
Romi masuk setelah mengucapkan salam dan Naina menoleh padanya. Naina kebingungan melihat Roni datang ke tokonya mau belanja atau ada hal lain? Naina lekas membaca istighfar karena sudah berpikiran buruk kepada Romi. Mungkin karena dia sedang memikirkan suaminya sekarang Naina menjadi tidak fokus.
” Waalaikumsalam, pak Romi butuh apa?" tanya Naina begitu ramah seperti biasanya kepada orang-orang yang datang ke tokonya, Ai memperhatikan Romi yang menatap Naina begitu dalam.
” Bu Nai belanja?” Romi bertanya dengan suara amat lembut.
” Ini toko pakaian saya pak" Naina menjawab seraya menahan senyumannya. Romi mengangguk dan dia mengira Naina akan berbelanja, sekarang dia bingung harus bagaimana.” Bapak butuh apa? ada gamis dan pakaian muslimah lainnya, hijab juga ada" kata Naina yang berpikir mungkin saja Romi datang untuk membelikan istrinya pakaian.
” Untuk ibu-ibu maksud saya untuk ibu saya ada gak ya?" Romi akhirnya memutuskan untuk membeli pakaian untuk ibunya.
” Ukuran yang biasa ibu bapak Romi pakai ukuran apa?" Naina melangkah menuju pakaian yang berjajar dan dia akan mencarikan ukuran terlebih dahulu sebelum ke model yang akan dipilih Romi nanti.
” Ukurannya Xl ld nya 110 Bu" kata Romi setelah mengingat ukuran pakaian ibunya lebih jelas, Naina mengangguk dan tersenyum tipis karena Romi begitu hafal ukuran baju ibunya. Romi pasti sangat menyayangi ibunya. Naina memilihkan beberapa model baju yang ukurannya ada untuk ibunya Romi, Romi memilih warna dusty pink karena terlihat lebih kalem seperti ibunya.
Naina meminta Ai untuk mengurus pembayaran dan dia berpamitan masuk ke ruangan belakang untuk menjawab telepon dari suaminya.
" Halo mas assalamualaikum” suara Naina berat dan mendengar suaminya sedang mengomel.
” Waalaikumsalam, kamu dimana? apa pantas kabur-kaburan begini Naina?” Syam kesal.
” Kamu yang nyuruh aku pergi kan mas, kenapa aku juga yang salah disini” ketus Naina.
” Dimana kamu sekarang?"
” Aku di toko, aku pulang sekarang” kata Naina dan Syam berteriak sampai Naina menjauhkan ponselnya dari telinga.
” Diam disitu, aku jemput sekarang” tegas Syam lalu mematikan panggilan. Naina terdiam sejenak dan kedua matanya membulat saat mengingat ada Romi di tokonya. Naina melangkah keluar dan dia gigit bibir bawahnya kelu saat melihat mobil Syam sudah masuk ke area parkir pertokoan. Naina melirik Romi yang sudah pasti akan di curigai oleh suaminya, seorang pria datang ke tokonya sendirian. Naina tahu suaminya seperti apa. Pria manapun selalu dicurigai.
” Bu Nai saya pamit" imbuh Romi dan Naina mengangguk seraya memperhatikan suaminya." Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam" Naina dan Ai menjawab kompak, Romi keluar dan berbarengan dengan Syam yang keluar dari mobil.
” Ai kalau mas Syam nanya-nanya kamu cukup bilang gak tahu aja jawabnya" Naina menggoyangkan bahu Ai dan Ai mengangguk.
” Kenapa mbak?" Ai penasaran.
” Nanti aku jelasin pokoknya kamu jawab aja begitu" kata Naina dan Ai mengangguk lagi. Di luar Syam dan Romi berpapasan di area parkiran, Syam berhenti melangkah lalu membuka kacamata hitam nya dan memperhatikan Romi. Romi dan Syam tidak pernah bertemu, keduanya belum ditakdirkan untuk bertemu dan Syam melihat jelas Romi keluar dari toko Naina. Syam kembali melangkah dan memasukkan kaca mata hitamnya ke saku celana bagian belakang. Naina melirik suaminya sekilas lalu kembali bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
” Assalamualaikum" ucap Syam.
" Waalaikumsalam" jawab Naina dan Ai, Ai sempat menoleh lalu dia pergi ke belakang sementara Naina menjawab tanpa melirik suaminya, Syam terus menatap istrinya lekat dan tatapannya turun ke perut istrinya. Ada anaknya disana. Sementara Naina akan menyembunyikan kehamilannya karena dia yakin kehamilannya tidak akan berguna sama sekali untuk pria tidak memiliki hati seperti Syam.
__ADS_1
” Naina" panggil Syam.
” Hem?" menyahut dengan deheman dan tanpa menatap suaminya, tangannya sibuk mencari warna dan model baju yang dipesan customer di aplikasi jualan online.
” Naina lihat aku" Syam meraih kedua tangan Naina agar berhenti bekerja dan harus menatapnya. Naina malah menatap ke arah lain dan wajahnya sudah merah hampir menangis, Naina melirik segerombolan wanita yang berjalan mengarah ke tokonya.
” Ai tolong jaga toko" pinta Naina lalu melangkah pergi ke ruangan belakang dan berpapasan dengan Ai, Syam melangkah menyusul istrinya itu.
Naina duduk di sofa menyalakan tv agar percakapannya dengan Syam tidak terdengar oleh para pengunjung yang baru datang, Syam meremas rambutnya frustasi melihat Naina seperti itu padanya. Naina mengacuhkannya.
” Kamu sudah mendapatkan wanita yang sempurna? yang sesuai dengan keinginan kamu? apa yang kamu lakukan di luar kota mas. Kamu bekerja atau mengerjakan pekerjaan lain” Naina berkata dengan suara tegar walaupun hatinya begitu sakit dan dadanya sesak karena di usir oleh suaminya dari kamar. Bukan perkara sepele dan seharusnya Syam tidak melakukan hal tersebut. Apalagi Naina yang tidak tahu apa salahnya sampai Syam bersikap seolah jijik melihatnya.” Sekiranya hubungan kita ini membuat kamu jijik kamu bebas melakukan apapun sekalipun meninggalkan aku mas”
” Nai" Syam meraih tangan Naina tapi Naina menepisnya lalu bergeser menjauh.
” Aku capek mas”
” Aku minta maaf karena sudah kasar sama kamu, apa kamu gak mau mengatakan sesuatu sama aku Nai?" Syam berusaha memancing Naina agar mau mengakui kehamilannya. Dia ingin mendengar kabar bahagia itu langsung dari Naina.
” Kamu pulang aja mas sana" usir Naina.
” Kamu berani mengusirku Naina" suara Syam meninggi dan Naina tidak perduli.
Syam meraih tangan Naina dan Naina berusaha melepaskan tapi Syam menahan, Naina menangis saat Syam mencium pipinya begitu lembut. Syam melepaskan ciumannya lalu menempelkan wajahnya di pipi Naina.
” Aku minta maaf, aku sedang stres Nai”
” Aku menambah beban kamu mas? aku minta maaf”
” Bukan begitu Naina" Syam salah bicara dan membuat Naina semakin sedih. Keduanya terdiam dan Syam berulang kali mengusap air mata istrinya dengan kedua tangannya.” Jangan menangis Nai" pinta Syam.
” Istri manapun akan menangis jika di usir suaminya mas" lirih Naina dan Syam menekuk wajahnya dalam-dalam.
” Iya aku salah Nai, aku minta maaf. Aku capek dan aku kesal saat kamu sudah pergi dari sekolah tanpa menunggu suami kamu ini Naina" suara Syam begitu serak.
” Mas gak bilang kalau mau jemput, mas cuma bilang pulang hari ini” Naina kesal.
" Iya aku salah Nai"
Syam menatap Naina lekat dan dia bergeser lalu memeluk istrinya erat, Naina membalas pelukan suaminya setelah mendengar Syam mengakui dirinya salah dan terus meminta maaf. Syam mengusap kepala dan punggung Naina berulang kali, dia benar-benar merasa bersalah kepada istrinya.
” Mas" lirih Naina.
__ADS_1
” Iya Nai kenapa?” Syam akan melepaskan pelukannya tapi Naina menahan.
” Aku mohon kamu harus bisa menjaga sikap kamu, aku juga manusia mas aku takut khilaf karena diperlakukan seperti ini terus oleh suamiku sendiri" kata Naina dan Syam terdiam.” Aku sayang sama kamu, aku bukan hanya ingin menjadi seorang istri tapi aku juga ingin menjadi wanita yang pertama untuk kamu. Karena status istri tidak akan berguna kalau kamu gak sayang dan gak bisa menghargai aku sebagai perempuan yang menjadi istri kamu mas" lirih Naina dan terus menangis. Syam mengangguk dan terus meminta maaf.
” Iya Nai aku sayang sama kamu, latih aku Naina dan ingatkan aku selalu agar aku berusaha untuk merubah sikap kasar ku ini Naina" lirih Syam dan tangisan Naina semakin menjadi.
Setelah lama menangis akhirnya Naina berhenti dan melepaskan pelukannya lalu dia menatap wajah suaminya, punggung Syam terasa basah karena air mata istrinya itu. Syam mengusap air mata Naina kembali dan Naina tersenyum.
” Apa aku akan mendapatkan kabar bahagia hari ini Nai?" Syam benar-benar ingin mendengar kabar kehamilan Naina dari Naina sendiri, Naina tersenyum dan memukul dada suaminya kesal.
” Aku hamil, aku hamil mas dan kamu malah mengusirku" lirih Naina dan Syam merasa senang sekaligus bahagia mendengarnya.
” Aku minta maaf, Alhamdulillah akhirnya kamu hamil Nai” Syam tersenyum lebar dan Naina mencium pipi suaminya." Yang ini" menunjuk bibirnya.
” Enggak!" ketus Naina dan Syam cemberut.
******
Kabar kehamilan Naina membuat semua keluarga senang. Hari ini Syam mengajak Naina ke rumah orang tuanya, ada yang tidak biasa dari sikap nenek. Nenek terlihat bahagia ketika mendengar Naina hamil dan dia sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa anak Syam dan Naina. Keperdulian nenek membuat Naina senang dan merasa lega.
” Kamu harus jaga diri baik-baik" kata nenek dan Naina mengangguk.
” Nanti acara empat bulanan di sini saja" kata mama Novi dan Naina langsung melirik Syam.
” Iya mama disini saja" Syam mengiyakan dan Naina tersenyum.
Tari terlihat kesal melihat Naina diperhatikan semua orang di rumah, dia juga ingin hamil tapi tidak mungkin. Naina melirik Tari dan dia hanya tersenyum walaupun Tari malah mendelik tajam padanya.
***
Hari ini Naina dan Ai sedang menikmati makanan di restoran, sesekali boleh lah Naina mengajak Ai bersantai dan makan makanan yang enak. Ai melirik ke arah meja para pemuda yang terus berbisik meliriknya dan melirik Naina bergantian. Naina mendelik tajam kepada para pemuda tersebut lalu dia berdiri untuk pergi ke kasir membayar semua makanan dan minuman yang dia pesan. Salah satu dari mereka berdiri dan hampir menyentuh tangan Naina.
” Maaf" seru pemuda tersebut.
” Bukan mahram mas, tolong hargai semua perempuan di sini" tegas Naina dan kembali melangkah namun pemuda itu menghalangi jalannya.” Maaf mas" Naina masih menegur dengan suara rendah agar pemuda itu menyingkir dari jalannya.
” Jika bukan mahram apa saya bisa mengajukan lamaran besok lusa supaya kita menjadi mahram" tutur pemuda tersebut dan Naina terbelalak mendengarnya.” Cahaya matahari semakin menghilang, apa karena kamu sudah menyerap cahaya matahari ke dalam tubuh kamu mbak?”
Ai cekikikan melihat Naina diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki di depan umum. Dengan harapan Naina mau menerimanya untuk segera dijadikan istri.
” Cahaya matahari sudah mulai tenggelam karena sekarang sudah sore” balas Naina dan semua orang yang mendengarnya terpaku pada ucapannya. Naina mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan foto pernikahannya dengan Syam kepada pemuda yang terlihat lebih muda darinya." Saya sudah menikah, dan sedang mengandung. Tolong beri saya jalan" pinta Naina dan raut wajah pemuda tersebut langsung terlihat lesu dan buru-buru memberikan jalan kepada Naina.
__ADS_1