Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Operasi


__ADS_3

Hari yang menegangkan tiba, bukan untuk Naina tapi untuk Syam. Waktunya tiba untuk Naina di operasi membuat Syam tidak bisa tidur dua malam dan istrinya yang akan di operasi malah tenang-tenang saja. Syam sedang meremas-remas tangannya dan dia duduk di kursi besi panjang menunggu Naina yang sedang di operasi saat ini. Mama Novi berulang kali menepuk bahu Syam agar Syam tenang karena Syam terus marah kepada para perawat dan dokter yang bolak-balik keluar masuk ruangan operasi dan Syam menanyakan kondisi istrinya.


” Syam kamu harus sabar Naina pasti baik-baik saja nak" mama Novi berbisik.


” Mereka keluar masuk dari tadi tapi gak mau jawab pas aku tanya. Apa-apaan itu ma, gimana aku bisa tenang" Syam kesal.


” Kamu gak usah marah-marah juga sama mama kali" protes Tari.


” Siapa yang marah mbak? kalau marah pun wajar. Aku gak bisa lihat Naina sudah satu jam mbak” Syam menunjukkan jam tangannya lalu memukul nya kuat, dia benar-benar takut operasi Naina bermasalah dan membuat istrinya dalam bahaya.” Aku takut" lirih Syam lalu meremas rambutnya frustasi. Mama Novi mengusap bahu Syam berulang kali agar Syam bisa tenang dan mama Novi juga takut Syam membuat masalah. Pak Fahmi yang sedang sakit tidak bisa datang dan Naina pun melarang keluarganya untuk datang, dia hanya minta untuk di do'akan agar operasinya lancar.


Keluarga bergantian untuk menemani Syam dan sekarang Arthur yang menemani Syam, Naina sudah selesai dioperasi dan sudah di bawa ke ruangan perawatan. Syam masih belum di izinkan masuk karena Naina masih harus di periksa, dan setelah pemeriksaan pasca operasi selesai Syam bisa masuk untuk melihat istrinya.


” Nai" lirih Syam dan Naina menoleh. Air mata Syam jatuh lalu dia buru-buru menyekanya, Naina yang di operasi tapi dia yang seolah-olah merasakan sakit bahkan tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dialami Naina selama ini. Karena Naina sering merasakan sakit pada kakinya satu tahun setelah kecelakaan maut itu terjadi.


” Mas” Naina tersenyum dan kakinya terasa berdenyut-denyut, kesadarannya belum pulih sepenuhnya tapi dia senang melihat suaminya datang saat ini dengan raut wajah kusut dan seperti tidak mandi sepuluh hari.


” Nai, pasti sakit kan? kamu bakal cepat sembuh sayang. Tahan ya" Syam mengusap-usap kepala istrinya, kecup kening dan pipi istrinya itu. Naina kebingungan melihat Syam yang khawatir berlebihan padanya. Dia saja biasa saja.


” Aku janji Nai, aku gak bikin kamu merasakan kesakitan yang sama" Syam tersenyum lalu meraih tangan istrinya, die kecup punggung tangan istrinya yang beraroma obat itu lalu mengusap-usap punggung tangan istrinya berulang kali.


” Mas kamu berlebihan aku gak kenapa-kenapa mas. Mas tolong apa kamu bisa mengabari bapak kalau aku baik-baik saja dan operasi udah selesai. Tolong mas" Naina yakin keluarganya khawatir dan Syam mengeluarkan ponselnya tanpa menunggu lama.


” Aku khawatir Nai, kamu gak ngerti aku khawatir kayak gimana" Syam sedikit kesal karena Naina malah bersikap biasa saja. Naina tersenyum melihat suaminya yang khawatir padanya sampai seperti itu.


****

__ADS_1


Di tempat lain, Amira sedang mual dan muntah terus-menerus. Dia sendirian di apartemennya dan tidak pernah pulang, sudah satu bulan setelah kejadian itu Amira tidak mau pulang. Seorang wanita paruh baya masuk ke apartemennya dia adalah ibu Amira yaitu Hani. Hani khawatir kepada putrinya yang selalu tidak mau pulang selama satu bulan ini.


” Amira sayang" panggil Hani dan melihat apartemen begitu berantakan.


Amira terkejut mendengar suara ibunya, dia buru-buru mengusap wajah dan rambutnya. Amira baru sadar jika dia lupa mengunci pintu, ibunya merindukannya tapi Amira terlalu takut untuk pulang.


” Mamah” lirih Amira saat berbalik dan ternyata ibunya masuk ke kamar mandi.


” Kamu kenapa? kenapa muntah-muntah terus. Kenapa gak pernah pulang nak banyak orang yang datang katanya kamu gak dateng buat pemotretan dan syuting iklan" lagi-lagi pekerjaan yang Hani bicarakan, Amira adalah tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal. Dia, ibunya dan Rani berjuang sama-sama agar bisa hidup dengan kemewahan walaupun Amira yang harus bekerja tanpa mengenal kata lelah.


” Mamah bisa gak sih khawatir sama aku bukan sama pekerjaan aja mah" Amira setengah berteriak.


Plak tamparan keras mendarat di pipi kiri Amira. Ibunya sangat tidak suka diteriaki dan tidak ada yang boleh berbicara kasar padanya. Anak-anaknya harus menurut atas semua keputusannya. Amira menangis dan air matanya menetes deras.


” Mamah kenapa kemari?" tanya Amira dengan air mata yang tidak bisa dia bendung lagi memberanikan diri untuk bertanya.


” Kamu harus bekerja dengan baik, semuanya bergantung sama kamu Amira. Ayah kamu sudah meninggal dan mama yang mengurus kamu dan Rani” Hani berbicara seraya menggoyang-goyangkan bahu Amira agar sadar dan tidak melakukan kesalahan yang sama, mangkir dari jadwal pekerjaannya. Amira tersenyum kecut mendengar kebohongan yang sering dikatakan ibunya berulang kali untuk membuatnya tunduk. Amira tahu tentang ayahnya dan ayahnya tidak pernah sesuai dengan apa yang diceritakan ibunya.


” Iya mah, maaf" Amira mengangguk dan tersenyum lebar. Hani mengajaknya untuk mandi dan setelah itu dia akan mengantarkan anaknya ke lokasi syuting.


****


Sudah dua hari Naina dirawat, Syam setia menunggu dan menjaganya. Kata dokter Naina sudah bisa pulang besok jika kondisinya sudah benar-benar bisa di'izinkan untuk pulang. Saat ini Naina sedang disuapi suaminya dan menatap wajah suaminya sendu, wajah suaminya yang semakin berbeda dengan saa pertama kali dia lihat. Wajah suaminya yang tampan itu mulai bersahabat dan selalu tersenyum padanya tapi untuk amarahnya tetap sama, selalu marah dengan emosi yang meledak-ledak.


” Mas kamu besok kerja aja aku bisa pulang sama supir" imbuh Naina takut suaminya kelelahan, menjaganya sekaligus bekerja dengan laptopnya.

__ADS_1


” Aku gak mau dan kamu gak bisa ngusir aku Nai" Syam tersenyum kecut dan Naina menggeleng kepala.


” Kamu sakit nanti mas, kamu jagain aku terus kerja juga. Aku khawatir” lirih Naina dan menahan suapan suaminya karena dia sudah merasa kenyang.


” Aku gak mau” Syam tidak bisa dibantah dan Naina cemberut.” Sekali lagi sayang”


” Aku kenyang mas" Naina menutup mulutnya.


Syam meletakan piring dan dia tidak mau memaksa Naina untuk makan lagi, Syam meraih tangan istrinya lalu mengenggam nya perlahan-lahan.


” Kata dokter kamu sempat tegang, kenapa?” suara Syam begitu lembut dan Naina tersenyum simpul.


” Awalnya aku berani, tapi pas masuk ruang operasi aku takut. Aku takut gak bisa melihat semua orang yang aku sayangi, terutama kamu mas" lirih Naina dan senyuman lebar mengembang di wajah Syam.


” Alhamdulillah kamu bisa melihat aku lagi, semua orang. Dan aku yang paling bahagia” Syam mengelus pipi Naina dan Naina tersenyum lebar.


Syam dan Naina saling mengelus wajah dan dua orang yang sedang mengintip cekikikan, Tari dan ayah Rahman sedang mengintip keduanya. Ayah Rahman senang mendengar dan melihat Syam begitu perhatian kepada Naina dan Naina yang tidak sungkan mengatakan bahwa Syam adalah pria yang sangat berharga baginya.


Waktu berlalu, malam semakin larut. Naina sudah tidur di ranjangnya dan Syam seperti biasa. Harus tidur di atas sofa, Syam tidak pernah tidur. Tubuhnya berbaring dan tatapannya tidak beralih dari istrinya. Naina begitu cantik dan sangat lucu ketika tidur, meringkuk dan bibirnya selalu mengerucut. Syam bangkit dan posisinya kini duduk di atas sofa saat melihat tubuh Naina menggeliat dan terlalu ke tepi, Naina bisa saja jatuh dan Syam berdiri lalu dia setengah berlari dan menahan pinggang istrinya. Naina membuka matanya saat merasakan tangan besar yang begitu kuat menahan pinggangnya. Naina sudah akan marah dan menoleh, amarahnya menghilang saat melihat suaminya yang memegang pinggangnya.


” Mas?” Naina bergeser dan Syam membenarkan posisi besi infusan yang tertarik.


” Kamu hampir jatuh Nai, ayo tidur lagi" kata Syam lalu menarik kursi dan duduk seraya menatap wajah cantik istrinya lekat. Naina mengangguk pelan dan diam dengan tangan kiri digenggam suaminya. Naina tidak menyangka bahwa suaminya bisa bersikap selembut itu, hal yang mustahil yang selalu diinginkan Naina memiliki suami yang lemah lembut dan mencintainya.


” Tidur sayang” kata Syam karena Naina tak kunjung menutup matanya, Naina mengangguk lalu menutup matanya rapat-rapat walaupun rasa kantuknya sudah lenyap saat ini.

__ADS_1


__ADS_2