Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Keberanian Uwais


__ADS_3

Amira diam, dia tinggal di apartemen Hamdan untuk sementara. Pulang ke rumahnya dia malah diceramahi habis-habisan oleh ibunya belum lagi dia pukul, setidaknya Hamdan bisa menampungnya.


” Sekarang apa yang kamu mau Amira?” tanya Hamdan.


” Aku mau Syam jangan sampai kembali lagi dengan Naina, aku tidak rela” geram Amira menjawab.


” Syam mendapatkan teror, itu bersamaan dengan keluarnya Uwais dari penjara”


” Uwais?" Amira bingung.


Hamdan mengeluarkan foto dan memberikannya kepada Amira.


” Dia Uwais salam, dia pernah bersahabat dengan Syam di masa lalu hanya saja sering di manfaatkan oleh Syam dan teman-temannya yang lain. Dia berada di penjara karena kesalahan Syam, keluarganya meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan kecelakaan yang dialami Naina. Kecelakaan beruntun, aku masih ingat kejadian itu. Banyak orang yang tewas dan Syam kabur tapi meninggalkan Uwais di sana. Usut punya usut ternyata Uwais adalah cucu satu-satu nya Baskoro. Pengusaha tambang terkaya di tanah air, dia keluar dari penjara setelah kakeknya menyewa pengacara terkenal untuk membuktikan Uwais tidak bersalah.” Tutur Hamdan menjelaskan.


” Lalu kenapa kakeknya membiarkan cucunya di penjara bertahun-tahun?”


” Baskoro baru baru, jika anak dan menantunya sudah meninggal dan cucu satu-satunya di penjara. Kita bisa bekerjasama dengannya Amira”


” Dia tampan sekali, dan juga kaya” puji Amira, naluri seorang perempuan yang haus akan kekayaan nampak sekarang.Terlebih Uwais lebih tampan dan gagah dari pada Syam. Hamdan mendelik sebal mendengarnya.


******


Di tempat lain, Naina sedang duduk sendirian di sebuah kafe. Menikmati minuman dingin, Uwais yang juga ada di sana memperhatikan Naina. Naina begitu terlihat sedih dan gelisah. Apa karena dirinya sampai Naina seperti itu? selama ini Uwais meneror lewat orang lain. Hanya sekedar meneror untuk menakut-nakuti Naina dan agar gadis itu menjauh agar tidak terkena imbas dari rencana balas dendam nya. Naina pernah mendapatkan teror secara fisik oleh seorang pria dulu, dan itu bukan anak buah Uwais melainkan orang yang disuruh Rangga. Rangga masih sakit hati karena Naina tidak menerima cintanya. Dan dia merasa buntu lalu melakukan itu.


” Assalamu'alaikum Nai” seorang wanita paruh baya menyapa.


” Wa'alaikumus Salaam” jawab Naina, dia bangkit dan berpelukan dengan nama Novi. Mama Novi mengajak Naina bertemu di sebuah kafe untuk melepas rindu kepada menantu kesayangannya itu, bekas suami ada tapi bekas mertua sama sekali tidak ada.


” Mati aku” Uwais buru-buru bangkit dan pergi saat mama Novi sekilas melihatnya.


Mama Novi diam dan Naina memperhatikannya yang seperti mencari dan memperhatikan seseorang.


” Ada apa ma?” Naina bertanya.


” Emm enggak” mama Novi tersenyum lalu duduk dan mengajak Naina duduk.


” Mama kangen sama kamu Nai, gimana kabar kamu?”


” Alhamdulillah baik ma, mama gimana! ayah sehat?”


” Alhamdulillah, sudah pesan makanan belum?”


” Belum”


” Ya sudah kita pesan makan dulu”


Naina mengangguk pelan, dia tersenyum lebar. Pertemuannya dengan mama Novi terasa canggung. Keduanya berbincang dengan hati-hati, takut menyinggung satu sama lain.


****

__ADS_1


Di ruko, Rizal menunggu karena dia datang Naina sedang tidak ada. Ai yang melihat Rizal sepertinya bosan membeli dua botol minuman dingin.


” Mbak Nai mungkin masih lama” seru Ai lalu duduk.


” Hah, kemana sih dia?” ketus.


” 'Dia'. Mbak Naina lebih tua darimu, berbicaralah dengan sopan” Ai kesal.


” Ai coba sekarang kamu ngomong sama aku"


” Ngomong apa?”


” Aku cocok kan sama Bu Nai?” tanya Rizal dan Ai langsung tertawa terbahak-bahak.


” Haha, kamu bocil mana pantes sama mbak Nai. Mbak Nai cocoknya sama mas Ali”


Raut wajah Rizal terlihat langsung kesal dengan jawaban Ai. Dia bangkit dan hendak pergi, tapi dia melihat mobil mama Novi dan langsung masuk ke ruko untuk bersembunyi. Bisa bahaya jika Mama Novi bisa aja mengatakan jika dia melihat Rizal di ruko Naina. Ai mengernyit heran melihat Rizal langsung bersembunyi, Rizal menekan bibirnya agar Ai tidak banyak bicara.


” Terima kasih ya ma, udah nganterin Naina” imbuh Naina dan mama Novi mengangguk.


” Jangan nolak ya kalau mama mau ketemu lagi”


” Hemm” Naina bingung.


” Jangan khawatir Nai, Syam gak bakalan tahu. Mama janji” imbuh mama Novi lalu tersenyum dan Naina juga tersenyum. Mama Novi tiba-tiba memeluk Naina erat dan Naina membalas pelukannya. Mama Novi mengusap punggung dan kepala Naina lembut lalu pelukan pun berakhir.


” Mama pergi ya”


” Iya, assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


Naina tersenyum menatap kepergian mobil mama Novi, setelah mobil mama Novi jauh Naina melangkah masuk ke tokonya.


” Ada apa Ai?" Naina bingung melihat Ai berbicara sendiri tanpa suara.


” Itu mbak” tunjuk Ai kepada Rizal yang bersembunyi di antara pakaian bergantungan.


” Rizal, ngapain?”


Rizal tersenyum dan menggeleng kepala, dia bangkit dan kepalanya kepentok meja. Naina dan Ai menahan tawanya.


” Ngapain sih?" kata Naina


” Enggak ngapa-ngapain, ibu mau makan siang sama aku?” Rizal tersenyum.


” Enggak, saya sudah makan. Sama Ai aja” Naina menjawab.


” Idih” Rizal menatap Ai sinis dan Ai juga masuk ke ruko, dia juga malas makan bersama Rizal.

__ADS_1


” Ibu ayo Bu makan sama aku”


” Saya sudah makan, saya mau sholat. Mending kamu pulang ya jangan terlalu sering kemari” Naina mengusir secara halus.


” Ibu kenapa begitu?”


” Saya gak enak sama mbak Asil”


Rizal terdiam.


” Saya memang bukan guru kamu lagi, tapi saya lebih tua dari kamu. Saya berterima kasih banyak karena kamu sering menolong saya, kamu baru lulus SMA masih kecil jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang dewasa. Saya khawatir sama kamu Rizal” lirih Naina, dia terpaksa mengatakan itu karena takut Rizal kenapa-kenapa.


” Sudah ya” imbuh Naina terakhir lalu dia masuk ke dalam ruko nya dan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Rizal meremas rambutnya frustasi dan yakin Asil kakak iparnya mengatakan sesuatu sampai Naina tidak mau dia datang lagi.


****


Hari ini Uwais mengantar kakeknya ke bandara, dia mengantar kakeknya itu sendirian.


” Jaga dirimu baik-baik, semua orang akan menjagamu. Jangan melakukan tindakan kriminal sampai kamu masuk penjara, kakek tidak mau itu terjadi lagi”


” Aku di fitnah kakek juga tahu”


” Ya, tapi jangan sampai kamu benar-benar menjadi tersangka”


Uwais mengangguk. Kakeknya memeluknya erat dan Uwais membalasnya.


” Belajarlah, kamu pewaris satu-satunya”


” Iya, tentu” Uwais tersenyum.


Pelukan berakhir dan Uwais menatap kepergian kakeknya yang dijaga oleh bodyguard. Setelah kakeknya tidak terlihat lagi Uwais pergi meninggalkan bandara. Di perjalanan, dia tiba-tiba melihat sebuah taman yang cukup ramai dan banyak anak-anak di sana. Uwais memarkirkan mobilnya dan keluar. Dia melangkah perlahan sambil mengamati sekitar, anak-anak bermain berlarian, bermain bola dan bermain permainan yang lainnya. Uwais sangat menyukai anak kecil. Baginya anak-anak adalah kehidupan yang sesungguhnya. Tanpa beban, masalah dan tidak perlu memikirkan apapun. Uwais meraih tali tambang ayunan dan dia duduk di atas ayunan.


” Aku pulang nanti, bilang sama bapak aku belum ada niat untuk menikah lagi" seru seorang perempuan yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon, Uwais yang mendengar menoleh. Alisnya terangkat naik melihat gadis yang dia sukai ada di sana. Naina.


” Orang nya kaya Nai, ganteng. Mas Mirza juga kenal” kata Husna di tempatnya.


” Aku gak mau mbak” Naina tetap menolak.


” Kamu sudah punya incaran?”


” Incaran apa, enggak ada mbak. Aku baru bercerai”


” Baru apanya, ini sudah hampir setahun”


Naina bingung dan mengusap wajahnya kasar.


” Assalamu'alaikum”


” Nai.... Tuttt” Panggilan berakhir. Naina mematikkan panggilan sepihak.

__ADS_1


” Kalau aku, apa kamu mau menikah denganku?” tanya Uwais dan Naina menoleh. Uwais tersenyum dan Naina memperhatikannya. Uwais terus tersenyum dan kedua mata Naina membulat saat sadar pria itu adalah si peneror.


__ADS_2