Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Keterpaksaan Syifa


__ADS_3

Naina diam saat perawat memasang kembali jarum infusan ke tangannya, Uwais diam dan memperhatikan. Setelah selesai perawat pergi meninggalkan keduanya. Tidak ada pikiran curiga apapun di benak Naina, mengapa dokter itu secara khusus merawatnya yang penting dia merasa tenang. Uwais mendorong kursi roda Naina menuju taman untuk membawanya jalan-jalan, sesampainya di sana Naina diam.


” Apa dokter memiliki anak?” tanya Naina.


” Saya memiliki istri yang cantik dan anak perempuan yang sangat cantik seperti ibunya” Uwais tersenyum dibalik maskernya. Naina tersenyum mendengarnya.


” Kalau dokter amnesia, gak ingat apa-apa. Apa yang akan dokter lakukan?”


” Saya akan memilih mereka yang membuat saya tenang, akan banyak orang yang memanfaatkan keadaan namun hanya mereka yang memiliki ikatan dengan kita yang tahu kita seperti apa dan kita akan tenang bersama nya”


” Ketenangan seperti apa itu dokter?”


” Seperti sebuah perlindungan, mereka yang memberikan perlindungan dan kasih sayang”


” Dokter tahu keadaan saya sekarang?” tanya Naina dan memperhatikan rambut serta tahi lalat di bawah mata dokter itu seperti yang dia lihat di wajah orang lain, matanya juga mengingatkan nya kepada Uwais. Uwais terus menarik maskernya untuk menyembunyikan tahi lalat nya.


” Saya tahu” jawab Uwais.


” Kalau saya mengambil keputusan di saat saya gak ingat apa-apa, apa itu baik?"


” Sama sekali tidak, karena kamu bisa saja keliru”


Naina terdiam lalu mengangguk, keduanya diam. Dan diam-diam Uwais memperhatikan Naina dan memalingkan wajahnya saat Naina menoleh.


****


Syam dan Syifa.


Hari ini Naina akan pulang dari rumah sakit, namun Syam dan Syifa datang lagi ke hadapannya. Syam membawa makanan, buah-buahan dan yang lainnya untuk menarik simpati Naina. Naina malah merasa kesal karena Syam membawa banyak barang ke rumah sakit.


” Kalau benar saya istri kamu, kenapa saya masuk rumah sakit kamu gak ada?” tanya Naina kepada Syam, bagaimana Syam bisa masuk sementara Uwais melakukan penjagaan ketat dia sekarang bisa masuk juga karena Uwais kecolongan.


” Syifa sakit, jadi saya gak kemari” kata Syam dan Naina menoleh melihat Syifa meraih tangannya.


” Ibu, ayo pulang” ajak Syifa, dia di paksa harus melakukannya oleh Syam. Naina diam dan memperhatikan Syifa yang akan menangis, anak sekecil itu mana bisa di ajak untuk berbohong. Bibirnya berbohong tapi raut wajahnya tidak bisa.


” Kasihan Syifa kangen sama kamu, aku juga kangen sama kamu” ucap Syam lalu meraih tangan Naina dan Naina cepat-cepat menepisnya. Syam terkejut melihat penolakan Naina.


” Syifa, sayang. Syifa tunggu di luar ya" kata Naina karena di luar ada baby sitter Syifa lalu Syifa mengangguk. Setelah Syifa pergi, tertinggal Syam dan Naina. Syam berpindah tempat dengan duduk di tepi ranjang. Dia sangat ingin menyentuh Naina tapi Naina terus menghindar.


” Aku suami kamu sayang”


” Aku belum bisa ingat apa-apa mas”


” Kamu cuma perlu percaya sama aku”


Naina diam.


” Ayo pulang” ajak Syam. Naina menolak saat Syam ingin membantunya turun, Naina dan Syam menoleh. Ai dan Mia datang. Ai langsung menyenggol tangan Syam agar mundur menjauh. Kabir juga datang dan dia menatap Syam kesal.


” Jangan ribut" kata Mia kepada Kabir. Dia tahu Kabir segila apa. Kabir mendelik sebal kepada Syam. Setelah Uwais yang menyamar sebagai dokter Farhan meyakinkan Naina jika Kabir adiknya Naina percaya.


” Mbak, semuanya sudah lunas” kata Kabir dan Naina mengernyit heran, dia belum mengeluarkan sedikitpun untuk biaya rumah sakit. Naina melangkah pergi dan dia ingin mencari dokter Farhan. Mia dan Ai mengikuti Naina sementara Kabir membawa barang-barang Naina.


” Dokter Farhan” teriak seorang perawat memanggil dan Naina menoleh, Naina tersenyum dan mendekati dokter Farhan untuk berpamitan.


” Dokter" tegur Naina lalu dokter Farhan yang asli berbalik. Naina memperhatikan dokter tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala, rambutnya juga beda.” Maaf saya salah orang” kata Naina. Dia sedih dan berbalik, saat dia berbalik Naina hampir membentur dada Uwais. Dokter Farhan yang asli buru-buru pergi. Naina tersenyum dan Uwais mencondongkan tubuhnya sekilas.


” Mau pulang?” tanya Uwais.


Syam mengepalkan tangannya karena dia mengenali Uwais, Mia mengajak semuanya pergi untuk meninggalkan keduanya.


” Ikut” ajak Ai menarik lengan Syam agar memberi kesempatan Uwais dan Naina.


” Iya dokter saya mau pulang, terima kasih untuk semuanya”


” Sama-sama” Uwais tersenyum, dia senang melihat Naina begitu tenang berbicara dengannya tapi jika melihat wajahnya dia tidak tahu, mungkin dia akan ditampar. Naina mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah Bros cantik berwarna hitam dengan dua bintang di tengah-tengah berwarna kuning.

__ADS_1


” Saya gak punya apa-apa, saya hanya punya ini" Naina tersenyum.


” Untuk saya?" tanya Uwais dan Naina mengangguk." Jika tidak keberatan, tolong pakaikan disini” kata Uwais menunjuk jas dokternya dan Naina melangkah maju, Naina memakaikan Bros tersebut dan Uwais memperhatikannya. Kedua matanya berair, Naina mundur dan tersenyum.


” Ini sangat bagus, terima kasih. Semoga cepat sembuh” lirih Uwais dan Naina mengangguk. Naina melangkah mundur dan berlalu pergi, Uwais diam lalu memasukkan kedua tangannya ke sakunya. Dia menatap kepergian Naina dan dia akan mengikuti Naina menggunakan motor. Di ruang administrasi, Naina merengek meminta info siapa yang sudah membayar biaya rumah sakit nya tapi pihak rumah sakit tidak mau memberitahu. Uwais diam memperhatikan Naina.


” Saya perlu tahu mbak" kata Naina.


” Kami gak bisa memberitahu mbak, maaf”


” Saya mohon mbak, bagaimana saya bisa pulang dengan beban ini?” Naina kesal.


Pegawai ruangan administrasi melirik Uwais, Uwais mengangguk memberikan izin kepada nya untuk memberitahu Naina.


” Baik kalau begitu mbak” kata pegawai rumah sakit tersebut.” Biaya rumah sakit mbak di bayarkan oleh seorang pria, atas nama Uwais Salam. Total semuanya ada disini" serunya dan memberikan rincian biaya rumah sakit Naina. Naina melihat kertas tersebut dan lagi-lagi pria itu.


" Terima kasih mbak” kata Naina


” Sama-sama”


Naina melangkah pergi dan Uwais juga pergi untuk mengikutinya, Syam sudah siap dengan mobilnya untuk membawa Naina pulang bersamanya.


” Ayo Nai” ajak Syam.


” Ayo ayo ayo masuk” Mia langsung menarik Dita masuk ke dalam mobil Syam, Ai juga masuk di susul oleh Kabir. Mobil Syam sama sekali tidak cukup, Syifa dan Naina di depan, di belakang penuh. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Ai menatap sinis Syam yang sedang menyetir. Semuanya tidak akan membiarkan Naina dibawa oleh Syam, Dita menoleh saat melihat sekilas motor Uwais. Dia tersenyum melihat bos nya menyusul. Naina juga mengenali Uwais karena waktu itu Uwais mengikutinya menggunakan motor tersebut. Saat di lampu merah, Uwais berhenti di sebelah mobil Syam. Naina memperhatikan Uwais dengan seksama. Uwais menoleh dan melihat Naina terus memperhatikannya, bahkan Naina sekarang menurunkan kaca mobil tapi Syam langsung menutup nya lagi, Naina menoleh melihat Syam sekilas.


” Jangan melihat keluar” tegas Syam tapi Naina tetap memperhatikan Uwais.


Mobil melaju kembali, Naina memperhatikan Uwais yang terus mengikuti dari belakang.


” Woy!" teriak Mia saat Syam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


” Pelan-pelan dong” Ai protes.


” Aku mau pulang ke ruko” kata Naina.


” Apa?" Syam bingung.


” Aku mau pulang ke ruko”


” Aku gak bisa ikut siapapun sebelum ingatan aku kembali mas, maaf" tegas Naina, keputusannya sudah bulat. Syam mendengus sebal dan semua orang di belakang merasa senang dengan keputusan Naina. Syam akhirnya mengambil jalan kiri untuk pergi ke ruko Naina. Syifa tertidur di pangkuan Naina saat ini. Ai menggeleng kepala dan merasa sedih karena mengingat Naura.


” Tante bakal berusaha bikin mamah kamu ingat sama kamu, sabar ya Nau" kata Ai bergumam.


” Kasihan Nau” gumam Mia yang juga mengingat Naura.


Sesampainya di ruko, Naina langsung masuk dan tidak mengizinkan Syam untuk masuk ke lantai dua rukonya. Ai, Mia, Dita dan Kabir sama sekali tidak meninggalkan Naina. Naina memperhatikan Syifa yang sama sekali tidak terlihat seperti dirinya, ataupun terlihat seperti Syam. Memang tidak semua anak mirip dengan orang tuanya, tapi setidaknya ada bagian tubuh yang jelas mirip dengan orang tuanya tapi tidak dengan Syifa.


” Kamu beneran gak mau pulang sama aku?" tanya Syam.


” Bawel” sahut Ai ketus.


” Enggak mas, maaf. Aku mau istirahat” imbuh Naina lalu dia menaiki tangga dan pergi ke lantai dua rukonya, Naina mengunci pintu kamarnya itu. Kabir duduk di anak tangga takut-takut Syam nekad.


Syam tidak punya pilihan lain, akhirnya dia pergi dan mengajak Syifa serta baby sitter. Syam pergi dengan raut wajah murka. Dari kejauhan Uwais juga pergi untuk kembali ke kantor, dia merasa tenang karena Naina sudah di ruko.


******


Fatma kesal.


Syam terus menghindar. Fatma kesal karena Syam terus menuduhnya. Dia benar-benar ingin segera bisa membuktikan jika bayi dalam kandungannya adalah bayi Syam.


" Mas!” teriak Fatma memanggil, Syam tidak perduli dan terus berjalan.


” Mas, tunggu” Fatma meraih tangan Syam tapi Syam menepisnya kasar.


” Jangan dekati aku fatma”

__ADS_1


” Sampai kapan kamu begini mas?”


” Cukup kamu membohongi aku selama ini Fatma, urus saja bayi kamu itu!" bentak Syam sambil menunjuk perut istrinya.


" Istighfar mas, ini anak kamu”


” Bohong aja kamu terus Fatma" Syam kesal dan berlalu pergi, Syam berniat pergi tapi saat membuka pintu dia terkejut melihat mama Novi sudah ada di sana mendengar pertengkaran Fatma dan Syam.


” Mama mau bicara” kata mama Novi.


" Aku ada urusan ma” berusaha menghindar. Mama Novi menarik lengan Syam dan mengajaknya masuk, Fatma berusaha tersenyum lalu menyalami tangan ibu mertuanya itu. Ketiganya duduk bersama, mama Novi tahu Naina sakit tapi tidak tahu Naina kehilangan ingatannya dan Syam berusaha memanfaatkannya.


” Kalian kenapa lagi? Fatma lagi hamil Syam, kenapa kamu kasar. Mama senang kamu udah berubah kemarin-kemarin tapi malah begini lagi. Kalau istri kamu salah tegur dia, jangan sampai kasar. Kamu kenapa sih Syam?” mama Novi kesal dengan perilaku Syam, selalu saja orang tua harus terlibat.


Syam diam tidak berani menjawab, akan seperti apa jika mama Novi tahu kelakuan Fatma.


” Maaf ma" lirih Fatma merasa bersalah.


” Enggak usah minta maaf nak, kalau kalian ada masalah selesaikan jangan dihindari. Gak bakal selesai-selesai kalau begini” tutur mama Novi lalu mengusap bahu menantunya itu, Fatma mengangguk dan Syam diam.


” Aku pergi dulu” ketus Syam dan bangkit dari duduknya.


” Syam, kemari” panggil mama Novi tapi Syam tak kunjung kembali. Fatma menangis dan Mama Novi memeluknya erat. Fatma benar-benar bingung harus bagaimana lagi berbicara dengan suaminya.


****


Malam hari tiba, Naina sedang duduk berseberangan dengan Syam. Syam membawa banyak makanan, Naina terpaksa belum menutup tokonya. Pegawainya sudah pulang semua, Ai bahkan pulang ke rumah orangtuanya. Naina melirik kanan-kiri karena takut saat ini dia hanya berdua dengan Syam, Naina terkejut saat mendengar suara petir menyambar tidak lama hujan turun begitu deras.


” Ayo di makan, aaaa...." Syam menyuapi Naina saat Naina lengah, Naina terkejut dan Syam tersenyum." Mau nambah?”


” Emmm, enggak mas” Naina menggerakkan tangannya menolak, suasana hujan seperti ini membuat Naina tidak tenang.


” Hujannya deras banget ya, aku mau nginep disini aja” ucap Syam dan kedua mata Naina membulat.


” Mas pulang aja” usir Naina secara halus.


” Kita suami istri”


” Mas, aku mohon. Aku sudah bilang aku belum mau ikut sama kamu ataupun tinggal bersama disini sebelum aku ingat semuanya” tutur Naina dengan suara yang begitu lemah.


” Tapi Nai,,,”


” Mas aku mohon” sela Naina cepat.


Brak!


Syam melemparkan sendok yang dia pegang, Naina terkejut melihat sikap kasar Syam. Syam tidak tahan dengan penolakan yang dilakukan Naina terus-menerus. Naina bangkit dari duduknya dan Syam menarik pergelangan tangannya.


” Aku suami kamu Naina”


” Aku belum ingat apa-apa mas, jangan” Naina berusaha berontak, Syam mendorongnya sampai punggung Naina membentur rak pakaian. Syam mendekatkan wajahnya dan Naina mendorong dadanya berulangkali.


Plak! tak sengaja Naina menampar Syam dan Syam semakin marah. Naina mendorong tubuh Syam, melihat sikap kasar Syam dia semakin yakin Syam hanya berbohong.


” Naina!” teriak Syam.


Naina kabur keluar dari toko, dia berlari di bawah hujan deras dan Syam mengejarnya. Naina mulai tersengal dan dia sudah berlari jauh. Dita dan Mia yang baru datang dengan mobil berwarna putih untuk menjaga Naina dilewati Naina begitu saja, Naina terus berlari dan Uwais juga baru sampai. Uwais keluar dari mobilnya dan melihat Syam mengejar istrinya.


” Kita telat, aku udah bilang dari tadi jangan kemalaman” protes Mia yang menganggap Dita kelamaan.


” Udah tahu macet, nyalahin aku segala” Dita kesal. Keduanya tidak jadi keluar saat melihat Uwais merangkul pinggang istrinya dan menariknya ke belakang tembok untuk bersembunyi. Uwais baru pulang dari kantor, dia ingin melihat Naina walaupun yang dia bisa lihat hanya rukonya.


” Naina!” teriak Syam.


" Emm” Naina terkejut dan Uwais membungkam mulutnya dengan tangannya, Naina meremas bahu Uwais karena ketakutan. Uwais menatap wajah panik Naina dengan seksama.


” Percaya sama aku Naina, diam. Jangan berisik” ucap Uwais. Naina mengangguk, dan Uwais melepaskan tangannya dari bibir istrinya itu. Uwais merapatkan tubuhnya ke tubuh Naina, Naina mencengkram kuat bajunya dan keduanya basah karena air hujan. Naina menangis karena dia salah, dia mengira Syam adalah suaminya karena semua bukti yang di berikan Syam padanya.

__ADS_1


” Sutt jangan berisik.” Uwais berbisik. Naina mengangguk.


" Naina, kamu pikir bisa kabur dari aku Naina” teriak Syam dan Uwais menekan kepala Naina dan Naina tidak sadar memeluknya. Keduanya diam, daripada harus berkelahi dengan Syam. Uwais memilih diam, karena bisa berdekatan dengan Naina.


__ADS_2