Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Bertemu Rangga


__ADS_3

Syam menunggu Rangga di luar sekolah, dia menunggu di dalam mobil. Terlihat Rangga keluar dari sekolah membawa tas nya, dia terlihat menunggu kendaraan umum. Syam keluar dari mobil dan melangkah mendekatinya.


” Syam” Rangga terkejut saat Syam mencengkram kuat kerah bajunya lalu menariknya.” Syam lepas”


” Ikut”


” Kamu mau bawa aku kemana Syam?”


” Ikut!” bentak Syam dan berhenti melangkah.” Aku dan Naina bercerai, salah satu keluarga korban kecelakaan itu adalah keluarga Naina. Ibunya meninggal dan aku yang dituduh, itu salahmu Rangga!” bentaknya begitu Frustasi lalu menghempaskan tubuh Rangga. Rangga terdiam mendengar ucapan Syam.


” Uwais sudah bebas dari penjara satu tahun yang lalu. Dia akan mencari mu dan mencari aku Rangga, aku sudah bilang keburukan tidak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi. Aku bahkan curiga Uwais yang selama ini meneror keluargaku.” Lirih Syam dan dia ambruk ke atas tanah, Rangga diam merasa bersalah. Dia kira semuanya sudah selesai, namun masa depannya kini terancam karena kejadian di masa lalu. Naina yang dia idolakan adalah korban dari kecelakaan itu.


” Kaki Naina bahkan terluka karena kecelakaan itu bodoh!” teriak Syam dan di menangis karena bingung harus bagaimana caranya membuat Naina kembali padanya.


” Syam bangun” seru Rangga lalu menarik tangan Syam, Syam bangun dan terus menangis frustasi. Rangga membawanya masuk ke dalam mobil dan harus mengantar Syam pulang. Dia mencium aroma alkohol dari tubuh dan mulut Syam, Syam mabuk.


*****


Di apartemen, Amira berdiri sambil mengepalkan tangannya kuat. Dia tidak mau Syam dan Naina kembali bersama dan berharap Syam tidak macam-macam atas anaknya dan Miko, Syifa.


” Sayang” seru Hamdan, tangannya bergelayut di tengkuk dan perut rata wanita itu.


” Lepas, jangan menyentuhku” Amira menolak dan tidak tahan lagi jika harus melayani Hamdan si tua Bangka.


” Aaagh” Amira meringis saat Hamdan mencekik dan mendorongnya sampai menempel di jendela.


” Aku sudah melakukan apapun yang kamu mau, dan sekarang kamu menolak melayaniku Amira?” geram Hamdan dan merasa di bodohi, Amira berusaha melepaskan tangan pria itu yang mencengkram kuat lehernya sampai dia mulai tidak bisa bernafas.


” Cih” Hamdan berdesis seraya melepaskan cengkeramannya dan Amira terjatuh kasar.


” Uhuk,, Uhuk,, kau gila? aku bisa mati” suara Amira begitu serak, dan dia terus terbatuk-batuk karena kehabisan nafas.


” Kau mau melayaniku atau tidak?” tegas Hamdan seraya mengeluarkan senjata dari saku celananya, kedua mata Amira membulat dan ketakutan.


” A,,, aku akan melayani mu” Amira pasrah karena bingung harus bagaimana lagi. Hamdan mengulurkan tangannya, Amira meraihnya dan dia bangun. Amira terlihat akan menangis tapi dia tahan karena senjata terus mengarah di kepalanya.


****


Di toko Naina, Naina bingung saat melihat sebuah paket datang ke tokonya untuk dirinya. Naina bingung melihat paket tersebut.


” Kenapa Nai?” tanya Ali dan Naina menoleh.


” Ini mas ada paket aneh lagi, kemarin-kemarin isinya bunga sama coklat aku takut sekarang isinya makin aneh” lirih Naina, terlihat raut wajahnya benar-benar ketakutan.


” Jangan-jangan isinya bom mbak” seru Ai.

__ADS_1


” Hush, kamu bikin takut aku aja Ai” ucap Naina berbisik dan Ai tersenyum.


” Biar aku aja yang lihat apa isinya” imbuh Ali.


” Jangan mas” Naina menahan.


” Enggak apa-apa” Ali tersenyum. Naina mengangguk dan Ali membuka paket tersebut, Naina memperhatikan dengan seksama dan takut ada benda berbahaya di dalam sana. Setelah di buka, isinya sepucuk surat, baju gamis yang waktu itu Uwais beli dan kotak cincin kawin. Naina meraih sepucuk surat tersebut dan Ali memperhatikannya.


” Pasti kamu kaget, aku datang hanya untuk melihatmu secara langsung. Jaga diri baik-baik sampai kita bertemu lagi, semuanya untukmu Naina ku” tulis Uwais dilengkapi dengan dua tanda hati dan Naina menggeleng kepala.


” Dari siapa ini Naina? kamu kenal?” tanya Ali.


” Aku gak kenal mas, tapi aku tahu. Ini bukan masalah besar biar aku simpan semuanya dibelakang dan orangnya akan mengambil kembali nanti” tutur Naina seraya memasukkan sepucuk surat dan kotak cincin lalu membawa paket itu pergi. Ali terlihat khawatir akan keselamatan Naina.


****


Malam ini hujan deras mengguyur ibukota, Syam sedang duduk di sofa di ruang tamu. Semua lampu mati karena adanya pemadaman listrik. Petir menyambar dan suara gemuruh Guntur membuat Syifa yang bersama baby sitter nya tidak bisa tidur dan terus menangis. Pintu terbuka, Syam menoleh dan melihat Amira masuk mengendap-endap sampai gadis itu melepas sepatu hak tinggi nya.


Syam menyalakan lampu senter besar dan mengarahkannya kepada Amira, Amira terkejut dan berhenti melangkah.


” Syam” suaranya begitu lirih.


” Dari mana kamu?” tanya Syam lalu bangkit dari duduknya untuk mendekati Amira. Syam memicingkan matanya kesal, melihat bekas kecupan di leher istrinya itu sangat terlihat jelas.


” Apa yang kamu lakukan di luar sana?” tegas Syam lalu menjambak rambut Amira.


” Tidur dengan siapa kamu diluar sana?”


” Kamu yang melakukannya Syam, kamu lupa?”


Syam melepaskan cengkeramannya lalu mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya. Secarik kertas yang menunjukkan bahwa Syifa bukan anaknya dan tes DNA menunjukan hasil negatif.


” Syifa bahkan bukan anakku, aku tidak pernah melakukan apapun denganmu saat kita berhubungan. Dan aku hanya melakukannya satu kali setelah kita menikah, bagaimana bisa bekas kecupan itu ada Amira! jangan berusaha membodohi ku lagi!” Syam berteriak-teriak, kedua mata Amira berair dan ketakutan melihat amarah Syam dan Syam tahu Syifa bukan anaknya.


” Syifa anak kamu Syam” Amira masih tetap bersikukuh. Syam menekan kedua pipinya sekuat tenaga dan Amira meringis kesakitan.


” Aku ceraikan kamu Amira, Syifa anaknya Miko kamu pikir aku tidak tahu. Kita bertemu di pengadilan, Syifa ikut aku, neneknya atau kamu. Kita cerai” tegas Syam dan menghempaskan tubuh istrinya, Amira tersungkur kasar ke lantai. Air matanya tumpah ruah, dia tidak mau berpisah dengan Syam.


” Syam aku mohon jangan begini” Amira memohon dan memeluk kedua kaki pria itu sekuat tenaga.


” Minggir”


” Aku gak mau cerai sama kamu Syam”


” Keluar dari rumahku Amira!" bentak Syam, dia raih tangan Amira lalu menyeret tubuh istrinya itu ke arah pintu. Amira menahan sekuat tenaga pun tak kuat mempertahankan diri dari tenaga besar Syam, Syam menendang pintu dan menyeret Amira keluar.

__ADS_1


” Keluar dari rumahku, satpam!” berteriak.


Pak satpam berlari menghampiri Syam dan Amira.


” Ada apa pak?”


” Bawa wanita sialan ini keluar, sampai kapanpun jangan biarkan dia masuk kembali” titah Syam tegas dan tidak mau dibantah. Pak satpam terdiam sejenak tapi ia lalu menarik tangan dan bahu Amira untuk segera pergi.” Saya pecat kamu kalau dia masuk lagi” berteriak.


Pak satpam ketakutan, apalagi saat Syam masuk ke dalam rumah dan membanting pintu. Pak satpam mendorong tubuh Amira keluar dari pintu gerbang, lalu mengunci pintu gerbang buru-buru.


” Buka pak buka” Amira berteriak-teriak.


” Maaf Bu saya gak bisa” imbuh pak Satpam lalu dia pergi meninggalkan Amira yang menangis histeris dan tubuhnya basah karena kehujanan. Amira terus menangis dan memukul-mukul pintu gerbang.


” Syam” teriaknya Frustasi tapi Syam tidak perduli.


*****


Di rumah Uwais dan kakeknya, Uwais merebahkan tubuhnya di atas ayunan jaring sambil tersenyum membayangkan Naina yang dia kira senang dengan paket yang dia kirim, dia tidak sadar mana ada gadis yang mau meladeni pria peneror sepertinya.


” Uwais, kamu salah karena menyukai gadis itu. Dia mantan istri musuh kamu. Masih banyak gadis lain" seru sang kakek tidak suka dengan sikap Uwais.


” Aku sedang jatuh cinta kek, biarkan aku menikmati nya”


” Jangan bersikap baik padanya, jika gadis itu tahu kamu menyukainya dia akan memanfaatkan mu. Dia memang sudah bercerai dengan Syam tapi kita tidak tahu mereka masih berhubungan atau tidak. Perlakukan dia sama seperti musuhmu yang lain” tutur kakek, tak sudi dia jika cucunya menyukai mantan istri Syam.


” Tapi kek”


” Turuti saja semua ucapan kakek, kalau kamu memang benar-benar mendukung kakek Uwais. Kita kehilangan semua orang atas kecelakaan itu, kita menderita bertahun-tahun tapi Syam dan keluarganya dan juga tersangka yang lain hidup enak tanpa merasa bersalah. Sementara kamu bertahun-tahun di penjara Uwais” kakek terus menghasut Uwais dan Uwais diam. Raut wajahnya terlihat bingung mendengar ucapan kakeknya tapi dia juga menyukai Naina.


Keesokan harinya, Naina merasa bersyukur karena bisa mengirimkan uang untuk keluarganya. Ponsel Naina tiba-tiba berdering dan Naina tersenyum melihat pak Fahmi yang menelepon.


” Assalamu'alaikum pak”


” Wa'alaikumus Salaam, kamu dimana Nai berisik banget? makasih banyak ya Nai. Padahal kamu gak usah ngirim uang, bapak juga kan udah kerja di kandang sapi sekarang”


” Nai lagi di jalan pak, justru itu Naina mau bapak berhenti aja. Bapak sudah tua, Naina malah khawatir. Do'ain aja supaya usaha Naina berjalan lancar disini. Bapak berhenti aja kerjanya”


” Enggak bisa Nai, sayang kalau berhenti. Pasti bapak do'ain setiap saat”


Naina tersenyum lebar, Uwais yang mengikutinya diam-diam memperhatikan dan mendengar Naina. Naina terus berbicara dengan ayahnya dan berjalan perlahan. Naina berhenti karena dia harus menyeberang, Uwais diam memperhatikannya lagi. Naina tidak sadar jika Uwais salah satu dari mereka yang berdiri di trotoar. Dari kejauhan mobil berwarna merah milik Amira mengarah kepada Naina. Uwais yang sadar diam dan akan membiarkan Naina celaka, dia tidak peduli. Namun setelah mobil semakin dekat Uwais panik dan melangkah cepat lalu meraih tangan Naina dan menariknya sampai Naina jatuh ke pelukannya.


” Woy” teriak semua orang saat mobil Amira hampir menyerempet mereka semua.


” Sial” umpat Amira di dalam mobilnya karena Naina gagal dia tabrak.

__ADS_1


” Kamu tidak apa-apa?” tanya Uwais dan Naina yang syok tidak sadar jika Uwais memeluknya.” Kamu tidak apa-apa?" tanya Uwais lagi seraya menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah panik Naina dengan jelas. Naina mendorong dada Uwais setelah sadar pria itu menyentuhnya. Entah harus berterima kasih atau marah Naina akhirnya memilih pergi dan Uwais diam memperhatikan kepergian Naina. Setelah Naina sampai di seberang jalan Naina menoleh untuk melihat pria yang tidak asing baginya itu, tapi Uwais sudah pergi meninggalkan tempatnya.


” Astaghfirullah hal adzim, apa tadi?" Naina bingung dan dia merasa dadanya sesak. Naina buru-buru melangkah pergi untuk segera kembali ke ruko.


__ADS_2