Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Marah


__ADS_3

Perkelahian di ruangan PM Syamsul Ibrahim masih terjadi, Bayu dan karyawan lain berusaha melerainya perkelahian tersebut. Syam menghajar Miko membabi buta karena Miko yang lebih dulu memancing emosi nya. Bayu dan dua orang menahan Syam, yang lainnya menahan Miko. Semua orang tidak paham apa yang terjadi diantara keduanya, mengingat keduanya adalah sahabat sejak lama dan memang Miko sering datang ke perusahaan SY Jaya bangun. Bayu menahan Syam di kursi dan Miko di bawa keluar.


” Kurang ajar kamu Syam.” Miko terus berteriak-teriak saat dibawa security dan para karyawan. Syam mencengkram kuat rambutnya dan Bayu tetap di sebelahnya berjaga-jaga takut Syam berbuat nekad.


” Minggir" Syam meraih jaket dan ponsel barunya lalu pergi meninggalkan ruangannya. Bayu menggeleng kepala dan tetap mengikuti Syam. Setelah sampai di parkiran Syam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat sepi agar bisa melampiaskan kekesalan nya. Dan dia tidak berani bertemu dengan Naina. Dia takut kelepasan dan menyakiti Naina.


***


Malam hari tiba, Naina berdiri di atas balkon di kamar Syam. Entah kemana suaminya jam segini karena Syam bilang sudah akan pulang tadi sore sekitar jam 4, Naina cemas takut ada masalah yang dilakukan suaminya di luar sana. Bukan Naina tidak percaya tapi dia tahu Syam sedikit gila. Dia berdosa memaki suaminya gila tapi mau bagaimana lagi, Naina kesal dan khawatir sekarang. Ponsel Naina berdering dan Naina buru-buru melihatnya dan ternyata panggilan masuk dari Kabir.


”Assalamualaikum mbak"


”Waalaikumsalam, tumben pake salam biasanya langsung ngomong maunya apa” Naina tersenyum.


” Ah mbak rese, aku mau ngomong masalah penting nih.” Kabir memang terdengar serius.


” Kenapa Kabir?” Naina penasaran sekaligus takut dengan orang tuanya.


” Mbak Husna ngadu sama bapak, katanya mbak Nai sama bang Syam gak mau ngasih pinjem uang sampai bang Syam ngomong kasar. Emang Abang ngomong kasar mbak?” Kabir penasaran, diam nya Syam saja sangat menakutkan kalau lagi kesal apalagi marah dan berbicara kasar. Naina kesal mendengar ucapan Kabir bagaimana bisa Husna mengatakan hal itu kepada ayahnya.


” Fitnah, saksinya mbak sama mama mas Syam sendiri. Mas Syam marah emang membentak mbak Husna karena mbak Husna ngancem sama marah-marah sama mbak, tapi mas Syam gak ngomong kasar mbak Husna gak bener ngomong kayak begitu sama bapak dan ibu” Naina kesal dan Kabir mengangguk-anggukkan kepalanya.


” Ya kalau begitu ceritanya bang Syam gak salah, bang Syam marah karena istrinya di maki-maki. Bang Syam sayang banget sama kamu mbak, selagi bang Syam gak manggil mbak Husna dengan sebutan kasar gak ada salahnya sih. Aku jelasin nanti sama bapak” kata Kabir dan Naina terdiam sejenak. Naina keasyikan mengobrol dengan adiknya apalagi saat Kabir mengatakan jika Mirza marah-marah karena tahu Husna meminjam uang kepada Naina, dan bukan hanya kepada Naina Husna ternyata meminjam ke bank keliling itu sebabnya Mirza marah besar. Syam masuk perlahan-lahan dia memberanikan diri untuk datang ke rumah orang tuanya karena yakin Naina tidak akan nyaman sendirian. Pipi dan sudut bibir Syam lebam serta lecet dan berdarah, Syam diam memperhatikan Naina sedang menelepon begitu asiknya. Syam tersenyum ketika Naina menyebut nama Kabir dia sudah salah sangka kepada istrinya, setelah panggilan selesai Naina mengenggam ponselnya lalu berbalik dan terkejut melihat Syam sudah berdiri memperhatikannya dengan penuh luka.


” Mas." Naina menarik pintu balkon lalu melangkah mendekati suaminya, Naina menggerakkan tangannya dan meraba-raba wajah Syam yang penuh luka.” Kamu kenapa mas?" Naina sedih.


” Aku jatuh, ayo duduk" ajak Syam dan Naina duduk di sebelahnya. Naina mengusap darah di wajah suaminya dengan jemari lentiknya itu, Syam menatap tangan Naina lalu meraihnya.


” Kamu gak jatuh, kamu berantem kan? jangan bohong sama aku.” Naina menyentuh sudut bibir Syam dan Syam meringis.” Kamu berantem sama siapa?" Naina bangkit dan melangkah lalu membuka laci.


” Di mana kotak p3k mas?” Naina berbalik sekilas.


” Di laci yang ada vas bunga nya Nai” kata Syam menimpali, Naina membuka laci dan akhirnya dia menemukan kotak p3k. Naina melangkah mendekati suaminya.


” Kamu berantem sama siapa? aku tanya kenapa gak dijawab?" Naina menatap Syam penuh curiga, Syam diam tidak mau menjawab dan Naina menekan lukanya sengaja.


” Sakit sayang” Syam menahan tangan Naina, Naina terdiam mendengar panggilan yang disebutkan Syam padanya. Syam mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Naina lembut, Naina semakin gugup dan menyentuh pipinya sekilas.” Bukan aku yang memulai, dia datang dan langsung menyerang ku. Dia sahabat ku sendiri.”Syam tersenyum lebar.


” Bagaimana bisa sama sahabat sendiri berantem kayak begini? apa masalahnya mas. Kamu sudah dewasa jangan umur saja pemikiran kamu juga harus dewasa, kamu jangan meladeni orang seperti itu mas." Naina mengomel dan membuka kotak p3k dia mulai membersihkan luka di wajah suaminya agar tidak infeksi. Syam meringis dan menjerit kecil berulang kali. ” Enak kan rasanya? jangan coba-coba berantem lagi atau aku akan mengobati kamu lebih dari ini.” Naina kesal.


” Kamu gak bisa lebih lembut sedikit? sakit Naina auw. Cium kek biar cepat sembuh malah disiksa" protes nya dan berusaha menahan tangan Naina.


” Gak ada ciuman, kamu pikir aku sedang marah bisa melakukan itu mas?" Naina terus mengobati luka suaminya dan Syam memilih diam tidak mau meladeni ucapan Naina, dia sudah seperti anak SMP yang kena omel oleh gurunya saat ini. Setelah selesai mengobati luka suaminya, Syam pergi ke kamar mandi. Syam menolak saat Naina menawarinya susu dan teh hangat, dia mau susu yang lain tapi istrinya tidak paham atau entah pura-pura bodoh. Syam mandi dengan air hangat yang di siapkan istrinya, lalu dia keluar setelah selesai dan Naina sudah berbaring seperti biasa, dan pura-pura sudah tidur. Syam ikut berbaring dan menoleh menatap Naina.


” Nai,jangan membelakangi ku Nai" pinta Syam tapi Naina diam.” Nai ada bayangan” teriak Syam dan Naina menjerit lalu bergeser dan memeluknya.


” Di mana mas?” Naina menatap jendela dan dia terus memeluk leher Syam saat ini, wajahnya dan Syam sangat dekat. Syam tersenyum dan merasakan hembusan nafas segar Naina.

__ADS_1


" Tapi bohong" imbuh Syam dan Naina menoleh. Kedua mata Naina membulat saat tidak sengaja dia mencium Syam yang sedang tersenyum manis itu, Syam juga terkejut dan Naina mundur seraya menutup mulutnya.


” Aku gak sengaja mas.” Naina panik dan menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya, Syam menarik-narik selimut tapi Naina menahannya.


” Nai ayo, kamu gak mau melayani suami kamu ini Naina.” Suara Syam begitu serak mungkin sekarang waktunya yang pas untuk menikmati malam panjang bersama Naina. Syam menarik paksa selimut lalu menendang selimut ke lantai, Syam sudah memeluk Naina dan Naina menahan tangannya.


” Mas aku lagi datang bulan” Naina berbisik. Syam berhenti memeluk Naina lalu mundur menjauh.


” Demi apa kamu Nai lagi datang bulan?” Syam tidak percaya dan Naina berbalik menatapnya.


” Kamu mau lihat, tuh pembalut" tunjuk Naina ke atas meja, Syam membuang nafas frustasi kenapa selalu gagal apa ini hukum karma untuknya karena kemarin-kemarin mengacuhkan Naina seolah tidak butuh Naina.


” Bawa aku ke rumah sakit Naina, aku capek nai. Kenapa harus saat ini sih Nai?" Syam kesal.


” Ya mana mungkin aku tahan, emangnya bisa. Peluk aja sini, aku mau memeluk suamiku malam ini” Naina tersenyum lebar dan merentangkan tangan kanannya.


” Males Nai" Syam berbalik dan tubuhnya bergerak-gerak kesana-kemari.


” Beneran gak mau, ya udah" Naina sudah akan berbalik dan Syam memeluknya. Syam memeluk Naina erat. Dan Naina memperhatikan wajah tampan suaminya itu. Naina tersenyum lebar, dia tidak mengira bahwa hubungan dan Syam semakin membaik.


****


Keesokan paginya, Miko pulang dengan wajah kusut dan rambut berantakan. Miko terlihat lelah ibunya dan Rafli sedang sarapan memperhatikan kepulangan Miko.


” Miko dari mana saja kamu? ngapain kamu berantem sama Syam kamu pikir Mama gak bakal tahu Miko?"suara ibunya berteriak-teriak membuat Miko yang sedang merasa bersalah semakin tersudutkan.


Miko pergi ke kamarnya di lantai dua rumahnya itu, dia masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower air. Miko duduk dan air dari shower terus jatuh menimpa tubuhnya, dia merasa bersalah karena membentak ibunya tapi dia juga tidak bisa mengatakan jika semalaman dia di apartemen Amira.


*****


Di rumah orang tua Syam, Syam menikmati sarapan dan diam-diam melirik ayah Rahman yang menatapnya tajam. Ayah Rahman tidak tahu kapan Syam datang, yang jelas jam 9 malam pun Syam belum ada dan Naina masih menunggunya. Amira terdiam saat merasakan sesuatu bergerak-gerak di betisnya dan Naina melirik Syam, mana mungkin Syam yang melakukannya. Syam berada di sebelahnya, tatapan Naina fokus kepada Hamdan suaminya Tari. Tari dan suaminya belum memiliki rumah dan masih tinggal bersama di rumah tersebut. Tari dan Hamdan belum dikaruniai anak dan Hamdan bekerja di luar kota, otomatis dia dan Tari jarang bertemu. Naina buru-buru menjauhkannya kakinya dan wajah Hamdan terlihat kesal.


” Mas" Naina menatap Syam lekat dan Syam menundukkan kepalanya melihat Naina menusuk-nusuk paha nya.


” Kenapa?" Syam mendekatkan telinganya karena Naina terlihat ketakutan dan meminta bantuan padanya.


” Jangan banyak ngomong kalau lagi makan” bentak nenek Wilda dan Naina terkejut, Resta tersenyum melihat wajah panik Naina.


” ibu" tegur ayah Rahman dan ibunya mendelik tajam padanya.


” Kami sudah selesai, aku harus bersiap untuk bekerja permisi" ucap Syam lalu menarik tangan Naina dan mengajaknya pergi. Semuanya kebingungan melihat kepergian Syam dan Naina. Syam mengajak Naina keluar dari rumah dan berjalan-jalan di pekarangan rumah. Syam menatap wajah Naina lalu mengenggam tangan Naina erat.


” Kamu kenapa Naina? kamu takut dengan bayangan itu lagi?" Syam merangkul pinggang Naina dan Naina tidak tahu harus mengadu seperti apa. Tali dia tidak bisa menceritakan hal ini kepada siapapun kecuali Syam suaminya.


” Mas kamu percaya kan sama aku?" Naina menatap Syam lekat dan Syam mengangguk.” Aku datang ke rumah ini sebagai istri kamu, jadi aku mohon lindungi aku selama aku kamu bawa kemanapun tempatnya mas"pinta Naina dan Syam menatapnya lekat, dia rapihkan hijab Naina perlahan-lahan karena tertiup angin.


” Ngomong Nai, ada apa?" Syam memegang kedua bahu Naina.

__ADS_1


” Begini, aku gak mau ada kesalahpahaman aku ngomong sama kamu karena kamu suami aku mas. Aku tadi mendapatkan perlakuan gak baik dari kakak ipar kamu" lirih Naina dan menatap Syam lekat Syam terlihat bingung dengan apa yang Naina katakan.


” Nai tolong...” Syam melepaskan tangannya lalu berkacak pinggang.


” Kamu bilang kamu percaya kan sama aku mas?” Naina hampir menangis karena Syam tidak percaya padanya.


” Naina, siapa yang ngajarin kayak begini sih Nai? mas Hamdan orang baik aku kenal sama dia bertahun-tahun dan kamu jangan macam-macam buat merusak suasana baik keluarga aku Nai" tegas Syam dan Naina menundukkan kepalanya.


” Aku kira kamu percaya, saat aku ternodai dan mendapatkan perlakuan pelecehan kamu gak percaya dan saat aku gak ngapa-ngapain tukang air aja kamu curigai. Aku ngomong sama kamu karena aku butuh perlindungan mas, dari kamu suami aku" Naina kesal dan Syam menatapnya tajam.


” Diam kamu Nai" ketus Syam.


” Aku kecewa sama kamu mas” lirih Naina lalu melangkah pergi meninggalkan Syam, Syam menatap kepergian dengan tatapan tidak suka. Nai tiba-tiba memegang lututnya yang terasa ngilu, Naina sampai berpegangan pada tiang.


” Kamu baik-baik saja?" tanya seorang pria membawa tas ransel besar di punggung nya.


” Aku baik-baik saja" jawab Naina lalu berusaha melangkah, Syam menoleh dan kedua matanya membulat saat melihat Arthur putra dari kakak ibunya sudah sampai dan sedang berdekatan dengan istrinya.


” Naina!" teriak Syam dan Naina menoleh.


” Tolong pergi" pinta Naina kepada Arthur agar pergi meninggalkannya.


” Tapi kamu, kaki kamu kenapa?" Arthur khawatir melihat gadis asing kesakitan di hadapannya.


” Pergi” Naina kesal dan sudah pasti dia akan kena marah lagi oleh Syam. Arthur akhirnya pergi dan masuk ke rumah meninggalkan Naina.


” Ngapain kamu Nai, cari perhatian lagi kamu setelah mengadu hal gak penting tadi hah?" Syam membentak Naina dan menarik lengan istrinya kasar, Naina membentur tubuh suaminya dan Naina menahan rasa sakit di lututnya.


” Syam ngapain kamu kasar-kasar sama Naina?" mama Novi berteriak dan melihat bagaimana Syam membentak seraya mencengkram tangan dan bahu Naina begitu kuat.” Lepas” mama Novi menarik tangan Naina dan melindungi menantunya dari tangan kasar putranya sendiri.


” Mama udah yakin, kamu gak pernah sayang sama Naina. Padahal Naina berusaha menutupi sikap kamu seperti ini Syam, Naina bilang kamu baik sama dia cinta sama dia tapi kenyataannya kamu menyakiti Naina. Kalau kamu gak mampu, kamu keluar dari rumah ini dan Naina tetap disini. Tega kamu kasar sama perempuan, mama juga perempuan Syam!" bentak mama Novi. Syam menundukkan kepalanya dia menjadi bahan tontonan pagi-pagi.


”Ini semua gara-gara kamu Naina"Syam bergumam dan menatap Naina tajam.


Naina melangkah menjauh dari ibu mertuanya, beruntung ayah Rahman sudah berangkat jika ayah Rahman melihat sikap Syam, Syam pasti sudah babak belur.


” Mama ini salah paham, mas Syam cuma lagi emosi ma. Mas Syam baik ma, dia gak seperti yang mama lihat tadi." Naina takut hubungan mertua dan suaminya berantakan karena dirinya.” Mas, aku minta maaf. Ayo kita pergi mas kamu minta maaf dulu sama mama, jangan sampai mama nangis mas" pinta Naina dan Syam menatapnya kesal. Syam meraih tangan Naina lalu mengenggam nya.


” Mama mau aku pergi, oke. Tapi Naina istri aku ma,mama gak berhak atas Naina.” Syam kesal dan menatap Arthur sekilas. Naina menatap mama Novi lekat dan mama Novi mengangguk, Syam tidak rela sekalipun Naina di klaim oleh ibunya, Naina istrinya dan Naina hanya miliknya. mama Novi tersenyum, Syam memang kasar tapi dia yakin Syam menyayangi Naina dan bersikap tegas saat dia akan mengambil Naina darinya.


” Biang rusuh" cibir nenek dan menatap Naina sinis, Arthur menoleh dan memperhatikan Naina yang dibawa oleh Syam dia tidak mengira Syam sudah menikah dan mendapatkan wanita cantik dan baik seperti itu.


” Mas kaki aku sakit mas” lirih Naina dan Syam menoleh, Syam merangkul bahu istrinya. Mama Novi khawatir melihat Naina kesakitan.


” Kita ke rumah sakit saja" ajak Syam khawatir lalu menggendong Naina perlahan-lahan, Tari membukakan pintu mobil dan Syam mendudukkan istrinya perlahan-lahan. Naina menerima tas nya dari Tari dan Syam juga.


” Terima kasih mbak" kata Naina dan Tari mengangguk.

__ADS_1


Syam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, mama Novi meminta supir mengikuti keduanya dan melihat apa yang terjadi kepada Naina.


__ADS_2