Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Satu tahun kemudian


__ADS_3

Uwais menyisir rambutnya dan bersiap untuk keluar dengan perempuan yang paling dia cintai, dia raih jas nya lalu memakainya. Uwais tersenyum dan meraih kunci mobilnya. Di lantai satu rumah mewah tersebut, kekacauan terjadi saat si kecil Naura berlari kesana-kemari bertelanjang kaki dan memanggil manggil papahnya.


” Naura berhenti, bibi udah tua jangan lari-lari terus ayo kemari” pinta bi Astri dan Naura menggeleng kepala. Naura menoleh dan melihat Uwais keluar dari lift.


” Papah, papah!” teriaknya antusias dan berlari mendekati Uwais, Uwais mengangkat tubuh mungil Naura dan Naura tertawa-tawa kecil merasa senang. Uwais berhenti lalu menggendong anak nya itu. Naura yang kini berumur 18 bulan sangat aktif dan sedang belajar mengucapkan kata-kata yang mudah dengan fasih.


” Aku dan Naura pergi dulu” ucap Uwais kepada bi Astri.


” Anak cantik jangan nakal ya, jangan jauh-jauh dari papah oke?”


” Oke” ucap Naura sambil tersenyum, Uwais memperhatikannya dan bi Astri mencubit pipi Naura gemas. Uwais membawa Naura, menggendong dengan tangan kanan dan tangan kiri membawa tas Naura berkarakter lebah berwarna kuning. Semua pelayan dan bodyguard membalas sapaan akrab Naura yang terus melambaikan tangan dan berseru,,,


” Dadah, dadah” katanya begitu polos. Uwais tersenyum lalu membuka pintu mobil, dan membantu Naura masuk perlahan. Tidak lama Uwais juga masuk.


” Papa sabuk” kata Naura dan memukul dadanya pelan.


” Oke”


” Papa, Naura cantik?”


” Sangat cantik, anak papah sangat cantik” Uwais mengusap rambut Naura sekilas. Naura tersenyum, mobil pun melaju meninggalkan rumah besar tersebut. Sepanjang jalan Naura memperhatikan semua yang dia lewati. Mobil melaju menuju ke sebuah mal, jika ada waktu luang Uwais pasti mengajak putrinya jalan-jalan. Naura ingin membeli boneka Barbie lagi sekarang, Uwais menyetir sambil memperhatikan putri malang nya itu. Setelah memarkirkan mobilnya, Uwais keluar lalu membuka pintu mobil untuk anak perempuan yang paling dia cintai itu.


” Ayo kita belanja” sorak Uwais.


Naura bertepuk tangan antusias. Seperti yang Naura inginkan Uwais membawanya ke toko boneka, di sana Naura di gendong papah tampan nya itu dan akhirnya menemukan boneka Barbie.


****


Amarah Syam.


Fatma sedang hamil 6 bulan, Fatma dilarikan ke rumah sakit saat mengalami dehidrasi dan pingsan. Makanan dan minuman sama sekali tidak masuk, dia mengalami mual dan muntah muntah. Syam panik dan harus menunggu di luar ruangan.


” Fatma” lirih Syam khawatir.


Setelah menunggu cukup lama, Fatma dipindahkan ke ruang perawatan dari UGD. Syam setia mendampingi istrinya itu, Fatma yang sudah siuman menatap suaminya lekat. Dia bahagia memiliki suami seperti Syam, walaupun terkadang Syam marah dan membentaknya. Sesampainya di ruangan perawatan setelah dokter dan perawat pergi Syam duduk di kursi dan mendekati Fatma.


” Kamu harus di rawat dulu, kalau muntah lagi gak apa-apa yang penting ada makanan masuk” tutur Syam.


” Mulut aku pahit mas”


” Iya kamu kan lagi sakit, sekarang istirahat aja ayo. Aku tungguin kamu”


” Karena aku kamu gak kerja, aku minta maaf ngerepotin”


” Kamu ngomong apa Fatma, kalau aku sakit juga kamu yang ngurusin. Istirahat, biar cepat sembuh Syifa pasti nangis nyariin kamu”


Fatma mengangguk sambil tersenyum. Syam menepuk-nepuk kening istrinya sampai Fatma tertidur, Syam tersenyum dan buru-buru menekan panggilan masuk saat ponselnya berdering, dia takut Fatma terganggu. Syam akhirnya keluar dari ruangan. Panggilan masuk dari orang suruhannya.


” Bagaimana keadaannya?” tanya Syam.


” Kami gak punya akses bos, Uwais menghalangi kami”


Syam mengepalkan tangannya dan melangkah pergi dari depan ruangan istrinya di rawat.


” Saya gak mau tahu, saya mau menerima kabar baik. Jangan menelepon kalau cuma untuk basa-basi” tegas Syam dan memutuskan panggilan. Syam melangkah pergi untuk membeli makanan di luar rumah sakit di saat yang sama Kabir masuk ke ruangan dimana Fatma di rawat. Kabir tahu Fatma masuk rumah sakit dari baby sitter nya Syifa yang sengaja dia bayar untuk memberitahu nya saat Fatma keluar dari rumah. Selama ini Fatma selalu bingung kenapa saat dia keluar Kabir pasti selalu ada.


” Fatma” lirih Kabir merasa tidak tega melihat Fatma begitu lemas dan wajahnya pucat, Fatma yang merasakan sentuhan lembut di pipinya membuka matanya perlahan. Dia terkejut melihat Kabir yang menyentuhnya, sesegera mungkin dia tepis tangan Kabir kasar.

__ADS_1


” Ngapain kamu disini?” tanya Fatma geram.


” Aku nengokin kamu sayang”


” Kabir sampai kapan kamu mau menganggu aku? jujur, aku gak tenang dengan sikap kamu yang seperti ini” lirih fatma.” Aku mohon pergi sebelum mas Syam datang”


” Sebegitu bencinya kamu sama aku Fatma?”


” Karena kamu selalu gangguin aku, kita lupakan semuanya”


” Bagaimana bisa kita lupakan semuanya? kita masih bisa menjalin semuanya, suami kamu selalu kasar kan? kenapa kamu masih bertahan Fatma. Tinggalkan aja dia”


” Maaf Kabir, bagaimana pun mas Syam dia suami aku sementara kamu cuma godaan setan yang datang menyesatkan aku. Kalau kamu beneran sayang, harusnya kamu bisa menghargai keputusan aku Kabir” lirih Fatma dan terus menolak sentuhan kabir.


” Tapi,,,,,” ucapan Kabir terhenti saat Syam tiba-tiba mendobrak pintu dan masuk, Fatma terkejut dan Syam menyeret Kabir keluar.


” Mas!” teriak Fatma, tapi percuma Syam memukuli Kabir secara brutal. Dia mendengar semuanya, Syam balik lagi karena dompetnya tertinggal. Kabir tersenyum mengejek.


” Berani sekali kamu Kabir menganggu istriku!” Syam setengah berteriak.


” Fatma memang istri kamu, tapi jiwa dan raganya hanya untuk aku. Aku dan Fatma bukan hanya selingkuh, tapi kami sudah berhubungan seperti suami istri” tutur Kabir, cengkraman tangan Syam mengendur mendengar pengakuan Kabir.” Mungkin juga bayi yang ada dalam kandungan Fatma adalah anak aku, buah cinta aku dan Fatma”


” Diam!” bentak Syam.


Security datang melerai perkelahian keduanya, Syam berontak dan masuk ke ruangan sementara Kabir dibawa security. Di dalam ruangan Fatma ketakutan melihat tatapan tajam Syam. Syam mencengkram kuat kedua pipi istrinya dengan tangan kanannya.


” Aku berusaha menerima kamu, tapi apa yang kamu lakukan Fatma? aku jijik Fatma, aku jijik” tegas Syam dan melepaskan cengkeramannya. Dia melangkah pergi dan Fatma menangis sejadi-jadinya.


” Mas Syam, mas!” teriak Fatma dan berusaha untuk turun, tubuhnya sangat lemas dan dia terjatuh sampai jarum infusan terlepas. Syam tidak perduli lagi, kenapa harus anak orang lain lagi yang dikandung istrinya. Seburuk itu kah dia sampai istri-istrinya tidak ada yang setia kecuali hanya Naina yang sudah dia sia-siakan. Syam mengusap wajahnya kasar dan pergi semakin jauh meninggalkan Fatma.


*****


Ai menggendong bayi perempuannya, bayinya dia beri nama Alika. Ai masih bekerja di toko Naina, dia tidak bisa meninggalkan toko begitu saja. Anak Rosa dan Ali juga perempuan, yang Ali beri nama Aisyah. Saat ini Ali sedang berada di rumahnya dan Rosa, Ali memperhatikan Rosa yang sedang memandikan putri mereka.


” Aisyah makin mirip sama kamu sayang” imbuh Ali dan mencubit pipi Rosa sekilas.


” Jangan genit genit mas kalau di depan Aisyah” Rosa protes.


” Sama istri sendiri enggak apa-apa, Aisyah juga belum mengerti”


Rosa tersenyum.


” Tolong ambilkan handuk Aisyah mas” pinta Rosa dan Ali meraih handuk lalu membalut tubuh gemuk Aisyah.


” Sini Abi gendong nak, kita berjemur ya” ajak Ali dan Rosa tersenyum, Ali membawa Aisyah pergi dan Rosa membereskan semuanya. Setelah selesai Rosa menyusul suami dan anaknya. Alika dan Aisyah hanya berbeda 3 Minggu, lebih dulu Alika yang lahir. Bagaimana repot nya Ali saat itu benar-benar susah dibayangkan, kedua istrinya lahiran dan sama-sama membutuhkan dirinya.


Rosa tersenyum lalu menyenderkan kepalanya di bahu suaminya, Ali membetulkan handuk Aisyah berulangkali karena Aisyah tidak bisa diam.


******


Merias wajah papah Uwais.


Malam ini Naura ingin bermain dengan papa nya. Uwais duduk di hadapan putrinya itu, keduanya sedang berada di atas ranjang tempat tidur. Naura tertawa-tawa kecil sambil mengoleskan lipstik dan memasangkan jepitan rambut di rambut papa nya.


” Sudah nak?”


” Belum papa” kata Naura, Uwais meringis saat lipstik menusuk matanya dan dengan polosnya Naura tertawa.

__ADS_1


” Sudah belum?” tanya Uwais lagi.


” Sudah” jawab Naura lalu meraih cermin kecil dan meminta papa nya untuk bercermin.


” Kok wajah papa jadi kaya badut nak?”


Naura tertawa lalu meraih lipstik lagi.


” Papa gendong” pinta Naura dan Uwais menggendongnya.


” Anak papa mau kemana sih?” tutur Uwais seraya turun dari ranjang, senyuman Uwais lenyap saat Naura menunjuk foto Naina di dinding. Naura terus menunjuk dan bingung harus mengucapkan kalimat apa, Uwais melangkah dan membawa Naura mendekati foto Naina. Naura berpegangan pada tengkuk papa nya, tangan mungilnya membelai wajah cantik Naina dalam foto. Naura mengoleskan lipstik tepat di bibir Naina. Uwais memperhatikan Naura dengan kedua mata berkaca-kaca. Naura tersenyum melihat foto mamah nya.


” Mamah, mamah” kata Naura. Uwais menekan kepala putrinya dan membawanya menjauh sambil memeluk tubuh mungil Naura hangat, Uwais menangis dan buru-buru mengusap air matanya.


” Kita jenguk mamah nanti, sekarang Naura tidur dulu” Uwais merebahkan tubuh mungil Naura perlahan lalu menarik selimut dan dia duduk di tepi ranjang.


” Papah” Naura menarik-narik ujung baju Uwais.” Mamah, papa” katanya lagi seraya menoleh menatap foto Naina.


” Iya mamah sayang, nanti kita ketemu sama mamah ya"


Uwais membelai rambut Naura dan mengusapnya sesekali, Naura tertidur perlahan dan Uwais mencium pipi putrinya lembut. Air matanya menetes lagi. Uwais bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati foto Naina, dia rapihkan olesan lipstik di foto istrinya itu.


” Aku merindukanmu, anak kita sudah besar. Kamu melihat nya kan?” lirih Uwais lalu menempelkan keningnya di foto Naina, dia menangis tersedu-sedu.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Uwais buru-buru mengusap air matanya.


” Bos, saya bawakan susu hangat” tutur Bi Astri.


” Simpan di ruangan kerja saya Bi” sahut Uwais dan Bi Astri pergi, Uwais mengarah ke wastafel lalu membasuh wajahnya yang merah karena menangis. Lalu Uwais pergi keluar perlahan dari kamarnya. Dia melangkah pergi menuju ruangan kerja nya yang masih di lantai tiga tersebut. Saat Uwais membuka pintu ruangan kerjanya dia terkejut melihat wanita memakai baju istrinya. Baju tidur Naina yang berwarna merah. Dia lah Fatin, saat bi Astri masuk dia bersembunyi. Fatin sengaja menunggu Uwais karena Uwais selalu ke ruangan kerjanya jam segini. Berharap Uwais terpesona dan memeluknya saat melihat dia memakai baju Naina. Fatin menoleh dan melihat Uwais menatapnya begitu dalam, dia melangkah perlahan sambil menyingkap rambut nya.


” Aku menunggumu” ujar Fatin, tangannya membelai pipi Uwais. Fatin yang bertubuh tinggi montok menatap bibir merah Uwais, dia dekatkan bibirnya ke bibir Uwais perlahan-lahan. Dua kancing piyama tersebut sengaja dia buka dan memperlihatkan dada besarnya, dia merias wajahnya selama satu jam untuk menarik perhatian Uwais.


Plak!! tamparan keras mendarat di pipi kirinya.


” Uwais!" bentak Fatin dan dia langsung tersungkur ke lantai.


” Saya majikan kamu, kamu hanya pelayan disini!” bentak Uwais lalu menekan bel agar Zidan atau bodyguard lain datang ke ruangan tersebut untuk menyeret wanita jalang itu.


” Aku tahu kamu kesepian Uwais, kamu butuh seorang istri” tegas Fatin.


” Tidak tahu malu kamu!” maki Uwais lalu dia duduk, bersamaan dengan Bi Astri dan dua bodyguard masuk.


” Bawa dia keluar! berikan dia uang” titah Uwais, Bi Astri menggeleng kepala melihat penampilan Fatin.


” Ikut” ajak bodyguard begitu kasar menarik tangan Fatin, Fatin berontak tapi dia diseret keluar dan Uwais membanting pintu.


” Gila kamu” maki bi Astri.” Apa yang kamu lakukan ini sangat memalukan”


” Bos yang pura-pura tidak tertarik, aku tahu itu” Fatin tetap tidak mau mengalah


” Kamu harus pergi, bos sudah gak mau lagi lihat kamu Fatin” usir Bi Astri.


” Enggak!” Fatin menolak.


” Bawa dia” titah bibi kepada kedua bodyguard. Fatin langsung di seret walaupun dia berontak dan berteriak-teriak, di dalam ruangan kerjanya Uwais menempelkan dagunya di atas meja, dia sedang menonton video video dirinya dan Naina, senyuman dan tawa Naina dalam video membuat Uwais tersenyum. Begitulah kegiatannya, hanya Naina yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


” Aku merindukanmu” lirihnya pelan.


__ADS_2