Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Di cerai


__ADS_3

Naina sudah pulang dari rumah sakit, sikap Syam semakin berubah padanya. Naina memegang ponselnya kuat dan bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana, keluarganya pasti kecewa padanya seperti Syam yang kecewa padanya. Naina akhirnya memberanikan diri tapi belum dia menekan panggilan, panggilan masuk terlebih dulu dari ayahnya membuat Naina terkejut. Naina bahkan menekan panggilan tersebut tidak sengaja.


” Assalamu'alaikum” suara pak Fahmi terdengar.


” Emm wa'alaikumus Salaam” jawab Naina lirih lalu duduk ditepi ranjang.


” Nai, kamu sehat nak? bapak telepon kamu dari kemarin tapi gak aktif” kecemasan dan feeling kuat seorang ayah kepada anaknya.


” Alhamdulillah, bapak gimana sehat?” suaranya kini begitu berat, pak Fahmi diam mendengar suara Naina seperti itu. Perasaannya tidak tenang berhari-hari, Syam tidak mengangkat telepon darinya begitu juga dengan Naina.


” Naina, ada apa? ayo ngomong sama bapak. Harus jujur, bapak gak pernah ngajarin kamu berbohong” pinta pak Fahmi dan tangisan Naina pecah. Pak Fahmi diam mendengarkan Naina menangis dan menunggu Naina mau terus terang. Semakin lama, pak Fahmi semakin tidak kuat mendengar suara tangisan Naina. Sehingga air matanya juga menetes, suara tangisan bercampur jeritan kecil, menyiratkan bahwa Naina banyak menyembunyikan masalah. Tersiksa, dan teraniaya.


” Nak” panggil pak Fahmi.


” Naina minta maaf hiks,,,, bapak gak jadi punya cucu, Naina keguguran pak. Nai di rawat beberapa hari ini, Nai minta maaf. Naina gak bisa jagain kandungan Naina pak hiks,,,,, maaf pak,,,” Naina terus menangis dan pak Fahmi mengusap air matanya.


” Enggak apa-apa, itu sudah takdir. Kita gak bisa apa-apa, kamu yang sabar, yang tabah” sebagai orang tua hanya itu yang bisa pak Fahmi ucapkan, tidak mau banyak bertanya penyebabnya apa karena itu akan membuat Naina semakin sedih.


Naina berhenti menangis, berusaha menguasai dirinya. Syam masuk dan melihat istrinya sedang berbicara di telepon entah dengan siapa.


” Mas” Naina terkejut saat Syam merebut ponselnya.


” Teleponan sama siapa kamu Nai? sama Ali? sama laki-laki itu hah?" setengah berteriak. Naina berucap bapak tanpa suara agar suaminya paham dan berhenti berteriak, pak Fahmi diam mendengarkan ucapan menantunya yang begitu kasar kepada anaknya.” Selingkuh kamu? senang ya kami keguguran. Senang kamu Naina?”


” Mas itu bapak” Naina berbisik. Dan berusaha merebut ponselnya untuk segera akhiri panggilan tersebut.


” Gak usah bohong, murahan kamu. Sudah beberapa kali ya kamu begini. Mau aku usir kamu Naina? mau aku ceraikan kamu”


Deg... Begitu sakit dan perih hatinya mendengar Syam berbicara seperti itu dan sudah pasti pak Fahmi mendengarnya, Syam mendorong bahu Naina agar duduk dan dia menempelkan ponsel ke telinganya.


” Halo , Ali” berteriak.


” Ini bapak, jadi begini sikap kamu sama anak saya. Ceraikan Naina, biar saya bawa pulang sekarang juga” tegas pak Fahmi dan Syam menjauhkan ponselnya, dalam hatinya dia mengumpat karena Naina benar-benar berbicara dengan pak Fahmi dan bukan dengan Ali.


” Bapak, aku...” Lirih Syam bingung harus berbicara apa sekarang.


” Keterlaluan”


Tut... Panggilan di putus sepihak oleh pak Fahmi dan Syam semakin panik.


” Nai, bapak matiin telepon. Ini gimana?” Syam bingung dan Naina menyambar ponselnya. Naina berusaha menelepon ayahnya kembali tapi tidak diangkat.


” Ya Allah pak, semoga bapak baik-baik aja ya Allah” lirih Naina dan menelepon Kabir.


” Halo mbak?”


” Kabir kamu dimana?”

__ADS_1


” Aku di luar, kenapa?"


” Pulang sekarang, mbak lagi teleponan sama bapak tapi tiba-tiba ponselnya mati. Tolong kamu pulang sekarang Kabir" titah Naina panik dan Syam memperhatikannya.


” Pulsanya habis kali mbak, ponselnya kehabisan baterai kali”


” Kamu gimana sih Kabir, ayo pulang” Naina kesal dan Kabir terdiam.


” Iya iya aku pulang” kata Kabir dan mematikkan telepon.


” Belum selesai ngomong kenapa di matiin” geram Naina dan mengetikan pesan kepada adiknya untuk menelepon jika sudah sampai di rumah. Naina meletakkan ponselnya kasar ke atas kasur dan Syam meraih tangannya tapi Naina menepisnya.


” Kamu sudah dua kali ngomong cerai cerai cerai, hati-hati kamu mas.” Tegas Naina kesal dan Syam diam.


” Aku keceplosan Nai, aku minta maaf”


” Tapi kata-kata cerai bukan mainan, sekalipun kamu dalam keadaan marah cerai tidak bisa di anggap sepele mas. Sudah dua kali kamu kayak begini” tegas Naina padahal dia sedang dalam masa nifas saat ini.


” Aku minta maaf Naina”


” Minta maaf, tidak berguna kalau kamu tidak mau berubah”


Yang Naina tahu suaminya sudah berdosa karena mentalak nya dalam keadaan tidak suci, ada yang bilang jika talaknya sah dan juga ada yang bilang tidak sah. Tapi Naina tidak bisa memaafkan ucapan suaminya, talak pertama juga terjadi saat Syam menuduhnya selingkuh (memang tidak ditulis di bab sebelumnya, tapi dengan sikap kasar Syam dan mengatakannya secara tidak langsung disertai niat dalam hatinya maka talaknya sah).


” Kamu gak sayang sama aku mas?” lirih Naina bertanya.” Apa kamu pernah memaki mbak Amira begini? enggak pernah kan. Kamu hanya kasar sama aku, tapi sama mbak Amira kamu lebih perduli. Kamu lebih baik dan tidak pernah kasar sama mbak Amira, tapi sama aku. Pernikahan kita memang tidak benar dari awal, kalau kamu bilang menyesal karena sudah menikah sama aku enggak apa-apa, tapi kamu harus tahu aku juga bisa capek dan aku sekarang mau pulang ke toko. Aku mau tinggal di sana” kata Naina panjang lebar dan Syam berusaha meraih tangannya namun Naina menolak.


” Kita punya rumah kenapa harus ke toko, kenapa juga harus pulang. Kamu disini saja aku gak bisa ngizinin kamu pulang”


Naina diam dan Syam juga diam, keduanya saling menatap lekat sampai Syam memeluk Naina erat dan menciumi istrinya. Berharap Naina tidak pergi tapi Naina tidak mau lagi hidup dengan di bayang-bayangi Amira. Naina masih ingat jika bajunya saat itu terasa berminyak, dia menginjak minyak, bagaimana bisa minyak goreng ada di atas tangga jika bukan sebuah kesengajaan.


” Jangan Nai aku mohon”


” Maaf mas aku mau pergi, aku gak mau tinggal disini”


” Oke, tapi di rumah”


” Aku gak mau, aku takut diteror lagi kalau disana”


” Terus kalau kamu di toko kamu gak bakal di teror, itu untuk keselamatan kamu dan kamu harus tetap disini sama aku”


Syam duduk di lantai dan memeluk pinggang istrinya.


” Aku mohon jangan pergi Naina”


Naina diam dan berusaha melepas pelukan suaminya tapi tidak bisa, Syam tidak mau Naina pergi tapi dia juga tidak bisa merubah sikapnya, bahkan sekarang Naina bingung dan khawatir kepada ayahnya.


” Nai, aku mohon jangan pergi”

__ADS_1


” Iya mas iya” akhirnya Naina mengalah dan Syam melepaskan pelukannya lalu berdiri.


” Aku minta maaf, aku gak akan mengulanginya lagi”


” Tolong buktikan itu mas” pinta Naina dan Syam mengangguk.” Kamu aku lihatin gak pernah sholat sekarang, sholat mas bagaimana pun keadaannya. Aku mau suami aku suami yang taat, karena aku perlu di bimbing”


” Iya do'ain aku Nai”


Syam memeluk Naina kembali tapi Naina tidak membalas pelukannya, Naina diam dan menutup matanya.


*****


Satu bulan kemudian, Naina sudah mengajar kembali seperti biasa dia sedang ada di rumah dan merasa bosan. Toko juga tutup karena Ai ada acara keluarga. Naina sedang mengangkat jemuran pakaian bayi Syifa karena awan terlihat mendung akan hujan. Naina menjembreng baju Syifa dan menatapnya lekat, andai bayinya masih ada Naina juga akan membelikan baju yang cantik untuk anaknya.


” Naina” Amira datang dan merebut baju anaknya yang sedang di cium oleh Naina.” Mau apa kamu? kamu mau guna-guna anak aku ya Nai? pake cium segala. Awas kamu Naina” ancam Amira.


” Aku cuma lagi inget sama bayi aku mbak, maaf. Apa aku boleh menganggap Syifa seperti anakku sendiri mbak?” Naina begitu berharap bisa menggendong Syifa tapi Amira tidak memberikannya kesempatan.


” Enak aja, Syifa anak aku sama Syam kamu gak berhak apa-apa” ketus Amira. Dan melangkah pergi.


” Bibi, cucian bawa sekarang juga. Jangan sampai baju anakku di pegang Naina, ayo cepat” titah Amira kepada bibi dan Naina melangkah pergi meninggalkan balkon. Naina berhenti melangkah saat melihat Syam sedang menggendong Syifa, Syam menoleh ke arahnya dan tersenyum tapi Naina berlalu pergi tidak menghiraukan senyumannya.


” Kenapa lagi Naina?” gumam Syam.


Naina menangis dan semakin sedih karena ponselnya terus berdering, sangat berisik dan menganggu.


” Assalamu'alaikum, siapa?”


” Bodoh, aku sudah bilang tinggalkan Syam. Sekarang bayimu tiada, Syam semakin dekat dengan Amira, dan kamu seperti orang asing di rumah itu. Kamu bodoh Naina” geram seorang laki-laki, pria yang sama dengan pria yang meneror Naina.


” Kamu siapa? kenapa aku harus meninggalkan suamiku sendiri. Mau mu apa? uang? apa Amira yang menyuruh kamu?” tegas Naina dan berusaha menguasai ketakutannya, siapa yang tidak takut jika berbicara dengan orang yang selalu meneror selama ini.


” Kecelakaan 10 tahun yang lalu, yang membuatmu kehilangan cara berjalan normal, yang membuatmu kehilangan ibumu. Syam pelakunya, kamu pikir apa ada seorang suami yang bersikap kasar dan gila seperti Syamsul? dia hanya ingin membalas kesalahannya padamu. Tapi dia lupa padaku, pada keluargaku” lirih pria tersebut dan Naina terkejut, kedua matanya membulat dan tangan kirinya berpegangan pada tembok.” Aku memiliki bukti, dan aku baru keluar dari penjara. Tadinya aku ingin mengajakmu bekerjasama tapi kau malah menikah dengannya, bodoh.”


” Berhenti memanggilku bodoh, kamu pasti salah. Suamiku tidak mungkin seperti itu, dia bukan orang yang menyebabkan kecelakaan itu, orang yang tidak bertanggung jawab. Suamiku orang baik”


” Jangan bodoh Naina, tinggalkan Syam atau aku akan membuatmu menjadi target juga” tegas pria di seberang sana dan Naina menjatuhkan ponselnya. Panggilan pun berakhir dan Naina berusaha menghidupkan kembali ponselnya, setelah ponselnya menyala walaupun dengan layar yang retak Naina menerima pesan masuk. Dan dia lekas membukanya. Naina semakin terkejut dengan foto-foto kecelakaan di masa lalu, bahkan ada screenshot cctv yang merekam kejadian tersebut tapi Naina tidak bisa mendapatkannya kecuali dia menjauhi Syam.


” Aku akan membiarkanmu hidup karena kamu tidak salah, kamu adalah korban seperti keluargaku. Sekarang pergilah atau aku juga akan menargetkan mu Naina” pesan masuk kembali Naina terima.


” Tidak mungkin” Naina berusaha membantah hal tersebut dan melangkah pergi untuk segera ke kamar.


” Sayang kamu kenapa?” tanya Syam yang menyusul istrinya dan melihat Naina menangis. Syam berusaha menyentuh Naina tapi Naina tidak mau.


” Nai, kamu kenapa. Ini aku, sayang”


” Jangan sentuh aku mas, dan kita perlu bicara" tegas Naina dan menatap tajam suaminya.” Jika kamu berbohong aku akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya” tegas Naina.

__ADS_1


” Kenapa tatapan kamu seperti itu Nai, gak sopan kamu” Syam kesal.


” Ayo kita bicara, awas kamu kalau bohong mas” ancam Naina dan menarik tangan suaminya. Syam melangkah mengikuti istrinya yang entah akan membawanya kemana. Naina bahkan saling mendiamkan dengan ayahnya, ayahnya bertekad membawa Naina pulang tapi Naina tidak mau, rumah tangganya sudah rapuh akan seperti apa jadinya jika dia pergi, Naina tidak mau dan itulah yang membuat keluarganya kesal.


__ADS_2