
Ketegangan terjadi, Naina memperhatikan Syam dan Uwais yang terus saling melemparkan tatapan tajam. Ai menarik-narik ujung baju Naina merasa ketakutan.
” Kapan kamu bebas?” tanya Syam basa-basi.
” Bukannya kamu tahu sendiri” ketus Uwais.
Syam diam, lalu memperhatikan tatapan dalam Uwais kepada mantan istrinya Naina. Uwais menyukai Naina? pikir Syam. Penampilan Uwais juga berubah, fisiknya apalagi. Uwais yang selalu dia rendahkan dulu terlihat lebih menjanjikan ketimbang dirinya. Padahal dalam segi usia Uwais lebih tua tiga tahun dari Syam. Uwais tumbuh dengan baik dan tidak mudah di dalam penjara, di bully dan si siksa teman satu sel sudah menjadi santapannya sehari-hari. Sekitar satu tahun dia perlakukan seperti itu, sampai seorang tahanan baru masuk dan mengajarinya banyak hal sampai dia bisa menjaga dan menjamin keselamatannya sendiri di penjara. Dan dia juga belajar ilmu agama di penjara, namun pikiran dan hatinya kotor atas nama dendam. Sampai Uwais melakukan tindakan yang salah untuk membalaskan kematian keluarganya.
” Susah mbak” imbuh Ai, jarum susah si cabut dan sangat beresiko.” Ke rumah sakit aja mbak”
” Enggak Ai, aku gak mau”
” Aku lihat,,,,” seru Syam tapi Uwais bangkit dari duduknya dan meminta Ai untuk berdiri. Ai berdiri dan Uwais duduk.
” Percaya sama aku, jika tidak dicabut akan bahaya. Setelah jarumnya terlepas kamu boleh ke rumah sakit, pasti sangat sakit” Uwais menatap Naina dan Naina mengangguk. Naina mengangkat kepalanya, menahan kerudung takut melorot. Uwais meniup leher Naina terlebih dahulu lalu menariknya langsung dan Naina meremas bajunya. Uwais menoleh melihat Naina meremas bajunya kencang, Uwais meraih tisu lalu menahan darah yang akan kembali menetes. Setelah jarum di cabut Naina merasa sakitnya berkurang dan Uwais tersenyum.
” Terima kasih”
” Sama-sama”
Kedua mata Syam begitu perih melihat pemandangan di pelupuk matanya, sejak kapan Naina dekat dengan Uwais sampai Naina mau menerima bantuan dari Uwais. Naina juga terlihat nyaman, kehadirannya seperti tidak di butuhkan.
” Aku permisi, kamu istirahat” titah Uwais kepada Naina begitu lembut dan Naina mengangguk.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam” jawab semuanya.
Uwais pergi karena tidak tahan melihat Syam. Dia ingin menghajarnya jika tidak ada Naina. Naina dan Ai diam dan Syam terlihat ingin membicarakan sesuatu dengan Naina.
” Kenapa kamu bisa terluka?”
” Tanyakan saja sama istri kamu”
” Amira kemari?” Syam kaget dan Naina mengangguk.” Aku menceraikannya”
” Itu sebabnya dia datang dan membuat kekacauan mas” lirih Naina dan hampir menangis.
” Aku minta maaf Nai”
Naina bangkit dari duduknya dan dia menaiki tangga untuk beristirahat, mengusir Syam tidak akan mudah dan Naina malas untuk berdebat dan mengeluarkan tenaga. Ai dan Syam diam, Syam akhirnya pergi dan Ai menyusul Naina untuk berpamitan pulang atau Naina ingin dia temani tidak masalah.
” Kamu pulang aja Ai, aku mau sendirian” lirih Naina yang sedang meringkuk di atas kasur kecilnya itu.
” Ya sudah kalau begitu mbak, aku pamit ya mbak. Assalamualaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
Setelah Ai pergi Naina memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, adzan Maghrib berkumandang. Dia benar-benar lelah hari ini dan malu.
****
Keesokan harinya, Uwais pagi-pagi datang ke toko Naina tapi toko Naina ternyata hari ini tutup dan itu membuat Uwais khawatir. Uwais mencoba menelepon tapi tidak ada jawaban.
” Apa dia sakit?" Uwais berbisik lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan area ruko.
Naina sama sekali tidak keluar dari ruko, Ali yang sedang keluar kota pun tidak sempat menghuni nya. Terlalu sering menelepon tanpa memiliki hubungan jelas terasa tidak pantas menurut Ali. Tak terasa matahari sudah berganti kan bulan, Naina keluar untuk mencari udara segar. Uwais yang baru datang untuk melihat Naina merasa senang melihat Naina keluar, Uwais melangkah mengikuti Naina dari kejauhan. Naina berhenti melangkah saat melihat penjual batagor, perutnya bernyanyi dan Naina menyentuhnya.
” Lapar” imbuhnya lalu mendekati penjual batagor.
” Permisi bang mau batagornya”
” Mau berapa porsi neng, di bungkus apa makan disini?”
” Dua porsi, makan disini” timpal Uwais dan Naina menoleh. Naina hendak pergi tapi Uwais menarik tas nya sampai Naina terduduk paksa di sebelahnya.
__ADS_1
” Lepas”
” Aku akan mentraktir mu”
” Aku tidak mau”
” Aku sudah memesan dua, yang satunya mubajir kalau kamu pergi”
” Makan saja dua-duanya”
Uwais tetap mengenggam tas Naina.
” Aku mohon”
Naina akhirnya duduk dengan tenang lalu menarik tas nya paksa, Uwais tersenyum dan menunggu. Dia menunggu sambil memperhatikan wajah ketus dan jutek Naina yang terlihat begitu sangat menggemaskan. Setelah dua piring batagor siap Uwais dan Naina menikmatinya. Uwais tidak berani mengajak Naina berbicara karena Naina tidak akan meladeninya.
” Uhuk,,, uhuk” Naina tersedak. Uwais memberikan air minum dan Naina meminum nya, pucuk kepalanya di tepuk-tepuk pelan dan lembut. Naina menyikut dada Uwais agar berhenti dan Uwais tertawa.
Setelah selesai, Naina memilih pulang dan Uwais mengikutinya dengan jarak cukup jauh. Naina berbalik terus-menerus dan Uwais masih mengikutinya. Naina meraih batu kerikil lalu ingin dia lempar kepada Uwais agar Uwais pergi.
” Pergi gak!" teriak Naina dan Uwais mengangkat kedua bahunya bersamaan, dia tidak mau.
” Pergi" Naina kesal. Dan Uwais tidak mau, Naina melemparkan batu kerikil tapi tidak kena. Uwais malah tertawa dan Naina juga menahan tawanya, dia membalikkan badannya lalu kembali melangkah. Setelah di depan ruko, Naina menoleh dan Uwais masih mengikutinya.
” Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku serius Naina” ucap Uwais dan Naina tidak peduli, dia membuka kunci dan masuk, lalu terdengar mengunci pintu lagi. Uwais tersenyum lalu mundur dan mendongak melihat ke lantai dua ruko, terlihat Naina menyalakan lampu dan tidak terdengar suara apa-apa lagi.
” Good night” Uwais berbisik.
Uwais pergi dan tidak lama Ali pulang, Ali keluar dari mobilnya lalu melirik lantai dua ruko Naina. Naina membuka jendela untuk melihat Uwais masih ada atau tidak tapi ternyata Ali yang ada di bawah sana.
Naina tersenyum Ali pun begitu. Naina memperhatikan Ali yang menempelkan ponsel di telinganya dan ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Ali.
” Assalamu'alaikum”
” Wa'alaikumus Salaam”
” Aku enggak apa-apa mas”
” Aku minta maaf karena gak ada saat itu dan gak bisa jagain kamu”
” Enggak apa-apa mas, jangan ngomong gitu”
Ali tersenyum.
” Nai, sekalian aku mau ngomong sesuatu”
” Iya kenapa mas?”
” Aku mau serius sama kamu Nai, aku ingin kita lebih mengenal lagi untuk ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Menurut kamu gimana? kamu mau?" lirih Ali dan terus menatap Naina yang terlihat bingung mendengar ucapannya. Naina diam sejenak lalu mengangguk. Ali tersenyum melihat Naina seperti itu.
” Kamu beneran mau Nai?”
” Aku mau mas”
” Terima kasih Nai”
Naina tersenyum lebar, siapa yang bisa menolak jika di ajak serius oleh seorang Ali.
****
Di rumah Syam, Syam begitu malas untuk pergi bekerja. Dia diam di kamar sambil mendekap foto Naina dan dirinya erat. Rasa rindu yang tak tertahankan lagi.
” Aku merindukanmu Naina”
tok tok tok ketukan pintu terdengar.
__ADS_1
” Mas, ada Bu Novi” seru bibi. Syam yang mendengar terdiam sejenak.
” Kenapa mama kemari?” dia bingung, semarah apapun orang tua tak akan bisa berlama-lama tidak melihat anaknya. Mama Novi sedang merindukan Syam. Setiap saat dia merindukannya. Syam bangkit dari ranjang dan mengusap air matanya, dia buru-buru keluar dari kamar untuk menemui ibunya. Mama Novi yang sudah menunggu sambil memperhatikan Syifa yang sedang bermain menoleh. Mama Novi bangkit dari duduknya lalu Syam menghambur memeluknya erat.
” Ma, aku kangen sama mama”
” Mama juga kangen sama kamu, bagaimana kabar kamu nak?”
” Aku baik ma, mama gimana?”
” Mama juga baik”
Pelukan pun berakhir dan keduanya duduk bersama.
” Kamu gak kerja Syam?”
” Aku males ke kantor ma”
” Oh”
Mama Novi memperhatikan anaknya yang terlihat sedih itu.
” Mama” lirih Syam.
” Kenapa nak?”
” Aku minta maaf ma, aku minta maaf atas semua kesalahan aku”
” Iya, mama udah maafin kamu nak”
” Mama aku juga mau rujuk sama Naina”
” Memangnya Naina mau?”
” Aku akan berusaha meyakinkan Naina ma”
” Kalaupun Naina mau, Naina harus menikah lebih dulu dengan pria lain Syam. Kamu sudah menceraikannya dengan talak 3, mangkanya jadi laki-laki jangan murah. Murahan memberikan talak, ujung-ujungnya kamu nyesel kan sekarang” tutur mama Novi sedikit kesal tapi dia juga senang jika Syam sudah menyadari kesalahannya. Syam tertunduk dalam, merenungi ucapan mama Novi yang sama dengan ucapan Ali waktu itu dan ucapan para ustadz yang dia kunjungi untuk menanyakan perihal masalah nya. Tapi Syam bingung siapa pria yang mau menikahi Naina lalu menceraikannya agar halal untuknya kembali menikahi Naina.
*****
Malam hari tiba, Uwais membawa buket bunga untuk gadis yang dia sukai siapa lagi kalau bukan Naina. Sesampainya di ruko, dia melihat Naina dan Ali sedang melangkah bersama dan Ai dan Akbar di belakang keduanya. Ada yang lain dari Naina dan Ali. Keduanya terlihat dekat sekarang. Uwais buru-buru bersembunyi dibalik tembok.
” Mbak Nai sama mas Ali cocok banget ya, aku gak sabar lihat mereka nikah. Aku bersyukur mas Ali mengajak mbak Nai serius” imbuh Ai.
” Iya aku juga gak sabar”
” Menikah?” gumam Uwais. Tangannya terkulai lemas sampai buket bunga yang dia pegang terbalik, kelopak bunga mawar merah itu terlihat berjatuhan karena Uwais meremasnya. Uwais pergi dengan perasaan hancur, Naina yang melihat sekilas bayangan pria tinggi itu terdiam.
” Kenapa Nai?” tanya Ali.
” Emm enggak apa-apa mas” Naina tersenyum.
Keesokan harinya, Uwais tidak semangat beraktivitas dia hanya di kamar sampai Zidan pria yang dipercaya kakeknya untuk menjaganya masuk memeriksa keadaan Uwais.
” Uwais, kamu sakit?" tanya Zidan.
” Aku mau sendirian”
” Kamu belum makan”
” Aku tidak nafsu makan”
” Bos akan memecat ku jika cucunya kenapa-kenapa”
” Terserah”
__ADS_1
Zidan menggeleng kepala melihat tingkah laku Uwais yang sedang patah hati itu, Zidan melangkah mendekati jendela dan membuka gorden jendela lebar-lebar. Setelah itu dia keluar dari kamar Uwais. Rumah besar dengan nuansa hitam itu begitu terlihat menyeramkan, di jaga bodyguard terpercaya dan orang sekitar tidak pernah melihat siapa pemilik rumah tersebut.