
Naina masih merapat di dinding, melihat istrinya ketakutan Uwais merangkul pinggang istrinya sampai Naina terkejut dan merasakan dadanya menempel sangat rapat dengan tubuh basah Uwais.
” Aku bisa saja melakukan itu Nai, tapi aku cuma mau sama kamu. Kamu gak tahu kan? aku harus nahan saat kita dekat seperti ini. Kamu masih gak percaya aku suami kamu”
” Aku percaya mas”
” Bohong, kamu gak percaya Nai. Kamu nampar aku Naina”
” Aku minta maaf, aku gak sengaja. Aku gak inget apa-apa tiba-tiba kamu mau buka baju aku mas aku kaget hiks...” lirih Naina. Naina menangis dan berusaha berontak tapi Uwais menahan pinggang nya. Uwais tiba-tiba mencium bibir istrinya lembut dan Naina menerima dan tangisannya berhenti, Uwais membuka kancing bajunya dan Naina diam. Lalu Uwais melepaskan ciumannya.
” Aku sayang sama kamu Nai, aku cinta sama kamu”
” Aku juga mas” lirih Naina.” Aku minta maaf mas"
” Aku yang minta maaf, jangan dengerin ucapan orang lain Nai cukup lihat aku aja”
Naina mengangguk, Uwais menciumnya lagi. Semakin lama dia semakin tidak bisa menguasai dirinya, begitu juga dengan Naina. Uwais melepaskan ciumannya, menggendong istrinya ke atas kasur dan mematikkan lampu di langit-langit kamar dan lampu di atas meja menyala. Naina mendesah kasar saat Uwais mengecup lehernya, Uwais sudah tidak tahan lagi dan melepaskan jubah handuk panjang itu sampai tubuh polos Naina bisa dia lihat. Uwais menindih tubuh istrinya, bertumpu pada kedua lutut kuatnya itu. Suara kecupan dan desahan keduanya memenuhi ruangan, Naina meremas rambut suaminya berkali-kali dan Uwais tersenyum melihat Naina meresponnya, Uwais melepaskan semua pakaiannya, dan dia mulai mendobrak perlahan pertahanan Naina, Naina mengerang keras saat Uwais berusaha masuk tapi terasa susah dan sempit, tangan Uwais merayap dan mengenggam tangan Naina yang meremas seprai. Naina juga membalas genggaman tangannya, genggaman tangan tersebut sesekali terlepas tapi Uwais menahan tangan Naina dan mempertahankan pergerakan di bawah Naina sampai akhirnya bisa masuk dan Naina meringis kesakitan.
” Mas,, sakit”
” Tahan, masih lama” Uwais berbisik, bahunya menempel di bibir Naina dan Naina yang merasa ngilu tak sengaja menggigit bahu suaminya sampai Uwais meringis tapi menahannya, Uwais membalas gigitan istrinya dengan mengecup keras leher dan dada istrinya,. tubuh Naina mulai lemas tak kuasa dia mengimbangi tenaga dan permainan suaminya. Tapi Uwais masih merasa belum puas. Dia terus memancing istrinya, tubuh keduanya berkeringat merasa panas padahal di luar turun hujan dan sangat dingin. Setelah selesai, Uwais menyingkir dari atas tubuh istrinya. Dia berbaring dan Naina membelakanginya, merasakan ngilu di area **** * nya membuat Naina ragu untuk bergerak sampai Uwais menarik bahu Naina sampai berbalik.
” Sakit?” tanya Uwais dan Naina mengangguk.” Kemari” Uwais merangkul pinggang istrinya dan Naina bergeser ke dalam dekapan suaminya, Uwais menyelimuti tubuh polosnya dan tubuh polos Naina dengan selimut, Naina menatap dada Uwais yang berkeringat dingin di depan matanya, Uwais juga mengusap bahu dan punggung Naina yang berkeringat, tangan Uwais bergerak ke bawah ingin menyentuh area sensitif istrinya dan Naina diam.
” Sakit mas, jangan di pegang”
” Aku elus biar gak sakit lagi”
” Hemm” kata Naina dan dia mengantuk.
” Enak gak? masih ragu?”
” Diam mas” kata Naina cepat dan Uwais terkekeh. Naina tidak tidur, dia terbayang-bayang bayangan saat dia berhubungan dengan Uwais tadi, sekelebat bayangan masa lalu melintas. Terlihat agak jelas dan tidak seperti biasanya, tapi Naina masih takut. Takut apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan.
” Aku suami kamu Nai, kita sudah lama gak ngelakuin ini. Kamu inget sesuatu? kamu sangat manja dulu sama aku, apalagi setelah kamu hamil Naura”
Naina diam mendengarnya, Naina mendongak dan saling menatap lekat dengan suaminya. Uwais mengecup bibir Naina sekilas dan Naina menggigit bibir bawahnya kelu.
” Kamu sangat manja” ucap Uwais lalu menciumi leher istrinya dan Naina menutup matanya. Leher dan dadanya penuh dengan bekas kecupan, tubuhnya terasa lengket dengan keringat. Tangan Naina menempel di perut kotak-kotak suaminya dan Uwais menoleh. Dia menunduk dan melihat dada telanjang Naina menempel di dadanya, Uwais tiba-tiba meremasnya lembut dan Naina tersenyum merasa geli dengan bibir Uwais yang menciumi lehernya.
” Cukup mas”
” Sudah cukup untuk malam ini, sekarang kita tidur saja” ucap Uwais dan berhenti. Uwais mengecup kening istrinya sekilas lalu memeluk istrinya erat dan Naina mulai menutup matanya.
” I love you”
Naina diam.
” Jawab!”
” I love you too”
Uwais baru tersenyum. Keduanya tidak lama tertidur pulas, di bawah selimut yang sama. Keesokan paginya Uwais terbangun saat alarm di ponselnya berdering. Uwais tidak berhenti menatap istrinya lekat yang sedang dia peluk itu.
” Sayang bangun, sudah subuh” Uwais berbisik. Naina menggeliat dan merapatkan wajahnya ke leher suaminya. Tiba-tiba Naina membuka matanya saat Uwais ingin melakukan lagi apa yang semalam terjadi.
” Mas” Naina berusaha menjauh.
” Cuma sebentar sayang, boleh ya?” tanya Uwais sambil menatap istrinya sendu.
” Bismillah dulu mas” kata Naina.
__ADS_1
” Iya” singkat Uwais.”
Kejadian semalam pun terulang kembali.
******
Pukul 7 pagi, Naina dan Uwais kembali ke rumah mereka. Naura sudah menunggu, tidak mau mandi dan sarapan. Melihat kedatangan mobil ayahnya dia langsung berlari keluar dan berharap Naina dibawa pulang oleh ayahnya itu.
” Mamah!” teriak Naura begitu senang dan berlari ke arah ibunya, Naina membungkuk mengangkat dan memeluk anaknya itu. Uwais tersenyum, pelayan memperhatikan pakaian bos lelaki mereka begitu kusut, rambutnya tidak rapih seperti biasanya. Tapi bos mereka terus tersenyum bahagia.
” Aku ganti baju dulu” ucap Uwais seraya merangkul pinggang istrinya sekilas dan Naina mengangguk.” Dadah” kata Uwais kepada Naura dan Naura melambaikan tangannya.
” Naura udah sarapan?” tanya Naina dan Naura menggeleng kepala.” Sarapan sama mama ya?”
” Mau” Naura antusias. Dan Naina membawanya masuk ke dalam rumah.
Naina mengajak Naura sarapan dan tidak memberikan kesempatan untuk Fatin mendekati anaknya, di saat dia sedang menyuapi Naura Uwais datang dalam keadaan sudah rapih dan wangi seperti biasanya.
” Titah semuanya untuk berkumpul” titah Uwais kepada Zidan dan Zidan mengangguk.
” Bawa semuanya yang di luar berkumpul” kata Zidan kepada bodyguard dan bubar untuk memanggil yang lain, Fatin kebingungan melihat apa yang terjadi. Semuanya diminta berkumpul. Naina tersenyum melihat kepanikan di wajah Fatin, setelah semuanya berkumpul Uwais juga melihat Naina sudah selesai menyuapi Naura.
” Bi, bawa Naura mandi” titah Uwais dan Bi Astri mengangguk. Naura di bawa pergi tanpa Naura banyak bicara dia pergi untuk mandi. Uwais mendekati Naina dan mengajak Naina berdiri sambil dia rangkul pinggangnya.
” Apa ini? mereka baikan” gumam Fatin bertanya-tanya.
” Sayang mau kamu apakan para pelayan yang tidak menghormati kamu?” tanya Uwais dan Naina menoleh padanya, Naina menggeleng kepala.
” Hanya satu” jawabnya sambil melirik Fatin dan Fatin menundukkan kepalanya.
” Terserah kamu mau apakan dia” kata Uwais memasrahkan semua keputusan kepada istrinya.
” Pecat Fatin mas, aku akui jasanya karena sudah merawat Naura walaupun hanya 40% dan sisanya dikerjakan bi Astri. Tapi dia tidak memiliki sopan santun, aku sudah ada jadi tidak perlu ada lagi baby sitter untuk mengurus Naura. Naura sudah bisa meniru ucapan orang dewasa dan perilaku orang dewasa, aku takut perilaku baiknya di tiru Naida dan dia juga sama sekali tidak menghargai kamu” tutur Naina sambil menatap Fatin sinis. Dia benar-benar tidak suka melihat pengasuh anaknya berkelakuan tidak pantas. Fatin diam dan benar-benar tidak percaya dia pecat.
” Kamu kami pecat, silahkan bereskan barang-barang semuanya tanpa terkecuali dan untuk gaji dan bonus sekertaris saya yang mengurus. Pergi sejauh mungkin, jangan coba-coba lagi untuk masuk kemari karena kamu sama sekali tidak dibutuhkan, silahkan pergi” tutur Uwais dan Fatin menangis usahanya sia-sia dan malah kehilangan pekerjaan. Uwais melirik Zidan dan Zidan memegang bahu Fatin lalu mengiringnya ke belakang, bukan hanya Naina yang senang Fatin pergi tapi pelayan yang lain juga senang.
” Ini jadi perhatian untuk semuanya, hormati istri saya seperti kalian menghormati saya. Istri saya sedang sakit, jika dia keliru apa salahnya kalian membantu jika untuk urusan rumah? kalian boleh bubar” tutur Uwais.
” Siap bos” seru semuanya, semuanya bubar untuk kembali bekerja dan Uwais mengajak Naina duduk kembali.
” Jangan cemberut terus dong, sarapan sekarang” kata Uwais seraya mencubit dagu istrinya dan Naina tersenyum.
” Aku siapin”
” Oke” Uwais diam, menunggu istrinya menyiapkan sarapan untuknya. Setelah selesai Naina ingin meraih piring untuknya tapi langsung di rebut Uwais.
” Aku mau makan satu piring, kita dulu sering begitu” ucap Uwais dan Naina tersenyum.
” Apa kita dulu termasuk pasangan yang romantis?”
” Dulu sampai selamanya” ucap Uwais dan Naina terdiam, dia terpaku dengan ucapan suaminya itu.” Aku suapi”
Naina mengangguk.
*****
Berkelahi.
Syam menyenderkan punggungnya di pintu mobil, dia menunggu Uwais yang biasa melewati jalan tersebut. Dari kejauhan terlihat mobil Uwais akhirnya datang. Zidan menghentikan mobil saat melihat Syam melangkah ke tengah jalan.
” Tunggu disini” ucap Uwais dan dia keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Tanpa basa basi Syam langsung menyerah namun tumbang dengan satu kali tendangan di kakinya. Syam terus meringis dan Uwais berjongkok di sebelahnya.
” Kamu bawa Naina kemana Uwais?”
” Dia istriku, terserah mau aku bawa kemana dia”
Bug! Syam memukul wajah Uwais kasar dan Uwais membalasnya. Melihat kondisi yang sudah tidak terkendali Zidan keluar melerai perkelahian tersebut.
” Naina milikku” teriak Syam.
” Dasar gila” maki Uwais yang terus di tahan oleh Zidan, pelipis dan sudut bibirnya memar. Apalagi Syam yang dia pukul empat kali.
” Bos sudah bos, dia mabuk mending bos pergi biar saya tahan dia” kata Zidan dan membuka pintu mobil, Uwais masuk ke dalam mobilnya dan menancap gas dan Zidan menahan Syam sekuat tenaga.
” Kamu mabuk” kata Zidan kepada Syam dan setelah yakin Uwais jauh dia melepaskan Syam. Syam tertawa dan menangis di tengah jalan, Zidan menggeleng kepala dan menelepon salah satu bodyguard agar menjemputnya.
” Sialan” teriak Syam.
Zidan tidak perduli dan menjauh sembari menunggu mobil datang menjemputnya, di rumah Uwais sudah sampai karena pintu gerbang tak kunjung di buka Uwais menabrakkan mobilnya sendiri sampai penyok dan semua orang di dalam rumah terkejut termasuk Naina yang sedang menemani Naura tidur.
” Suara apa itu?” gumam Naina dia langsung turun dari ranjang dan berlari ke arah jendela untuk melihat apa yang terjadi, saat Naina membuka jendela dia melihat Uwais keluar dari mobil. Pintu gerbang tinggi itu sampai miring tidak tidak bisa di geser untuk di tutup. Naina menggigit bibir bawahnya kelu melihat kemarahan suaminya sampai seperti itu dan dia berharap Uwais tidak menemuinya sekarang. Naina menoleh dan melihat lampu di pintu menyala. Suaminya benar-benar datang, Naina merapihkan rambutnya dan mengoleskan parfum jangan sampai penampilannya membuat suaminya tambah marah.
” Assalamu'alaikum” ucap Uwais.
” Wa'alaikumus Salaam mas" jawab Naina sambil pura-pura merapihkan sofa, Uwais melangkah mendekati Naina dan menatap Naura yang sudah tidur. Uwais langsung memeluk tubuh istrinya itu dari belakang dan Naina terkejut saat bibir Uwais menempel di lehernya.
” Kamu pasti capek mas, aku buatin teh mau?”
” Mau pergi ke dapur dengan pakaian begini sayang?” Uwais tersenyum melihat istrinya sangat cantik dan wangi di saat dia sedang marah.
” Ya aku ganti baju dulu mas”
” Enggak boleh, aku suka. Biar pelayan yang buat.”
Naina tersenyum lalu berbalik, senyumannya lenyap saat melihat wajah suaminya.
” Mas.." Naina menyentuh pipi suaminya tapi Uwais meraih pergelangan tangannya dan mencium telapak tangannya.” Kamu berantem mas?”
” Kemari” ajak Uwais lalu dia duduk dan menarik Naina ke pangkuannya.” Dengerin aku sayang, kamu gak boleh keluar untuk dua hari ke depan kecuali sama aku. Diem di rumah aja”
” Emang kenapa mas?”
” Bisa kan nurut, tanpa harus banyak tanya”
” Aku harus tahu biar waspada mas”
” Oke” Uwais tersenyum lalu menyisir rambut istrinya dengan jemarinya.” Pria yang ngaku-ngaku suami kamu waktu itu lagi nyariin kamu, Ali juga nelepon setiap malam dia datang ke ruko kamu”
Naina diam, dia takut mendengar Syam mencarinya.
” Aku takut mas” lirih Naina.
” Ada aku, yang penting kamu nurut gak usah bandel”
Naina tersenyum lalu mengangguk. Naina diam saat Uwais mendekatkan wajahnya.
” Beri aku ciuman” pinta Uwais dan Naina menggeleng kepala.” Kenapa? masih malu-malu?” goda Uwais dan menempelkan wajahnya di pipi Naina.
Naina diam dan tangannya mengelus rambut suaminya itu.
” Luka kamu harus di obati mas, takutnya infeksi”
__ADS_1
” Diam dulu" kata Uwais yang sedang nyaman memeluk istrinya di pangkuannya.