Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Naina tahu sesuatu


__ADS_3

Syam ikut serta dalam acara pemakaman sahabatnya, kini dia sudah pulang dan sedang membaringkan tubuhnya di sofa. Dengan raut wajah sedih dan begitu tidak bersemangat untuk melakukan apa pun hari ini.


” Assalamualaikum" suara Naina terdengar. Di susul sosoknya yang muncul setelah mendorong pintu.


” Waalaikumsalam” Syam tersenyum, Naina baru pulang mengajar saat ini. Naina melangkah mendekati suaminya, dia menyalami tangan suaminya dan Syam tersenyum.


” Mas gimana?" Naina menanyakan acara pemakaman Miko.


” Alhamdulillah lancar, kamu capek pasti duduk disini” jawab Syam dan meminta Naina duduk di sebelahnya. Syam menyenderkan kepalanya di bahu Naina, melepas penat dan kesedihan di bahu kecil istrinya. Naina diam dan tersenyum lebar. Suaminya sangat sedih karena kehilangan seorang sahabat, dan Amira yang ingin di interogasi oleh Syam entah pergi kemana.


" Mas mau makan?” ajak Naina mungkin dengan makan suaminya akan sedikit bahagia. Apapun yang suaminya mau, dia akan berusaha memasaknya.


” Aku mau jalan-jalan Nai, ke tempat dimana aku dan Miko sering menghabiskan waktu bersama” pinta Syam dengan suara serak lalu Naina meraih tangannya dan dia genggam erat.


Naina pun mengiyakan walaupun dia lelah tapi dia tidak mau menolak permintaan suaminya.


#


Di sebuah tempat seperti taman, terdapat danau kecil dan tempat tersebut teramat sepi. Dulu, Syam dan Miko sering berkelahi ataupun menghabiskan waktu bersama dengan menikmati alkohol dan kacang rebut disana. Masa lalu Syam tidak terlalu baik, pemabuk dan sering membuat orang tuanya pusing. Naina tidak perduli seperti apa Syam dulu, yang penting Syam yang sekarang sudah tidak seperti dulu.


” Aku sama Miko biasa duduk di sana, tadinya ada kursi dimana mungkin sekarang kursinya sudah rusak" Syam tersenyum sambil menunjuk tempat di tepi danau.


” Sabar ya mas" Naina menepuk bahu suaminya.


” Iya Nai” Syam tersenyum dan mengajak Naina duduk di atas rumput, Naina duduk dan Syam meletakkan kepalanya di pangkuan Naina. Naina menutupi sinar matahari yang membuat Syam terganggu dengan telapak tangannya, Syam tersenyum lalu mengelus perut besar istrinya.


” Kapan kita melakukan USG Nai? aku gak sabar lihat jenis kelamin anak kita" Syam antusias.


” Aku malah enggak mau di USG mas, biar surprise aja nanti kalau lahiran" Naina tersenyum.


” USG bukan cuma melihat jenis kelamin anak kita Nai, tapi untuk melihat bagaimana perkembangan anak kita di dalam rahim kamu. Sehat kah, atau kamu kurang makan atau apapun kan kita gak ngerti cuma Dokter yang ngerti” kata Syam dan Naina mendengarkan dengan baik.


” Ya sudah kapan mas?”


” Besok?"


” Boleh”


Keduanya tersenyum lebar dan tidak sabar untuk melihat perkembangan bayi mereka besok. Naina sudah bisa merasakan getaran dari tendangan bayi nya di dalam sana dan dia masih tidak percaya kalau dia akan menjadi seorang ibu.


*****


Sementara di rumah, Amira baru pulang dia berpapasan dengan Hamdan si mesum dan Hamdan yang baru pulang terus memperhatikan Amira yang terlihat sangat seksi dengan dada yang begitu montok dan menantangnya.


" Mas" tegur Tari dan Hamdan menoleh, tangannya terkepal karena Tari menganggunya.


” Cih" Amira berdesis lalu menaiki tangga menuju ke kamarnya, dia lelah dan ingin beristirahat.


” Siapa dia?" tanya Hamdan kepada Tari dan Tari melihat ketertarikan di mata Hamdan kepada Amira.

__ADS_1


” Dia istrinya Syam” Tari menjawab, Hamdan tidak pernah melihat Tari secara langsung ada Naina dan Tari membuatnya enggan untuk kembali bekerja di luar kota.


" Aku mau makan” pinta Hamdan dan Tari mengangguk. Keduanya melangkah pergi menuju dapur untuk makan bersama.


Malam hari tiba, Naina sedang membereskan pakaian suaminya yang sudah di setrika bibi ke dalam lemari. Di kamar Amira Syam dan Amira sedang bersitegang, Syam menuduh bahwa Amira lah yang menyebabkan sahabatnya Miko tiada. Siapa lagi kalau bukan Amira, sekalipun Amira istrinya tapi dia tidak memiliki hati nurani.


” Atas dasar apa kamu menuduhku Syam? aku tidak sejahat yang kamu pikirkan" tegas Amira membantah tuduhan suaminya.” Enggak ada bukti apapun tapi kamu nuduh aku Syam?”


” Siapa lagi? kamu ingin menghilangkan bukti kuat atas bayi yang kamu kandung ini kan? karena Miko sendiri lah bukti kuatnya Amira. Jangan bersikap bodoh di hadapan ku, aku cukup mengenal bagaimana dirimu ini” Syam menatap Amira tajam dan mencengkram kuat tangan Amira." Kamu harus mengaku, dari pada aku melakukan sesuatu untuk menyiksamu Amira”


” Terserah, kalau kamu kamu bikin aku mati sekalian percuma kamu tidak akan mendapatkan bukti apapun Syam” Amira setengah berteriak.


Pertengkaran mereka sudah hal biasa bagi orang rumah, tapi Naina. Dia khawatir dan cemas, takut suaminya terpancing emosi. Syam melepaskan cengkeramannya dan Amira menatapnya kesal, bisa-bisanya Syam menuduhnya.


” Miko sahabatku, dia juga berteman dengan mu. Bayi itu? bayinya Miko kan?" Syam menunjuk perut besar Amira dan Amira mengusap perutnya.


” Tidak ada bukti jadi jangan asal tuduh,ini anakmu. Darah daging kamu”


” Kita tunggu sampai anak itu lahir, karena bukti utama sudah kamu lenyapkan. Hanya anak itulah satu-satunya, entah iblis seperti apa yang masuk ke dalam tubuh kamu Amira. Kamu benar-benar tidak memiliki perasaan”


” Harus seperti apa aku Syam? ini anak kamu bukan anak laki-laki lain apalagi anak Miko yang sudah mati" tegas Amira lelah karena terus di tuduh ini itu oleh suaminya, Syam meremas kedua tangannya kuat. Dia tatap Amira yang berdiri di hadapannya sementara dia duduk di tepi ranjang. Hanya bayi itu yang akan membuatnya tertolong dari fitnah yang di lakukan Amira padanya. Syam bangkit dan melangkah pergi serta membanting pintu.


” Syam sekarang jatah aku Syam" teriak Amira tanpa rasa malu dan Syam tidak perduli, dari pada harus bermalam dan semalaman menahan emosinya kepada Amira dia memilih pergi ke kantor untuk bekerja dan dia juga menelepon Bayu untuk menemaninya disana.


” Sialan" Amira murka dan membanting gelas yang dia sambar di atas meja. ” Apa tidak ada rasa cinta untukku sedikit saja hiks...” Amira menangis frustasi, sekuat apapun dia berbuat supaya Syam menjadi miliknya tapi tidak dengan rasa cinta Syam untuknya, Syam sepertinya Ninik saat berhadapan dengannya tidak setulus dan sebaik saat berhadapan dengan Naina, iri dan cemburu menjadi satu.


*****


” Astagfirullah hal adzim, ya Allah ampunilah hamba yang belum bisa membuat istri hamba berubah” Mirza berbisik dengan raut wajah begitu sedih.


” Itu balasan untuk cewek sok muslimah seperti Naina" kata Husna dan Mirza menggeleng kepala." Pasti dia menangis setiap hari karena di madu, puas banget aku”


terdiam sejenak....


” Ya enggak lah, ngapain aku kasihan sama Naina dia memang sumber masalah”


Terdiam lagi...


” Amit-amit deh kalau aku dimadu kayak Naina, suaminya sampai udah bikin hamil istri keduanya itu. Parah banget kan”


Diam....


” Iya, ya aku senang aja Naina dapat balasan karena selama ini dia selalu cari perhatian semua orang." Husna tersenyum lebar." He'eh,.... Dasar Naina Naina.." Husna tertawa lagi tapi tawanya lenyap saat melihat Mirza masuk dan Husna mematikan panggilan dengan gelagapan.


” Istighfar Husna, kamu ngapain? kamu bergosip tentang adik kamu sendiri. Kamu pikir Naina tidak akan sedih kalau tahu kamu begini sama dia? aku salah karena terlalu membebaskan kamu Husna" tegas Mirza dan menatap Husna yang menundukkan wajahnya dalam-dalam.


” Adik kamu lagi terpuruk, sebagai saudara kamu seharusnya bisa menghibur Naina walaupun sedikit dan dengan hal kecil. Telepon adik kamu, berikan dia semangat bukan kamu menjadikan Naina topik gibah sama teman kamu seperti ini Husna” Mirza mendesah frustasi dan meremas rambutnya.


” Terus aja kamu belain Naina, kamu masih cinta sama dia ya mas?" tuduh Husna dan Mirza menggeleng kepala.

__ADS_1


” Jangan membuat masalah sama aku Husna, sekarang kamu telepon Naina dan minta maaf sama dia" titah Mirza tapi Husna tidak mau dengan menggeleng dan raut wajahnya jelas menolak.


” Enggak mau" Husna mendelik sebal dan meletakkan ponselnya.


” Mulai sekarang aku minta kamu berhenti bekerja, kamu bergaul dengan banyak orang seperti tadi contohnya. Teman macam apa yang meladeni ucapan buruk kamu, aku malu Husna. Aku malu karena tidak bisa mendidik kamu, aku tidak mau tahu mulai sekarang kamu tidak aku izinkan untuk bekerja dan bergaul dengan orang-orang yang salah. Dan kamu juga sering pergi diam-diam dengan teman kerja kamu, laki-laki. Kamu pikir aku gak tahu?" suara Mirza tinggi, hancur dan kecewa dengan tingkah laku istrinya.


Husna tiba-tiba menangis mendengar ucapan suaminya. Pasti tetangga rese yang mengadukannya kepada Mirza.


” Aku gak mau mas, aku mau kerja” Husna menolak.


” Aku suami kamu, aku masih sanggup membelikan apapun yang kamu mau Husna. Kamu bisa mendapatkan apa pun asal kamu bisa mengatur uang, mau gaji sebulan milyaran kalau kamu gak bisa ngatur uang dan gak bisa bersyukur kamu akan terus merasa kekurangan Husna” Mirza menatap Husna tajam, berbicara panjang lebar pun percuma. Husna menggeleng kepala dan menolak perintah dari suaminya.


” Kalau kamu gak mau, aku akan mengantarmu pulang sekarang juga." Tegas Mirza.


” Kamu ngusir aku mas? aku istri kamu mas"


” Kamu pernah gak menghargai aku sebagai seorang suami? ayo pulang dan aku akan menceritakan semuanya sama bapak sama ibu” ajak Mirza dan Husna menggeleng kepala, tangisannya semakin menjadi dan Mirza sudah tidak tahan lagi. Dalam hatinya, dia menyesal karena lebih memilih Husna ketimbang Naina.


*******


Keesokan harinya, Syam benar-benar tidak pulang dan menghubungi Naina kalau dia menginap di kantor. Ingin tidur di rumahnya pun Syam tidak mau, Karana sudah pasti Amira akan menyusulnya dan membuat keributan. Naina sudah siap untuk pergi ke sekolah, tangannya ditarik kasar oleh Amira.


” Astaghfirullah mbak, pelan-pelan” Naina takut dia jatuh dan kandungannya kenapa-kenapa.


” Dimana Syam?” Amira bertanya seraya mencengkram kuat tangan Naina dan Naina menepisnya.


” Mas Syam tidur di kantor, banyak kerjaan” ujar Naina dan Amira membuang nafas kasar frustasi.


” Kamu kan yang minta Syam tidur di kantor supaya Syam bisa menjauhiku?” ketus Amira seraya mengacungkan jari telunjuknya di hadapan Naina.


” Aku enggak bilang apa sama mas Syam, mas Syam pergi dan tidur di sana atas kemauannya sendiri” Naina menatap tajam Amira.


” Kamu sudah memiliki keberanian untuk melawan aku Nai?” Amira melihat Amira yang biasanya takut saat berbicara dengannya, kali ini Naina begitu terlihat santai.


” Aku bisa lega, karena suami aku gak salah. Mbak Amira menipu semua orang, membuat mas Syam menjadi cemoohan orang-orang" ketus Naina.


” Karena memang Syam salah, kalau bukan dengan memberitahu publik atas kelakuannya, mana mau dia menikahi ku”


” Mbak Amira butuh bantuan semua orang yang tidak tahu apa-apa, dan membuat mas Syam dihina banyak orang. Aku percaya anak yang mbak kandungan bukan anak mas Syam, saat itu mbak Amira bilang kandungan mbak sudah 6 bulan sementara kejadian di foto yang mbak Amira buat atas drama mbak sendiri sama sekali tidak bisa membohongi saya" tegas Naina dan Amira terkejut, dia mundur menjauh dan terlihat panik.


” Di foto itu kemeja mas Syam menggantung, kemeja yang aku desain sendiri. Tanggal kemeja itu di jahit pun ada, dan penjahit yang aku temui bisa menjadi saksi. Kemeja dengan nama ku sendiri di bagian atas sakunya" tegas Naina dan Amira semakin terdiam.


” Ka- mu pikir... Kemeja seperti itu hanya ada satu?” Amira berbicara dengan suara terbata.


” Mas Syam sangat pemilih untuk soal pakaian, aku tahu bahan pakaian yang bagus dan aku selalu membuat desain kemeja untuk suamiku sendiri. Dan aku selalu meminta penjahit menjahit namaku disana, mbak kenapa? mbak takut? bagaimana bisa foto yang baru di ambil tidak lebih dari dua bulan bisa mbak klaim kejadiannya sudah 6 bulan sesuai kandungan mbak?” Naina tersenyum penuh kemenangan.


” Ini anaknya Syam” Amira tetap bersikukuh.


” Saya tidak perduli, yang jelas suami saya tidak salah. Jaga anak mbak, dan mas Syam hanya milik saya” tegas Naina dan melangkah pergi meninggalkan Amira yang syok akan kata-katanya. Naina tahu foto itu di ambil setelah dia hamil dan bukan Syam yang menghamilinya.

__ADS_1


__ADS_2