Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Tinggal di kontrakan


__ADS_3

Mama Novi sedih karena Naina dan Syam sudah pindah ke kontrakan Naina malam ini.Tapi Naina bilang semua orang bisa datang kapanpun, ataupun Naina dan Syam yang akan datang ke rumah.Ayah Rahman datang dan merangkul pinggang istrinya itu,mama Novi tersenyum lebar.


”Kamu ngapain disini,ini sudah malam”kata ayah Rahman dan mama Novi menoleh sekilas.


”Kira-kira Syam sama Naina beneran akur gak ya mas?"mama Novi tetap khawatir.


”Kalau di lihat-lihat, mereka akur semakin dekat.Naina baik, aku yakin dia pasti bisa meluluhkan hati Syam”Ayah Rahman tersenyum,mama Novi membalas rangkulan suaminya.Tidak lama keduanya pergi meninggalkan balkon untuk tidur.


*****


Keesokan harinya,di restoran SY Resto.Naina memesan makanan, sedikit ragu.Takut suaminya marah jika terlalu banyak,Rangga diam-diam memperhatikan Naina.Semua guru senang di ajak ke restoran tersebut.Dan sedikit kasihan kepada Naina, pasti Naina harus mengeluarkan uang banyak.Naina tersenyum mendengar semua orang mengobrol, seorang pria melangkah mendekati semuanya dengan tegas.Naina terkejut melihat suaminya sudah berdiri dan menusuk-nusuk bahunya.


”Mas”Naina menyalami tangan suaminya, semua orang memperhatikan keduanya apalagi Rangga.


”Bu,pak.Ini suami saya”Naina memperkenalkan Syam dan semuanya tersenyum serta mengangguk.


”Oh ini suami Bu Nai,ayo gabung aja mas"ajak guru laki-laki.Dan Syam tersenyum.


”Iya terima kasih,saya dan istri saya mau bicara sebentar.”Imbuh Syam dan melirik Rangga tajam.Naina sudah takut ada hal yang tidak baik disini.


”Iya silahkan mas"seru semuanya.


”Ayo”ajak Syam dan melangkah pergi lalu Naina menyusulnya,di dapur restoran Naina diam mendengar ocehan Syam yang tidak suka Naina duduk berhadapan dengan Rangga.Naina semakin mengerti,jika Syam sangat cemburuan.Ataupun memang pemarah.


”Kamu ngerti gak?"kesal Syam.


"Iya mas aku ngerti,udah jangan marah-marah terus.Kalau ada yang dengar gimana?”suara Naina begitu lemah.


”Aku gak suka,awas saja kalau kamu macam-macam dekat-dekat sama Rangga”ketus Syam dan menatap Naina sinis.


"Iya mas,kamu ada masalah apa sih sebenarnya.Aku sama pak Rangga gak ada apa-apa,kamu aja yang berlebihan.Maaf aku ngomong kayak begini,kamu ada masalah sebelumnya sama pak Rangga?setiap aku dekat sama pak Rangga mas selalu marah kayak gini”Naina sedih dan Syam mendengus sebal.


”Gak usah banyak tanya,tugas kamu nurut Naina.Mau Rangga mau laki-laki manapun aku gak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain.Paham kamu Naina!"bentak Syam dan Naina mengangguk,Naina tidak berani berbicara lagi.Syam membungkukkan tubuhnya dan melihat kedua mata istrinya berair karena di bentak-bentak seperti itu.


”Nai,jangan nangis”pinta Syam dan Naina mengusap air matanya yang berhasil lolos turun ke pipinya.


”Ya udah ayo kita balik lagi mas"ajak Naina lalu melangkah,Syam memeluknya erat dari belakang."Mas lepas, malu"

__ADS_1


”Apa aku terlalu kasar Nai?”lirih Syam dan dia menyesal sudah membentak Naina seperti itu,dan berulang kali.Naina mencengkram kuat ujung bajunya karena Syam mencium lehernya, walaupun dibalik jilbab hitamnya Naina langsung bergidik ngeri.


”Enggak mas,ayo mas kita temui semua orang"ajak Naina lagi dan Syam tak kunjung melepas pelukannya.


”Aku minta maaf”lirih Syam.”Aku minta maaf karena kasar sama kamu,aku memang laki-laki yang buruk Nai.Tapi aku gak rela kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain”lirih Syam.


”Mas jangan ngomong kayak gitu,ayo.Iya aku maafin mas.Aku juga minta maaf,lain kali aku janji gak bakal kayak gini lagi”tutur Naina dan Syam tersenyum lalu melepaskan pelukannya,Naina diam saat Syam menarik bahunya membuatnya dan Syam saling berhadapan saat ini.


”Ayo"ajak Syam dan meraih tangan istrinya,Naina menatap genggaman tangan Syam.Lalu keduanya melangkah bersama untuk menemui yang lain.Rangga menatap tajam, melihat genggaman tangan Naina dan Syam.Sementara guru-guru yang lain saling berbisik memuji.Syam meminta pegawainya untuk membawa semua makanan termahal dan paling enak di restoran miliknya, semua orang mengernyit heran karena ternyata suami Naina pemilik restoran tersebut.Dan mereka senang bisa makan enak hari ini.


****


Di kediaman Husna, Husna kebingungan karena dia tidak memiliki uang lebih untuk liburan.Mirza tidak memberikannya uang lagi karena Mirza memikirkan masa depan rumah tangganya, diam-diam dia menabung tanpa sepengetahuan Husna.Husna sangat boros,Mirza benar-benar kewalahan menuruti kemauannya.


”Mirza kenapa kamu?"tanya teman Mirza yaitu Doni."Baru juga menikah,baru beberapa bulan seharusnya lagi asyik dengan istri kamu."Goda Doni.


”Aku bertengkar sama Husna, karena aku bilang sama dia gaji aku udah habis.Dia sangat boros"Mirza menggeleng kepala, Doni memang menjadi tempat curhatnya selama ini.Doni menepuk bahu Mirza agar Mirza sabar.


”Kamu nyesel karena udah pilih Husna bukan Naina?"Doni menatap Mirza lekat.


”Bukan waktunya untuk menyesal,sudah terlanjur"Mirza meremas rambutnya frustasi.


Tok tok tok ketukan pintu membuat Mirza dan Doni menatap pintu.


”Dokter,pasien sudah menunggu"imbuh seorang perawat dari balik pintu dan Mirza bersiap untuk bertugas kembali.


”Semangat”Doni mengangkat kepalan tangannya ke udara,menyemangati Mirza yang begitu lesu hari ini.


*****


Malam hari tiba,Naina sedang memasak di dapur kecil di kontrakannya.Ai sudah pulang,Naina memasak untuknya dan untuk Syam.Naina sangat senang bisa membuat teman-teman gurunya merasa senang karena makan enak di restoran,Syam melangkah mendekati Naina.Dia mundur lagi dan duduk seraya memperhatikan Naina.


”Nai,kamu gak gerah apa pakek jilbab lagi masak?buka aja.Cuma kita berdua disini”Syam tersenyum tipis dan menatap Naina dari ujung kepala sampai ujung kaki.


”Enggak mas aku malu”suara Naina begitu pelan.


”Kenapa? jangan-jangan kamu botak ya Naina?”Syam terus menatap istrinya.

__ADS_1


”Rambut aku panjang mas,cuma gak biasa aja buka hijab"Naina tersenyum.


”Aku mau lihat Nai”Syam bangkit dari duduknya lalu mendekati Naina.Syam mematikkan kompor lalu memegang kedua bahu Naina, Naina gugup dan takut.Tangan Syam bergerak, sekarang jemarinya merapihkan hijab Naina.


”Mas”Naina benar-benar malu, karena dia tidak biasa melepaskan jilbabnya.


”Sekali saja”pinta Syam.Naina mengangguk,Syam menundukkan kepalanya dan melihat Naina mencengkram kaos nya.Syam menarik jarum pentul dan jilbab Naina terbuka,Syam tersenyum tipis melihat kedua pipi Naina merah merona.Syam perlahan-lahan menarik jilbab istrinya, rambut hitam dan tebal Naina mulai terlihat sedikit demi sedikit.Syam meletakkan hijab Naina di atas meja,kini dia bisa melihat wajah cantik Naina dengan sempurna.Syam menarik ikatan rambut Naina dan rambut Naina terurai panjang.


”Mas”lirih Naina saat tangan Syam memegang lehernya.Ibu jari Syam mengelus pipi Naina lembut.Syam perlahan-lahan mendekatkan wajahnya, kedua mata Naina bergerak-gerak melihat bibir dan sorot mata sayu Syam saat ini.Naina menutup matanya,dia semakin kuat mencengkram kuat ujung baju suaminya.Syam tersenyum dan semakin mendekatkan bibirnya,Syam menutup matanya dan sudah siap untuk mencium bibir istrinya untuk yang pertama kali.


Deg...Naina benar-benar gugup dan deg-degan.


”Syam...Naina!"suara Asil terdengar,Syam dan Naina membuka mata lalu keduanya mundur menjauh.


Tok tok tok,,,suara ketukan pintu terus terdengar.Naina lekas memakai hijabnya kembali dan Syam mendengus sebal.Naina memakai hijabnya sambil berjalan.


”Naina ini mbak Asil sama mbak Tari!"teriak Asil.


”Assalamualaikum Nai”suara Tari.


”Waalaikumsalam,iya mbak sebentar"Naina merapihkan bajunya yang sudah rapih lalu mengusap wajahnya kasar dan tersenyum lebar."Huf.."Naina membuang nafas kasar.Dan berusaha menguasai kepanikan dan kegugupannya.


Asil dan Tari masuk,membawa makanan untuk Syam dan Naina.Syam memangku satu kakinya, seraya memperhatikan Naina yang duduk bersama kedua kakaknya itu, Naina salah tingkah karena Syam terus menatapnya.


”Kalian belum tidur kan?"Asil tersenyum.


”Belum mbak"Naina menjawab.


”Syukurlah"Tari tersenyum dan memperhatikan Syam yang terus menatap Naina lekat.


”Aku sama mas Syam belum belanja mbak,jadi gak ada cemilan.Maaf ya mbak"imbuh Naina dan tidak memiliki apapun untuk di suguhkan kepada kedua kakak iparnya.


”Enggak apa-apa Nai,kami udah bawa makanan.Tapi ada air dingin gak?"Tari tersenyum.


”Oh,biar aku beli dulu ke warung depan mbak.Aku tinggal dulu ya”seru Naina lalu bangkit dari duduknya,Syam menyenderkan kepalanya di bahu sofa.


Naina benar-benar pergi untuk membeli minuman dingin.

__ADS_1


”Syam temani istri kamu,ini sudah malam Syam"titah Asil.


”Kalau mbak tahu ini sudah malam, ngapain kalian berdua datang kemari”ketus Syam."Ganggu aja”tambahnya lagi dan menyusul Naina,Asil dan Tari cengengesan melihat Syam marah.


__ADS_2