
Syam duduk di sebelah Aldi. Naina duduk bersama pak Fahmi dan gadis itu tidak mau menatap suaminya yang sudah berdusta dan banyak membuatnya menangis. Syam tidak berhenti menatap wajah istrinya yang merah dan kedua matanya sembab karena terus menangis, Syam tidak mau kehilangan Naina. Ayah Rahman menggeleng kepala saat mendengar kabar dari sekretaris nya jika foto Syam dan Amira sudah tersebar luas dan banyak orang yang menuntut agar pasangan mesum tersebut di hukum seadil-adil, pasangan mesum dan Syam yang sudah memiliki istri yang sedang hamil berselingkuh dari istrinya yang pincang. Begitu kejamnya makian orang-orang yang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya bagaimana, di foto tersebut memang Syam berada di atas tubuh Amira bertelanjang dada tapi celananya masih tertahan ikat pinggang kuat. Syam juga terlihat memegang kepalanya seperti menahan sakit, dan Amira dengan tubuh tertutup selimut tanpa memakai sehelai benang pun.
” Saya mau Syam bertanggung jawab, anak saya sudah hamil 6 bulan saya tidak mau menunggu dan saya mau secepatnya Amira dan Syam di nikahkan" tegas Hani dan semuanya meliriknya.
” Saya bukan ayah dari bayi yang anak anda kandung, kenapa saya harus bertanggung jawab” ketus Syam dan menatap Amira tajam.
” Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu Syam" lirih Amira.
Syam menyenderkan kepalanya dan terus menatap Naina kembali. Syam dan Naina diam tidak ikut berdebat, semua orang berdebat dan pasangan suami istri itu terus saling menatap.
” Aku kecewa tapi aku gak yakin kamu seperti itu mas, tapi bukti nyata itu membuatku hancur mas” gumam Naina.
” Demi Allah dan Rasul aku gak pernah melakukan hal seperti itu, ya Allah aku memang bukan pria baik-baik tapi Engkau maha melihat segalanya. Jika ini ujian ataupun balasan dari perbuatan-perbuatan ku di masa lalu, teguhkan hati ku ya Allah, dan teguh kan hati istri hamba Naina Inayah agar selalu percaya dan mau mendukung hamba menjalani semua ujian dari-Mu. Aamiin" gumam Syam.
Perdebatan terus terjadi Syam tidak terima karena dia semakin terpojok dan tidak ada yang bisa membelanya sekarang, setelah perdebatan usai keputusan sudah bulat dan Syam harus menikahi Amira secepatnya, air mata Naina tumpah ruah lalu dia pamit dan pergi meninggalkan semua orang. Naina menaiki tangga perlahan-lahan dan dia pun hampir terjatuh karena terpeleset, Syam akhirnya bangkit dari duduknya dan menyusul Naina wanita yang dia cintai. Sesampainya di kamar Naina masuk ke dalam kamar mandi mengunci pintu dan diam. Naina menutup telinganya karena Syam ternyata menyusulnya memanggil manggil namanya lembut agar Naina mau mempercayainya sedikit saja, Syam tidak perduli jika semua orang meragukannya tapi Naina, dia tidak bisa tenang jika kepercayaan Naina kepadanya benar-benar hilang.
” Nai, ayo keluar sayang aku ingin bicara” kata Syam sambil terus menepuk-nepuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
Di lantai bawah pak Fahmi menatap kepulangan Amira beserta ibu dan adiknya, pak Fahmi benar-benar ingin membawa Naina pulang sekarang juga.
” Bapak bisa tidur di kamar tamu ayo saya antar" ajak ayah Rahman.
” Saya tahu pernikahan Naina dan Syamsul adalah sebuah kesalahan, tapi apa pantas seorang suami berhubungan dengan wanita lain sampai hamil saat ini?" pak Fahmi meneteskan air matanya dan buru-buru menyekanya, ayah Rahman tidak bisa berbicara apa-apa. Membela Syam tidak mungkin, menghalangi Syam untuk bertanggung jawab apalagi. Ayah Rahman merasa hancur dan sedih dengan nasib menantunya Naina, Naina tidak salah apa-apa dan sekarang harus menjadi korban atas semua yang dilakukan putranya Syam.
****
Malam hari semakin larut, para bibi masih membereskan bekas acara tadi. Asil sempat mengirimkan makanan ke kamar Syam karena Naina sama sekali tidak makan dengan benar hari ini, Asil dan keluarga kecilnya menginap kecuali Rizal.
Di kamar Syam dan Naina, Naina membuka pintu kamar mandi dan mengintip sejenak. Dia lihat tubuh suaminya berbaring di atas sofa yang tidak muat untuk tubuh besar suaminya itu. Naina melangkah perlahan-lahan dan memakan makanan serta kue karena bayinya perlu makan walaupun dia tidak memiliki niat untuk mengisi perutnya tapi karena ada kehidupan lain di rahimnya, dia harus mengesampingkan keegoisannya.
****
Keesokan paginya, Naina memilih untuk pergi mengajar seperti biasa. Dia sama sekali tidak mau berbicara walaupun Syam berusaha mengajaknya bicara baik-baik. Naina masih belum bisa, dia juga hanya manusia biasa yang memiliki amarah dan suaminya jangan melupakan hal itu. Sekarang Naina sedang berhadapan dengan ayahnya, pak Fahmi.
” Ayo kita pulang” ajak pak Fahmi dan Naina menggeleng kepala.
__ADS_1
” Mas Syam bisa menikahi wanita itu tapi dia gak bisa pisah sama aku pak, aku gak mau dan mas Syam gak akan pernah melakukan itu" lirih Naina menolak pulang bersama ayahnya.
” Ini hanya akan membuat kamu sakit hati" kata pak Fahmi seraya meraih pergelangan tangan Naina, Syam dari kejauhan mulai panik karena takut Naina dibawa oleh mertuanya.
” Ini rumah tangga Nai pak, bagaimana pun kondisinya Naina gak bisa pulang karena masalah gak akan selesai dengan kita menghindar pak” lirih Naina dan pak Fahmi semakin merasa bersalah.
” Bapak minta maaf Nai, ini semua karena bapak yang memaksa kamu menikah dengan Syam” pak Fahmi tak kuasa menahan air matanya dan air matanya tumpah ruah lalu Naina memeluknya. Dan Syam terus memperhatikan keduanya.
” Aku mohon Nai kamu jangan pergi, aku butuh kamu Naina. Temani aku dalam keadaan apapun, kamu harus percaya dan cuma kamu yang bisa membuat ku bertahan Nai" lirih Syam.
Naina menyalami tangan ayahnya, dan pak Fahmi melangkah pergi serta tidak mau melihat Syam lagi. Naina menatap ayahnya yang masuk ke dalam mobil dan akan pergi ke terminal di antar supir keluarga suaminya. Naina berbalik dan melangkah tapi dia diam saat melihat suaminya memperhatikannya. Naina kembali melangkah untuk masuk dan mengambil tas nya. Saat dia akan melewati Syam tangannya diraih dan Naina berhenti melangkah.
” Terima kasih karena kamu sudah mau tetap bertahan Naina, aku akan membuktikan bahwa aku gak salah Nai" lirih Syam dan menatap wajah istrinya.
” Aku bertahan karena aku memikirkan anakku, urus saja pernikahan kamu sama mbak Amira. Sebaiknya dari sekarang kamu harus bisa belajar adil untuk dua istri kamu nanti mas" tegas Naina dan melangkah kembali membuat tangan Syam terlepas dari tangannya. Kedua mata Syam berair mendengar ucapan Naina yang begitu menyakitkan, Naina hanya mengambil tas dan tidak mau ke sekolah diantar suaminya.
” Aku antar Nai" Syam berusaha menahan pintu gerbang agar Naina berhenti.
__ADS_1
” Aku sudah biasa pulang pergi sendirian, kamu harus belajar untuk berhenti mengantarkan ku ke sekolah. Urus semua pernikahan kamu, kamu harus bertanggung jawab. Jangan kabur ataupun berusaha menghindar jika kamu berani melakukannya, kamu gak akan pernah melihat ku lagi maupun anak kita" ancam Naina serius dan Syam menatapnya sendu
” Kamu lupa kalau aku keras kepala, aku harus mengantarkan istri pertamaku kemanapun dia pergi. Kamu ingin mendengar hal ini dari aku Naina?" Syam mengelus pipi Naina dan Naina terpaksa harus pergi diantara suaminya walaupun dia tak ingin.