Naina(The Same Perfection)

Naina(The Same Perfection)
Resepsi part 3


__ADS_3

Kabir dan Fatma masuk ke dalam gedung lalu melangkah ke arah berbeda untuk membuat semuanya tetap terjaga dan tidak menaruh curiga kepada keduanya, tapi tidak dengan mama Novi yang sudah tahu tentang hubungan keduanya. Tatapannya begitu tajam menatap calon menantunya, Fatma tersenyum lalu berdiri di sebelah mama Novi. Fatma yang sadar dia terus diperhatikan menoleh dan mama Novi lekas memalingkan wajahnya.


” Tante Novi kenapa ya?" gumam Fatma bertanya-tanya.


Malam semakin larut, para tamu sudah bergantian pulang. Keluarga Syam naik ke atas pelaminan ingin mengambil foto bersama kecuali Syam dan Fatma yang duduk di tempatnya. Setelah mengambil foto, Naina di peluk erat oleh mama Novi.


” Mama sayang sama kamu, jangan lupain mama ya Nai. Jangan lupain keluarga mama hiks” mama Novi menangis, Naina mengusap-usap punggung mertuanya itu dan dia juga sedih.


” Iya ma, do'ain ya ma Naina sama mas Uwais. Semoga langgeng sampai tua”


” Iya pasti sayang, mama berdoa yang terbaik untuk kamu” mama Novi tersenyum, dia lepaskan pelukannya lalu memegang kedua pipi naina.” Kamu sangat cantik sayang” katanya, dia tarik kedua pipi Naina dan Naina membungkuk sedikit sampai bibir mama Novi sampai di keningnya, mengecup keningnya sekilas. Di lanjutkan ke pipi dan mama Novi menekan dagu Naina lembut. Mama Novi bergeser dan Asil juga memeluk Naina erat.


” Selamat ya Nai”


” Terima kasih mbak, Rizal kemana mbak?” tanya Naina, bibirnya menyebut nama pria lain dan Uwais seketika menoleh dengan tatapan sinis.


” Rizal lagi sibuk kuliah, dia gak bisa datang. Tapi dia titip hadiah buat kamu”


” Oh begitu, sampaikan terima kasih atas kadonya ya mbak sama Rizal”


” Iya Nai”


Para tamu silih berganti mengucapkan selamat kepada keduanya, Naina dan Uwais mengambil beberapa foto bersama. Sudah pukul 11 malam, acara sudah selesai. Naina terduduk lemas di kursi pelaminan karena sangat lelah. Uwais membantu istrinya itu untuk minum dan dia khawatir.


” Mas, pulang yuk" ajak Naina.


” Iya sayang ayo, capek ya? pulang, istirahat, langsung tidur. Besok aku gak ngizinin kamu kemana-mana ya”


” Iya mas, aku ke toko juga males kayaknya besok. Capek”


Uwais mengangguk dan mengajak Naina untuk berganti pakaian dan setelah itu pulang. Di luar gedung, ayah Rahman dan pak Fahmi sedang mengobrol bersama.


” Main ke rumah saya pak Fahmi, jangan sungkan-sungkan”


” Insya Allah, kami semua besok sore juga harus pulang pak. Gak bisa lama-lama”


” Oh begitu, semoga selamat sampai di kampung pak”


” Aamiin, aamiin terima kasih”


Pak Fahmi dan ayah Rahman terus tersenyum, obrolan keduanya terlihat canggung. Keduanya sudah lama tidak bertemu, terlebih hubungan tidak baik Syam dan Naina membuat kedua keluarga bingung dan tidak bisa akrab seperti dulu.


*****


Keesokan paginya, Naina bangun terlambat. Dia biasa bangun jam 4 dan pagi ini jam 5:30 dia baru bangun. Naina langsung bersiap untuk melaksanakan sholat subuh dan suaminya entah kemana. Dia bangun Uwais sudah tidak ada, setelah sholat subuh Naina membuka semua tirai jendela, dia berdiri menatap pemandangan pagi ini cukup lama. Suara bel pintu berbunyi, Naina menoleh dan Bi Astri yang datang membawakan sarapan untuknya.


” Iya bi sebentar” kata Naina, dia rapihkan mukenanya dan bergegas membuka pintu.


” Selamat pagi Bu Naina, pasti capek ya?” ucap Bi Astri dan Naina memperdulikannya untuk masuk.


” Iya bi capek banget, biar saya bantu”


” Enggak, gak boleh. Bu Naina duduk aja” Bi Astri menolak bantuan Naina, dia memindahkan semua sarapan pagi komplit Naina dari meja dorong ke meja di kamar luas tersebut.


” Bi Astri lihat mas Uwais gak?”


” Tadi keluar katanya mau cari bubur ayam, pak Fahmi mau bubur ayam soalnya.”


” Oh gitu” Naina tersenyum mendengar suaminya sangat dekat dengan ayahnya.


” Bibi permisi ya bu”


” Iya bi terima kasih”


” Sama-sama, Bu Naina diminta untuk tidak keluar dari kamar sebelum bos datang”


” Apa-apaan?" Naina berbisik.


” Turuti saja, dari pada bos marah”


Naina mengangguk-anggukkan kepalanya dan bi Astri pergi. Naina meraih gelas susu dan meminumnya perlahan, Naina menoleh saat pintu terbuka dan suaminya pulang. Naina bangkit dari duduknya dan berlari kecil mendekati suaminya.


” Assalamu'alaikum”


” Wa'alaikumus Salaam”


” Sayang, kaki kamu sakit gak?” Uwais khawatir. Naina menundukkan kepalanya dan memperhatikan kedua kakinya, kakinya yang putih bersih dan tidak memakai sandal.


” Kaki aku,,,,?” Naina bingung dan menggerak-gerakkan jemari kakinya, Uwais tiba-tiba menggendongnya dan Naina terkejut. Uwais membaringkan tubuh istrinya di sofa besar dan panjang itu lalu dia duduk.” Kaki aku sembuh?”


” Sakit gak? kalau sakit bilang sayang”

__ADS_1


” Sakit, sesaat. Gak sakit-sakit amat sih mas, tapi aku rasa kaki aku membaik sekarang” Naina terus memperhatikan kakinya dan Uwais menciumnya sekilas.


” Beneran? gak sakit?”


” Enggak mas” Naina tersenyum, Naina menurunkan kedua kakinya ke lantai dan dia ingin sarapan. Uwais merapihkan mukena istrinya itu sampai helaian rambut Naina yang terlihat tersembunyi rapat, Naina meraih roti dan mulai melakukan kebiasaannya. Dia tidak suka pinggiran roti.


” Biar aku saja” Uwais mengambil roti dari tangan istrinya perlahan dan Naina tersenyum.” Mau selai nanas, coklat atau yang mana hari ini istriku?”


” Aku mau coklat mas”


” Manggilnya sayang dong”


” Iya sayang, aku mau selai roti pagi ini”


Uwais tersenyum lebar, setelah roti selesai di buat Uwais menyuapi Naina dan dia menggigit roti di bekas bibir istrinya itu. Naina juga memakan buah-buahan segar yang sudah di potong-potong pagi ini, Uwais tiba-tiba merebahkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Naina. Naina tersenyum dan mengusap rambut suaminya lembut. Uwais mengelus perut istrinya, dia sudah tidak sabar ingin merasakan tendangan anaknya itu.


” Sayang, kamu udah mandi? pake air hangat kalau mandi”


” Aku belum mandi hehe”


Uwais mencubit hidung istrinya gemas.


” Jorok”


” Aku mandi habis sarapan”


” Aku mandiin ya?” Uwais antusias.


” Enggak!” singkat Naina dan Uwais mendelik sebal.


Setelah Naina mandi dan dia merasa tubuhnya sudah kuat untuk keluar dari kamar, dia keluar dari kamar bersama suaminya untuk menemui keluarga. Sesampai di lantai bawah, Naina memangku anak Husna yang sangat lucu itu. Mirza diam-diam memperhatikan Naina dan Uwais yang tidak tahu tentang hubungan Naina dengan Mirza di masa lalu merasa heran.


” Jaga diri baik-baik kamu ya Nai, di toko kan udah ada tiga pegawai kamu gak usah sering-sering ke toko” tutur pak Fahmi.


” Iya Naina, apalagi kamu sedang hamil sekarang. Nak Uwais titip Naina ya” kata Bu Ratna.


” Naina sedikit keras kepala, aku juga sering mengingatkannya”


” Jangan bikin suami dan keluarga kamu khawatir Nai” ucap Husna, Naina hanya mengangguk mengiyakan ucapan keluarganya.


****


Keputusan Syam.


” Berani sekali anak itu melakukan itu, bikin malu” gumam Syam.


” Mama gak mau punya menantu begitu, pernikahan ini kita batalkan saja” mama Novi marah.


” Mama, pernikahan sebentar lagi. Fatma gadis remaja, yang penting kita ajak bicara dulu dia kita kasih paham supaya tidak melakukan hal itu lagi" timpal ayah Rahman.


” Ayah mau punya menantu begitu? mama gak mau” mama Novi tetap bersikukuh dengan keputusannya.


” Mama jangan begitu” tegur ayah Rahman.


Syam bangkit dari duduknya dan orang tuanya menoleh padanya, Naina bisa membuatnya cemburu dan Syam juga bisa melakukannya. Itulah yang ada dalam pikiran Syam, dia akan tetap menikah dengan Fatma. Entah Fatma berhubungan dengan pria manapun dia tidak perduli, yang penting dia menikah, Naina yakin jika dia sudah melupakannya dan situlah Syam akan mulai mendekati Naina kembali untuk merebutnya dari Uwais, bagaimana pun caranya Syam tidak perduli.


” Pernikahan sebentar lagi, dibatalkan tidak mungkin. Dengan siapa Fatma berhubungan, itu masa lalunya. Disaat dia sudah menjadi istriku aku tidak akan membiarkannya” tutur Syam.


” Masih banyak gadis lain, jangan aneh-aneh kamu Syam kita bisa mencari gadis lain untuk pernikahan nanti tidak harus Fatma”


Syam menggeleng kepala, Syam merasa bisa memanfaatkan Fatma. Fatma adalah murid Naina dulu. Saat Fatma menemui Naina, Naina tidak akan menolak dan itulah kesempatannya untuk merebut perhatian Naina kembali.


” Enggak ma, aku sama Fatma akan tetap menikah” tegas Syam.


” Setelah menikah, Fatma adalah tanggung jawab kamu, kamu harus bisa membimbingnya” ujar ayah Rahman dan Syam mengangguk. Mama Novi menggeleng kepala melihat suami dan anaknya.


” Kalau begitu aku pamit, aku akan bicara baik-baik dengan Fatma” Syam berpamitan dan orang tuanya mengangguk. Syam pergi meninggalkan rumah orang tuanya untuk segera menemui Fatma. Dia menyetir mobil dengan kecepatan tinggi sambil menelepon Fatma. Cukup lama menunggu, akhirnya Fatma mengangkat telepon darinya.


” Dimana kamu?” tegas Syam. Di tempatnya Fatma ketakutan.


” Aku di kafe, sama temen”


” Kafe mana? saya kesana sekarang. Kita perlu bicara”


” Ehmm iya mas” Fatma benar-benar takut dan panggilan berakhir.


Sesampainya di kafe, Fatma menunggu di luar dia tidak mau teman-temannya tahu calon suaminya kasar seperti itu. Apalagi Syam terdengar sangat marah tadi. Syam melangkah dengan tegasnya lalu meraih tangan Fatma.


” Mas”


” Ikut saya”

__ADS_1


Fatma ketakutan saat mobil melaju kencang, Syam sama sekali tidak berbicara dan Fatma terus meliriknya.


” Mas, pelan-pelan aku takut”


” Diam!” berteriak.


Kedua mata Fatma berair, lalu menetes jatuh membasahi pipinya. Syam membawa Fatma ke tempat sepi untuk memberikan pelajaran kepada gadis yang sudah mempermainkannya itu. Mobil berhenti dan Fatma mengedarkan pandangannya, tidak ada orang di sana. Tempat tersebut benar-benar sepi. Syam keluar dari mobil dan Fatma juga keluar.


” Mas aku mau pulang” lirih Fatma. Dia mengeluarkan ponselnya untuk meminta bantuan, Syam terlihat seperti orang kerasukan dan Fatma takut. Syam menyambar ponsel Fatma dan melemparkannya ke dalam mobil.


” Apa hubungan kamu sama Kabir? jawab!” setengah berteriak, Fatma terkejut mendengar hal tersebut. Dari mana Syam tahu? apa semalam ada yang melihatnya dan Kabir?.


” Mas,,,,?”


” Saya tidak butuh alasan, apalagi kalau kamu berbohong”


Fatma menundukkan kepalanya, Syam mencengkram pipi gadis itu dan Fatma memegang tangan Syam untuk melepaskannya.


” Sakit mas”


” Jawab bodoh!”


Fatma terus menangis, dia tidak bisa menjawab tapi dia yakin Syam sudah tahu.


” Kamu berciuman dengannya, kamu kira dunia ini milik kamu dan selingkuhan mu itu hah!”


Syam melepaskan cengkeramannya, Fatma terus menangis dan memegang pipinya yang terasa ngilu.


” Kurang ajar kamu”


” Mas, jujur aku gak mau nikah sama kamu mas hiks,,,”


” Ya sudah sana bilang sama orang tua kamu, kamu sudah menjalin hubungan dengan pria lain bahkan berciuman dengannya padahal kita akan menikah. Bisa di bayangkan keluarga mu sedih, malu, kecewa dan marah seperti apa?”


Fatma diam, kedua matanya membulat. Benar juga, bagaimana keluarganya bisa menerimanya perbuatanya? dia akan membuat keluarganya malu di depan keluarga Syam. Tidak, Fatma tidak bisa melakukan itu. Dia tidak bisa menyakiti keluarganya, betapa bodohnya dia melakukan kesalahan dengan Kabir.


” Ayo bicara sana sama keluarga kamu, atau saya yang harus bilang? oke!” Syam melangkah dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi keluarga Fatma, Fatma berlari dan merebut ponsel Syam.


” Aku mohon jangan mas, maaf mas. Aku minta maaf”


Fatma mengenggam ponsel Syam sekuat tenaga agar Syam tidak mengadukannya, Syam melangkah maju tapi Fatma menjauh. Fatma terus mundur dan Syam memperhatikannya.


” Aku mohon mas jangan”


Fatma menutup matanya, Syam melangkah cepat untuk merebut ponselnya kembali tapi saat melihat bibir Fatma, dia berubah pikiran. Dia tekan kedua pipi gadis itu, kedua mata Fatma membulat dan terkejut saat bibirnya sudah di dobrak paksa oleh Syam. Fatma berontak, tapi Syam merangkul pinggang dan menahan tengkuknya. Fatma tidak bisa melawan tenaga besar Syam, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Syam benar-benar memaksanya. Syam melepaskan ciumannya dan melihat kedua tangan Fatma terkepal kuat.


” Saya akan menjadi suamimu sebentar lagi, murahan sekali meladeni pria lain dengan sukarela tapi meladeni pria yang akan menjadi suamimu kamu tidak mau" tegas Syam lalu mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap bibirnya, dia menarik tangan Fatma. Gadis itu benar-benar tidak tahu harus apalagi. Dia duduk di dalam mobil dan mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat sepi tersebut, salahnya melakukan hal itu dengan Kabir sampai Syam sekarang tega memaksanya. Fatma benar-benar menyesal.


***


Malam hari tiba, Naina dan Uwais seharian ini tidak kemana-mana. Keluarga Naina sudah pulang, saat ini Naina sedang di dapur menikmati makan malam nya. Uwais datang setelah mandi, dia meminta semua pelayan pergi meninggalkannya dan Naina.


” Sayang, kamu makan dari tadi belum selesai juga?” Uwais duduk dan mengusap kepala istrinya berulangkali.


” Aku baru makan mas”


” Kenapa?”


” Aku nungguin kamu, lama. Jadi makan duluan” Naina tersenyum, Uwais mengecup bibir istrinya sekilas.” Mas aku lagi makan, ada yang lihat nanti. Malu”


” Biarin” Uwais tersenyum, Uwais memperhatikan menu makan istrinya tidak berganti-ganti sejak 3 hari yang lalu." Sayang kamu makan buah, susu, roti. Kamu gak pernah makan nasi sekarang. Kamu sama anak kita kenapa-napa nanti. Aku ambilkan nasi ya?”


” Enggak mas, aku mual terus kalau lihat sama cium aroma nasi. Gak tahu kenapa, biasanya kayak begini di awal-awal kehamilan. Aku gak tahu kenapa ngerasain nya sekarang”


” Mual?” Uwais khawatir dan Naina mengangguk.” Kita ke dokter besok, harus mau.”


Naina tersenyum dan mengangguk.


” Aaa,,,,” Naina menyuapi suaminya dan Uwais menerimanya, Uwais mencium bibir istrinya lagi saat istrinya itu lengah dan Naina mendorong pipinya agar diam. Uwais diam, dia memperhatikan istrinya dengan seksama.


” Sayang apa itu enak?” tanya Uwais dan Naina mengangguk sambil menikmati potongan buah strawberry.


” Ini enak?” tunjuk Uwais ke bibirnya, Naina menahan tawanya sambil menepuk jidatnya.” Bibirku enak sayang?”


” Dasar” Naina tersenyum dan meletakkan garpu, dia cekik longgar leher suaminya dan keduanya tertawa-tawa. Uwais terus tertawa dan Naina melepaskan tangannya dari leher Uwais.


” Sini" kata Uwais sambil mengerucutkan bibirnya, ingin mencium bibir istrinya.


” Mas, diem gak?” Naina menahan pipi dan bibir suaminya, Uwais terus tersenyum dan Naina cengengesan.


” Cium dulu"

__ADS_1


” Enggak mau” Naina tersenyum malu-malu.


” Kok gitu sih senyumnya?” Uwais merasa gemas dan menempelkan wajahnya di pipi Naina. Tidak perduli dengan Naina yang mendorongnya, dia peluk tubuh istrinya itu lembut.


__ADS_2