuah bentuk keperdulian, tenyata mereka bertanya untuk menghinaku dan tertawa dibelakang ku”-Naina.

__ADS_1


__ADS_2