Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Mobil Uwais rusak


__ADS_3

Entah apa yang membuat Naina diminta Uwais untuk belajar mengemudi, Naina sama sekali tidak mau tapi setelah dipikir-pikir, menarik juga. Dita yang mengajari Naina menyetir, di sebuah tanah lapang. Naina terlihat grogi dan takut menabrak. Tangannya berkeringat dingin, dan Dita memperhatikannya.


”Santai aja mbak” ujar Dita. Naina mengangguk, dia sama sekali tidak menoleh. Bagaimana bisa dia menoleh di saat sedang menyetir. Dita panik saat mobil tiba-tiba melaju kencang.


”Dita!” teriak Naina panik, Dita mengambil alih kemudi dan Naina terhimpit oleh Dita, mobil terus melaju kencang ke arah jalan raya. Dita langsung membanting setir.


brug...


Mobil mewah Uwais menabrak mobil lain, Naina meringis memegang keningnya yang membentur body mobil. Dita juga meringis dan bergeser setelah sadar dia menghimpit Naina.


”Mbak Nai terluka” ujar Dita, raut wajahnya menegang. Istri tercinta majikannya lecet, dia bisa dipecat, dia yakin akan dipecat karena tidak bisa menjaga Naina dengan baik. Dita mengajak Naina keluar dan Naina terus meringis, seorang laki-laki keluar dari mobilnya, dia Rizal. Mobilnya yang rusak setelah ditabrak Dita.


”Kalian gila!” berteriak.” Mobil saya rusak dan kalian harus ganti rugi” ujarnya kembali. Dia terus memperhatikan mobilnya yang rusak di bagian depan.


Rizal membuka mulutnya untuk meneriaki kedua gadis itu.” Kamu....” Ucapannya terpotong saat melihat Naina, Naina guru dan cinta pertamanya. Rizal sudah mulai membuka hati untuk seorang gadis yang sedang dekat dengannya, menemaninya dan kuliah satu universitas dengannya. Dia akan merelakan Naina yang tidak akan mungkin bisa dia miliki.


”Bu Nai” lirih Rizal, dia melangkah mendekat tapi Dita menarik Naina ke belakang tubuhnya.


”Saya yang nabrak mobil kamu, urusan kamu sama saya” ujar Dita, dia mengeluarkan kartu namanya tapi Rizal diam. Dia tak kunjung menerima kartu nama tersebut.


”Ini salahku Dita, aku akan membujuk mas Uwais untuk membayar ganti rugi mobilnya” tutur Naina, di maju dan berhadapan dengan Rizal.” Ini salah saya, saya yang nabrak. Saya minta nomor hape kamu, ini KTP saya sebagai jaminan” tutur Naina, Rizal menerima KTP dan Dita merebutnya.


”Mbak, ini urusanku” ujar Dita dan Naina menggeleng kepala. Rizal terpaku menatap Naina, dia sudah lama tidak melihat Bu guru Naina kesayangannya.


”Bu Nai, ini aku" ucap Rizal, Naina bingung dan Dita menarik bahu Naina dan mendorongnya agar masuk ke dalam mobil, Dita mendorong Rizal yang ingin mendekat. Rizal sedih karena Naina tidak ingat padanya, padahal dulu keduanya cukup akrab.” Izinkan saya bicara dengannya sebentar” pinta Rizal.


”Kamu mengenal nya?” tanya Dita dan Rizal mengangguk.


”Dia beneran amnesia?” Rizal sedih.


”Dia sama sekali gak ingat apa-apa, jangan dekati majikan saya apalagi berniat untuk memanfaatkannya. Ini hanya sebatas mobil saja, hubungi saya untuk mengganti semua kerusakan mobil kamu” ujar Dita berbisik, dia takut Naina mendengar. Naina memperhatikan keduanya dari dalam mobil, dia bingung sekaligus takut suaminya marah, dia harus menghadapi kemarahan suaminya sekarang. Setelah Rizal dan Dita berdebat, Rizal akhirnya pergi. Dia tidak mau memaksakan Naina untuk ingat padanya. Dita pun masuk ke dalam mobil, dan mobil melaju meninggalkan tempat tersebut.


”Dita, aku mau ke kantor saja. Aku mau ketemu suamiku” pinta Naina, dan Dita mengangguk. Naina tidak mau pulang dulu, Naura pasti akan banyak bertanya jika melihatnya terluka.


Setibanya di perusahaan, Uwais terlihat meninggalkan meeting. Ada meeting mendadak, dengan beberapa karyawan yang memiliki jabatan tinggi. Uwais pamit saat melihat bodyguardnya memberi kode dari luar, jika Naina datang.


Naina diam menunggu di depan pintu perusahaan tersebut, dia menggigit kuku jari telunjuknya gugup. Uwais pasti marah, dia tidak ingat betapa cinta dan sayangnya Uwais padanya, mobil rusak mau hancur sekalipun tidak masalah, asalkan Naina nya baik-baik saja.


”Sayang” ucap Uwais memanggil, Naina menoleh dan kedua mata pria itu nampak membulat. Dia terkejut melihat kening istrinya terluka, tatapan tajamnya tiba-tiba mendarat di Dita. Dita hanya bisa menunduk lemah, dia salah dan teledor. Tak apa jika majikannya itu mau memecatnya.


”Mas aku minta maaf” suara Naina serak, Uwais mengangguk dan mencium keningnya lembut.


”Dahi kamu berdarah, sakit kan pasti? mana yang sakit lagi, bilang sama aku Nai” imbuh Uwais panik, Naina menggeleng kepala dan Uwais melirik Zidan.” Hubungi dokter, istriku terluka”

__ADS_1


”Mas, kamu ini. Aku cuma lecet. Jangan berlebihan” tegas Naina. Dia menggeleng kepala menatap Zidan, agar tidak melakukan apapun yang diperintahkan suaminya, Uwais diam dan membuang nafas kasar. Semuanya menuruti permintaan Naina untuk membantah permintaan Uwais, permintaan keduanya sama saja harus dituruti.


”Ayo” ajak Uwais dan Naina melangkah bersamanya, pinggang gadis itu dirangkul erat. Naina menundukkan kepalanya saat semua mata tertuju padanya, ini adalah kali pertama dia datang ke kantor selepas kecelakaan. Uwais yang melihat Naina tidak nyaman menoleh, tatapannya langsung membuat semua orang menunduk.


Sesampainya di ruangan Uwais, Naina diam. Lukanya kini sedang diobati oleh suaminya, Naina menatap dan memperhatikan wajah tampan di hadapannya itu dengan seksama. Uwais menoleh dan memergokinya, sontak Naina berpaling dan Uwais tersenyum.


”Aku sangat tampan, sampai membuat istriku ini tidak berkedip dari tadi” ujar Uwais menggoda, Naina mendelik dan berusaha membantah.


”Kepedean" cibir nya dan Uwais tersenyum.


Ketukan pintu tiba-tiba terdengar, Uwais membiarkan Zidan masuk membawa nampan berisi minuman dan kudapan untuk Uwais dan Naina, setelah itu Zidan pergi lagi.


Uwais meraih segelas jus jeruk dan mendekatkannya pada Naina.”Ayo minum” titahnya, Naina menurut, dia harus minum untuk menetralkan rasa terkejut atas apa yang terjadi tadi. Jus jeruk habis sampai setengahnya dan Uwais tersenyum lebar.


”Kamu haus banget kayaknya”


”Aku minta maaf”


”Untuk?”


”Mobil kamu rusak, menabrak mobil lain. Dia meminta ganti rugi, jangan menyalahkan Dita mas. Dia gak salah, apalagi kalau kamu berniat memecatnya. Jangan” tutur Naina lirih, Uwais diam dan menatap tangan Naina yang meraih tangannya.


”Rayu aku supaya aku gak marah” pinta Uwais dan sontak Naina melepaskan tangannya.


”Aku serius mas” merengek.


”Iya mas, dia baik, dia jagain aku terus. Aku mohon mas, jangan pecat Dita” pinta Naina lirih, Uwais diam, dan masih ingin melukai istrinya merengek-rengek.” Mas,,,,, dengerin aku, jangan pecat Dita ya mas, kasihan” ujarnya lagi.


”Oke, aku gak bakal pecat Dita, karena kamu yang memintanya.” Uwais akhirnya menuruti kemauan Naina, Naina tersenyum lebar. Melihat Naina tersenyum, Uwais merasa senang. Uwais mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir merah merona itu, Naina refleks mundur tapi tengkuknya ditarik perlahan.


*****


Di rumah, Naura sedang bermain-main dengan baby sitter barunya. Eva diam memperhatikan Naura yang tidak mau lagi bermain dengan bonekanya.


”Kenapa Nau berhenti?” ujar Eva bertanya.


”Nau mau sama mamah” pinta Naura, Eva mengernyit dan akhirnya tersenyum.


”Mbak Eva telepon pak Zidan dulu ya, oke?”


Naura mengangguk senang. Eva akhirnya menjauh dan menelepon Zidan, untuk menanyakan prihal Naina yang belum pulang.


”Ada apa?” ketus Zidan menjawab.

__ADS_1


”Hish, jangan jutek jutek. Aku cuma mau nanya, Bu Naina kenapa belum pulang ya?” imbuh Eva pelan.


”Bu Naina kan pergi sama Dita, nanyain nya kenapa sama saya?” ketus. Eva tersenyum lebar.


”Ya biarin lah, kali aja kamu tahu pak dimana Bu Nai” Eva beralasan, Zidan hanya mampu menggeleng kepala.


”Bos sama Bu Naina sedang di jalan, menuju pulang. Tungguin aja, bujuk Nau jangan sampai dia nangis” titah nya tegas.


”Oke... Eh” Eva kaget saat panggilan diputus begitu saja.” Ini manusia, ketus amat ya" cibir nya kesal. Lalu dia mendekati Naura lagi untuk membujuknya agar sabar menunggu ibu dan ayahnya.


Tidak lama, Naina dan Uwais sampai. Naura senang melihat keduanya datang.


”Mama jatuh?” tanya Naura, dia digendong oleh Uwais dan memperhatikan dahi Naina. Naina menyentuh keningnya lembut.


”Iya mamah jatuh, tapi gak apa-apa sayang. Ayo sini mamah gendong” jawab Naina, dia menggendong Naura dan Uwais tersenyum. Naura senang dan ketiganya duduk.


”Naura sudah makan?” tanya Naina kepada Eva, Eva mengangguk pelan.


”Kamu boleh pergi” titah Uwais dan Eva pergi, akhirnya dia bisa makan dan beristirahat sejenak selama Naura bersama orang tuanya. Naura duduk di pangkuan ibunya, dia menonton televisi dan Uwais menyenderkan kepalanya sambil memperhatikan Naina.


”Kakek” teriak Naura, dia turun dan berlari saat melihat kakeknya. Uwais dan Naina juga bangkit, kakek baru datang bersama anak buah Uwais yang lain.


”Makin cantik nya Naura” ujar kakek. Naina diam dan Uwais terlihat menatap istrinya yang bingung.


”Dia kakek aku” ucap Uwais dan Naina tersenyum.


Kakek terdiam melihat istri dari cucunya itu bingung melihatnya, Naina benar-benar tak ingat apapun dan kakek sedih.


”Naura berat, biar aku saja” ucap Uwais dan mengambil alih Naura. Kakek diajak duduk oleh Naina, bibi membuatkan minuman dingin untuk semuanya dan cemilan.


”Enggak usah pergi lagi, diem disini” ujar Uwais dan kakek hanya tersenyum, Naura turun dari pangkuannya dan mendekati kakek buyutnya itu.


Semuanya mengobrol bersama, semua hadiah yang dibawa kakek dibawa masuk dan Naina memperhatikannya. Begitu royal keluarga suaminya itu, apa benar-benar dia memiliki suami sekaya ini? terkadang Naina masih tidak percaya, Uwais juga sangat baik. Setelah tahu dia dan Syam pernah menikah, berarti dia hanya seorang janda saat dinikahi Uwais. Tapi Uwais begitu menghormati dan menyayanginya. Naina sangat merasa bersyukur.


*****


Keesokan harinya, Rizal sudah duduk di depan ruko Naina. Menunggu Naina datang, semalaman. Dia tak bisa tidur, pikirannya terus tertuju pada Naina. Rizal menoleh dan melihat Naina datang, Naina keluar dan membantu anak kecil keluar juga. Naina dan Naura diantar oleh supir.


”Terima kasih pak" ujar Naina dan pak supir mengangguk. Mobil kembali melaju dan Naina mengenggam tangan mungil Naura, tidak lama dia menggendong putrinya itu.”Ayo sayang” imbuhnya antusias dan Naura tersenyum.


”Bu Nai" sapa Rizal, Naina terlihat bingung karena Rizal ada di rukonya.


”Kamu yang kemarin itu kan? bukannya semuanya sudah beres?” imbuh Naina kebingungan.

__ADS_1


”Mbak, dia Rizal. Dulu kalian lumayan akrab. Dia kesini mau nengokin mbak Nai” ujar Ai dan Naina terdiam lagi.


”Aku sedih melihat Bu Naina gak ingat sama siapapun, aku Rizal Bu. Coba diingat-ingat” ujar Rizal, Naina menggeleng kepala lemah dan Rizal saling menatap dengan Ai.


__ADS_2