Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Melepas rindu part 3


__ADS_3

Setibanya di mal semuanya masuk, Syam merangkul pinggang Naina dan tidak melepaskannya sekilas pun. Dari belakang Kabir dan Ai berbisik-bisik dan pak Fahmi beserta istrinya cengengesan melihat sikap Syam. Ada rasa lega di benak pak Fahmi melihat Syam yang baik kepada Naina begitu juga Naina melayani Syam dengan baik. Menyiapkan air, menyiapkan makanan pak Fahmi memperhatikan Naina. Naina terlihat santai dan selalu tersenyum.


” Mau belanja apa makan dulu?" tanya Syam kepada istrinya.


” Masih kenyang kayaknya mas, belanja aja dulu” Naina menjauh lalu mendekati orang tuanya, Syam menatapnya kesal. Naina tersenyum simpul dan Syam mendelik sebal padahal Syam ingin dekat-dekat dengan istrinya. Dan Naina pun ingin dekat dengan orang tuanya toh tidak setiap hari. Syam tidak memilih apapun dan hanya memperhatikan Naina memilihkan pakaian untuk orang tua dan adiknya, Ai juga dapat. Naina juga membeli pakaian untuk mertuanya dan Husna tidak lupa.


” Nai sudah Nai uang kamu habis nanti” kata pak Fahmi dan tidak merasa enak hati kepada sang menantu.


” Enggak apa-apa pak, Naina punya uang kok gak usah takut ya pak" Naina tersenyum.


” Bagus yang merah Kabir" seru Syam saat melihat Kabir kebingungan memilih kemeja.


” Oke bang" Kabir akhirnya memilih warna merah dan dia memilih celana yang warna hitam.


Setelah sibuk berbelanja karena hari sudah siang Syam mengajak semuanya untuk makan di restoran di dalam mal tersebut, semuanya terlihat bahagia hari ini dan Naina senang melihat semuanya. Naina jarang-jarang menutup toko di hari libur karena biasanya hari libur selalu banyak yang datang. Setelah makan semuanya bersiap untuk pulang, Ai berpamitan setelah berbelanja dan kenyang untuk membuka toko karena banyak yang sudah menunggu.


” Ai bisa kok kamu ikut kami" Naina khawatir.


” Kan gak searah mbak, aku bisa kok terima kasih mbak traktirannya. Mas Syam terima kasih" Ai tersenyum lebar dan semuanya mengangguk. Ai pergi setelah berpamitan dan Naina memperhatikannya sampai Ai naik ke dalam angkot.


” Toko kamu gimana Nai?" tanya Bu Ratna.


" Alhamdulillah semakin rame Bu, mas Syam mencari tempat yang benar-benar bisa di jangkau semua customer” Naina menoleh seraya tersenyum, Syam tersenyum mendengar Naina membanggakannya kepada keluarga mertuanya.


” Nak Syam terima kasih atas semuanya, semoga rumah tangga kalian langgeng,kalian berdua sehat dan segera memiliki momongan. Jujur bapak juga udah gak sabar mau punya cucu" seru pak Fahmi seraya tersenyum.


" Iya pak do'ain aja” kata Syam sambil terus mengemudi. Naina tersenyum dan memperhatikan suaminya. Sampai suaminya itu grogi dan malu-malu. Mobil melaju menuju kediaman orang tua Syam, karena ayah Rahman meminta Syam membawa semuanya ke rumah. Naina juga membeli makanan untuk semua orang. Sesampainya di rumah orang tua Syam Kabir terkejut melihat rumah yang lebih besar dan mewah dari rumah Naina dan Syam. Pak Fahmi menatap Kabir lekat agar anaknya itu tidak berbuat aneh-aneh.


” Bang, cewek yang kemarin ada gak disini?" tanya Kabir menanyakan Resta dan Syam menggeleng kepala.


” Sudah aku usir" jawaban yang begitu jujur dari Syam membuat Kabir kebingungan. Naina melirik suaminya dan benar saja apa yang dia pikirkan kemarin, Resta menangis karena suaminya.


” Akhirnya datang juga" seru ayah Rahman menyapa semuanya. Dia ajak masuk semua orang dan semuanya masuk. Naina dan Tari saling menatap lekat tapi Syam menarik dagu istrinya agar hanya menatapnya.

__ADS_1


” Mas" Naina semakin kesal dengan sikap Syam dan Syam tidak perduli dengan respon Naina.


” Nai terima kasih, mama senang" kata mama Novi melihat baju yang diberikan menantunya itu, Naina tersenyum lebar dan Syam menatapnya lekat.


” Kita makan dulu ayo" ajak ayah Rahman.


” Kebetulan kami sudah makan tadi pak" pak Fahmi tersenyum.


" Syam kamu gimana sih kan mama udah masak” mama Novi kesal sambil menyenggol lengan Syam dan Syam menoleh.


” Kami semua habis jalan-jalan ma, masa harus di tahan” balas Syam juga berbisik. Mama Novi cemberut dan Naina menahan senyumannya melihat suami dan ibu mertuanya.


” Terima kasih sudah mengundang kami semua kemari, kami juga sekalian mau pamitan. Habis Dzuhur kami semua mau pulang" seru pak Fahmi dan semuanya mendengarkannya dengan baik.


” Baru juga kemarin datang pak, dua hari lagi lah" kata Asil dan semuanya tersenyum lebar.


” Iya maunya juga beberapa hari lagi, tapi Kabir harus sekolah saya juga banyak pekerjaan" pak Fahmi tersenyum.


” Iya benar juga, Kabir mau gak kamu sekolah disini aja sekalian temenin Naina” Tari tersenyum.


Setelah dari rumah Syam, semuanya pergi ke rumah Naina dan Syam hanya untuk bersiap. Naina juga ikut mengantar orang tua dan adiknya ke terminal, pak Fahmi tidak bisa pulang sore karena takut tidak mendapatkan kendaraan jika malam masih di perjalanan. Karena tujuan semakin dekat makin susah untuk mencari kendaraan. Naina sedih karena akan kembali berpisah dengan ketiganya. Sesampainya di terminal semuanya turun dan Naina langsung memeluk ayahnya.


” Nai jangan nangis, jaga diri baik-baik. Harus nurut sama suami kalau perlu bantuan bapak, bapak datang nanti Nai. Bapak sama semuanya di kampung selalu mendoakan yang terbaik buat kamu Nai" lirih pak Fahmi dengan suara berat karena mendengar suara isakan tangis Naina.


” Iya pak, do'ain Nai sama mas Syam ya pak" lirih Naina dan Syam memperhatikannya dari balik kacamata hitamnya.


” Sekolah yang benar Kabir, kamu anak laki-laki satu-satunya" imbuh Syam seraya menepuk bahu adik iparnya itu, Kabir mengangguk-anggukkan seraya tersenyum lebar.


” Naina jaga diri baik-baik jangan terlalu capek, kalau kamu operasi nanti ibu sama bapak insya Allah datang jengukin kamu” Bu Ratna tersenyum dan Naina memeluknya.


” Terima kasih Bu" kata Naina dan ibunya mengusap-usap rambutnya lembut.


” Ayo bus nya sudah mau jalan" ajak pak Fahmi dan Naina menyalami tangannya dan tangan ibunya. Syam membantu menaikkan dua kardus dan Naina memperhatikannya.

__ADS_1


” Nai jaga diri baik-baik , assalamualaikum” pak Fahmi tersenyum dan mengusap wajah putrinya lembut, dengan tangan kasar dan berurat sebagai bukti bagaimana kerasnya dia menjadi nafkah untuk keluarganya.


” Iya pak waalaikumsalam" Naina tersenyum.


Naina mengusap bahu Kabir lembut lalu dia menatap kepergian ketiganya. Syam melangkah mendekati Naina, dia rangkul pinggang istrinya itu dan keduanya melihat kepergian bus perlahan-lahan. Kabir melambaikan tangan dan dia duduk bersama Bu Ratna dan ayahnya di kursi lain. Naina tersenyum melihat adiknya yang tampan itu.


Syam dan Naina masuk ke mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah. Naina menyenderkan kepalanya dan tetap menangis.


” Kamu kenapa nangis begitu Naina, kalau bapak sama ibu nyangka aneh-aneh gimana?" Syam mengusap wajah Naina kasar.


” Diam mas, ya kamu jangan marah kan emang kamu suka bikin aku nangis, suka kasar sama aku” Naina berkata apa adanya dan Syam mendelik sebal.


” Iya iya aku minta maaf sayang”


" Janji gak bakal ngulangin lagi? jangan marah-marah mulu mas cepat tua kamu nanti"


” Hemm iya” Syam malas berdebat dengan istrinya dan menjawab ucapan istrinya singkat. Cukup lama keduanya diam dan Naina mulai berhenti menangis.


” Nai kita jalan-jalan yuk” ajak Syam supaya istrinya tidak bersedih lagi.


" Enggak mas kita pulang aja aku capek mau tidur" Naina menatap suaminya sekilas.


” Tidur apa tidur Nai?” memberi kode.


” Aku mau tidur mas biarin aku tidur tenang" Naina kesal.


” Ya kalau aku mau yang malam terjadi lagi kamu harus mau, menolak suami itu dosa” Syam tersenyum tipis.


” Terus cemburuan, marah-marah sama istri, kasar sama istri cuma karena masalah sepele dosa juga kan mas?"


Syam mengerucutkan bibirnya kesal.


” Gak usah di bahas lagi sayang kan aku udah minta maaf” Syam mengelus pipi Naina sekilas.

__ADS_1


” Percuma minta maaf kalau terus di ulangi” ketus Naina lalu melipat kedua tangannya di dada dan matanya tertutup rapat dia ingin tidur.


” Nai..” Panggil Syam dan Naina hanya berdehem


__ADS_2