
Naina sedang mempersiapkan koper untuk keberangkatannya ke puncak, Uwais keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Uwais tersenyum lalu menjahili Naina dengan memeluknya lalu menciumi rambut istrinya itu.
” Mas, lepasin. Kamu basah” berusaha berontak.
” Dingin Nai”
” Lap pakai handuk, ngapain peluk aku mas. Lepas gak?” Naina mulai kesal.
” Enggak mau”
” Mas ih” Naina marah dan Uwais melepaskan pelukannya.
” Iya, iya” imbuh Uwais lalu menggosok rambut basahnya kembali. Uwais menoleh saat melihat kedua mata istrinya
berair.
” Sayang hei, kenapa nangis sih?”
” Kamu jahil banget sih, aku kesel. Aku capek” lirih Naina dan air matanya terus menetes.
” Sayang, aku minta maaf” Uwais mengeringkan tubuhnya dan memeluk istrinya lagi. Naina diam dan Uwais merasa bersalah. Uwais terus memeluk istrinya itu, tangan Naina sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper. Dia melangkah ke arah lemari untuk mengambil pakaian lagi tapi Uwais tetap memeluknya, Naina baru mengambil satu pakaian tapi Uwais merebutnya dan menjauh.
” Mas, kembalikan” pintanya.
” Maafin aku dulu”
” Mas, balikin” Naina melangkah dan mengejar Uwais yang malah melangkah mundur menjauhinya, Uwais berhenti saat kakinya menyentuh sofa. Naina mendekat dan berjinjit untuk mengambil bajunya yang diangkat Uwais ke atas.
” Mas sini”
” Maafin aku dulu, di maafin?”
” Enggak” Naina terus berusaha mengambil bajunya, dia injak kedua kaki suaminya itu dan Uwais sengaja menjatuhkan diri ke atas sofa sampai Naina juga jatuh ke atas tubuhnya. Naina terkejut dan Uwais tersenyum di tindih istrinya itu.
” Perut kamu sakit sayang?” Uwais khawatir.
” Enggak mas” berusaha bangkit tapi Uwais menekan punggung nya.” Sakit mas”
” Bohong” timpal Uwais cepat.” Aku minta maaf, di maafin?”
Naina terdiam sejenak tidak lama dia mengangguk sambil tersenyum.
” Terima kasih” ucap Uwais lalu menekan tengkuk istrinya agar lebih dekat padanya, Naina bertumpu pada sofa dengan kedua tangannya, keduanya sama-sama membuka mulut sedikit sampai bibir keduanya bertemu.
****
Kabir dan Fatma.
Hari ini rumah kedatangan nenek Heni, semuanya berkumpul untuk berbincang hangat dengan nenek kecuali Fatma. Fatma sedang keluar malam ini, dia pergi sendirian karena ada urusan penting katanya. Syam belum pulang bekerja.
” Ini anaknya?” tanya nenek Heni yang baru melihat Syifa lalu Bu Anggi mengangguk.
” Do'ain ya Bu semoga sama Syam punya anak sendiri secepatnya” imbuh Bu Anggi.
” Aamiin” nenek tersenyum.
Suara langkah kaki terdengar pelan, Syam sudah pulang saat ini dan melangkah untuk menemui semua orang.
” Ibu, waktu itu Fatma ke rumah ibu ngapain aja dia dari pagi sampai malam baru pulang?” tanya Bu Anggi, Syam yang mendengar menghentikan langkahnya.
” Dari pagi sampai malam?” nenek mengernyit heran.” Enggak kok, Fatma datang pas malam gak dari pagi. Itu juga cuma sebentar” tutur nenek.
__ADS_1
Raut wajah Bu Anggi berubah, kemana anaknya dari pagi sampai malam hari waktu itu. Syam yang mendengar juga berpikir keras kemana Fatma pergi.
” Kenapa?” tanya nenek dan Bu Anggi refleks menggeleng kepala, dia tersenyum dan biarlah dia yang bertanya sendiri kepada Fatma nanti. Syam putar balik dan mengeluarkan ponselnya dia menelepon Fatma sekarang. Sementara Fatma sedang berdiri di depan pintu apartemen Kabir dan mematikkan panggilan masuk dari suaminya, lalu Fatma mengaktifkan mode silent. Fatma tersenyum saat Kabir membukakan pintu dia ditarik masuk dan langsung mendapatkan ciuman dari Kabir, Fatma menahan Kabir saat Kabir ingin menciumnya lagi.
” Aku bau keringat” katanya.
” Enggak apa-apa sayang” sahut Kabir dan mengajak Fatma melangkah, dia sudah menyiapkan makan malam untuk nya dan untuk Fatma. Fatma duduk dan Kabir menyiapkan satu piring untuknya berdua.
” Mau pake saos?” tanya Kabir dan Fatma mengangguk. Kabir menyuapi Fatma, Fatma yang belum makan menikmati makan malamnya itu. Keduanya sambil berbincang bersama, seolah dunia milik mereka berdua dan tidak perduli dengan dunia di luar sana.
*****
Perjalanan menuju puncak, Naina tertidur pulas bersandar di bahu suaminya. Zidan yang duduk bersebelahan dengan supir penasaran apa yang membuat Uwais terus tersenyum, Uwais terlihat mengubah posisi Naina dengan mengangkat tubuh istrinya ke pangkuannya. Dia biarkan Naina bersandar di dadanya agar istrinya itu nyaman. Naina tidak sadar saking lelapnya dia tidur. Uwais terkekeh-kekeh lagi dan akhirnya Zidan menoleh.
” Ada apa bos?”
” Ibunya tidur tapi bayi aku di dalam perutnya gak bisa diam dari tadi, anakku terus menendang-nendang” tutur Uwais begitu bahagia dia menceritakan bagaimana bayinya terus menendang, Zidan tersenyum tipis dan memperhatikan tangan Uwais di perut Naina. Sadar Zidan memperhatikan istrinya Uwais langsung menjentikan jarinya.
” Gak usah lihat-lihat” ketus Uwais dan Zidan mendelik sebal. Dia kembali menatap ke depan seraya menyumpal kedua telinganya dengan headset. Uwais tersenyum kecut sambil mengelus perut istrinya lagi, Naina membuka matanya perlahan dan dia menoleh. Betapa terkejutnya dia saat sadar bahwa dia duduk di pangkuan suaminya.
” Mas” berbisik.
” Enggak apa-apa, ayo bobo aja” titah Uwais.
” Enggak mas aku mau disini saja” kata Naina bergeser dari pangkuan suaminya itu dan Uwais mendengus sebal. Naina mengusap perutnya yang terus bergetar karena tendangan bayinya, dia merasa lapar saat ini. Uwais merangkul bahu istrinya itu dan melihat Naina gelisah.
” Kenapa?”
” Mas aku lapar”
Uwais mengangguk.
” Kita berhenti di rest area, sekalian sholat isya dulu.” Imbuhnya, senyuman manis di bibir Naina terukir indah. Dia raih tangan suaminya dan Uwais menoleh, tatapan keduanya bertemu lalu saling melempar senyuman. Sesampainya di rest area mobil berhenti, Uwais mengantarkan Naina terlebih dahulu untuk ke kamar mandi dia berdiri dan memperhatikan Naina dari kejauhan. Bibirnya tersenyum melihat perut istrinya, istrinya yang pendek dengan perut besar membuat Uwais tidak bisa berhenti tersenyum. Tapi dia harus hati-hati saat bermain karena takut terlalu kencang dan membuat Naina kesakitan. Setelah Naina selesai ke toilet dan mengambil wudhu Uwais memberikan mukena padanya.
” Ayo sana, jangan pergi sendirian habis sholat”
” Oke” Naina tersenyum dan Uwais juga pergi sambil menggulung baju lengannya untuk mengambil wudhu. Dan Naina masuk ke mushola untuk sholat.
****
Malam semakin larut, Fatma buru-buru bersiap untuk pulang. Dia periksa sekujur tubuhnya takut Kabir membuat tanda kecupan. Dia takut Syam melihatnya, setelah selesai Fatma memakai pakaiannya lagi. Dia keluar dari kamar mandi dan melihat Kabir sudah tidur. Fatma melangkah pergi untuk segera pulang meninggalkan Kabir begitu saja. Fatma sudah memesan taksi online dan dia pergi meninggalkan apartemen, sepanjang perjalanan Fatma terlihat gelisah. Dia tahu apa yang dia lakukan salah, tapi cintanya membuatnya buta. Dia sudah jauh dan lepas kendali. Sesampainya di rumah Syam yang hendak keluar untuk menyusul Fatma terkejut melihat istrinya sudah pulang.
” Assalamu'alaikum” kata Fatma.
” Wa'alaikumus Salaam” jawab Syam.” Kenapa baru pulang? apa sangat penting untuk kamu keluyuran malam malam begini?” Syam kesal.
” Cukup mas, kalau ada denger gimana?" ketus, lalu dia berlalu pergi meninggalkan Syam menuju ke kamarnya dan Syam juga menyusulnya. Sesampainya di kamar keduanya berdebat dan bertengkar.
” Kamu sama sekali gak menghargai aku Fatma”
” Aku juga punya urusan mas, aku harus keluar. Enggak setiap hari juga kan?"
” Ya kira-kira dong kamu kalau mau keluar, jam berapa ini Fatma? di luar bahaya malam-malam begini”
” Iya” singkat Fatma dengan penuh penekanan. Syam mencengkram pergelangan tangannya dan menarik Fatma sampai membentur tubuhnya.
” Jawab pertanyaan aku sekali lagi, waktu itu kamu kabur dari rumah sakit kamu kemana? nenek kamu bilang kamu memang datang tapi hanya sebentar itu juga malam nya, jadi dari pagi sampai malam kamu kemana Fatma? kedatangan kamu ke rumah nenek kamu hanya untuk menutupi kepergian kamu ke tempat lain, ke tempat mana kamu pergi waktu itu? jawab!” suara Syam tegas tapi pelan karena dia sadar dia dimana.
Glek,, Fatma menelan ludahnya kasar, nenek datang dan mengatakan semuanya lalu bagaimana dia sekarang yang ketahuan berbohong.
” Jangan coba-coba bermain denganku Fatma, seburuk apapun aku aku suami kamu. Keluar rumah tanpa izin dari suami dosa, apalagi jika kamu melakukan kesalahan di luar sana dan mengkhianati suami kamu ini” lirih Syam dan menatap kedua mata Fatma yang kini berair, wajah keduanya sangat dekat. Fatma merasa tertampar mendengar ucapan suaminya. Syam melepaskan cengkeramannya lalu berdiri membelakangi Fatma.
__ADS_1
” Kamu mau jujur sama aku atau aku cari tahu sendiri kamu kemana, ke tempat siapa dan bertemu dengan siapa?” tegas Syam, Fatma terlihat panik mendengar.
Tapi dia juga tidak berani berbicara.” Apa kamu bertemu dengan Kabir lagi?”
Fatma semakin panik.
” Enggak mas” membantah.
” Kebohongan ditutupi dengan kebohongan lain?”
Deg,, Fatma semakin tersudut.
” Enggak mas, aku pergi untuk urusan pekerjaan”
” Jangan bohong kamu, aku akan memberitahu orang tua kamu atas kejadian waktu itu” ancam Syam dan melangkah untuk pergi tapi Fatma menahan dengan meraih tangannya.
” Mas jangan aku mohon”
” Kamu harus bersikap baik sama aku Fatma, aku suami kamu!” bentak Syam masih menunggu Fatma jujur. Setelah malam kejadian itu dia sama sekali tidak pernah mendapatkan jatah nya sebagai seorang suami.
” Mas jangan, aku udah jujur mas. Aku harus gimana lagi?”
Syam yang sudah kesal melepaskan tangan Fatma dan ingin pergi tapi Fatma menahannya, amarah Syam memuncak dia raih vas bunga dan melemparkannya ke lantai.
” Mas, kamu...” Lirih Fatma terkejut.
” Diam kamu Fatma” titahnya. Syam melangkah keluar dari kamar, Fatma mengira Syam ingin mengadukannya dan dia melangkah tanpa ragu menginjak pecahan beling.
” Aaaghh" meringis, Syam menoleh mendengar suara Fatma. Dia terkejut melihat Fatma menginjak pecahan kaca, Syam melangkah cepat lalu menggendong Fatma dan membawanya menuju sofa. Fatma menangis dan Syam menyingkirkan pecahan beling dengan kakinya yang memakai sepatu itu.
” Enggak mas sakit" lirih Fatma saat Syam melihat telapak kakinya dan ingin mencabut pecahan kaca di sana.
” Tahan” imbuh Syam, Fatma mencengkram kuat lengannya dan Syam memperhatikan tangan istrinya itu. Dia menarik pecahan kaca dari kaki istrinya dua kali. Fatma menjerit kesakitan dan Syam ingin pergi untuk mencari kotak p3k tapi Fatma tidak melepaskan lengannya.
” Sakit mas" lirih Fatma.
” Aku minta maaf” Syam merasa bersalah, lagi-lagi dia menyakiti istrinya. Setelah Naina sekarang Fatma.
*****
Pagi hari di puncak.
Naina dan Uwais menginap di sebuah hotel, Naina sedang berbaring masih memakai mukenanya. Uwais dan Naina sesekali tertawa, Uwais sedang berbaring dengan telungkup, tangannya di perut Naina dan sesekali menempelkan pipinya di sana untuk merasakan tendangan bayinya.
” Anak kita kuat seperti aku” kata Uwais dan Naina tersenyum.
” Asal jangan pemarah seperti ayahnya ini” Naina mencubit pipi suaminya lembut dan Uwais tersenyum.
” Emangnya aku pemarah sayang?”
” Enggak juga sih, tapi sekalinya marah susah di bujuk” kata Naina dan Uwais tersenyum lebar.
” Padahal aku suami yang baik”
” Iya aku percaya” mengiyakan malas berdebat.
” Kita jalan-jalan yuk, udara disini sangat segar kamu pasti suka sekalian cari sarapan” ajak Uwais.
” Ayo mas aku mau, aku siap-siap dulu”
Uwais mengangguk.
__ADS_1
Setelah Naina bersiap, keduanya keluar dari hotel dan pergi untuk mencari makanan, Naina melihat embun pagi yang memanjakan matanya. Dia buka kaca mobil dan merasakan udara segar di sana. Uwais menyetir sambil terus tersenyum, melihat istrinya yang terlihat sangat senang.