
Karena semuanya bertemu, Asil mengajak semuanya untuk makan bersama. Naina duduk di apit oleh Kabir dan Ai, keduanya tahu Uwais seperti apa dan Syam seperti apa. Jika Syam dan Naina duduk berdekatan dan Uwais tahu entah apa yang akan terjadi. Syam tipe pria yang pencemburu, sekalinya cemburu dia bisa menggila. Begitu juga dengan Uwais, namun Uwais lebih santai dan
sering diam jika sedang cemburu.
” Aku yang traktir, tenang aja” kata Asil.
Semuanya mengangguk, tapi beda dengan Kabir dan Fatma. Keduanya saling melirik bingung, tangan Kabir terkepal kuat di bawah meja.
” Assalamu'alaikum” imbuh Uwais. Naina menoleh cepat.
” Wa'alaikumus Salaam” jawab semuanya. Kabir bangkit, pindah ke kursi lain dan Uwais duduk di sebelah istrinya.
” Sengaja ketemuan sama mantan?" Uwais berbisik di telinga istrinya.
” Apaan sih?” Naina kesal mendengar ucapan suaminya. Uwais meraih tangan Naina di bawah meja, Naina berusaha melepaskan tangan suaminya karena kesal tapi Uwais tidak melepaskannya.
” Mau pesan makanan juga?” tanya Asil kepada Uwais.
” Saya sudah kenyang” imbuh Uwais menolak dan Asil tersenyum. Syam memperhatikan tangan Naina dan Uwais, dia sengaja menjatuhkan sendok dari tangannya dan membungkuk ke bawah meja. Benar saja, tangan Naina dan Uwais sedang bergenggaman di sana. Wajah Syam merah memendam amarah, dia duduk lagi dengan tenang dan menatap tajam Uwais. Uwais yang sadar balik menatapnya tajam.
” Mas, jangan macam-macam ya” tegur Naina berbisik. Uwais mengangguk dan tersenyum.
” Naina, kamu bisa datang kan ke pernikahan Syam dan Fatma. 2 Minggu lagi” ujar Asil.
” Kami juga akan mengadakan resepsi pernikahan, 4 hari lagi. Kami pasti datang” jawab Uwais.
” Oh begitu, kok kamu gak ngundang kami Nai?" Asil sedikit kecewa.
” Undangannya baru di sebar, ini undangan khusus untuk keluarga kalian. Undangannya harus di bawa ya” Uwais mengeluarkan undangan dari tas nya dan memberikannya kepada Asil. Asil menerima dengan senang hati.
Naina diam memperhatikan suaminya, dan memakan makanannya juga. Beruntungnya dia karena Uwais bisa menahan amarahnya, Naina sadar dengan tatapan tajam Syam kepada suaminya. Fatma dan Kabir diam-diam saling melirik, Fatma bangkit untuk berpamitan ke toilet.
” Saya mau ke toilet dulu” kata Fatma dan semuanya mengangguk, Fatma pergi dan Kabir juga bangkit.
” Bang, mbak aku pulang duluan.” Kata Kabir.
” Naik apa?” Naina bingung.
” Aku naik taksi aja, biar Ai di antar supir nanti"
” Ya sudah hati-hati” Naina tersenyum dan Kabir pergi.
Kabir melangkah pergi menyusul Fatma, Fatma juga berbelok ke arah lain bukan ke toilet. Kabir meraih tangan Fatma dan menariknya ke tempat sepi.
” Kurang ajar kamu Fatma, kamu bohong sama aku” tegas Kabir.
” Aku tidak bermaksud membohongi kamu Kabir, aku minta maaf”
” Mas Syam itu mantan kakak aku, mantan suami mbak Naina. Gila kamu ya Fatma” Kabir benar-benar kecewa, dia berbalik membelakangi Fatma. Fatma memeluknya erat dari belakang dan tidak mau Kabir meninggalkan nya.
” Lepas!” titah Kabir dan Fatma semakin mengeratkan pelukannya.
” Aku berusaha cerita sama kamu, tapi aku takut kamu ninggalin aku”
” Lepas Fatma” Kabir melepaskan pelukan Fatma paksa, dan berbalik.” Aku emang sayang sama kamu, tapi kamu akan menikah dengan pria lain. Untuk menjalin hubungan dengan istri orang aku gak sanggup, aku gak mau. Kita putus, dan jangan sampai semua orang tahu tentang hubungan kita. Lupakan semuanya” imbuh Kabir, kedua matanya berkaca-kaca. Kabir melangkah pergi meninggalkan Fatma walaupun Fatma mengejarnya dia tidak perduli. Di tidak mau menjalin hubungan dengan istri orang.
Setelah makan bersama selesai, semuanya pulang. Naina satu mobil dengan suaminya dan Ai di antar oleh supir. Uwais harus kembali bekerja bahkan dia harus keluar kota siang ini.
” Sayang, kenapa diam terus dari tadi?” tanya Uwais kepada Naina.
” Aku gak suka kamu ngomong begitu tadi di restoran”
Uwais tersenyum tipis lalu mengelus pipi istrinya lembut.
” Tapi emang kamu kayak bahagia ketemu mantan” goda nya.
” Mas apaan sih” Naina cemberut. Uwais terus tersenyum lebar.” Mas agak cepetan nyetirnya, aku capek mau istirahat”
__ADS_1
” Siapa suruh ke mal, siapa yang memberimu izin? ngapain ke mal?” tanya Uwais terus-menerus dan Naina panik.
” Aku,,,,”
” Berarti sengaja ketemuan sama mantan ya?”
” Enggak mas” Naina bingung, jika dia jujur kejutannya gagal.
” Belanja apa kamu tadi sayang? banyak banget. Aku belum lihat” ucap Uwais lagi semakin penasaran melihat ketegangan di wajah istrinya.
” Cuma kebutuhan toko, itu aja mas” Naina tersenyum.” Ayo mas pulang” Naina merengek-rengek seraya menggoyangkan tangan suaminya.
” Aku ada pekerjaan, pasti pulang malam hari ini. Enggak apa-apa kan?”
” Tapi enggak ke luar negeri atau keluar kota lagi kan? aku gak mau tidur sendirian lagi mas”
” Enggak, cuma pekerjaan di kantor. Tidur aja duluan”
” Iya mas”
Naina tersenyum lebar, dia merasa memiliki kesempatan untuk menyiapkan semuanya hari ini. Uwais sama sekali tidak pernah merayakan ulang tahunnya setelah keluarganya tiada, dia bahkan tidak ingat dengan tanggal ulang tahunnya.
” Mas, ngomong-ngomong kamu tahu dari mana aku di mal?” tanya Naina dan Uwais terdiam sejenak.
” Oh itu, emmm Kabir yang ngasih tahu aku sayang”
Naina mengangguk percaya.
******
Malam hari tiba, Ai meringkuk di atas ranjang tempat tidurnya. Kakak, ayah dan ibunya terus bergunjing tentang dirinya dan Ali. Ali tidak pulang hari ini, ke toko juga tidak ada. Ai memperhatikan keramik yang biasanya tertutup tikar dan tubuh suaminya di atasnya. Kini Ali tidak ada dan Ai merasa ada yang kurang.
” Mas Ali lagi ngapain ya?" Ai bertanya-tanya.” Dia gak suka sama aku, aku juga begitu. Bagaimana pernikahan ini bisa terus berjalan?” Ai semakin bingung, dia berbalik dan menutupi wajahnya dengan bantal. Ai menangis tersedu-sedu, saat dia kini mengingat Akbar kembali. Pria yang menghancurkan hidupnya dengan rayuan gombal dan sekarang dia sudah benar-benar pergi.
****
Bi Astri sedang merias tempat tidur dan tersenyum memperhatikan Naina.
” Bu, saya mau ke dapur. Ada lagi yang harus saya bantu?” tanya Bi Astri dan Naina menoleh.
” Bibi istirahat aja, gak usah ke dapur lagi. Udah malam” Naina tersenyum dan Bu Astri mengangguk lalu dia pergi. Setelah Bi Astri pergi, Naina mengunci pintu kamarnya. Naina melepaskan handuk dari kepalanya dan meraih hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Di luar rumah, mobil Uwais masuk melewati pintu gerbang. Bi Astri yang hendak istirahat tidak jadi dan menunggu Uwais sampai di pintu. Uwais turun dari dalam mobil dan Zidan membawa mobil. Uwais tersenyum saat Bi Astri tersenyum.
” Dimana Naina?” tanya Uwais dan Bi Astri tersenyum lagi.
” Sudah tidur” jawabnya seperti apa yang diperintahkan Naina. Uwais mengernyit heran, istrinya memintanya cepat pulang tapi pas dia pulang Naina malah tidur. Padahal Uwais ingin meminta jatahnya malam ini. Uwais pergi dan Bi Astri membawa sepatunya ke belakang. Uwais menaiki lift menuju kamarnya, dia sangat lelah. Wajahnya begitu berminyak dan rambutnya kusut, segera dia usap wajahnya dan merapihkan rambutnya. Tidak mau dia terlihat buruk di depan istrinya tercinta. Uwais masuk ke kamar kakeknya, kakeknya sedang tidak ada dia dia ingin mandi terlebih dahulu. Naina di kamarnya sedang harap-harap cemas. Dia akhirnya merapihkan kembali posisi bunga, kue, dan lilin di kamarnya.
” Mas Uwais kok lama ya, kan aku pengen lihat dia” imbuhnya lalu cemberut. Naina yang melihat pigura foto pernikahannya dan Uwais tidak benar di dinding menggeser kursi lalu dia naik untuk membenarkan posisi pigura fotonya. Uwais yang sudah selesai membersihkan diri dan memakai wewangian, menekan tombol dan mengetikan beberapa nomor sandi kamarnya. Dia dorong pintu dan Naina yang terkejut menginjak tepian kursi dan akan terjatuh.
” Naina!” Uwais panik dan Naina jatuh ke dalam gendongannya. Naina juga terkejut dan berpegangan pada tengkuk suaminya." Ngapain kamu?” Uwais kesal. Naina dan calon bayinya bisa saja terluka.
” Aku,,,,” takut, tidak berani bicara. Kejutan gagal karena insiden barusan.
” Ceroboh” kata Uwais kesal lalu menendang pintu. Pintu sudah terkunci rapat sekarang. Uwais masih menggendong Naina dan dia melangkah membawanya ke atas sofa.
” Mana yang sakit?”
” Aku enggak apa-apa mas”
” Kamu ngapain sih sayang, hemm?" Uwais merapihkan rambut istrinya itu dan membelai wajah cantik istrinya lembut.
” Aku,,,” Naina menundukkan kepalanya, Uwais belum sadar dengan suasana kamarnya.
” Aku apa?”
Naina diam dan bertatapan mata dengan suaminya, Uwais memperhatikan istrinya yang begitu sangat cantik malam ini. Kata Bi Astri sudah tidur, tapi ternyata istrinya malah berhias begini dan membuatnya tidak tahan. Uwais tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan bibirnya hampir sampai di bibir Naina. Naina memalingkan wajahnya dan Uwais membuang nafas frustasi.
” Aku punya sesuatu, tutup mata kamu” kata Naina dan menutup mata Uwais dengan kain berwarna merah.
__ADS_1
” Mau apa? sayang?" Uwais meraba-raba matanya. Dan Naina menepis tangannya agar diam.
” Diam dulu sayang” kata Naina dan Uwais tersenyum lebar. Tidak pernah Naina memanggilnya begitu. Dan dia sangat senang dan akhirnya dia diam, terserah Naina mau apa dengannya malam ini. Naina mengajak Uwais bangkit dari duduknya.” Ayo mas ikut aku sebentar”
” Iya sayang iya” Uwais terus tersenyum. Naina melepaskan genggaman tangannya dan dia menyiapkan kue ulangtahun yang terukir indah namanya dan nama suaminya di atas nya. Naina memesan kue lewat bi Astri, karena tadi siang tidak sempat.
” Sayang udah belum?”
” Belum, sebentar mas”
Naina melangkah mendekati suaminya, dia berjinjit membuka kain penutup mata suaminya perlahan.
” Jangan dulu buka mata” titah Naina lagi dan Uwais mengangguk.
” Oke, buka sekarang” seru Naina dan Uwais membuka matanya. Naina menyalakan semua lampu dan Uwais memutar badannya, dia terperangah melihat semua yang ada di kamarnya.
” Selamat ulang tahun mas” ucap Naina, dan Uwais tersenyum. Uwais menangis dan Naina memeluk suaminya erat.
” Mas kamu kenapa?” Naina jadi ikut sedih, Uwais mengusap air matanya dan memeluk istrinya erat. Tidak lama dia melepaskan pelukannya lalu menciumi seluruh wajah istrinya dan mengecup lidah istrinya setelah berciuman.
” Mas, kenapa?” tanya Naina lagi dan mengelus pipi suaminya lembut.
” Aku kaget sayang, aku bahagia, kamu nyiapin semua ini? capek pasti”
” Enggak mas, aku senang bisa menyiapkan semuanya”
” Terima kasih sayang”
” Sama-sama mas”
Keduanya tersenyum, lalu berbalik dan keduanya meniup lilin bersama-sama. Uwais menarik sofa agar Naina bisa duduk. Naina mempersiapkan kamera untuk mengambil foto. Keduanya mengambil foto untuk koleksi pribadi, ada beberapa foto yang menunjukkan tatapan dalam Uwais kepada Naina dan ciuman mesra di pipi istrinya.
” Aku potong dulu kue nya ya mas”
” Enggak sayang, biar aku. Kamu sudah capek, biar aku saja” Uwais menolak dan meminta istrinya untuk tetap duduk, Naina tersenyum dan memperhatikan suaminya memotong kue. Uwais duduk dan Naina ingin menyuapinya. Keduanya saling menatap dan tersenyum, Uwais menyuapi Naina dan Naina juga sebaliknya. Uwais iseng mengoleskan kue ke kening, pipi, hidung dan dagu istrinya.
” Mas, kotor” Naina cemberut.
” Biarin, kamu cantik kayak begini”
” Apa? berarti aku jelek ya?” Naina mengoleskan kue ke pipi suaminya dan Uwais hanya tertawa.
” Kamu cantik sayang, kemari aku bersihkan” kata Uwais, Naina merasa geli saat Uwais membersihkan pipinya dengan lidahnya, membersihkan krim kue di sana. Di kening, pipi dan hidung sudah bersih dan sekarang Uwais menjilat dagu istrinya lalu Naina tersenyum.
” Mau lagi kue nya mas?”
” Aku mau ini” katanya seraya menyentuh bibir Naina sekilas dengan jari telunjuknya. Naina menggeleng kepala menggoda suaminya.” Ayolah sayang” merengek-rengek meminta. Naina mendekatkan wajahnya dan mencium bibir suaminya sekilas. Uwais tersenyum lalu membalasnya, Naina juga dan Uwais lagi. Keduanya terus melakukannya sampai Uwais tidak tahan lagi dan bergeser lebih dekat.
” Aku punya hadiah untuk kamu mas"
” Apa sayang?”
Naina melepaskan pelukannya dan mengajak suaminya bangkit, Uwais memperhatikan Naina entah mau apa. Naina menarik kain putih yang menutupi benda besar. Kedua mata Uwais berkaca-kaca melihat pigura foto besar, foto keluarganya yang pernah dia perlihatkan kepada Naina.
” Ini hadiah dari aku mas, semoga kamu suka.” Naina tersenyum, Uwais melangkah mendekat lalu memeluk istrinya erat.
” Sayang, ini,,,,” Uwais bingung harus memuji dan memberitahukan rasa bahagia nya seperti apa.” Kamu beneran gak dengerin aku ya sayang? aku bilang jangan capek-capek”
” Mas gak suka?”
” Suka, aku suka banget. Terima kasih”
Naina tersenyum, Uwais merangkul pinggang istrinya. Keduanya memperhatikan pigura foto itu bersama.
” Kamu mirip ibu kamu ya mas”
” Iya, kalau Azizah mirip ayah”
__ADS_1
Uwais kembali meneteskan air matanya, dan Naina mengusap dadanya agar Uwais berhenti menangis. Hal yang takut untuk Uwais lakukan adalah memperlihatkan foto ayah dan ibunya, kakeknya sangat benci pada ayahnya. Namun sekarang dia punya teman, yaitu istrinya. Yang akan menemaninya di saat melihat keluarganya dalam foto.