
Naina terus tersenyum, tatapannya tertuju pada suaminya begitu juga dengan suaminya yang terus memandangnya. Kabar baik lagi adalah kaki Naina yang sakit sudah bisa di gerakan dengan baik dan dia masih harus terus melakukan pemeriksaan dan terapi di rumah. Kini, Naina sudah sampai di hadapan suaminya.
” Ayo jangan malu-malu” ucap Kabir dan melepaskan tangan Naina, Uwais meraih tangan Naina dan semua orang bertepuk tangan tapi tidak dengan Syam yang sadar jika Naina bukan miliknya lagi setelah melihat Naina dan Uwais berhadapan.
Pak Fahmi dan Kabir turun dari karpet merah, Naina membalas genggaman tangan suaminya erat. Naina dan Uwais tersenyum lebar.
” I love you sayang” ucap Uwais lalu tiba-tiba mencium pipi istrinya lembut dan semua orang histeris melihatnya.
” Mas” Naina bingung, ingin memukul suaminya tidak mungkin membiarkan suaminya akan lebih gila lagi.” Jaga sikap” ketus.
” Awas saja nanti” ancam Uwais berbisik. Dan Naina tersenyum tipis. Keduanya duduk di kursi pelaminan, Naina dan Uwais terus saling berbisik. Acara resepsi pernikahan di meriahkan oleh artis-artis ternama, host terkenal dan tarian adat istiadat yang ditampilkan membuat semua tamu senang. Acara di laksanakan malam hari, Uwais sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya.
” Kaki kamu sakit lagi sayang?”
” Enggak mas Alhamdulillah”
” Syukurlah kalau begitu”
Uwais dan Naina terus tersenyum, di luar gedung pernikahan tersebut. Ai sedang menunggu seseorang begitu juga dengan Rosa, keduanya menunggu orang yang sama yaitu Ali. Ali telat dan kedua istrinya datang duluan. Rosa yang mendapatkan undangan langsung dari Naina tidak mungkin tidak hadir apalagi Ai yang sudah seperti keluarga untuk Naina.
” Mas Ali” imbuh Rosa saat melihat suaminya datang, dia terus tersenyum dan melangkah untuk mendekati suaminya. Ali juga tersenyum manis memperhatikan Rosa yang sangat cantik malam ini. Dan berpakaian sangat sopan, ada beberapa perubahan sikap dan perilaku pada Rosa setelah dia dibimbing langsung oleh suaminya, terlebih dia juga adalah anak dari seorang ustadz. Orang tua Rosa pun sangat senang dengan perubahan Rosa.
” Mas” imbuh Ai dan Rosa menoleh, Ai berlari dan menghambur memeluk Ali. Senyuman di bibir Rosa menghilang, wajahnya begitu muram melihat Ai melakukan hal itu di hadapannya. Ali juga terkejut dengan apa yang dilakukan Ai, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahagia di peluk Ai seperti itu. Ali terus memperhatikan Rosa yang berbalik perlahan dan melangkah pergi meninggalkan nya untuk masuk duluan ke dalam gedung.
” Ai, maaf" kata Ali seraya melepaskan pelukan istrinya. Ai bingung dan dia mundur.
” Kenapa mas?”
” Jangan peluk peluk sembarangan, disini banyak orang” tutur Ali dan melirik Rosa yang kini sudah benar-benar masuk ke dalam gedung dan tidak terlihat olehnya.
” Kamu kenapa lama mas?”
” Masih ada urusan tadi, ayo sebaiknya kita masuk” ajak Ali dan Rosa merangkul tangan suaminya itu, Ali terlihat risih. Padahal istrinya yang menyentuhnya. Di dalam gedung, Rosa duduk sendirian. Dia benar-benar menyesal karena datang. Seharusnya dia di rumah saja tadi.
” Rosa? ini kamu Rosa?” tanya seorang pria, seumuran dengan Rosa. Rosa mengangkat kepalanya dan dia terdiam sejenak.
” Hemm iya” mengiyakan.
” Sama siapa kemari?”
” Sama suami aku”
” Kapan kamu menikah? teganya gak undang-undang”
Rosa hanya tersenyum tipis, Ali yang melihat istrinya bersama pria lain meradang. Ali meninggalkan Ai dan melangkah mendekati Rosa.
” Sayang” imbuhnya dan Rosa menoleh, pria yang mengajak Rosa berbicara pun menoleh.” Dia siapa?"
Rosa melirik temannya dan suaminya bergantian.
” Dia teman aku mas” jawab Rosa gugup.
” Oh” singkat Ali dan memperhatikan Rosa lekat.” Saya suaminya Rosa” kata Ali dan pria itupun memgangguk.
” Saya hanya bertegur sapa dengan Rosa, baiklah kalau begitu saya pergi. Permisi” ujarnya lalu meninggalkan Rosa dan Ali. Setelah pria itu pergi Ali meraih tangan istrinya.
” Kenapa masuk duluan tadi?”
” Kamu lagi sama Ai mas, apa aku harus menganggu?”
Ali terdiam sejenak.
” Aku mau ke toilet mas”
” Aku antar"
” Enggak usah mas”
Rosa pergi beralasan ke toilet, dari kejauhan Ai nampak memperhatikan keduanya.
” Mas Ali sayang banget sama Rosa, gimana kalau aku udah lahiran mas Ali ceraikan aku? aku sama anakku gimana?” gumam Ai. Istri muda biasanya mampu menyaingi istri pertama, tapi tidak dengan Ai, dia tetap tidak bisa menggeser posisi Rosa karena Ali sangat mencintainya.
” Uwais selamat” begitulah ucapan selamat kepada Uwais sekaligus kepada Naina. Tiba waktunya untuk berganti pakaian, Naina pergi dan Uwais tertinggal di pelaminan. Model baju kedua sangat simpel berbeda dengan gaun pertama yang dikenakan Naina. Setelah Naina pergi, Uwais yang tidak sabar untuk mencium istrinya sedari tadi akhirnya meninggalkan pelaminan untuk menyusul istrinya. Sementara Naina, dia di hadang oleh Syam. Dan Syam sama sekali tidak memberinya jalan untuk berganti pakaian padahal dia harus segera kembali kepada suaminya.
” Nai” imbuh Husna. Dan dia takut Syam berbuat nekad.
” Naina aku ingin bicara sebentar” pinta Syam.
__ADS_1
” Silahkan minggir" tegas bodyguard dari belakang dan Naina menoleh sekilas. Acara bahagia nya akan rusak jika Syam berulah. Naina menoleh menatap Husna.
Dan bodyguard.
” Saya juga harus berbicara dengannya, kalian tidak usah khawatir” tutur Naina.
” Jangan gila kayak dia kamu Nai” Husna kesal.” Dia gila, kamu di apa-apain nanti”
” Enggak mbak, mas Syam gak begitu. Mbak duluan aja” ujar Naina lagi meyakinkan Husna, Husna akhirnya pergi begitu juga dengan dua bodyguard. Tertinggal Syam dan Naina sekarang.
” Uwais tidak lama lagi akan menceraikan kamu Naina” kata Syam begitu yakin.
” Tidak akan mas”
” Aku dan Uwais membuat kesepakatan, dia akan menikahi kamu dan aku tidak akan dipenjara lalu kalian bercerai dan kita bisa menikah lagi. Ini sudah 5 bulan kamu sama dia Nai, aku benar-benar gak kuat” tuturnya, lalu melangkah maju ingin menyentuh bibir Naina tapi Naina mundur dan menepis tangan Syam kasar.
” Mas aku mohon berhenti, tidak ada kesepakatan seperti itu. Aku juga bahagia sama suamiku, dia baik mas dan dia bisa menjaga sekaligus menghargai aku sebagai istrinya. Aku sama mas Uwais gak bakal bercerai mas” lirih Naina, dan Syam malah terkekeh-kekeh.
” Dia mantan narapidana, bukan orang baik-baik”
Naina marah mendengar makian Syam.
” Cukup mas!” bentaknya.
Uwais diam, dia bersembunyi di balik tembok dan mendengar semuanya. Dia tidak menyangka Naina benar-benar membelanya, dan tidak ragu mengatakan bahwa dia adalah suaminya.
” Apa yang Uwais lakukan sampai kamu seperti ini Nai?”
” Seperti apa mas? seorang isteri tidak akan terima jika suaminya di maki-maki seperti itu. Kita sudah selesai mas, jangan berharap lebih. Kamu juga akan menikah dengan Fatma. Dia gadis baik, aku harap kamu bisa menjaganya. Jangan sampai apa yang aku alami selama berumah tangga sama kamu Fatma mengalaminya juga” tegas Naina, dia ingin melangkah tapi Syam tetap tidak memberikannya jalan.
” Kamu jatuh cinta sama Uwais? apa dia lebih baik dari aku Nai?. Aku gak suka sama Fatma, kami dijodohkan. Walaupun kamu hamil anaknya Uwais aku tidak masalah menganggapnya sebagai anakku sendiri”
” Jangan bodoh kamu mas, aku sama mas Uwais tidak akan bercerai sampai kapanpun. Minggir mas”
” Kalau kalian gak bercerai, aku sendiri yang akan membuat kalian berpisah. Ingat itu Naina!” tegas Syam, Naina tersentak kaget mendengar ucapan mantan suaminya. Uwais yang sudah tidak tahan lagi akhirnya melangkah dan menarik bahu Syam lalu mendorongnya agar menyingkir dari hadapan istrinya.
” Mas” lirih Naina, suaranya melemah. Dia takut suaminya salah paham dan marah padanya.
” Jangan menganggu rumah tangga ku atau aku sendiri yang akan melakukan hal gila padamu” ancam Uwais lalu Syam mencengkram kuat kerah bajunya dan Uwais membalasnya. Naina panik dan menarik-narik ujung jas suaminya agar berhenti.
” Silahkan, kamu pasti akan masuk penjara lagi jika melakukannya” Syam malah memancing emosi Uwais.
” Mas, cukup mas" Naina berusaha memeluk Uwais agar berhenti.” Mas, aaaghh mas perutku sakit mas” terpaksa berbohong.
” Sialan kamu Syam” teriak Uwais.
” Mas perut aku sakit” Naina pura-pura kesakitan dan Uwais menundukkan kepalanya menatap istrinya yang sedang kesakitan itu.
” Kenapa? kamu kesenggol tadi sayang?" Uwais panik dan memeluk serta mengelus perut istrinya.” Siapkan mobil!” teriaknya kepada bodyguard.
” Enggak mas, aku mau istirahat aja sebentar” Naina takut kebohongannya diketahui suaminya.
” Naina kamu gak apa-apa Nai?" tanya Syam.
” Cih, minggir" Uwais setengah berteriak, dia menggendong Naina dan membawanya pergi ke salah satu kamar di gedung tersebut. Naina berpegangan pada bahu suaminya dan terus mendongak menatap wajah panik Uwais.
” Kita ke rumah sakit aja”
” Enggak mas, emmm aku mau istirahat dulu. Kalau terus sakit kita ke rumah sakit”
Uwais mengangguk lalu membawa Naina, Husna dan perias di kamar tersebut terkejut.
” Naina kamu kenapa? mbak udah pulang Syam itu gila”
” Mas aku mau berdua sama kamu dulu, mbak maaf ya aku mau sama mas Uwais dulu” tutur Naina dan Uwais mulai menyadari gelagat aneh istrinya. Husna dan yang lain akhirnya keluar dari kamar dan Uwais mengajak Naina duduk.
” Masih sakit?”
” Emmm mas maaf”
” Kenapa?”
” Aku gak sakit mas, perut aku baik-baik aja. Anak kita baik-baik aja mas”
” Kamu bohong? keterlaluan”
” Kalau aku gak bohong, kamu gak bakal berhenti. Kamu terluka mas” Naina khawatir dan menyentuh pelipis suaminya, dia tiup lembut dan Uwais tersenyum.” Aku minta maaf mas, kamu jangan marah. Aku beneran gak ngapa-ngapain sama mas Syam tadi”
__ADS_1
” Naina jangan sebut-sebut dia disini, iya gak apa-apa. Aku percaya sama kamu. Perutnya beneran gak sakit?” Uwais masih khawatir lalu menyentuh perut istrinya dan Naina menggeleng kepala.
” Enggak mas”
” Aku beneran khawatir sayang” Uwais memegang pipi kanan istrinya lembut dan Naina tersenyum.” Cium aku supaya aku tenang”
” Kamu terluka mas”
” Ini luka kecil, cium aku lukanya akan sembuh nanti”
” Mana bisa begitu” Naina tersenyum lebar dan Uwais terkekeh-kekeh.
” Ayo cium suami kamu ini yang sangat kamu banggakan tadi” Uwais terus tersenyum, dia bergeser dan Naina menciumnya sekilas.” Itu hanya menempel, bukan berciuman. Ayo berciuman”
” Mas berisik kalau ada yang denger gimana?”
” Kita suami istri, mau ciuman mau lebih itu terserah kita”
” Tidak sesuai situasi” Naina bangkit dari duduknya, Uwais bangkit dan menarik lengan istrinya sampai Naina membentur dadanya. Dia sudah tidak kuat bermain-main dengan Naina yang terus menggodanya, Uwais menghapus lipstik di bibir istrinya dengan ibu jarinya lalu menciumi bibir istrinya sampai Naina tidak bisa menahan serangan mendadak suaminya itu.
” Ummm mas" ucap Naina di sela-sela berhenti untuk mengambil nafas.
Tok tok tok ketukan pintu membuat keduanya kaget, Uwais melepaskan ciumannya dan berbalik begitu juga dengan Naina yang langsung meraih tisu dan mengusap bibir basahnya.
” Iya" sahut Naina.
” Kamu gak apa-apa kan Nai?” suara Husna.
” Iya mbak aku gak apa-apa” sahut Naina, Uwais tersenyum dan menekan kedua pipi Naina lalu menciumi bibir istrinya lagi, Naina memukul dan mendorong dada suaminya agar berhenti.
” Nai, kami boleh masuk?" Husna berteriak lagi.
Uwais masih menciumi istrinya sambil tersenyum, Uwais ingin tertawa melihat wajah panik Naina. Pintu bisa saja tiba-tiba di buka, Naina yang kesal menjewer telinga Uwais dan Uwais melepaskan ciumannya.
” Sakit sayang”
” Enggak aku kasih jatah kamu mas seminggu”
” Jangan sayang, marah? jangan marah ya”
” Semuanya mau masuk, aku mau ganti baju” ketus.
” Iya aku keluar, tapi jangan marah. Kamu gak lihat si junior udah bangun” menunjuk barang miliknya dan Naina membungkam mulut Uwais dengan tangannya sekilas.
” Mas kamu nyebelin banget sih, ayo keluar”
” Janji dulu, nanti main”
” Enggak”
” Ya udah sini cium lagi” Uwais sudah memegang kedua pipi Naina kembali.
” Iya mas iya” Naina mengalah.
” Bener?”
” He'em"
” Awas kalau bohong” Uwais tersenyum dan di membuka pintu lalu keluar, setelah Uwais pergi Naina tersenyum dan tertawa kecil.
” Kenapa kamu Nai?” Husna bingung.
” Enggak mbak, gak apa-apa” Naina tersenyum lebar. Naina akhirnya bersiap kembali untuk kembali ke pelaminan. Di luar gedung, mama Novi tercengang melihat pemandangan di pelupuk matanya. Syifa terus menangis apalagi Syam yang malah membuat keributan dan mama Novi membawa Syifa keluar dari gedung, namun dia melihat pemandangan tidak pantas untuk dilihat dan buru-buru menenggelamkan wajah Syifa ke dadanya. Kabir dan Fatma sedang berciuman di belakang sebuah mobil, di luar memang sepi dan di parkiran sedikit gelap. Mama Novi menangis melihat tingkah laku calon menantunya. Kabir dan Fatma terlihat selesai dengan aktivitasnya dan keduanya sama-sama menundukkan kepala.
” Tolong aku” lirih Fatma. Kabir memperhatikan bibir Fatma yang sudah dia nikmati cukup lama itu. Kabir berbalik dan meremas rambutnya frustasi.
” Ini salah Fatma” ujarnya setelah sadar apa yang sudah dia lakukan kepada Fatma.
Mama Novi melangkah pergi sambil menangis, dia berjalan cepat untuk segera masuk ke dalam gedung. Sesampainya di dalam gedung, tatapan matanya tertuju kepada Naina dan Uwais. Naina menantu kesayangannya, betapa menyesalnya mama Novi karena tidak bisa mendidik Syam dengan baik sampai bisa kehilangan wanita sebaik Naina.
” Ada apa?” tanya ayah Rahman. Mama Novi buru-buru menghapus air matanya dan Syifa dia berikan kepada baby sitter.
” Aku sangat bahagia melihat Naina bahagia mas” mama Novi berusaha untuk tersenyum walaupun dia benar-benar merasa berat, ayah Rahman tersenyum lalu merangkul bahu istrinya.
” Syam juga akan bahagia dengan Fatma, aku yakin” ayah Rahman terus tersenyum.
Mama Novi mengepalkan tangannya, dia tidak mau pernikahan Fatma dan Syam terjadi. Dia berharap Fatma bisa merubah Syam tapi nyatanya Fatma menjalin hubungan dengan pria lain bahkan melakukan hal gila.
__ADS_1
” Menilai manusia memang tidak bisa dari pakaiannya, pakaiannya tidak bisa disalahkan” imbuh mama Novi, ayah Rahman yang mendengar sekilas menoleh dan memperhatikan istrinya.